แชร์

Bab 3. Lelaki Bisu

ผู้เขียน: Liani April
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-05 13:58:31

Beberapa hari menjelang akhir pekan, Liora lebih sering menghabiskan waktu sendirian.

Ia bangun lebih pagi dari biasanya, menyiapkan teh hangat untuk dirinya sendiri, lalu duduk di dekat jendela kamar sambil membiarkan pagi berjalan perlahan.

Ia merawat tubuhnya dengan cara yang sederhana. Membersihkan wajah, mengoleskan lotion dengan gerakan pelan, menyisir rambut dengan sabar.

Bukan untuk memikat siapa pun, bukan pula karena tuntutan pertemuan. Ia melakukannya sebagai bentuk penghargaan pada dirinya sendiri, seolah berkata bahwa apa pun hasil pertemuan nanti, ia tetap pantas diperlakukan dengan lembut.

Di sela waktu luang itu, Liora membuka ponsel dan menonton video-video pendek tentang bahasa isyarat.

Halo. Terima kasih.

Hanya dua itu yang berhasil ia ingat dan latih berulang-ulang di depan cermin. Gerakannya masih kaku, jari-jarinya sering salah posisi. Tapi ia berusaha.

Karena ia ingat betul bagaimana Tante menyebutkannya.

Lelaki bisu.

Dan karena itu, Liora datang dengan persiapan yang tidak biasa.

Ia sudah menata dirinya untuk menghadapi keheningan panjang. Untuk membaca bahasa tubuh, menangkap makna dari tatapan mata, atau mungkin menunggu selembar kertas dan pulpen dikeluarkan dari saku jas.

Bahkan semalaman ia sempat mencari artikel tentang etika berbicara dengan penyandang disabilitas bicara. Apa yang sebaiknya dihindari, apa yang seharusnya dilakukan.

Ia tidak ingin menyinggung. Tidak ingin terlihat bodoh.

Pagi hari pertemuan, Liora berdiri lama di depan cermin.

Rambut hitamnya ia biarkan tergerai, hanya dirapikan sedikit agar tidak menutupi wajah. Gaun ungu yang ia pinjam dari Tante jatuh pas di tubuhnya. Sederhana, tertutup, namun cukup anggun untuk sebuah pertemuan penting.

Wajahnya tampak tenang, tetapi mata itu menyimpan kelelahan yang belum sepenuhnya hilang. Kelelahan dari tekanan, dari keputusan yang tidak sepenuhnya ia pilih.

Jadilah dirimu sendiri, katanya pada bayangan di cermin.

Jika lelaki itu baik, itu sudah cukup.

Paman memberitahu bahwa calon yang akan ditemuinya memilih sendiri tempat pertemuan. Liora diminta datang seorang diri. Tante maupun Paman tidak akan menemani.

Barangkali lelaki bisu itu menginginkan privasi.

Sebelum berangkat, Paman sempat memberi beberapa petunjuk singkat.

“Namanya Kairan,” katanya. “Kamu akan mudah mengenalinya. Dia punya lesung pipi di kiri. Katanya hari ini dia pakai kemeja putih. Kalau kamu bingung, telepon Paman saja.”

Liora mengangguk patuh. Ia tidak bertanya banyak.

Restoran yang disebutkan Paman ternyata jauh lebih eksklusif dari yang ia bayangkan.

Liora datang sendiri dengan taksi. Begitu turun, ia merapikan kembali gaunnya, memastikan tidak ada lipatan aneh, lalu menarik napas panjang sebelum melangkah masuk.

Restoran itu sunyi. Terlalu sunyi untuk jam makan malam.

Seorang pelayan menyambutnya dengan sopan dan mengantarnya ke sebuah ruangan privat. Di atas meja, terpasang papan kecil dengan satu nama tercetak rapi.

Kairan Narel Ardana.

Jantung Liora berdetak lebih cepat.

Ia memesan ruangan ini hanya untuk mereka berdua?

Pintu ruangan terbuka.

Seorang lelaki berdiri membelakangi pintu. Bahunya lebar. Posturnya tegap. Rambut hitamnya memantulkan semburat cokelat keemasan di bawah lampu gantung.

Pelayan pamit, menutup pintu dari luar.

Lelaki itu berbalik.

Dan Liora terdiam.

Tidak bisa dipungkiri, yang Liora lihat pertama kali adalah tampangnya yang rupawan. Tatapan mata cokelat muda itu menenangkannya dengan cara yang tidak ia mengerti. Tidak tajam, tidak mengintimidasi. Hanya menenangkan.

Lelaki itu membungkukkan badan dengan sopan. Gerakannya tenang. Terukur.

Liora membalas dengan anggukan kecil dan duduk di kursi seberangnya.

Secara refleks, matanya menyapu meja.

Tidak ada kertas. Tidak ada pulpen. Tidak ada ponsel yang diletakkan terbuka.

Dadanya sedikit mengencang.

Ia menelan ludah, lalu memutuskan berbicara terlebih dahulu.

“Namaku Liora Amadea,” katanya gugup. “Usiaku tiga puluh tahun. Aku tinggal bersama Paman dan Tante.”

