Share

BAB 3

Author: Tekyuu
last update publish date: 2026-07-18 00:24:58

"Kau membawa dokumen kependudukan yang kuminta semalam?"

Suara bariton Nael memecah keheningan di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di tepi jalan Rue de Cortambert. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu gelap, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme teratur.

Aluna mengangguk pelan, meremas tas tangannya di atas pangkuan. "Semua sudah ada di dalam map, Nael."

Nael melirik jam tangan peraknya sekilas. "Bagus. Petugas Mairie sudah menunggu di dalam. Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum aku harus memimpin rapat direksi."

Aluna menatap bangunan Mairie du 16e arrondissement di hadapannya. Langit Paris pagi ini diselimuti kabut tipis, menghembuskan udara dingin yang menusuk hingga ke balik mantel tebalnya.

Tidak ada gaun pengantin putih berenda. Tidak ada karangan bunga mawar. Bahkan tidak ada kerabat atau sahabat yang mendampingi.

"Mari masuk," ajak Nael singkat seraya membuka pintu mobil.

Aluna menyulut napas panjang, melangkah mengekor di belakang punggung tegap pria itu. Setiap langkah kakinya menuju ruang pencatatan sipil terasa seperti mimpi yang nyata sekaligus tidak nyata.

Proses pencatatan pernikahan secara hukum Prancis itu berlangsung sangat cepat, dingin, dan efisien, persis seperti cara Nael menjalankan operasinya di kantor.

Di hadapan petugas registrar, berkas-berkas diverifikasi, lembar demi lembar dokumen ditandatangani, dan janji suci diucapkan secara tenang tanpa dekorasi berlebihan.

"Selamat, Tuan dan Nyonya San Diego. Secara hukum, Anda berdua resmi menjadi suami istri," ujar petugas registrar seraya menyerahkan dokumen pernikahan.

Kata 'Nyonya San Diego' bergema samar di telinga Aluna, meletupkan getaran asing yang menghangatkan dadanya.

Nael menjabat tangan petugas tersebut secara profesional. "Terima kasih atas bantuannya."

Ketika mereka berjalan kembali menuju mobil, Nael merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak bludru kecil berwarna hitam.

Ia menghentikan langkah tepat di trotoar yang basah oleh sisa gerimis pagi. "Ulurkan tanganmu."

Aluna mematung sejenak, lalu perlahan mengulurkan tangan kanannya yang gemetar.

Nael membuka kotak itu, mengambil sebuah cincin platina polos tanpa permata berlebihan, lalu menyematkannya ke jari manis Aluna. Sentuhan kulit jemari Nael yang hangat membuat Aluna menahan napas.

"Cincin ini pas," gumam Nael menatap jemari Aluna.

"Terima kasih... Nael," bisik Aluna, menatap lingkaran logam di jarinya dengan pendar mata yang menyimpan sejuta makna.

Nael lalu menatap mata Aluna lurus, raut wajahnya kembali mengeras memancarkan aura ketegasan seorang pimpinan.

"Sekarang, dengarkan aturan main kita, Aluna," ujar Nael penuh penekanan.

Aluna mengedipkan mata. "Aturan main?"

"Pernikahan ini sah, tetapi status kita di publik tidak berubah sedikit pun," tegas Nael, suaranya tenang namun dingin. "Di luar rumah, kita adalah CEO dan sekretaris pribadi."

Aluna menelan ludah yang terasa menyengat di tenggorokannya. "Aku mengerti."

"Lepas cincin itu sekarang," perintah Nael.

Aluna terpaku. "Apa?"

"Kita akan tiba di kantor sepuluh menit lagi," sahut Nael santai seraya membukakan pintu mobil untuk Aluna. "Aku tidak ingin ada staf atau satpam gedung yang melihat lingkaran platina itu di jarimu."

Nael menatap Aluna tajam sebelum menambahkan, "Kau hanya boleh memakai cincin itu saat kita berkunjung ke kediaman utama keluarga San Diego. Terutama ketika berada di hadapan Nenek."

Dada Aluna berdenyut nyeri, tetapi ia paham betul komitmen rasional yang sudah disepakatinya.

Dengan jemari agak gemetar, Aluna melepas cincin yang baru saja terpasang kurang dari dua menit lalu. Ia meraih rantai kalung perak dari dalam tasnya, memasukkan cincin itu ke sana, lalu menguncinya di leher.

Cincin pernikahan itu kini tersembunyi aman di balik kerah kemeja kerjanya, menempel tepat di atas permukaan kulit dadanya yang berdesir hangat.

"Sudah kutanggalkan," kata Aluna pelan saat duduk di kursi penumpang.

Nael melirik leher Aluna sekilas, lalu mengangguk puas. "Bagus. Mulai malam ini, barang-barangmu akan dipindahkan ke penthouse-ku di Passy."

