Home / Romansa / Suami Setengah Normal / Balada Tidur Satu Ranjang

Share

Balada Tidur Satu Ranjang

Author: NonaAns
last update publish date: 2026-11-01 21:38:41

Kavi menatap layar ponsel yang ditunjukkan Aruna padanya. Rahangnya tampak mengeras, tapi ekspresinya tetap terlihat sangat tenang.

"Kok lo lihat foto Kak Nathan eskpresinya gitu? Emang kenal?" tanya Aruna sedikit heran.

Kavi terdiam sejenak. Ia melihat kembali foto Nathan di layar ponsel itu.

"Nggak," jawab Kavi seraya memalingkan wajahnya.

Aruna mengerutkan dahi saat merasa Kavi menatap foto Nathan tanpa berkedip.

"Lo nggak naksir dia, kan? Dia gebetan gue!" ucap Aruna tegas.

Aruna menatap Kavi penuh selidik, matanya membesar dengan dahi yang berkerut. Kavi menatap Aruna,lalu menyentil pelan dahi Aruna dengan jari telunjuknya.

"Nggak! bukan tipe gue," ucap Kavi tegas.

"Hah? Bukan tipe lo? Mata lo buta, ya? Dia sekeren ini.Dia punya postur bagus, wajah tampan, otak pintar,idaman banget gini. Ah! selera lo payah, berarti."

"Selera lo yang payah," cibir Kavi.

"Hah? Enak aja! Kak Nathan itu termasuk high quality jomblo di kampus gue!" ucap Aruna menahan kesal

Kavi mengerutkan dahi. Ia menggeleng heran.

"Kalau dunia mau kiamat dan buat masuk surga pilihannya cuma ada kambing sama dia,gue mending milih kambing!" tegas Kavi.

Aruna mendengus kesal.

"Lo mending nggak usah dekat-dekat sama cowok modelan begitu, dia nggak sebaik yang lo pikir," ucap Kavi seraya mengutak atik ponselnya.

Aruna mengernyit. "Lo mulai ngurusin kehidupan pribadi gue? Lupa kalau di kontraknya jelas-jelas tertulis dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing? Aruna bersedekap. Wajahnya mulai memerah menahan kesal.

Kavi membuang napas kasar.Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas ranjang. Ia masih melihat Aruna bersedekap di tempatnya, seolah meminta kepastian atas rasa penasarannya.

Kavi menaikkan alis kirinya. "Apa?"

"Gue nggak suka dikhianati, ya!"

"Lo ngomong apaan, sih?"

"Soal lo mulai ngurusin masalah pribadi gue!" ucap Aruna dengan nada sedikit meninggi.

Kavi tersenyum miring. "Gue nggak ngurusi masalah pribadi lo,gue cuma ingetin jauh-jauh dari cowok gebetan lo."

Aruna menatap kesal, ia membusungkan dada dan mulai menantang.

"Kalau gue nggak mau?"

Kavi diam sejenak. Ia membuang napas kasar, lalu tersenyum tipis.

"Terserah lo."

Kavi memutar tubuhnya membelakangi Aruna yang kini sdang mengedumel tidak jelas.

"Lo mending tidur, Run. Nggak capek dari tadi ngoceh melulu?"

Aruna menggeram kesal.

"Sialan! Ngoceh? Memang gue burung?" gumam Aruna kesal seraya mengepalkan tangan ke arah Kavi. Namun,matanya justru menangkap napas teratur dan dengkuran tipis yang keluar dari mulut Kavi.

"Dia... udah tidur?" gumam Aruna.

Tanpa sadar, ujung bibirnya melengkung tipis. Sangat tipis. Matanya menatap Kavi dengan sorot hangat. Sedetik Aruna merasa damai melihat Kavi yang terlelap disampingnya.

"Dia ... lumayan juga ternyata,"bisik Aruna seraya menahan senyumnya.

Perlahan Aruna tersadar. Ia terkesiap, tubuhnya menegang kaku. "Kok gue malah terpesona sama dia, sih?" Aruna menggeleng berulang kali, lalu mengambil dua bantal panjang dan meletakkannya di tengah-tengah ranjang,maksudnya agar menjadi batas teritorial tidur antara dirinya dan Kavi.

Aruna membenarkan posisi bantal dan memposisikan diri tidur di ujung kiri dari ranjang.

Kavi membuka mata perlahan, ia belum benar-benar tidur ternyata. Kavi menoleh menatap punggung Aruna. Posisi tidurnya benar-benar hanya satu garis dari ujung ranjang. Senyum Kavi melengkung,terlebih saat melihat bantal-bantal yang tertata tepat di tengah ranjang.

"Ngasih batas hm?"gumam Kavi. Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Kita lihat siapa yang melanggar."