Begitu kalimat itu keluar, ia langsung menyesal. Terlalu formal. Terlalu seperti wawancara.

Namun lelaki di hadapannya hanya mendengarkan.

Tatapannya fokus. Tidak tergesa. Tidak memotong.

Keheningan kembali turun, kali ini terasa lebih berat. Liora teringat sesuatu dan buru-buru mengangkat tangan.

“Oh, aku belajar sedikit bahasa isyarat,” katanya cepat, seolah itu bisa menyelamatkan situasi.

Ia mengangkat tangan kanan ke dahi, telapak menghadap ke luar, lalu menggerakkannya menjauh dalam gerakan kecil.

“Ini… halo,” katanya sambil tersenyum kikuk.

Ia lalu membuka telapak tangan, menyentuh bibir, dan menggerakkannya ke depan.

“Dan ini terima kasih.”

Liora menatap lelaki itu penuh harap dan cemas.

“Aku akan belajar lebih banyak lagi bahasa isyarat,” tambahnya pelan. “Supaya kita bisa… berkomunikasi.”

Untuk beberapa detik, lelaki itu hanya menatapnya.

Lalu satu alisnya terangkat.

Gerakan kecil itu cukup membuat jantung Liora mencelus.

Ia mencondongkan tubuh ke depan, kedua tangannya bertumpu di meja.

“Untuk apa belajar bahasa isyarat?”

Suara itu rendah. Tenang. Jelas.

Liora membeku.

Darahnya terasa berhenti mengalir. Wajahnya memucat, napasnya tertahan di tenggorokan.

Ia menatap lelaki di hadapannya dengan mata membesar.

Ia tidak salah dengar.

Suara itu memang berasal dari lelaki yang sejak awal ia yakini bisu.

“Eh? Bu-bukannya kamu... bisu?”

Lelaki itu tersenyum tipis.

“Namaku Kairan Narel Ardana,” katanya lagi. “Dan aku nggak bisu.”

BERSAMBUNG

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suamiku Duda Bisu   Bonus Part : Kinara dan Niro

    Bonus Part : Kinara dan NiroKinara sedang memeriksa seorang ibu hamil yang datang sendirian sore itu. Mereka duduk saling berhadapan di ruang praktik yang mulai lengang, sebab pasiennya memang sudah hampir habis.Kinara menuliskan resep obat dengan rapi di atas meja, lalu bertanya sekadar basa-basi, seperti yang biasa ia lakukan untuk mencairkan suasana.“Bunda datang sendiri? Suaminya enggak ikut?”Wanita berambut kepang itu tersipu. Bukannya menjawab biasa, ia malah terkikik pelan seolah menyimpan sesuatu yang lucu.Kinara mengangkat alis, heran.“Kenapa?”Wanita itu mendekat sedikit, lalu berbisik seperti sedang membagikan rahasia.“Suamiku malu datang ke sini, Bu Dokter.”“Malu?” Kinara tertawa kecil. “Memangnya kenapa?”Wanita itu melirik ke kiri dan kanan, memastikan tak ada orang lain, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menggeser-g

  • Suamiku Duda Bisu   Bonus Part : Harra dan Harri

    Bonus Part : Harra dan HarriHarra dan Harri kini sudah berusia tujuh tahun. Usia di mana energi mereka seolah tidak pernah habis.Rumah yang dulu terasa luas kini sering terasa sempit oleh tawa, langkah kaki kecil, dan suara pertengkaran sepele yang cepat datang, cepat pula pergi.Sejak kecil, Liora menyadari keduanya mewarisi bakat menggambar darinya. Terutama Harri, yang bisa duduk lama hanya untuk menorehkan garis-garis kecil di kertas. Harra tak kalah berbakat, meski ia lebih suka menggambar bunga, rumah, dan wajah orang-orang yang ia cintai.Liora senang melihat bakat itu tumbuh. Ia bahkan menyediakan meja khusus, kotak alat gambar, dan dinding papan tulis kecil di ruang bermain mereka.Sayangnya, dua anak itu tetap menganggap tembok rumah sebagai kanvas paling menarik.Baru minggu lalu Liora mengecat ulang salah satu dinding ruang keluarga yang dipenuhi cor

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 159. Hanya Tahu Mencintai

    Kairan sedang berada di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar. Nama Hilda muncul di layer. Nomor pribadi yang jarang sekali digunakan kecuali dalam keadaan mendesak.Begitu ia mengangkat, suara panik langsung menyambutnya.“Pak, ketuban Ibu pecah!”Kairan seketika berdiri. Kursinya terdorong ke belakang tanpa ia pedulikan.“Bagaimana keadaan Liora sekarang?”“Ibu sudah dibawa Maya ke rumah sakit, Pak. Sepertinya Ibu mau melahirkan hari ini!”Kairan tidak menunggu lebih lama. Ia meraih kunci mobil di meja, lalu berjalan cepat keluar ruangan.Selama berbulan-bulan terakhir ia sudah mempersiapkan segalanya untuk kelahiran kedua bayi kembar mereka. Ia bahkan jarang datang ke kantor. Hari ini saja ia memaksa datang untuk menyelesaikan satu urusan penting. Dan justru hari ini pula kedua bayi itu memilih lahir.“Aku langsung ke rumah sakit,” katanya cepat melalui telepon. “Tolong siapkan tas bayi dan baju Liora. Semua yang sudah ki