"Malam ini juga?" tanya Aluna terkejut.

"Tentu saja. Kita suami istri sekarang, Aluna. Memangnya kau berencana tinggal terpisah?" jawab Nael retoris seraya menekan pedal gas menuju kawasan bisnis Rue de la Paix.

Mobil meluncur membelah lalu lintas Paris yang mulai padat. Sepanjang perjalanan, Aluna menyentuh tonjolan cincin di balik kemejanya dengan ujung jari.

Satu jam kemudian, atmosfer romansa tipis itu menguap tanpa sisa begitu roda mobil menginjak area parkir VIP gedung San Diego Corp.

Nael mematikan mesin mobil. Seketika itu pula, ekspresi santainya melebur hilang, berganti dengan raut dingin dan wibawa mutlak seorang puncak pimpinan eksekutif.

Aluna merapikan kerah kemejanya, memastikan tidak ada rantai kalung yang menyembul keluar. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengubur status barunya sebagai seorang istri dan memasang kembali senyum profesionalnya.

Mereka turun bersama dari mobil di area parkir VIP yang sunyi. Tanpa instruksi, Aluna mengambil posisi berdiri tepat setengah langkah di belakang bahu kanan Nael.

"Laporan audit cabang Lyon sudah disinkronisasi ke tablet rapat?" tanya Nael dingin seraya melangkah mantap menuju lift VIP.

"Sudah, Tuan Nael," sahut Aluna lugas, suaranya kembali formal tanpa cela. "Proyeksi risiko dan mitigasi biaya retribusi juga sudah saya tempatkan di halaman depan."

Pintu lift VIP terbuka. Keduanya melangkah masuk. Dalam pantulan cermin lift tebal itu, mereka tampak seperti CEO dan sekretaris yang sempurna, tanpa ada sedikit pun gestur bahwa lima belas menit lalu jari mereka baru saja saling bertautan di hadapan registrar Mairie.

Begitu pintu lift terbuka di lantai dua belas, ketegangan atmosfer kantor langsung menyapa. Belasan direktur senior yang sudah berkumpul di ruang rapat utama berdiri serentak saat Nael melangkah masuk.

"Duduk," perintah Nael singkat seraya mengambil posisi di ujung meja panjang.

Aluna berdiri sigap di samping kanan kursi Nael, memegang tablet catatan eksekutif dan pulpen khusus. Posisinya tegak, tatapannya tenang, memancarkan aura wibawa seorang sekretaris utama yang disegani seluruh jajaran direksi.

"Kita mulai dengan laporan ekspansi akuisisi di sektor ritel," ujar Nael datar, mengetuk meja dengan ujung jarinya. "Direktur Bernard, silakan."

Direktur Keuangan, seorang pria paruh baya, berdiri dengan dahi berpeluh tipis. Ia mengklik remote proyektor dan mulai memaparkan data keuangan kuartal ketiga.

"Pertumbuhan laba di sektor ritel naik empat persen, namun ada kendala efisiensi logistik di wilayah utara yang membuat margin kita, "

"Tiga koma dua persen," potong Nael dingin, tatapannya menghujam lurus ke proyektor. "Data di layar Anda menunjukkan penurunan tiga koma dua persen di sektor biaya operasional, bukan sekadar kendala biasa. Mengapa deviasinya begitu membengkak?"

Direktur Bernard membeku. Suasana ruang rapat mendadak senyap mencekik. Pria paruh baya itu terbata-bata, tangannya gemetaran membuka lembaran kertas di depannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 5

    "Aku tidak butuh persetujuanmu, Aluna.""Tapi aku belum siap!" suara Aluna bergetar hebat, napasnya memburu dramatis. "Ini keluarga besar San Diego! Bukankah seharusnya kau memberiku waktu untuk beradaptasi dulu? Aku bahkan belum menghafal silsilah keluargamu atau tata krama makan malam mereka!"Aluna menggenggam lengan jas Nael, tatapannya memohon penuh kegugupan. "Tolong, Nael... batalkan untuk malam ini. Berikan aku waktu beberapa hari,"Nael menggenggam pergelangan tangan Aluna, menatap lurus ke dalam manik mata perempuan yang kini resmi menjadi istrinya itu dengan dominasi mutlak."Tidak ada pembatalan," potong Nael dingin, tak tergerak sedikit pun oleh kepanikan Aluna. "Kau adalah Nyonya San Diego sekarang. Berdirilah di sampingku dan jalankan peranmu."**Mobil sedan hitam Nael meluncur membelah kegelapan malam Kota Paris menuju kawasan elit Neuilly-sur-Seine.Di kursi penumpang, Aluna meremas ponsel pribadinya di bawah pangkuan. Pikirannya kalut membayangkan Rafael yang mungki

