Share

BAB 4

Author: Tekyuu
last update publish date: 2026-07-18 00:25:18

"M-maaf Tuan Nael, kami masih menunggu penyesuaian dari tim auditor independen pagi ini..."

Sebelum ketegangan itu membakar ruangan lebih jauh, Aluna melangkah maju satu langkah secara halus. Tanpa instruksi, dengan keanggunan profesional yang luar biasa, ia menyodorkan sebuah dokumen cetak berlaminasi tipis tepat di samping jemari Nael.

"Dokumen validasi auditor independen sudah keluar pukul delapan lima puluh pagi ini, Tuan," sela Aluna dengan nada suara yang sangat tenang, jernih, dan terukur. "Deviasi disebabkan oleh kenaikan tarif retribusi pelabuhan lokal. Saya sudah melampirkan lembar skenario mitigasi biaya di halaman tiga untuk persetujuan Anda."

Nael mengalihkan pandangannya dari layar proyektor ke dokumen di mejanya, lalu menatap Aluna selama dua detik.

Di mata pria itu, terpancar rasa percaya yang mutlak. Aluna tidak hanya bekerja; ia selalu membaca arah pikiran Nael dua langkah di depan orang lain. Tanpa Aluna, rapat ini bisa berubah menjadi ladang pembantaian profesional.

Nael membubuhkan tanda tangannya di atas berkas mitigasi dalam sekali gerakan mantap.

"Terapkan skenario mitigasi sekretaris saya mulai besok pagi, Bernard," ujar Nael tegas, melempar berkas itu kembali ke tengah meja. "Lanjutkan ke agenda berikutnya."

Direktur Bernard bernapas lega, menyapu keringat di pelipisnya seraya mengangguk hormat pada Aluna. Aluna hanya membalasnya dengan senyuman profesional yang sangat tipis dan tak tersuntik emosi pribadi.

Rapat maraton yang menegangkan itu berlangsung selama dua jam penuh. Sepanjang sesi, Aluna bergerak seperti mesin yang sempurna, mencatat poin keputusannya, menyiapkan berkas cadangan sebelum diminta, dan mengarahkan aliran informasi rapat dengan presisi tanpa cela.

Pukul sebelas lewat lima belas menit, rapat resmi ditutup. Para direksi berhamburan keluar ruangan dengan napas lega.

"Kerja bagus seperti biasa, Aluna," gumam Nael, memejamkan mata sejenak untuk mengusir lelah.

"Terima kasih, Tuan Nael," jawab Aluna formal, merapikan tablet dan berkas rapat di atas meja.

Ia melangkah mendekati meja Nael untuk mengambil cangkir kopi kosong milik bos, sekaligus suaminya, itu.

Jemari Aluna baru saja menyentuh gagang cangkir kopi kosong itu ketika ponsel hitam milik Nael bergetar keras.

Bip. Bip.

Nael masih duduk rileks di kursi utamanya. Ia melirik layar ponsel yang menyala di samping laptopnya, lalu menggeser tombol hijau tanpa mengubah posisi duduknya.

"Nael, kau harus pulang malam ini."

Suara tegas penuh wibawa khas wanita paruh baya memecah keheningan ruang rapat. Nael menarik napas pendek, nada suaranya sedikit melunak meski tetap tertahan.

"Ada apa, Nenek?"

"Datanglah ke kediaman utama pukul tujuh malam," perintah suara di seberang telepon tanpa menerima bantahan. "Nenek sudah mengundang tamu istimewa. Kau tidak boleh terlambat."

Nael menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, menarik sudut bibirnya tipis dengan nada sinis yang tak terlihat. Tamu istimewa. Kalimat itu sudah puluhan kali ia dengar selama dua tahun terakhir, kode halus dari Nenek untuk perjodohan dan kencan buta gaya aristokrat.

Pria itu perlahan mengalihkan pandangannya, menatap Aluna yang membeku menggenggam cangkir kopi di ujung meja.

"Baik, Nenek. Saya akan datang tepat waktu," sahut Nael tenang, lalu mematikan sambungan telepon.

Ia tidak mengatakan sepatah kata pun pada Aluna mengenai panggilan telepon itu. Nael kembali menatap layar laptopnya, membiarkan sekretaris sekaligus istrinya melangkah keluar membawa cangkir kopi kosong dengan seribu tanda tanya.

Di balik meja kerjanya yang bernuansa serba putih, Aluna mendudukkan diri dengan napas terengah pelan. Ketegangan rapat maraton tadi pagi masih menyisa di pundaknya.

Bip. Bip.

Ponselnya di dalam tas bergetar halus. Aluna melirik pintu ruang CEO yang tertutup rapat sebelum merogoh benda pipih itu.

Pesan dari Rafael.

