ログインPagi itu, Liora seolah tidak diberi kesempatan bernapas.
“Liora,” panggil Tante saat sarapan. “Calon yang Tante ceritakan kemarin sudah setuju bertemu.”
Sendok Liora berhenti.
“Bertemu?” ulangnya pelan.
“Iya. Minggu ini. Luangkan waktumu.”
Senyum Tante mengembang, puas, seolah keputusan sepenting itu sudah selesai tanpa perlu persetujuan Liora.
Paman yang duduk di seberang meja ikut menimpali dengan suara hati-hati, “Kamu mau, kan, Liora?”
Liora menunduk. Ada ragu yang mengendap di dadanya.
“Sebenarnya… aku belum siap.”
“Kalau begitu, kapan kamu akan siap?” potong Tante cepat. “Jangan keras kepala. Kami ini memikirkan yang terbaik buat kamu.”
Liora tidak menjawab. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat. Diam selalu menjadi caranya bertahan.
Hari-hari berikutnya terasa semakin sempit. Tante semakin sering membicarakan pernikahan. Foto calon ditunjukkan. Jadwal pertemuan disebutkan berulang-ulang. Bahkan tetangga ikut memberi komentar, seolah hidup Liora sudah menjadi konsumsi bersama.
Dan di tengah semua itu, hanya satu nama yang terus muncul di benaknya.
Niro.
Liora tidak bisa menyangkal perasaannya pada barista itu. Bukan karena ia yakin. Bukan karena ia mengenalnya dengan baik. Tapi karena hanya di dekat Niro, ia merasa tidak dikejar waktu. Tidak dinilai. Tidak dituntut menjadi siapa pun.
Perasaannya sederhana. Bahkan mungkin naif. Ia tidak pernah pacaran. Tidak tahu bagaimana rasanya diperjuangkan. Namun setiap kali duduk di Cafe Mori, setiap kali berbincang singkat dengan Niro, dunia terasa sedikit lebih ramah.
Dalam keadaan terdesak, Liora berpikir barangkali sudah waktunya ia berhenti diam.
Maka hari itu, Liora kembali ke Cafe Mori dengan tujuan yang berbeda.
Ia duduk di meja pojok. Meja yang sama. Pesanannya pun sama. Kopi susu panas.
Namun kali ini, punggungnya tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Terlalu siap untuk sekadar minum kopi.
Niro sedang meracik minuman di balik meja bar. Tangannya cekatan, wajahnya santai dan tersenyum. Senyum kecil yang sering membuat pelanggan betah berlama-lama, terutama perempuan.
Hari itu, Niro melirik Liora lebih dari sekali.
Ada sesuatu yang berbeda. Biasanya Liora datang dengan wajah tenang, sedikit kikuk, seperti tamu yang takut merepotkan. Tapi kini ia tampak kaku, seperti seseorang yang sedang menahan napas terlalu lama.
Niro meletakkan lap dan mendekat.
“Apa kopinya kurang panas?” tanyanya ringan.
Liora menggeleng cepat. “Enggak. Pas.”
Jawabannya terlalu singkat.
Niro menyandarkan siku di meja bar. “Kamu kelihatan tegang.”
Liora menelan ludah. Kalimat itu menggantung sebentar sebelum akhirnya ia memberanikan diri.
“Aku… mau bicara sama kamu,” katanya pelan, hampir kalah oleh dengung mesin kopi.
Alis Niro terangkat tipis. Bukan terkejut, melainkan tertarik.
“Serius?” Ia tersenyum. “Tentang apa?”
Liora menarik napas. Dalam. Lalu menghembuskannya perlahan.
“Keluargaku ingin aku menikah secepatnya.”
Senyum Niro tidak langsung hilang. Tapi ada jeda kecil sebelum ia kembali bersandar tegak.
“Oh,” katanya. “Selamat?”
Nada itu terlalu ringan.
“Aku belum bilang iya.”
“Hmm.” Niro mengangguk. “Terus?”
“Aku juga sudah disiapkan calonnya.”
Tatapan Niro kini lebih tajam. Mengamati.
“Lalu, untuk apa kamu menceritakan ini padaku?” tanyanya akhirnya. Bukan sinis. Tapi juga tidak peduli.
Liora terdiam sejenak. Kata-kata selalu menjadi hal tersulit baginya.
“Aku hanya ingin tahu,” ucapnya hati-hati, “…apa aku sebaiknya menerima saja.”
Niro tersenyum kecil. Senyum yang tidak sama dengan senyum ramahnya pada pelanggan.
“Kamu tanya ke orang yang salah. Aku bukan ahli pernikahan.”
“Aku tahu.”
Hening menggantung di antara mereka. Mesin kopi mendesis. Sendok beradu dengan cangkir di meja lain.
Niro mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. Suaranya direndahkan.
“Kamu suka dia?”
“Enggak.”
“Terus apa yang mengganggu pikiranmu?”
“Karena aku menyukai orang lain.”
