LOGIN"Aku tidak butuh persetujuanmu, Aluna."
"Tapi aku belum siap!" suara Aluna bergetar hebat, napasnya memburu dramatis. "Ini keluarga besar San Diego! Bukankah seharusnya kau memberiku waktu untuk beradaptasi dulu? Aku bahkan belum menghafal silsilah keluargamu atau tata krama makan malam mereka!"
Aluna menggenggam lengan jas Nael, tatapannya memohon penuh kegugupan. "Tolong, Nael... batalkan untuk malam ini. Berikan aku waktu beberapa hari,"
Nael menggenggam pergelangan tangan Aluna, menatap lurus ke dalam manik mata perempuan yang kini resmi menjadi istrinya itu dengan dominasi mutlak.
"Tidak ada pembatalan," potong Nael dingin, tak tergerak sedikit pun oleh kepanikan Aluna. "Kau adalah Nyonya San Diego sekarang. Berdirilah di sampingku dan jalankan peranmu."
**
Mobil sedan hitam Nael meluncur membelah kegelapan malam Kota Paris menuju kawasan elit Neuilly-sur-Seine.
Di kursi penumpang, Aluna meremas ponsel pribadinya di bawah pangkuan. Pikirannya kalut membayangkan Rafael yang mungkin saat ini sedang sibuk memasak pasta di apartemen.
Dengan jemari bergetar, Aluna dengan cepat mengetik pesan.
Aluna: Rafael, maafkan aku... Malam ini ada pertemuan mendadak dengan klien penting yang tidak bisa kubatalkan. Makan malam pastanya kita tunda dulu ya? Maafkan aku.
Aluna langsung mematikan layar ponselnya, menyembunyikan benda itu ke dalam tas sebelum Nael meliriknya. Rasa bersalah berdesir hebat di dadanya, terasa kian sesak saat sedan hitam itu melintasi gerbang besi tempa yang menjulang tinggi.
Bangunan mansion klasik bergaya neoklasik berdiri megah di balik pilar-pilar batu yang diterangi lampu sorot hangat.
Begitu mobil berhenti sempurna di pelataran utama, seorang kepala pelayan berjas hitam membukakan pintu untuk mereka dengan sedekap hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan Nael," sapa kepala pelayan paruh baya itu penuh takzim.
Aluna melangkah turun dari mobil. Gaun sutra navy pilihan Nael menjuntai anggun, tetapi lututnya serasa lemas. Jemari tangannya gemetar hebat saat menatap kemegahan pintu ganda di hadapannya.
Nael melangkah mendekat. Tanpa ragu, jemari hangatnya menyusup dan menggenggam erat telapak tangan Aluna yang dingin.
Aluna terkesiap, menengadah menatap profil samping pria itu.
"Ini hanya makan malam, tidak ada yang perlu ditakuti," bisik Nael tepat di samping telinganya. Suaranya dalam dan tenang, menyalurkan sedikit keberanian di tengah kepanikan Aluna.
Langkah kaki mereka bergema pelan di atas lantai marmer yang mengilat. Ketika kepala pelayan mendorong pintu ganda ruang makan utama, riuh percakapan di dalam ruangan mendadak terhenti.
Semua mata seketika tertuju pada pintu masuk.
Di sekeliling meja makan panjang berukir emas, seluruh keluarga besar San Diego telah berkumpul. Di sana duduk kedua orang tua Nael, paman dan bibinya, serta sang Nenek yang duduk di kursi utama bagaikan seorang matriark berpengaruh.
Di samping Nenek, duduk seorang gadis muda berparas jelita dengan gaun desainer ternama, tamu istimewa yang sengaja diundang untuk kencan buta Nael.
Nael tidak melepaskan genggaman tangannya dari Aluna. Pria itu melangkah mantap memasuki ruangan, menarik Aluna untuk berdiri sejajar di sampingnya.
"Kau terlambat, Nael," tegur Nenek San Diego dengan nada tegas namun anggun. Pandangan tajam wanita tua itu beralih pada sosok Aluna. "Dan siapa wanita yang kau bawa ini?"
Nael menyunggingkan senyum tipis yang tak sampai ke mata. Ia membawa tangan Aluna yang melingkar cincin pernikahan ke hadapan mereka semua.
"Perkenalkan pada semuanya," ujar Nael penuh wibawa, suaranya bergema jernih di sekeliling ruangan. "Ini Aluna San Diego. Istri sah saya."
Kling.
Suara denting sendok perak yang terlepas dari jemari sang Bibi memecah keheningan yang mendadak membeku.
Seisi ruang makan mematung tak percaya. Ibu Nael menutup mulutnya dengan telapak tangan, sementara sang Nenek menatap Aluna dengan raut wajah yang berubah drastis menjadi dingin mencekik.
