MasukBeberapa hari menjelang akhir pekan, Liora lebih sering menghabiskan waktu sendirian.
Ia bangun lebih pagi dari biasanya, menyiapkan teh hangat untuk dirinya sendiri, lalu duduk di dekat jendela kamar sambil membiarkan pagi berjalan perlahan.
Ia merawat tubuhnya dengan cara yang sederhana. Membersihkan wajah, mengoleskan lotion dengan gerakan pelan, menyisir rambut dengan sabar.
Bukan untuk memikat siapa pun, bukan pula karena tuntutan pertemuan. Ia melakukannya sebagai bentuk penghargaan pada dirinya sendiri, seolah berkata bahwa apa pun hasil pertemuan nanti, ia tetap pantas diperlakukan dengan lembut.
Di sela waktu luang itu, Liora membuka ponsel dan menonton video-video pendek tentang bahasa isyarat.
Halo. Terima kasih.
Hanya dua itu yang berhasil ia ingat dan latih berulang-ulang di depan cermin. Gerakannya masih kaku, jari-jarinya sering salah posisi. Tapi ia berusaha.
Karena ia ingat betul bagaimana Tante menyebutkannya.
Lelaki bisu.
Dan karena itu, Liora datang dengan persiapan yang tidak biasa.
Ia sudah menata dirinya untuk menghadapi keheningan panjang. Untuk membaca bahasa tubuh, menangkap makna dari tatapan mata, atau mungkin menunggu selembar kertas dan pulpen dikeluarkan dari saku jas.
Bahkan semalaman ia sempat mencari artikel tentang etika berbicara dengan penyandang disabilitas bicara. Apa yang sebaiknya dihindari, apa yang seharusnya dilakukan.
Ia tidak ingin menyinggung. Tidak ingin terlihat bodoh.
Pagi hari pertemuan, Liora berdiri lama di depan cermin.
Rambut hitamnya ia biarkan tergerai, hanya dirapikan sedikit agar tidak menutupi wajah. Gaun ungu yang ia pinjam dari Tante jatuh pas di tubuhnya. Sederhana, tertutup, namun cukup anggun untuk sebuah pertemuan penting.
Wajahnya tampak tenang, tetapi mata itu menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang. Kelelahan dari tekanan, dari keputusan yang tidak sepenuhnya ia pilih.
Jadilah dirimu sendiri, katanya pada bayangan di cermin.
Jika lelaki itu baik, itu sudah cukup.
Paman memberitahu bahwa calon yang akan ditemuinya memilih sendiri tempat pertemuan. Liora diminta datang seorang diri. Tante maupun Paman tidak akan menemani.
Barangkali lelaki bisu itu menginginkan privasi.
Sebelum berangkat, Paman sempat memberi beberapa petunjuk singkat.
“Namanya Kairan,” katanya. “Kamu akan mudah mengenalinya. Dia punya lesung pipi di kiri. Katanya hari ini dia pakai kemeja putih. Kalau kamu bingung, telepon Paman saja.”
Liora mengangguk patuh. Ia tidak bertanya banyak.
Restoran yang disebutkan Paman ternyata jauh lebih eksklusif dari yang ia bayangkan.
Liora datang sendiri dengan taksi. Begitu turun, ia merapikan kembali gaunnya, memastikan tidak ada lipatan aneh, lalu menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.
Restoran itu sunyi. Terlalu sunyi untuk jam makan malam.
Seorang pelayan menyambutnya dengan sopan dan mengantarnya ke sebuah ruangan privat. Di atas meja, terpasang papan kecil dengan satu nama tercetak rapi.
Kairan Narel Ardana.
Jantung Liora berdetak lebih cepat.
Ia memesan ruangan ini hanya untuk mereka berdua?
Pintu ruangan terbuka.
Seorang lelaki berdiri membelakangi pintu. Bahunya lebar. Posturnya tegap. Rambut hitamnya memantulkan semburat cokelat keemasan di bawah lampu gantung.
Pelayan pamit, menutup pintu dari luar.
Lelaki itu berbalik.
Dan Liora terdiam.
Tidak bisa dipungkiri, yang Liora lihat pertama kali adalah tampangnya yang rupawan. Tatapan mata cokelat muda itu menenangkannya dengan cara yang tidak ia mengerti. Tidak tajam, tidak mengintimidasi. Hanya menenangkan.
