로그인Marco meninggalkan rumah sakit, ia dibuat penasaran dengan apa yang terjadi antara Tia dan Hadi sebenarnya. Sehingga ia memutuskan untuk menemui sahabatnya dan bertanya langsung apa benar Hadi yang melakukan hal jahat itu pada Tia. Namun, sudah berkali-kali Marco menelpon Hadi tak juga mengangkatnya."Gak biasanya dia begini, apa aku datangi perusahaan nya aja ya?" gumam Marco.Akhirnya lelaki tampan yang terkenal Casanova itu pun pergi ke perusahaan Hadi. Sesampainya di sana, Hadi malah langsung menyuruhnya pergi."Sibuk banget, sampai gak angkat telpon ku?" tanya Marco."Ada apa kamu sampai datang kesini? Aku gak punya waktu untuk bersantai seperti kamu. Lebih baik kamu temui yang lain saja," ucap Hadi.Baru kini Hadi menyadari, ia dan ketiga temannya anak keluarga kaya, yang seharusnya bertanggung jawab atas perusahaan keluarga. Namun, selama ini mereka terlalu banyak bersantai dan tidak memikirkan tanggung jawab perusahaan.Sekarang perusahaan Hadi sedang tidak baik-baik saja, ora
Tia meneteskan air mata, hatinya begitu perih saat Marco dan Hesti menyebut-nyebut nama Hadi. Lelaki yang telah tega melakukan semua itu padanya."Anak ini sudah tidak ada, sekarang aku sebatang kara lagi. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk hidup sendirian dan kesepian," ucap Tia seraya menghapus tetesan air mata di pipinya.Harapan yang sudah mulai tumbuh, kebahagiaan yang ia pikir akan ia rasakan setelah kehadiran buah hati dalam hidupnya, kini semua telah lenyap.Tia memang tak pernah berharap memiliki anak dari Hadi, tapi semenjak ia tahu ada nyawa dalam perutnya ia mulai berharap anak tersebut akan menemani nya sepanjang hidup. Sehingga ia tak lagi sebatang kara, tidak hidup dalam kesepian."Tia, kamu gak sendirian. Ada aku disini," ucap Hesti seraya menggenggam tangan Tia."Orang tuaku sudah pergi, kakek juga pergi. Sekarang baru saja aku senang akan memiliki anak, tetapi lelaki brengsek itu membuat aku kehilangannya. Kenapa dia jahat sekali, apa salahku padanya," ucap Tia mul
"Tempat apa?" tanya Hesti khawatir."Tempat ini sepertinya gedung yang sudah lama terbengkalai," jawab Marco masih sambil melihat laptop nya dengan serius."Apa yah terjadi sama Tia, kenapa dia bisa ada di tempat seperti itu? Cepat antar aku kesana, aku takut Tia kenapa-kenapa, dia sedang hamil muda," ucap Hesti semakin khawatir.Marco menganggukan kepalanya, lalu mulai menyalakan mesin mobil dan mengendarai menuju lokasi yang sudah ia lacak.Beberapa puluh menit kemudian mobil Marco berhenti di titik koordinat, ia dan Hesti turun untuk memastikan sesuatu. Kening Marco berkerut, melihat gedung terbengkalai di depannya."Ini tas Tia," ucap Hesti saat menemukan tas sahabatnya. Ia membuka tas itu dan ternyata ponsel serta dompet Tia masih ada di dalam, bahkan uang di dalam dompet masih utuh."Ponsel, dompet, uang, semua masih ada. Ini pasti bukan perampokan, tapi dimana Tia?" tanya Hesti dengan air mata yang sudah mengajak sungai di pipinya."Kita coba cari ke dalam," ucap Marco.Hesti
Tia terkejut dan ketakutan ketika dirinya dipaksa masuk kedalam mobil oleh dua orang pria, ia mencoba untuk melawan. Namun, semua sia-sia karena tenaganya kalah oleh para lelaki itu."Siapa sebenarnya kalian, mau dibawa kemana aku?" teriak Tia."Diam, jangan berisik. Nanti juga kau akan tahu!" ucap lelaki tersebut.Tubuh Tia bergetar ketakutan, mobil itu melaju dengan kencang hingga akhirnya berhenti di depan sebuah gedung kosong yang lama terbengkalai yang tak terawat, rumput-rumput liar begitu tinggi, banyak barang dan kayu yang tak terpakai di dalamnya."Kenapa kalian membawaku kesini, aku tidak kenal kalian, aku tak memiliki salah pada kalian," ucap Tia dengan suara bergetar."Cerewet banget! Kamu memang gak kenal kami, kami pun gak kenal kamu. Kami hanya menjalankan tugas dari orang yang membayar kami," ucap salah satu lelaki itu."Siapa yang membayar kalian? Apa salahku padanya sampai melakukan ini padaku?" tanya Tia penasaran."Kami tidak tahu apa salahmu padanya, tapi dia han
