MasukLangkah kaki Reno menuntun Vanya melewati panel rahasia menuju Presidential Suite 801. Dari sana, sebuah tangga privat berlapis baja membimbing mereka langsung menuju helipad rooftop Grand Hotel.
Hujan deras di luar mulai menyusut menjadi gerimis tipis. Tepat pukul 00:20 tengah malam, suara deru baling-baling helikopter memecah heningnya kegelapan langit malam. Sebuah helikopter hitam tanpa identitas mendarat mulus di tengah helipad. Begitu pintu kabin terbuka, Albert melangkah keluar diikuti tiga pria berjas hitam tegap serta seorang dokter pribadi berseragam medis Elric Group. Albert langsung berlutut satu kaki di atas lantai helipad yang basah, menundukkan kepalanya penuh penghormatan. "Selamat datang kembali di puncak kekuasaan, Yang Mulia Reno Elric," ucap Albert dengan suara bergetar menahan haru. Dua pengawal di belakang Albert dengan cepat membentangkan tas pakaian kulit mewah. Di dalamnya terlipat setelan jas custom-made berwarna hitam pekat buatan penjahit terbaik Eropa, kemeja sutra, serta Black Card khusus berukirkan lambang emas Elric Group—kartu yang memegang kendali atas dana tak terbatas. "Bangun, Albert," perintah Reno datar. "Obati wanita ini dulu." Dokter pribadi Elric Group bergegas mendekati Vanya yang bersandar di dinding. Dengan tangkas, sang dokter memberikan suntikan penawar kadar tinggi ke lengan Vanya untuk menetralkan sisa toksin obat perangsang dalam darahnya. Vanya menghembuskan napas panjang. Rasa lemas dan pening di kepalanya memudar sepenuhnya dalam hitungan detik. Namun, mata jernih sang Ratu Bisnis kini tertuju lurus pada Reno. Vanya menyaksikan sendiri bagaimana para pria berwajah keras itu berlutut tanpa ragu di depan pria yang beberapa menit lalu baju kemejanya robek bersimbah darah. "Albert... Elric Group..." bisik Vanya seraya merapikan rambutnya. Matanya yang tajam menatap Reno dengan binar ketakjuban yang tak tertutup. "Jadi penguasa tunggal Elric Group yang selama tiga tahun ini menutup diri dari publik... adalah kamu?" Reno mengancingkan jas mewahnya, membenarkan posisi jam tangan antik emas di pergelangan tangannya. Aura pria tak berguna yang selama tiga tahun ini melekat padanya lenyap tak berbekas, berganti menjadi aura dominasi dingin seorang raja bisnis dunia. "Apakah itu penting untukmu, Nona Adijaya?" sahut Reno seraya menoleh tipis. Vanya menyunggingkan senyuman sengit—senyuman khas Ratu Bisnis yang siap memangsa musuhnya. "Tentu saja penting," balas Vanya penuh penegasan. "Dion dan keluarga Wijaya sudah berani menyentuhku dengan cara sekotor ini. Karena kita punya musuh yang sama, Adijaya Group siap mengerahkan seluruh aset dan jaringan hukum untuk bekerja sama dengan Elric Group besok pagi. Kita ratakan mereka." Reno menatap Vanya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Simpan tenaga dan suaramu untuk besok pagi, Vanya. Panggung utama mereka baru saja disiapkan." *** Sementara itu, di lantai VIP bawah, suasana Suite 808 mendadak menjadi kacau balau. BRAK! Pintu Suite 808 didobrak kasar dari luar. Dion menerobos masuk paling depan, diikuti Karina, Shena, dan belasan wartawan sewaan yang memegang kamera dengan lampu kilat menyala terang. "Ambil gambarnya sekarang! Jangan biarkan Nona Vanya kabur!" teriak Dion dengan senyum culas yang sudah mengembang lebar di wajahnya. CUP! CLIP! FLASH! Kilatan lampu kamera