Kavi perlahan mengubah posisinya. Ia bergerak dengan sangat hati-hati, takut mengganggu Aruna yang sudah benar-benar terlelap. Kavi membuang napas kasar saat ia tidak kunjung bisa tidur. Saat Kavi hendak mengubah kembali posisinya, Aruna berguling cepat, menyeberangi bantal-bantal yang sudah ia susun sendiri. Kepalanya mendarat tepat di lengan Kavi, tangannya melingkari tubuh Kavi,dan kakinya membelit paha Kavi.

Tubuh Kavi menegang seketika. Matanya membulat. Jarak wajah Aruna dan dirinya mungkin hanya berselang dua sentimeter. Pipi Kavi memanas, jantungnya berdetak berlipat-lipat. Kini Kavi benar-benar mematung di atas ranjang, seperti orang yang baru saja dililit ular.

"Sial!"gumam Kavi mulai frustrasi saat ia merasakan sesuatu yang kenyal milik Aruna menempel hangat di sisi kiri tubuhnya.

Sekuat tenaga Kavi menahan diri. Berulang kali Kavi mencoba menghitung domba agar dapat segera tidur, tapi hasilnya nihil. Terlebih saat Aruna berulang kali membenarkan posisi kepalanya di dada bidang Kavi. Kavi mengusap lembut puncak kepala Aruna, menyingkirkan anak rambut Aruna yang menutupi wajahnya. Aruna tidur nyenyak, terlihat nyaman bersandar di dada bidang Kavi.

Kavi meremas seprei, ada sebongkah rasa penyesalan di dalam hatinya karena ia telah memberikan pengakuan bodoh pada Aruna.

Harusnya gue nggak usah bohong, batin Kavi.

Semalaman Kavi tidak merubah posisi tidurnya. Ia masih terlentang, masih merelakan lengan dan dadanya bergantian menjadi bantal dan masih merelakan tubuhnya dipeluk erat bagai guling besar oleh Aruna,

Kavi memijat pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut karena sejak malam tadi ia tidak sedikit pun dapat tidur. Kavi membulatkan matanya saat melihat Aruna menggeliat dan bergerak lembut. Cepat-cepat Kavi memejamkan mata. Berpura-pura tidur.

Aruna meregangkan tubuhnya, ia membenarkan letak kepalanya beberapa kali. Aruna kembali memiringkan posisinya. Kepalanya berada di dada bidang Kavi. Tangannya mengusap-usap permukaan yang sedikit bertekstur dan beraroma khas seperti tembakau dan cedarwood. Menly, kharismatik,dan hangat.

Aruna menghirup aroma itu dalam-dalam. Terasa nyaman. Ia bahkan mengusap-usap 'bantal' yang ia gunakan. Kakinya sengaja bergerak lambat menyusuri permukaan 'guling' yang ia dekap. Aruna mengerutkan dahi,saat ia merasakan sesuatu yang menonjol dan keras. Aruna mengerutkan dahi.

Apa sih ini? Kok keras? batin Aruna.

Aruna menggosok lembut kakinya ke bagian yang menonjol itu. Kavi yang sudah menahan diri berusaha untuk tidak bergerak sedikitpun.

Aruna mengerjap. Ia membuka mata perlahan. Ia mendengar suara detak jantung yang ritmenya sedikit cepat. Ia menatap wajah Kavi di hadapannya. Sangat dekat.

Tunggu! KOK KAVI? batin Aruna.

Aruna membuka mata lebar-lebar saat ia tersadar jika sejak tadi ia tidur di atas dada bidang Kavi. Tubuhnya menegang kaku dan reflek mendorong dan menendang tubuh Kavi.

"Argh! KAVI SIALAN!" teriak Aruna.

Bug!

Bruk!

Kavi terkesiap, ketika ia menyadari tubuhnya sudah teronggok di atas lantai. Pungung dan pantatnya terantuk keras di atas lantai.

"Lo apa-apaan, sih?" tanya Kavi kesal seraya mengusap-usap punggungnya.

"Lo yang apa-apaan! Ngapain peluk-peluk gue?" tanya Aruna dengan nada tinggi. Tak berapa lama, Aruna berteriak seraya menutup wajah dengan tangannya.

“Argh!“

Kavi mengerutkan dahi. Bingung.

“Kenapa lagi sekarang?“

“I— itu lo … berdiri!“

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Setengah Normal   Balada Tidur Satu Ranjang