"Hahaha ... Marry, kau membuatku teringat betapa lincahnya dirimu diatas ranjang. Baiklah, kirim foto orang yang ingin kau urus, apa yang ingin kau lakukan padanya. Anak buah ku pasti bekerja dengan baik."Marry tersenyum licik, ia mematikan panggilan telepon tersebut. Setelah itu mengirim foto Tia dan memerintahkan orang untuk menculik dan menyiksa Tia hingga janin dalam kandungan nya keguguran. Marry juga meminta orang tersebut mengaku jika mereka adalah orang suruhan Hadi."Dengan begini anak itu akan lenyap, Tia pun akan membenci Hadi seumur hidup. Dia tidak akan menginginkan Hadi dan posisi nyonya Prayogi hanya bisa aku yang tempati," gumam Marry dalam hati.Hadi baru selesai rapat, ia dan Rion melewati meja kerja Marry. Melihat Marry tersenyum senang sambil menatap ponsel, lelaki itu pun mendengus kesal."Marry, sepertinya kau sedang santai, apa tidak ada berkas yang ingin kau laporkan padaku?" tanya Hadi dengan nada datar."Sayang, lihatlah meja ini. Tidak ada satu berkas pun
Hadi pulang dengan keadaan mabuk, sementara Marry hanya melihatnya dengan ekspresi dingin."Minum berapa botol dia, sampai mabuk begini?" gumam Marry.Hadi merebahkan tubuhnya di sofa, lalu memejamkan matanya. Tiba-tiba bayangan Tia muncul di hadapannya, menatapnya dengan penuh khawatir."Ya ampun, Mas. Kamu kok mabuk lagi, mama udah bilang kamu gak boleh sering mabuk karena lambung kamu sering sakit. Aku buatkan teh jahe ya, biar lambung kamu gak sakit," ucap Tia dengan suara khawatir nya.Hadi mengangguk dan membuka mata, tetapi bayangan itu seketika menghilang. Lelaki tampan itu pun sadar, semua hanya ilusi, semua yang ia lihat hanya bayangan masa lalu, saat ia dan Tia masih tinggal di rumah yang sama, masih menjadi suami istri.Sekarang Tia bukan lagi istrinya, tidak lagi tinggal di rumah itu."Marry ...." Teriak Hadi."Ada apa?" tanya Marry santai, wanita itu keluar dari kamar dengan memakai baju tidur dan masker di wajahnya."Buatkan aku teh jahe," ucap Hadi."Untuk apa teh jah
Seketika seisi ruangan menjadi hening, mata para pengunjung restoran serta karyawan berpusat pada pertengkaran sepasang suami istri yang hendak bercerai itu. Sementara Hadi sangat terkejut karena ucapan dan tindakan Tia padanya, selama setahun menikah Tia selalu bersikap lembut padanya. Namun hari
Tia masuk kedalam toilet, lalu melakukan tes urin seperti yang di sarankan oleh dokter. Beberapa detik berlalu begitu menegangkan bagi wanita cantik itu, rasanya ia tak siap dengan apa yang akan terjadi. Tia memejamkan mata sambil memegang tes urin itu, lalu perlahan ia membuka matanya, memberanik
Hadi lagi-lagi hanya bisa terdiam melihat kedua orang tuanya pergi meninggalkan nya di ruang tamu yang terasa semakin dingin.Hubungannya dengan kedua orang tua semakin jauh setelah ia memutuskan untuk menikahi Marry, sebab kedua orang tuanya tak pernah menyukai Marry dan tak akan merestui pernikah
Setelah melepaskan pelukan Hesti, Tia berlari menuju toilet dan memuntahkan semua isi perutnya. Ia tak mengerti mengapa tiba-tiba merasakan mual yang begitu hebat, Hesti mengejar langkahnya, setelah melihat Tia sedang muntah di wastafel, Hesti pun membantu memijat tengkuk sahabat nya itu."Tia kamu