membanjiri ruang tamu suite. Dion bersiap melangkah maju untuk memamerkan kemenangannya di depan media. Namun, senyum culas di bibirnya seketika membeku. Kamar itu kosong melompong. Sofa mewah di tengah ruangan bersih dari keberadaan Vanya. Hanya ada pecahan vas bunga di lantai dan dua pengawal suruhan Dion yang terkulai pingsan di luar pintu dengan leher memar. "Mana Vanya?! Di mana wanita itu?!" teriak Dion histeris. Pria itu berlari menggeledah kamar mandi dan ruang tidur, tetapi tidak menemukan siapa-siapa. "Dion, apa-apaan ini?!" bisik Karina panik seraya menutupi wajahnya dari sorotan kamera wartawan yang mulai kebingungan. "Mana skandal yang kamu janjikan?! Wartawan ini sudah mulai bertanya-tanya!" "Tidak mungkin! Dia sudah minum obat itu! Pintu juga dikunci dari luar!" teriak Dion seraya mencengkeram rambutnya sendiri. Dion merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, memanggil Bima, Kepala Sekuriti hotel. "Bima! Cek CCTV koridor Suite 808 sekarang juga! Ke mana Vanya Adijaya pergi?!" bentak Dion murka. "T-Tuan Muda Dion... ampun!" suara Bima di balik telepon terdengar gemetar hebat. "Seluruh sistem CCTV lantai VIP dan lorong atas mendadak gelap total! Ada enkripsi peretas kelas militer yang memblokir server hotel kita sepuluh menit yang lalu! Semua rekaman terhapus bersih!" Ponsel di tangan Dion hampir terlepas. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahi dan leher kemeja mewahnya. Rencana jebakan skandalnya gagal total. Tanpa bukti foto Vanya, Adijaya Group tidak bisa diperas, dan dana investasi lima puluh triliun yang diandalkannya untuk menutup utang perusahaan keluarga Wijaya menguap begitu saja dalam semalam. *** Keesokan harinya, pukul 09:00 pagi. Ballroom Utama Grand Hotel dihiasi dekorasi megah berwarna emas dan putih. Pesta konferensi pers investasi perayaan keluarga Wijaya berlangsung sangat meriah, dihadiri oleh ratusan pengusaha kota, jajaran direksi, serta puluhan awak media nasional. Shena tampak begitu anggun mengenakan gaun malam merah berlapis permata mahal. Di sampingnya, Karina tersenyum lebar seraya menyapa para tamu VIP dengan dagu terangkat tinggi. "Selamat, Nona Shena! Hari ini keluarga Wijaya resmi naik kelas menjadi salah satu taipan teratas!" puji salah satu tamu undangan. "Terima kasih," sahut Shena penuh keangkuhan. "Ini semua berkat koneksi dan kehebatan Dion. Lagipula, saya baru saja lepas dari beban benalu tak berguna yang selama ini menempel di hidup saya." Dion berdiri di samping panggung utama. Wajahnya agak pucat dan berkeringat meski ia berusaha tersenyum ramah di depan kamera. Tepat saat Dion melangkah ke atas podium untuk memulai pidato kemenangannya, suara benturan keras bergema di seluruh ruangan. BAM! Pintu ganda berlapis kayu mahoni ballroom didorong terbuka lebar dari luar. Seluruh perhatian ratusan tamu undangan dan sorotan lampu kamera seketika teralih ke arah pintu masuk. Reno melangkah masuk dengan langkah tegap nan berwibawa. Setelan jas hitam custom-made Elric Group membungkus tubuh tingginya dengan sempurna, memancarkan aura ketampanan dan dominasi yang membuat seluruh ruangan mendadak hening. Di sisi kanan Reno, Vanya Adijaya melangkah anggun dengan gaun hitam elegan, memancarkan senyuman dingin yang mematikan. Sementara di belakang mereka, Albert memimpin puluhan pria berjas necis yang merupakan