Lelaki itu membungkukkan badan dengan sopan. Gerakannya tenang. Terukur.
Liora membalas dengan anggukan kecil dan duduk di kursi seberangnya.
Secara refleks, matanya menyapu meja.
Tidak ada kertas. Tidak ada pulpen. Tidak ada ponsel yang diletakkan terbuka.
Dadanya sedikit mengencang.
Ia menelan ludah, lalu memutuskan berbicara terlebih dahulu.
“Namaku Liora Amadea,” katanya gugup. “Usiaku tiga puluh tahun. Aku tinggal bersama Paman dan Tante.”
Begitu kalimat itu keluar, ia langsung menyesal. Terlalu formal. Terlalu seperti wawancara.
Namun lelaki di hadapannya hanya mendengarkan.
Tatapannya fokus. Tidak tergesa. Tidak memotong.
Keheningan kembali turun, kali ini terasa lebih berat. Liora teringat sesuatu dan buru-buru mengangkat tangan.
“Oh, aku belajar sedikit bahasa isyarat,” katanya cepat, seolah itu bisa menyelamatkan situasi.
Ia mengangkat tangan kanan ke dahi, telapak menghadap ke luar, lalu menggerakkannya menjauh dalam gerakan kecil.
“Ini… halo,” katanya sambil tersenyum kikuk.
Ia lalu membuka telapak tangan, menyentuh bibir, dan menggerakkannya ke depan.
“Dan ini terima kasih.”
Liora menatap lelaki itu penuh harap dan cemas.
“Aku akan belajar lebih banyak lagi bahasa isyarat,” tambahnya pelan. “Supaya kita bisa… berkomunikasi.”
Untuk beberapa detik, lelaki itu hanya menatapnya.
Lalu satu alisnya terangkat.
Gerakan kecil itu cukup membuat jantung Liora mencelus.
Ia mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangannya bertumpu di meja.
“Untuk apa belajar bahasa isyarat?”
Suara itu rendah. Tenang. Jelas.
Liora membeku.
Darahnya terasa berhenti mengalir. Wajahnya memucat, napasnya tertahan di tenggorokan.
Ia menatap lelaki di hadapannya dengan mata membesar.
Ia tidak salah dengar.
Suara itu memang berasal dari lelaki yang sejak awal ia yakini bisu.
“Eh? Bu-bukannya kamu... bisu?”
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Namaku Kairan Narel Ardana,” katanya lagi. “Dan aku nggak bisu.”
BERSAMBUNG
***
Belajar dari kejadian sebelumnya, Liora kini tidak lagi pergi tanpa berpamitan.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya sebentar sebelum mengetik pesan di ponsel.‘Aku mau ke toko buku sebentar ya.’Pesan itu terkirim, lalu ia menunggu. Bukan karena takut, melainkan karena ingin. Ada perasaan baru yang tumbuh dalam dirinya. Keinginan untuk saling memberi tahu, untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.Tak lama kemudian balasan masuk.‘Iya. Hati-hati.’Sederhana. Namun cukup membuat hati Liora terasa ringan.Ia keluar rumah dengan langkah tenang, memanggil taksi seperti biasa. Dalam perjalanan, pikirannya dipenuhi rencana kecil yang terasa menyenangkan.Sejak kecil, menggambar adalah dunianya. Buku-buku sketsa lama dan alat pewarna favoritnya tertinggal di rumah Paman. Setelah menikah, barulah ia terpikir untuk menghidupkan kembali hobi itu. Mengisi waktu, mengisi diri.Di toko buku, Liora berke
Setelah teriakan itu pecah di dalam mobil, tak ada lagi suara yang tersisa.Liora membuang wajahnya ke arah jendela, menolak menatap Kairan. Dadanya naik turun, amarah bercampur sesak masih menekan kuat. Jika ia menoleh sekarang, ia takut akan kembali menangis. Atau justru mengatakan sesuatu yang lebih melukai.Perjalanan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu jalan berbaris tanpa arti. Tidak ada musik, tidak ada percakapan. Hanya keheningan yang kali ini tidak netral, melainkan penuh sisa emosi.Ketika mobil berhenti di halaman rumah, Liora turun lebih dulu. Tangannya mendorong pintu dengan kasar hingga suara bantingan terdengar nyaring di malam yang sunyi.Ia tidak menunggu. Tidak menoleh. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju kamarnya.Begitu pintu kamar tertutup, Liora menjatuhkan diri ke atas kasur. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Tubuhnya meringkuk, memeluk diri sendiri seperti janin yang mencari am