    Kavi menatap layar ponsel yang ditunjukkan Aruna padanya. Rahangnya tampak mengeras, tapi ekspresinya tetap terlihat sangat tenang. "Kok lo lihat foto Kak Nathan eskpresinya gitu? Emang kenal?" tanya Aruna sedikit heran.Kavi terdiam sejenak. Ia melihat kembali foto Nathan di layar ponsel itu."Nggak," jawab Kavi seraya memalingkan wajahnya. Aruna mengerutkan dahi saat merasa Kavi menatap foto Nathan tanpa berkedip."Lo nggak naksir dia, kan? Dia gebetan gue!" ucap Aruna tegas. Aruna menatap Kavi penuh selidik, matanya membesar dengan dahi yang berkerut. Kavi menatap Aruna,lalu menyentil pelan dahi Aruna dengan jari telunjuknya."Nggak! bukan tipe gue," ucap Kavi tegas."Hah? Bukan tipe lo? Mata lo buta, ya? Dia sekeren ini.Dia punya postur bagus, wajah tampan, otak pintar,idaman banget gini. Ah! selera lo payah, berarti.""Selera lo yang payah," cibir Kavi."Hah? Enak aja! Kak Nathan itu termasuk high quality jomblo di kampus gue!" ucap Aruna menahan kesalKavi mengerutkan dahi. I

  • Suami Setengah Normal   Malam Pertama

    Gue gay!"Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega.Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali.Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran."Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu.Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi.Kavi kesulitan menelan salivanya. Pikiran

  • Suami Setengah Normal   Hari H Pernikahan

    Aruna cepat-cepat menggandeng Kavi keluar dari kampusnya menuju mobilnya. Aruna tampak sangat kesal. "Lo marah?" tanya Kavi. "Iya! Lo udah lancang turun! Sekarang Naura udah tahu lo!" kesal Aruna. Kavi tersenyum. "Mungkin memang sejak awal temen lo udah kenal gue, bukan karena gue datang sama lo." Aruna mengambil napas dalam-dalam mencoba menetralkan deru napasnya. "Lagipula lo udah bilang kalau gue sepupu lo. Apa lagi masalahnya?" tanya Kavi bingung. "Ada! Masalahnya, dia ngefans banget sama After Rain dan lo ternyata adalah biasnya!" Kavi tertawa. "Cemburu hm?" godanya. Aruna hanya memanyunkan bibirnya. Rahangnya mulai mengeras dan hal itu membuat Kavi justru semakin gemas. Ia mencubit kecil pipi Aruna sebelum kembali mengendarai mobilnya. "Lo mau bawa gue kemana?" tanya Aruna. "Fitting baju. Lo nggak ada acara, kan?" Aruna membuang napas kasar. Tidak ada pilihan. Pernikahan itu sudah ditentukan, berikut tanggal, gaun, dan acaranya. Aruna bersedekap. Pasrah. "Gue

  • Suami Setengah Normal   Sepupu Dari Amerika

    Aruna menutup kepalanya dengan bantal manakala ia mendengar suara ketukan keras dari arah pintu kamarnya. Aruna mengerang. Matanya masih terasa sangat berat, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Aruna hanya berharap jika rencana pernikahannya dengan Kavi hanyalah mimpi buruknya. Namun, ia segera tersentak manakala Anggun membangunkannya dengan sangat keras dan jelas Anggun terus berteriak. "Aruna, bangun! Ada Kavi di bawah!" Aruna segera bangkit dari tempat tidurnya. Napasnya memburu, matanya membulat. Wajahnya mengkerut karena kesal. Ia mengacak rambutnua frustrasi. Ternyata drama perjodohannya adalah kisah nyata. "Oke, Bu!" jawab Aruna malas. Aruna berjalan membuka pintu dan melihat Anggun sudah berdiri di sana dengan wajah kesal. "Kamu masih perawan, tapi nggak bisa bangun pagi! Kamu bukannya ada kuliah pagi hari ini?" tanya Anggun yang segera membuat mata Aruna kian membulat. Sial! Hari ini adalah Kuliah Hukum Pidana, favoritnya. Bukan karena mata kuliahnya, tap

  • Suami Setengah Normal   Kesepakatan

    Mata Aruna membulat. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Kavi. "Lo gila? Nikah kontrak, kan, tetep aja kita nikah!" kesal Aruna. Kavi membuang napas kasar. ia tampak frustrasi dengan napas yang mulai memburu. "Gue nggak mau nikah, lo sama. Kalau kita nggak nikah sekarang, gue yakin banget Oma Odil akan nyari calon lain buat dinikahin sama gue. Jujur aja gue capek. Gue jenuh. Emangya, kalau lo nggak nikah sama gue sekarang, Eyang Dhali nggak bakal cari calon lain buat jadi suami lo?" Tubuh Aruna menegang kaku. Ia menahan napas sejenak, membayangkan betapa keras usahanya menolak pernikahan, Dhali pasti akan menekannya lagi dengan permintaan-permintaan konyol soal pernikahan itu. Aruna menggeleng seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Penolakannya seolah sia-sia. "Gue nggak mau nikah!" ucap Aruna seraya merengek. "Karena itu,gue mau menawarkan kesepakatan yang adil buat kita.Besok, kita ketemu lagi untuk bahas k

  • Suami Setengah Normal   Tradisi Dalam Keluarga Feodal

    "Gue gay!" Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega. Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali. Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran. "Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu. Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi. *** "Aruna ...." Tangan rent

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status