Di antara tatapan syok dan meremehkan dari jajaran keluarga senior yang menganggap Aluna sekadar wanita biasa yang tak sepadan, hanya satu pasang mata yang berbinar terang.
Jules, adik remaja Nael yang berusia enam belas tahun, menyunggingkan senyum lebar penuh ketertarikan.
"Istri?" bisik Nenek San Diego dengan suara rendah yang berbahaya, matanya menghujam Aluna tanpa ampun. "Nael, penjelasan macam apa ini?!"
Keheningan yang mematung di ruang makan utama mansion Neuilly-sur-Seine terasa begitu pekat, seolah-olah oksigen di dalam ruangan telah diisap habis oleh pengakuan impulsif Nael.
Lampu gantung kristal Baccarat yang menggantung megah di atas meja makan memantulkan kilauan dingin pada deretan alat makan perak dan gelas-gelas kristal. Di bawah pendar cahaya itu, wajah Nenek San Diego, Madame Genevieve San Diego, tampak mengeras bagaikan pahatan batu pualam yang purba dan tak tersentuh.
"Penjelasan?" Nael mengulang kata itu dengan nada datar, seolah-olah pertanyaan penuh murka dari matriark keluarga San Diego tersebut hanyalah sebuah konfirmasi agenda rapat harian biasa.
Tanpa sedikit pun mengurai genggaman tangannya dari jemari Aluna yang sedingin es, Nael melangkah maju satu langkah. Langkah kakinya yang mantap mengetuk lantai marmer dengan irama yang tenang dan percaya diri.
"Saya pikir kalimat saya sudah cukup jernih, Nenek," ujar Nael, menatap lurus mata tajam wanita tua di hadapannya. "Aluna adalah perempuan yang saya pilih, dan kami telah meresmikan pernikahan kami secara hukum di Mairie."
Brak.
Paman Nael, Tuan Henri, menghempaskan serbet kainnya ke atas meja makan dengan raut wajah yang meremas murka. "Nael! Kau sudah hilang akal?! Bagaimana mungkin seorang penerus utama San Diego Corp menikah secara sembunyi-sembunyi dengan sekretaris pribadinya sendiri?!"
"Sekretaris?" sahut Bibi Beatrice, ibunda dari Jules, dengan nada suara sinis yang menusuk tajam. Mata berbalut eyeliner tebal itu memindai sosok Aluna dari ujung rambut hingga tatanan gaun sutra navy-nya dengan pandangan merendahkan. "Nael, keluarga kita telah membicarakan rencana aliansi bisnis dengan keluarga De la Tour selama dua tahun terakhir! Dan kau mengacaukan makan malam perjodohan ini hanya untuk membawa seorang wanita kelas pekerja ke meja makan utama San Diego?"
Gadis jelita yang duduk di samping Nenek San Diego, Genevieve De la Tour, tampak memucat. Punggungnya yang tegak kaku menyandar pada sandaran kursi berukir emas. Meski berupaya menjaga keanggunannya sebagai putri pengusaha kosmetik ternama Paris, binar kepahitan dan rasa terhina terpancar jelas dari manik matanya.
Ia mendadak menjadi tokoh figuran dalam panggung yang sengaja disiapkan untuk menjodohkannya dengan CEO muda paling berpengaruh di kawasan Rue de la Paix.
Aluna merasakan tubuhnya gemetar hebat. Setiap kata merendahkan yang dilontarkan oleh keluarga besar San Diego terasa bagaikan sembilu yang menyayat harga dirinya. Ia tahu betul posisinya di mata orang-orang aristokrat ini, sekadar wanita biasa, rakyat jelata tanpa silsilah keluarga terpandang, yang melompati garis batas status sosial demi menikahi warisan takhta San Diego.