tim pengacara internasional dan jajaran eksekutif tertinggi Elric Group. Shena terperanjat hebat, gelas sampanye di tangannya hampir terlepas. "R-Reno?! Kenapa si sampah itu bisa ada di sini... dan memakai baju seperti itu?!" Dion membelalakkan matanya, napasnya tertahan di tenggorokan. Sebelum Dion atau Shena sempat berteriak memanggil sekuriti, seluruh jajaran direksi utama dan investor asing di dalam ballroom mendadak berdiri serentak dari kursi mereka. Di depan mata Shena, Karina, dan Dion yang membelalak syok, belasan konglomerat dan direktur papan atas itu membungkukkan badan sembilan puluh derajat ke arah Reno. "Selamat datang, Tuan Utama Elric!" seru mereka serentak dengan nada penuh penundukan mutlak."Mustahil! Buka pintunya sekarang juga!" jerit Sandy dengan napas memburu. Sandy menendang pintu kabin helikopter yang terkunci rapat dari dalam dengan sekuat tenaganya. Keringat dingin mengalir deras membasahi kemeja mewahnya yang kini kusut. "Maafkan saya, Tuan, seluruh kendali listrik mati total," sahut sang pilot dengan wajah pucat pasrah. Suara deru langkah kaki tegap mengepung seluruh sudut helipad dalam sekejap. Sandy menempelkan wajahnya ke kaca pintu, memandang ke luar dengan mata melotot ketakutan. Dari balik kegelapan atap gedung, belasan pria berseragam hitam melangkah maju secara serentak. Gerakan mereka begitu presisi, cepat, dan senyap bagaikan kelompok militer terlatih. Senjata otomatis di tangan mereka membidik tepat ke arah kabin helikopter yang tak berdaya. Rasa takut yang mencekam merambat pelan dari ujung kaki hingga ke kepala Sandy. Ini bukan petugas pemerintah biasa. Ini adalah Pasukan Khusus Elric, unit pengawal pribadi paling ditakuti di dunia bisnis inte
"Tahan mereka semua dan jangan biarkan siapa pun mendekat!" jerit Sandy dengan suara melengking panik. Sandy mendorong dua pengawal pribadinya ke arah barisan petugas yang baru saja mendobrak pintu kaca. Kepanikan membakar habis sisa harga dirinya. Tanpa memedulikan jeritan para stafnya, Sandy menyambar koper hitam berisi paspor dan dokumen aset luar negeri. Ia berlari kencang menuju pintu rahasia yang tersamar di balik rak buku jati ruang kerjanya. Pintu baja itu terbuka, memperlihatkan lorong khusus yang terhubung langsung ke lift eksekutif menuju atap gedung. Langkah kakinya berdenting keras menghantam lantai marmer. Rasa takut menggerogoti dadanya bagaikan ribuan jarum yang menusuk bersamaan. Ia merasa seperti seekor binatang buruan yang tersudut di dalam sarangnya sendiri. "Sialan! Bagaimana mungkin seorang pria kusam yang menyamar jadi mandor proyek punya kuasa menghancurkan perusahaanku dalam semalam?!" umpat Sandy seraya menekan tombol lift dengan brutal. Dinding kaca tra
"Lepaskan seluruh dokumen kejahatan dan rekaman pengakuan itu ke media sekarang juga, Albert," bisik Reno seraya menatap layar tablet enkripsi di dalam kabin kedap suara Rolls-Royce. Di sampingnya, Vanya Adijaya tersenyum tipis seraya mengusap lembut pipinya yang baru saja ia kecup saat berada di Dermaga Empat. Keanggunan dingin sang Ratu Bisnis kini memancar sempurna di bawah pendar temaram lampu interior mobil mewah tersebut. "Hanya butuh sepuluh detik sampai reputasi busuk Group Nusantara hancur lebur di seluruh stasiun televisi," sahut Vanya dengan nada suara yang begitu tenang namun mematikan. Reno mengulas senyuman dingin, menikmati momen eksekusi yang sudah ia rancang dengan presisi tinggi. "Mereka mengira penyamaranku sebagai mandor proyek adalah sebuah kelemahan," ucap Reno pelan seraya membenarkan posisi kemejanya. "Padahal itu adalah umpan sempurna untuk menjebak mereka ke dalam jurang kehancuran." "Instruksi dilaksanakan, Yang Mulia," sahut Albert dari balik kemudi,