Rafael : Kak, jangan lupa makan siang ya. Jangan sampai maag kamu kumat lagi gara-gara mengurus CEO dinginmu itu!

Senyum tipis yang hangat spontan terbit di bibir Aluna. Rasa bersalah yang sempat membelenggunya tadi malam mendadak luluh oleh perhatian polos pemuda itu.

Aluna: Iya, Rafael. Kamu juga jangan lupa makan siang. Hari ini rapat di kantor sangat padat.

Rafael : Semangat ya, Sayang! Nanti malam aku jemput jam delapan, oke? Aku mau masak pasta buat kamu.

Jemari Aluna membeku sejenak di atas layar kaca. Pikirannya melayang pada status barunya sebagai istri Nael. Namun, tatapan penuh kasih Rafael semalam membuatnya tak sanggup mengetik kata pembatalan.

Aluna: Iya... sampai ketemu nanti malam.

Aluna mengunci layar ponselnya, menyimpan benda itu kembali ke dalam laci meja, lalu menarik napas panjang untuk melanjutkan tumpukan berkas revisi.

Pukul lima sore lewat lima belas menit.

Pintu ruang kerja Nael terbuka. Nael keluar dengan mantel hitam panjang terpasang rapi di tubuh jangkungnya, memegang kunci mobil di jemari.

"Aluna, ikut aku sekarang," ujar Nael singkat tanpa menghentikan langkahnya.

Aluna terkesiap, terburu-buru mematikan komputer dan merapikan tasnya. "Ke mana, Tuan Nael? Ada pertemuan mendadak dengan investor?"

Nael tidak menjawab. Pria itu terus melangkah menuju lift VIP, memaksa Aluna setengah berlari mengekor di belakangnya.

Dua puluh menit kemudian, sedan hitam yang dikendarai Nael berhenti di depan sebuah bangunan megah bergaya Haussmann di kawasan Avenue Montaigne, pusat mode paling bergengsi di Paris.

Nael melangkah masuk ke dalam butik haute couture kenamaan, disambut oleh manajer butik yang menunduk hormat seolah sudah menunggu kedatangan mereka.

"Pilihkan gaun malam paling sempurna untuknya," perintah Nael dingin pada manajer butik seraya menunjuk Aluna.

Aluna mematung di tengah ruangan yang dipenuhi deretan gaun bertabur kristal dengan banderol harga selangit. "Nael... untuk apa semua ini?"

Manajer butik dengan sigap membawa sebuah gaun malam sutra berwarna biru malam (navy) dengan potongan bahu terbuka yang sangat elegan. Tanpa banyak bicara, para staf butik mengarahkan Aluna ke ruang ganti.

Lima belas menit kemudian, Aluna keluar dengan gaun yang melekat sempurna di tubuhnya. Cermin besar memperlihatkan keanggunan yang bahkan membuat Aluna sendiri pangling.

Nael berdiri di sampingnya. Jemari hangat pria itu menyentuh tengkuk Aluna, mengeluarkan cincin platina pernikahan mereka dari kalung, lalu menyematkannya kembali ke jari manis Aluna.

"Malam ini kita makan malam di kediaman utama San Diego," bisik Nael tepat di telinga Aluna, suaranya dalam dan bergetar. "Nenek sudah menunggu."

Tubuh Aluna seketika membeku. Darahnya serasa berhenti mengalir.

"A-apa?!" pekik Aluna panik, matanya membelalak lebar dalam kebingungan yang meluap. "Nael, kau gila?!” Ujar Aluna kecoplosan. Dan buru-buru menutup mulut dengan tangannya. “Ma-maaf, maksudku, kenapa baru bilang sekarang?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 5

    "Aku tidak butuh persetujuanmu, Aluna.""Tapi aku belum siap!" suara Aluna bergetar hebat, napasnya memburu dramatis. "Ini keluarga besar San Diego! Bukankah seharusnya kau memberiku waktu untuk beradaptasi dulu? Aku bahkan belum menghafal silsilah keluargamu atau tata krama makan malam mereka!"Aluna menggenggam lengan jas Nael, tatapannya memohon penuh kegugupan. "Tolong, Nael... batalkan untuk malam ini. Berikan aku waktu beberapa hari,"Nael menggenggam pergelangan tangan Aluna, menatap lurus ke dalam manik mata perempuan yang kini resmi menjadi istrinya itu dengan dominasi mutlak."Tidak ada pembatalan," potong Nael dingin, tak tergerak sedikit pun oleh kepanikan Aluna. "Kau adalah Nyonya San Diego sekarang. Berdirilah di sampingku dan jalankan peranmu."**Mobil sedan hitam Nael meluncur membelah kegelapan malam Kota Paris menuju kawasan elit Neuilly-sur-Seine.Di kursi penumpang, Aluna meremas ponsel pribadinya di bawah pangkuan. Pikirannya kalut membayangkan Rafael yang mungki