Kalimat itu meluncur tanpa sempat ditahan.
Tatapan Niro berubah.
“Siapa?” tanyanya, meski jawabannya jelas.
Liora menelan ludah. “Kamu, Niro.”
Hening.
Detik-detik itu terasa panjang dan berat. Liora menunggu apa pun selain tatapan datar itu.
Niro tersenyum kecil. Tidak hangat.
“Kamu tahu kenapa aku nyaman ngobrol sama kamu?” katanya. “Karena kamu tenang. Datang, duduk, pulang. Kamu nggak pernah menuntut.”
Liora menatapnya. “Maksudmu?”
“Maksudku, aku nggak pernah berpikiran romantis tentangmu.” Nada suaranya tetap santai. “Kamu pelanggan yang menyenangkan. Itu saja.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Liora perkirakan.
Liora terdiam. Ia sudah menduga akan mendengar hal ini. Tapi tetap saja perasaannya terluka ketika mendengar langsung dari mulut Niro.
“Oh,” ucapnya lirih. “Jadi… aku cuma itu?”
Niro berdiri. Mengakhiri percakapan.
“Kamu wanita baik. Kamu pantas dapat lelaki baik. Bukan aku.”
Lalu ia kembali ke balik bar, meninggalkan Liora dengan patah hati pertamanya.
Tak lama kemudian, ia melihat Niro memeluk seorang wanita. Mesra. Akrab. Seolah itu hal yang biasa. Seolah Liora hanyalah satu dari banyak wajah yang singgah.
Baru saat itu Liora benar-benar mengerti.
Niro memang seperti itu pada semua wanita.
Bodohnya, ia sempat berharap lelaki itu akan menjadi penyelamatnya.
Menyedihkan sekali.
Liora pulang dengan perasaan kosong.
Dan ketika malam itu Tante kembali menyinggung perjodohan, Liora tidak membantah.
“Iya, Tante,” katanya pelan. “Aku akan bertemu dengannya.”
BERSAMBUNG
***
Bonus Part : Kinara dan NiroKinara sedang memeriksa seorang ibu hamil yang datang sendirian sore itu. Mereka duduk saling berhadapan di ruang praktik yang mulai lengang, sebab pasiennya memang sudah hampir habis.Kinara menuliskan resep obat dengan rapi di atas meja, lalu bertanya sekadar basa-basi, seperti yang biasa ia lakukan untuk mencairkan suasana.“Bunda datang sendiri? Suaminya enggak ikut?”Wanita berambut kepang itu tersipu. Bukannya menjawab biasa, ia malah terkikik pelan seolah menyimpan sesuatu yang lucu.Kinara mengangkat alis, heran.“Kenapa?”Wanita itu mendekat sedikit, lalu berbisik seperti sedang membagikan rahasia.“Suamiku malu datang ke sini, Bu Dokter.”“Malu?” Kinara tertawa kecil. “Memangnya kenapa?”Wanita itu melirik ke kiri dan kanan, memastikan tak ada orang lain, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menggeser-g
Bonus Part : Harra dan HarriHarra dan Harri kini sudah berusia tujuh tahun. Usia di mana energi mereka seolah tidak pernah habis.Rumah yang dulu terasa luas kini sering terasa sempit oleh tawa, langkah kaki kecil, dan suara pertengkaran sepele yang cepat datang, cepat pula pergi.Sejak kecil, Liora menyadari keduanya mewarisi bakat menggambar darinya. Terutama Harri, yang bisa duduk lama hanya untuk menorehkan garis-garis kecil di kertas. Harra tak kalah berbakat, meski ia lebih suka menggambar bunga, rumah, dan wajah orang-orang yang ia cintai.Liora senang melihat bakat itu tumbuh. Ia bahkan menyediakan meja khusus, kotak alat gambar, dan dinding papan tulis kecil di ruang bermain mereka.Sayangnya, dua anak itu tetap menganggap tembok rumah sebagai kanvas paling menarik.Baru minggu lalu Liora mengecat ulang salah satu dinding ruang keluarga yang dipenuhi cor
Kairan sedang berada di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar. Nama Hilda muncul di layer. Nomor pribadi yang jarang sekali digunakan kecuali dalam keadaan mendesak.Begitu ia mengangkat, suara panik langsung menyambutnya.“Pak, ketuban Ibu pecah!”Kairan seketika berdiri. Kursinya terdorong ke belakang tanpa ia pedulikan.“Bagaimana keadaan Liora sekarang?”“Ibu sudah dibawa Maya ke rumah sakit, Pak. Sepertinya Ibu mau melahirkan hari ini!”Kairan tidak menunggu lebih lama. Ia meraih kunci mobil di meja, lalu berjalan cepat keluar ruangan.Selama berbulan-bulan terakhir ia sudah mempersiapkan segalanya untuk kelahiran kedua bayi kembar mereka. Ia bahkan jarang datang ke kantor. Hari ini saja ia memaksa datang untuk menyelesaikan satu urusan penting. Dan justru hari ini pula kedua bayi itu memilih lahir.“Aku langsung ke rumah sakit,” katanya cepat melalui telepon. “Tolong siapkan tas bayi dan baju Liora. Semua yang sudah ki