"Bohong! Kau pasti menggertakku!" raung pimpinan baru Group Nusantara dari seberang saluran gawai dengan nada histeris yang makin kacau. Suara teriakan itu mendadak tenggelam oleh deretan panggilan masuk dari para investor besar yang menghujani ponsel sang direktur. Reno mematikan panggilan secara sepihak tanpa memberi kesempatan lawan untuk melontarkan makian balasan. Ia melempar gawai retak itu ke tanah tepat di depan lutut Bos Naga Hitam yang masih berguncang ketakutan. "Singkirkan seluruh pasukannya dan pastikan mereka tidak pernah menginjakkan kaki di kawasan pantai ini lagi," kata Reno seraya menoleh ke arah Albert. "Baik, Tuan Muda. Semuanya akan dibersihkan tanpa menyisakan satu jejak pun," jawab Albert seraya memberi isyarat tangan kepada tim keamanan khusus Elric. Puluhan anggota klan mafia itu bergegas bangkit, menyeret rekan-rekan mereka yang terluka dengan tubuh gemetar tanpa berani menatap wajah sang pimpinan tertinggi. Pelabuhan Empat yang tadinya tegang kini mend
"Siapa kau sebenarnya dan di mana Bos Naga Hitam?!" bentak Direktur Baru Group Nusantara dengan nada panik yang berusaha ia tutupi. Suara berisik dari ruang kerja mewah di seberang telepon bergema samar menembus keheningan Dermaga Empat. Reno terkekeh dingin, mengusap serpihan debu di rompi kerjanya tanpa sedikit pun gestur terburu-buru. Pria di ujung telepon itu mendadak tercekat, mengenali aura intimidasi murni yang merayap menembus speaker gawai di genggamannya. "Kau mengirim lima puluh miliar rupiah hanya untuk merusak proyek kecil di dermaga ini," ujar Reno dengan suara datar. "Tidakkah kau tahu bahwa setiap rupiah dari uang haram itu kini berubah menjadi tali gantungan untuk lehermu sendiri?" lanjut Reno. Vanya melangkah mendekat, berdiri sejajar di samping Reno dengan senyum anggun yang memancarkan dominasi mutlak. Ia menyentuh jemari Reno secara alami, lalu mendekatkan bibirnya ke mikrofon gawai. "Kau menggantikan posisi Dion hanya untuk mengulangi kebodohan yang sama d
"Albert, kunci seluruh jalur keluar dari pelabuhan ini dan amankan semua dokumen haram milik mereka," perintah Reno dengan nada rendah yang terdengar dingin di tengah desing angin laut. Hanya dalam hitungan detik, tiga unit mobil serba hitam membelah kegelapan malam Dermaga Empat. Deru mesin yang halus dan pendar lampu sorot dari kendaraan berkelas itu menyinari tumpukan pasir serta puluhan anggota klan Naga Hitam yang masih bersujud pasrah. Albert melangkah keluar dari mobil barisan depan dengan setelan jas hitam yang rapi tanpa kerutan sedikit pun. Pria kepercayaan Klan Elric itu berjalan tenang menembus jajaran mafia yang gemetaran di atas tanah, lalu membungkuk hormat di hadapan Reno dan Vanya. "Tuan Muda, Nona Vanya, seluruh area pelabuhan sudah sepenuhnya dalam kendali tim keamanan pusat," lapor Albert seraya memegang peranti tipis di tangannya. Vanya melipat kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan dominasi berkelas. Sebagai wanita yang sejak