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 4

    "M-maaf Tuan Nael, kami masih menunggu penyesuaian dari tim auditor independen pagi ini..."Sebelum ketegangan itu membakar ruangan lebih jauh, Aluna melangkah maju satu langkah secara halus. Tanpa instruksi, dengan keanggunan profesional yang luar biasa, ia menyodorkan sebuah dokumen cetak berlaminasi tipis tepat di samping jemari Nael."Dokumen validasi auditor independen sudah keluar pukul delapan lima puluh pagi ini, Tuan," sela Aluna dengan nada suara yang sangat tenang, jernih, dan terukur. "Deviasi disebabkan oleh kenaikan tarif retribusi pelabuhan lokal. Saya sudah melampirkan lembar skenario mitigasi biaya di halaman tiga untuk persetujuan Anda."Nael mengalihkan pandangannya dari layar proyektor ke dokumen di mejanya, lalu menatap Aluna selama dua detik.Di mata pria itu, terpancar rasa percaya yang mutlak. Aluna tidak hanya bekerja; ia selalu membaca arah pikiran Nael dua langkah di depan orang lain. Tanpa Aluna, rapat ini bisa berubah menjadi ladang pembantaian profesional

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 3

    "Kau membawa dokumen kependudukan yang kuminta semalam?"Suara bariton Nael memecah keheningan di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di tepi jalan Rue de Cortambert. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu gelap, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme teratur.Aluna mengangguk pelan, meremas tas tangannya di atas pangkuan. "Semua sudah ada di dalam map, Nael."Nael melirik jam tangan peraknya sekilas. "Bagus. Petugas Mairie sudah menunggu di dalam. Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum aku harus memimpin rapat direksi."Aluna menatap bangunan Mairie du 16e arrondissement di hadapannya. Langit Paris pagi ini diselimuti kabut tipis, menghembuskan udara dingin yang menusuk hingga ke balik mantel tebalnya.Tidak ada gaun pengantin putih berenda. Tidak ada karangan bunga mawar. Bahkan tidak ada kerabat atau sahabat yang mendampingi."Mari masuk," ajak Nael singkat seraya membuka pintu mobil.Aluna menyulut napas panjang, melangkah mengekor di belakang punggung tegap

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 2

    "Aku... aku akan memutuskan hubungan dengannya," cicit Aluna."Kapan?"Aluna menunduk, menatap uap tipis yang membumbung dari cangkir kopi hangatnya. "Secepatnya.""Aluna!" tegur Moly dengan nada tertahan, cemas sekaligus tidak percaya. "Kau gila, ya?""Aku serius, Moly. Aku akan bicara baik-baik padanya."Moly bersandar kembali ke kursi kayu, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Aluna penuh keprihatinan."Kau baru satu bulan berpacaran dengan budak cinta manis itu, Aluna. Tapi jujur padaku... apa kau sudah punya rasa padanya?"Aluna menggigit bibir bawahnya erat. Jarinya sibuk mengusap gagang cangkir yang hangat."Bukan begitu...""Lalu apa?"Aluna menghela napas panjang, sebuah beban berat terasa menghimpit dadanya. "Rafael membuatku merasa dihargai. Dia membuatku bahagia."Moly memiringkan kepalanya, menatap Aluna dengan pandangan menohok. "Lalu Nael?""Nael adalah pria yang kucintai selama lima tahun terakhir," jawab Aluna jujur tanpa keraguan sedikit pun.Moly menatap s

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 1

    "Aluna, menikahlah denganku."Pulpen hitam di tangan Aluna mendadak berhenti bergerak.Satu detik.Dua detik.Tiga detik.Ia masih berdiri membeku di depan meja kerja jati milik Nael San Diego, merengkuh map laporan keuangan cabang Eropa di dada. Pria di hadapannya bahkan tidak sudi mengangkat kepala. Tatapan matanya yang dingin tetap terpaku pada lembar angka yang sejak lima menit lalu diperiksanya. Di balik jendela kaca besar lantai dua belas, lanskap kota Paris yang diselimuti kabut tipis musim gugur membentang luas, tetapi kehangatan di ruangan itu seolah lenyap seketika.Aluna berkedip lambat. Mengumpulkan kesadarannya yang meraba-raba kekosongan.Mungkin desis pendingin udara kantor yang menghembuskan angin dingin Paris membuat pendengarannya terganggu."Maaf, Tuan Nael?" bisik Aluna, suaranya serak bergetar.Nael membalik halaman dokumen dengan gerakan santai. Suara gesekan kertas kraf terdengar begitu keras di ruangan kedap suara itu."Aku bilang, menikahlah denganku."Jantung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status