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 158. Mengerti

    Sudah lama Kinara tidak menginjakkan kaki di kafe tempat Niro dulu bekerja. Tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan, dan selama ini ia tak merasa perlu kembali. Namun siang tadi, sebuah telepon dari salah satu pelayan lama di sana membuatnya berubah pikiran.Pria itu mengatakan Niro ada di kafe itu.Kinara yang beberapa hari terakhir kesulitan menghubungi Niro langsung memutuskan datang. Ada kecemasan yang sejak kemarin menempel di dadanya, dan ia tahu ia tidak akan tenang sebelum melihat sendiri keadaan lelaki itu.Begitu mendorong pintu kafe, aroma kopi dan musik pelan langsung menyambutnya. Kinara berdiri sejenak di ambang pintu, matanya berkeliling mencari sosok yang ia tuju. Tidak sulit menemukannya.Niro duduk di kursi bar, menghadap ke meja bartender. Bahunya sedikit membungkuk, kepalanya tertunduk. Di depannya berdiri pria yang tadi menelepon Kinara.Kinara melangkah mendekat.Ia duduk di kursi kosong di samping Niro tanpa berka

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 157. Menyayangi

    Kairan memberi kabar bahwa pesawat pribadi yang ia tumpangi akan segera mendarat.Ia datang bersama Yann, dan Niro ikut dalam penerbangan itu. Dari udara, Niro sempat menghubungi Oma, memberi tahu bahwa mereka hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum tiba.Di bandara, Liora sudah menunggu sejak lama.Ia tidak sanggup menunggu di rumah. Duduk diam hanya membuat pikirannya berlari ke mana-mana. Maka ia memilih berdiri di dekat pintu kedatangan, mondar-mandir kecil sambil terus menatap pintu otomatis yang belum juga terbuka.Keluarga Kairan ikut berkumpul di sana. Namun Liora nyaris tidak mendengar percakapan mereka. Fokusnya hanya satu, Kairan.Rasa cemas bercampur harap membuat napasnya pendek-pendek.Rupanya mereka bukan satu-satunya yang menunggu.Beberapa paparazi sudah berjajar, kamera siap mengarah ke pintu kedatangan. Kisah Kairan yang disebut selamat dari tragedi pesawat membuat namanya kembali menjadi sorotan. Publik ingin tah

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 156. Liora Harus Tahu

    Kairan sudah berada di jalanan.Dengan kedua kaki yang mulai gemetar, ia berjalan menyusuri jalan luas yang gelap dan sepi. Tidak ada lampu, tidak ada suara kendaraan, hanya angin malam yang menggesek tanah tandus.Langkah demi langkah ia paksa.Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Ia hanya tahu ia harus terus berjalan sampai menemukan seseorang. Apa saja. Siapa saja.Namun jalan itu seperti tidak berujung.Kairan semakin limbung. Tenggorokannya kering, perutnya kosong, kepalanya berdenyut hebat karena luka yang belum tertangani. Dunia terasa berputar.Akhirnya, tubuhnya menyerah.Ia ambruk di tengah jalan, terlentang di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas siang tadi.Napasnya berat.Matanya menatap langit yang luas, dipenuhi bintang yang berhamburan seperti taburan cahaya kecil.Seandainya keadaan berbeda, ia mungkin akan menikmati pemandangan itu. Mungkin ia akan mengingat malam ketika ia dan Liora berdiri

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 129. Pulang Saja

    “Kamu ini sudah gila atau apa?”Suara Niro meledak begitu saja di halaman rumah. Wajahnya yang biasanya santai kini menegang, rahangnya mengeras menahan emosi.“Sudah bagus Kairan sekarang cuma memikirkanmu setelah perjalanan panjang kisah cintanya yang ruwet itu. Sudah bagus dia be

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 128. Main Api

    Pagi itu Kairan sudah bangun lebih dulu.Saat Liora membuka mata, aroma sabun dan parfum yang asing langsung menyentuh indra penciumannya. Ia mengerjap pelan, masih setengah mengantuk, lalu menangkap pemandangan yang membuatnya benar-benar terjaga.Kairan berdiri di depan cermin, be

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 126. Kairan Sayang

    Sejak Kairan menyetujui permintaannya untuk menikah lagi, Liora seperti hidup di dalam dunia yang ia ciptakan sendiri.Rumah yang selama ini terasa terlalu luas dan terlalu sunyi, mendadak berubah dalam bayangannya. Ia bisa melihat anak-anak berlarian di ruang tengah. Tawa kecil menggema d

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 125. Perang Dingin

    Kairan menghela napas panjang.Ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang baru saja keluar dari mulut istrinya.Ia tahu kabar tentang kondisi Liora menghantamnya keras. Ia tahu wanita itu terpukul. Namun bukan berarti ia bisa melontarkan ide seaneh dan segila ini dengan wajah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status