Sudah lama Kinara tidak menginjakkan kaki di kafe tempat Niro dulu bekerja. Tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan, dan selama ini ia tak merasa perlu kembali. Namun siang tadi, sebuah telepon dari salah satu pelayan lama di sana membuatnya berubah pikiran.Pria itu mengatakan Niro ada di kafe itu.Kinara yang beberapa hari terakhir kesulitan menghubungi Niro langsung memutuskan datang. Ada kecemasan yang sejak kemarin menempel di dadanya, dan ia tahu ia tidak akan tenang sebelum melihat sendiri keadaan lelaki itu.Begitu mendorong pintu kafe, aroma kopi dan musik pelan langsung menyambutnya. Kinara berdiri sejenak di ambang pintu, matanya berkeliling mencari sosok yang ia tuju. Tidak sulit menemukannya.Niro duduk di kursi bar, menghadap ke meja bartender. Bahunya sedikit membungkuk, kepalanya tertunduk. Di depannya berdiri pria yang tadi menelepon Kinara.Kinara melangkah mendekat.Ia duduk di kursi kosong di samping Niro tanpa berka
Kairan memberi kabar bahwa pesawat pribadi yang ia tumpangi akan segera mendarat.Ia datang bersama Yann, dan Niro ikut dalam penerbangan itu. Dari udara, Niro sempat menghubungi Oma, memberi tahu bahwa mereka hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum tiba.Di bandara, Liora sudah menunggu sejak lama.Ia tidak sanggup menunggu di rumah. Duduk diam hanya membuat pikirannya berlari ke mana-mana. Maka ia memilih berdiri di dekat pintu kedatangan, mondar-mandir kecil sambil terus menatap pintu otomatis yang belum juga terbuka.Keluarga Kairan ikut berkumpul di sana. Namun Liora nyaris tidak mendengar percakapan mereka. Fokusnya hanya satu, Kairan.Rasa cemas bercampur harap membuat napasnya pendek-pendek.Rupanya mereka bukan satu-satunya yang menunggu.Beberapa paparazi sudah berjajar, kamera siap mengarah ke pintu kedatangan. Kisah Kairan yang disebut selamat dari tragedi pesawat membuat namanya kembali menjadi sorotan. Publik ingin tah
Kairan sudah berada di jalanan.Dengan kedua kaki yang mulai gemetar, ia berjalan menyusuri jalan luas yang gelap dan sepi. Tidak ada lampu, tidak ada suara kendaraan, hanya angin malam yang menggesek tanah tandus.Langkah demi langkah ia paksa.Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Ia hanya tahu ia harus terus berjalan sampai menemukan seseorang. Apa saja. Siapa saja.Namun jalan itu seperti tidak berujung.Kairan semakin limbung. Tenggorokannya kering, perutnya kosong, kepalanya berdenyut hebat karena luka yang belum tertangani. Dunia terasa berputar.Akhirnya, tubuhnya menyerah.Ia ambruk di tengah jalan, terlentang di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas siang tadi.Napasnya berat.Matanya menatap langit yang luas, dipenuhi bintang yang berhamburan seperti taburan cahaya kecil.Seandainya keadaan berbeda, ia mungkin akan menikmati pemandangan itu. Mungkin ia akan mengingat malam ketika ia dan Liora berdiri
Niro bersedekap, menatap Liora yang masih terdiam setelah ceritanya berakhir.Ia sudah mengatakan bahwa semuanya selesai, tetapi Liora belum memberi reaksi apa pun. Wajahnya kosong, seperti sedang mencoba mencerna sesuatu yang terlalu berat.Baginya, cerita Niro terasa seperti kisah
Cerita belum selesai sampai di sana.Niro mulai bekerja di kafe itu sebagai barista baru. Karena tidak memiliki pengalaman sebelumnya, hari-hari awal terasa cukup berat. Ia sering salah takaran, keliru membaca pesanan, dan gugup menghadapi pelanggan.Untungnya, ada seseorang yang sa
Beberapa detik mereka terdiam dalam posisi yang canggung, bertumpuk di atas sofa. Napas mereka masih belum teratur ketika suara dari ponsel Liora tiba-tiba terdengar.“Halo?”Suara Kairan.Liora dan Niro sama-sama tersentak. Mata mereka membulat bersamaan. Dengan ger
Kairan benar-benar kehilangan kendali. Pukulan demi pukulan melayang tanpa sempat dipikirkan. Niro tidak tinggal diam, balasan datang sama kerasnya. Ruangan itu berubah menjadi arena adu emosi, bukan lagi sekadar kantor yang sunyi.Tubuh Kairan terdorong ke arah akuarium besar di sudut rua