“Halo?”Suara Liora terdengar ragu saat menerima panggilan itu. Bahkan sebelum ia sempat menarik napas lebih dalam, dadanya sudah terasa sesak. Ia menelan ludah, bersiap mendengar suara di seberang sana.“Kamu dimana?”Nada suara Kairan terdengar tegang. Ada emosi yang ditimbulkan dari sepatah kata barusan.“A-aku ada di pantai,” Liora menjawab sembari ketakutan.Tangannya refleks memilin ujung baju. Seperti anak kecil yang ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Padahal ia hanya pergi sebentar. Padahal ia sudah meninggalkan pesan.“Pantai mana?”Nada itu masih sama. Datar, namun ditekan oleh emosi yang tertahan.Liora menyebutkan nama pantai, lalu menjelaskan rumah makan seafood tempatnya berada. Ia bicara terbata, takut ada satu kata saja yang salah dan akan membuat Kairan semakin marah.Belum sempat ia menambahkan apa pun, sambungan telepon terputus.TUT.Bunyi itu menggem
Belum pernah dalam hidup Liora merasa sangat jenuh. Kesunyian di dalam rumahnya membuat Liora seakan tertekan dan makin bersedih.Dia merasa tidak ada satu pun di rumahnya yang bisa menghibur hatinya saat ini.Maka Liora memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah itu. Dia ingin bisa bernapas. Ingin membuang kegelisahan dan sesak yang dia sendiri tidak bisa menjabarkannya dengan baik.Liora hanya membawa tas kecil berisi dompet dan ponselnya. Dia hanya berencana untuk pergi sebentar, bukan selamanya.Dia hanya sedang marah dengan sikap dingin Kairan, bukan ingin meninggalkannya.Sebelum melangkah pergi, ia menulis sepucuk pesan singkat di selembar kertas. Tangannya bergetar halus saat menuliskan kalimat sederhana. Ia akan keluar sebentar dan akan kembali. Kertas itu ia letakkan di atas meja ruang tamu, tempat yang pasti akan dilewati Kairan saat pulang nanti.Liora tidak mampu mengirimkan pesan ke ponsel Kairan. Dia masih belum bi
Liora menangis.Di dalam bioskop yang gelap, di antara cahaya layar yang silih berganti menampilkan adegan romantis, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menutup mata, bukan karena filmnya terlalu menyentuh, melainkan karena pikirannya telah berkelana terlalu jauh—ke tempat yang tidak seharusnya ia datangi.Di dalam bayangannya, Kairan menatapnya dengan mata yang hangat. Lelaki itu memanggil namanya dengan suara lembut, menyebut “Liora” seolah nama itu adalah sesuatu yang berharga. Dalam khayalnya, Kairan mencintainya. Menciumnya. Memeluknya tanpa ragu.Namun kesedihan datang menghantam dengan brutal ketika Liora sadar, semua itu tidak nyata.Ia terisak karena harus sampai membayangkan dirinya menjadi Anais hanya untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya sendiri.Liora bersumpah, ia tidak mengenal Anais. Tidak tahu bagaimana sifat wanita itu, tidak tahu apakah ia lebih cantik, lebih lembut, atau lebih pantas dari dirinya.Namun s
Sejak menikah dengan Kairan, dunia Liora seolah berhenti di dalam rumah itu.Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang sama. Memasak, membersihkan rumah, menunggu Kairan pulang, lalu kembali tenggelam dalam sunyi. Ia tidak keberatan dengan kehidupan yang tenang.Namun, tetap saja ada bagian kecil dalam dirinya yang rindu pada sesuatu yang berbeda. Keluar rumah. Menghirup udara kota. Merasa menjadi seorang istri yang diajak berjalan bersama.Karena itu, ketika Kairan mengajaknya menonton bioskop, jantung Liora langsung berdebar.Bukan karena filmnya.Melainkan karena ini adalah kali pertama mereka pergi bersama sejak menikah. Kencan pertama, meski tak pernah disebut sebagai kencan.Liora mempersiapkan dirinya dengan lebih sungguh-sungguh dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memastikan setiap detail tampak pantas. Gaun sederhana berwarna krem membingkai tubuhnya dengan lembut. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya dijepit di satu