"Aku tidak butuh persetujuanmu, Aluna.""Tapi aku belum siap!" suara Aluna bergetar hebat, napasnya memburu dramatis. "Ini keluarga besar San Diego! Bukankah seharusnya kau memberiku waktu untuk beradaptasi dulu? Aku bahkan belum menghafal silsilah keluargamu atau tata krama makan malam mereka!"Aluna menggenggam lengan jas Nael, tatapannya memohon penuh kegugupan. "Tolong, Nael... batalkan untuk malam ini. Berikan aku waktu beberapa hari,"Nael menggenggam pergelangan tangan Aluna, menatap lurus ke dalam manik mata perempuan yang kini resmi menjadi istrinya itu dengan dominasi mutlak."Tidak ada pembatalan," potong Nael dingin, tak tergerak sedikit pun oleh kepanikan Aluna. "Kau adalah Nyonya San Diego sekarang. Berdirilah di sampingku dan jalankan peranmu."**Mobil sedan hitam Nael meluncur membelah kegelapan malam Kota Paris menuju kawasan elit Neuilly-sur-Seine.Di kursi penumpang, Aluna meremas ponsel pribadinya di bawah pangkuan. Pikirannya kalut membayangkan Rafael yang mungki
"M-maaf Tuan Nael, kami masih menunggu penyesuaian dari tim auditor independen pagi ini..."Sebelum ketegangan itu membakar ruangan lebih jauh, Aluna melangkah maju satu langkah secara halus. Tanpa instruksi, dengan keanggunan profesional yang luar biasa, ia menyodorkan sebuah dokumen cetak berlaminasi tipis tepat di samping jemari Nael."Dokumen validasi auditor independen sudah keluar pukul delapan lima puluh pagi ini, Tuan," sela Aluna dengan nada suara yang sangat tenang, jernih, dan terukur. "Deviasi disebabkan oleh kenaikan tarif retribusi pelabuhan lokal. Saya sudah melampirkan lembar skenario mitigasi biaya di halaman tiga untuk persetujuan Anda."Nael mengalihkan pandangannya dari layar proyektor ke dokumen di mejanya, lalu menatap Aluna selama dua detik.Di mata pria itu, terpancar rasa percaya yang mutlak. Aluna tidak hanya bekerja; ia selalu membaca arah pikiran Nael dua langkah di depan orang lain. Tanpa Aluna, rapat ini bisa berubah menjadi ladang pembantaian profesional
"Kau membawa dokumen kependudukan yang kuminta semalam?"Suara bariton Nael memecah keheningan di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di tepi jalan Rue de Cortambert. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu gelap, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme teratur.Aluna mengangguk pelan, meremas tas tangannya di atas pangkuan. "Semua sudah ada di dalam map, Nael."Nael melirik jam tangan peraknya sekilas. "Bagus. Petugas Mairie sudah menunggu di dalam. Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum aku harus memimpin rapat direksi."Aluna menatap bangunan Mairie du 16e arrondissement di hadapannya. Langit Paris pagi ini diselimuti kabut tipis, menghembuskan udara dingin yang menusuk hingga ke balik mantel tebalnya.Tidak ada gaun pengantin putih berenda. Tidak ada karangan bunga mawar. Bahkan tidak ada kerabat atau sahabat yang mendampingi."Mari masuk," ajak Nael singkat seraya membuka pintu mobil.Aluna menyulut napas panjang, melangkah mengekor di belakang punggung tegap
"Aku... aku akan memutuskan hubungan dengannya," cicit Aluna."Kapan?"Aluna menunduk, menatap uap tipis yang membumbung dari cangkir kopi hangatnya. "Secepatnya.""Aluna!" tegur Moly dengan nada tertahan, cemas sekaligus tidak percaya. "Kau gila, ya?""Aku serius, Moly. Aku akan bicara baik-baik padanya."Moly bersandar kembali ke kursi kayu, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Aluna penuh keprihatinan."Kau baru satu bulan berpacaran dengan budak cinta manis itu, Aluna. Tapi jujur padaku... apa kau sudah punya rasa padanya?"Aluna menggigit bibir bawahnya erat. Jarinya sibuk mengusap gagang cangkir yang hangat."Bukan begitu...""Lalu apa?"Aluna menghela napas panjang, sebuah beban berat terasa menghimpit dadanya. "Rafael membuatku merasa dihargai. Dia membuatku bahagia."Moly memiringkan kepalanya, menatap Aluna dengan pandangan menohok. "Lalu Nael?""Nael adalah pria yang kucintai selama lima tahun terakhir," jawab Aluna jujur tanpa keraguan sedikit pun.Moly menatap s
"Aluna, menikahlah denganku."Pulpen hitam di tangan Aluna mendadak berhenti bergerak.Satu detik.Dua detik.Tiga detik.Ia masih berdiri membeku di depan meja kerja jati milik Nael San Diego, merengkuh map laporan keuangan cabang Eropa di dada. Pria di hadapannya bahkan tidak sudi mengangkat kepala. Tatapan matanya yang dingin tetap terpaku pada lembar angka yang sejak lima menit lalu diperiksanya. Di balik jendela kaca besar lantai dua belas, lanskap kota Paris yang diselimuti kabut tipis musim gugur membentang luas, tetapi kehangatan di ruangan itu seolah lenyap seketika.Aluna berkedip lambat. Mengumpulkan kesadarannya yang meraba-raba kekosongan.Mungkin desis pendingin udara kantor yang menghembuskan angin dingin Paris membuat pendengarannya terganggu."Maaf, Tuan Nael?" bisik Aluna, suaranya serak bergetar.Nael membalik halaman dokumen dengan gerakan santai. Suara gesekan kertas kraf terdengar begitu keras di ruangan kedap suara itu."Aku bilang, menikahlah denganku."Jantung