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 4

    "M-maaf Tuan Nael, kami masih menunggu penyesuaian dari tim auditor independen pagi ini..."Sebelum ketegangan itu membakar ruangan lebih jauh, Aluna melangkah maju satu langkah secara halus. Tanpa instruksi, dengan keanggunan profesional yang luar biasa, ia menyodorkan sebuah dokumen cetak berlaminasi tipis tepat di samping jemari Nael."Dokumen validasi auditor independen sudah keluar pukul delapan lima puluh pagi ini, Tuan," sela Aluna dengan nada suara yang sangat tenang, jernih, dan terukur. "Deviasi disebabkan oleh kenaikan tarif retribusi pelabuhan lokal. Saya sudah melampirkan lembar skenario mitigasi biaya di halaman tiga untuk persetujuan Anda."Nael mengalihkan pandangannya dari layar proyektor ke dokumen di mejanya, lalu menatap Aluna selama dua detik.Di mata pria itu, terpancar rasa percaya yang mutlak. Aluna tidak hanya bekerja; ia selalu membaca arah pikiran Nael dua langkah di depan orang lain. Tanpa Aluna, rapat ini bisa berubah menjadi ladang pembantaian profesional

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 3

    "Kau membawa dokumen kependudukan yang kuminta semalam?"Suara bariton Nael memecah keheningan di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di tepi jalan Rue de Cortambert. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu gelap, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme teratur.Aluna mengangguk pelan, meremas tas tangannya di atas pangkuan. "Semua sudah ada di dalam map, Nael."Nael melirik jam tangan peraknya sekilas. "Bagus. Petugas Mairie sudah menunggu di dalam. Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum aku harus memimpin rapat direksi."Aluna menatap bangunan Mairie du 16e arrondissement di hadapannya. Langit Paris pagi ini diselimuti kabut tipis, menghembuskan udara dingin yang menusuk hingga ke balik mantel tebalnya.Tidak ada gaun pengantin putih berenda. Tidak ada karangan bunga mawar. Bahkan tidak ada kerabat atau sahabat yang mendampingi."Mari masuk," ajak Nael singkat seraya membuka pintu mobil.Aluna menyulut napas panjang, melangkah mengekor di belakang punggung tegap

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 2

    "Aku... aku akan memutuskan hubungan dengannya," cicit Aluna."Kapan?"Aluna menunduk, menatap uap tipis yang membumbung dari cangkir kopi hangatnya. "Secepatnya.""Aluna!" tegur Moly dengan nada tertahan, cemas sekaligus tidak percaya. "Kau gila, ya?""Aku serius, Moly. Aku akan bicara baik-baik padanya."Moly bersandar kembali ke kursi kayu, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Aluna penuh keprihatinan."Kau baru satu bulan berpacaran dengan budak cinta manis itu, Aluna. Tapi jujur padaku... apa kau sudah punya rasa padanya?"Aluna menggigit bibir bawahnya erat. Jarinya sibuk mengusap gagang cangkir yang hangat."Bukan begitu...""Lalu apa?"Aluna menghela napas panjang, sebuah beban berat terasa menghimpit dadanya. "Rafael membuatku merasa dihargai. Dia membuatku bahagia."Moly memiringkan kepalanya, menatap Aluna dengan pandangan menohok. "Lalu Nael?""Nael adalah pria yang kucintai selama lima tahun terakhir," jawab Aluna jujur tanpa keraguan sedikit pun.Moly menatap s

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 1

    "Aluna, menikahlah denganku."Pulpen hitam di tangan Aluna mendadak berhenti bergerak.Satu detik.Dua detik.Tiga detik.Ia masih berdiri membeku di depan meja kerja jati milik Nael San Diego, merengkuh map laporan keuangan cabang Eropa di dada. Pria di hadapannya bahkan tidak sudi mengangkat kepala. Tatapan matanya yang dingin tetap terpaku pada lembar angka yang sejak lima menit lalu diperiksanya. Di balik jendela kaca besar lantai dua belas, lanskap kota Paris yang diselimuti kabut tipis musim gugur membentang luas, tetapi kehangatan di ruangan itu seolah lenyap seketika.Aluna berkedip lambat. Mengumpulkan kesadarannya yang meraba-raba kekosongan.Mungkin desis pendingin udara kantor yang menghembuskan angin dingin Paris membuat pendengarannya terganggu."Maaf, Tuan Nael?" bisik Aluna, suaranya serak bergetar.Nael membalik halaman dokumen dengan gerakan santai. Suara gesekan kertas kraf terdengar begitu keras di ruangan kedap suara itu."Aku bilang, menikahlah denganku."Jantung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status