LOGINLiora tidak langsung pulang ke kamarnya setelah pertemuan itu berakhir.
Ia pulang dengan kepala penuh, langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya, dan dada yang terasa hangat. Bukan berdebar, bukan pula gelisah. Lebih seperti perasaan seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang tidak ia cari, tapi ternyata ia butuhkan.
Paman masih duduk di ruang keluarga, menyaksikan acara berita malam sambil menyeruput minuman buatan Tante.
“Paman,” panggil Liora, lalu duduk di sebelahnya tanpa basa-basi. “Kenapa Paman bohong padaku?”
Paman menoleh, alisnya terangkat. “Bohong apa?”
“Kairan,” kata Liora cepat. “Paman bilang dia bisu. Tapi dia bisa bicara. Dan suaranya—” Liora berhenti sejenak, lalu menghela napas. “Dia jelas bukan lelaki bisu.”
Paman tertawa kecil, lalu menggeleng. “Paman nggak pernah bilang dia bisu.”
Liora terdiam. Ia mengingat-ingat kembali. Benar. Tidak ada kalimat pasti dari Paman. Yang ia ingat hanyalah istilah lelaki bisu yang terlanjur melekat di kepalanya.
“Tante?” tebak Liora.
“Nah, itu,” Paman tersenyum maklum. “Tantemu itu sering menelan mentah-mentah gosip kantor.”
“Jadi?”
“Itu cuma julukan,” jelas Paman. “Kairan terkenal pendiam. Di kantor, dia jarang bicara kalau nggak perlu. Orang-orang menyebutnya lelaki bisu karena dia nggak suka basa-basi.”
Liora mendengus kecil. “Aku sampai belajar bahasa isyarat karena itu.”
Paman tertawa lebih keras kali ini. “Pantas kamu kelihatan aneh waktu berangkat.”
Liora ikut tertawa. Rasa tegang yang sejak tadi mengendap perlahan luruh.
“Aku bahkan sempat bilang mau belajar lebih banyak bahasa isyarat supaya bisa berkomunikasi dengannya,” ujar Liora sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Aku pasti kelihatan bodoh.”
“Enggak, kok!” bantah Paman lembut. “Itu justru menunjukkan kamu perhatian.”
Liora menurunkan tangannya. Ada rasa hangat di dadanya, rasa yang tidak datang dari pujian, melainkan dari penerimaan.
Paman mematikan televisi, lalu menoleh padanya.
“Jadi, bagaimana pendapatmu tentang Kairan?”
Pertanyaan itu membuat Liora diam cukup lama.
Ia teringat tatapan mata cokelat muda itu. Tenang. Tidak menghakimi. Tidak berusaha mengesankan.
Ia juga teringat bagaimana Kairan lebih banyak mendengarkan, seolah memberi ruang baginya untuk bicara tanpa takut dipotong atau dinilai.
“Dia… berbeda,” jawab Liora akhirnya. “Dia memang jarang bicara, tapi kehadirannya terasa.”
Paman tersenyum kecil, memberi isyarat agar Liora melanjutkan.
“Aku merasa nyaman,” kata Liora pelan. “Tatapannya nggak menekan, tapi juga nggak kosong. Seperti orang yang tahu kapan harus hadir, dan kapan harus diam.”
“Lalu, bagaimana dengan wajahnya? Menurutmu dia tampan?” seloroh Paman dengan senyum tipis.
Liora mengangguk tanpa ragu. “Sejujurnya... ya, dia tampan.”
“Dan kamu menyukainya?”
Liora menunduk sejenak, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan tiba-tiba dari Paman.
“Aku nggak tahu, Paman. Hanya saja dia lebih baik dari lelaki yang dikenalkan sebelumnya.”
“Kalau begitu,” ujar Paman sambil mengusap kepala Liora dengan lembut, gerakan yang dulu sering dilakukan Papa. “Paman akan bercerita sedikit tentang Kairan.”
Liora langsung duduk bersila, mendekat, matanya berbinar seperti anak kecil yang akan mendengar cerita sebelum tidur.
“Kairan adalah kepala cabang di kantor Paman,” mulai Paman. “Usianya tiga puluh empat. Secara struktur, dia atasan Paman.”
“Oh,” Liora sedikit terkejut.
“Dia cerdas. Tegas. Punya intuisi bisnis yang tajam. Sejak dia memimpin, kantor kami berkembang pesat. Orangnya nggak banyak bicara, tapi kalau sudah bicara, semua mendengarkan.”
Liora mengangguk, meski hatinya menunggu sesuatu yang lebih personal.
“Dalam pergaulan,” lanjut Paman, “dia juga nggak aneh-aneh. Hanya saja, dia menjaga jarak dengan perempuan. Klien perempuan sering dia limpahkan ke sekretarisnya.”
Liora menahan senyum. Entah kenapa, fakta itu membuatnya merasa tenang. Kebalikan dari Niro.
“Tapi…” Paman berhenti sejenak.
“Tapi apa?” Liora mendesak.
“Kairan seorang duda.”
Kata itu jatuh pelan, tapi cukup untuk membuat Liora terdiam.
“Duda karena?” tanyanya hati-hati.
“Istrinya meninggal satu tahun lalu,” jawab Paman.
Liora menarik napas panjang. Ada rasa perih yang tidak ia duga menyelip di dadanya. Ia membayangkan seorang lelaki setenang Kairan kehilangan seseorang yang ia cintai.
“Katanya ia meninggal karena sakit,” lanjut Paman. “Dan sejak itu, Kairan hidup sendiri.”
Liora menunduk. Ia tidak tahu harus merasa apa. Iba, hormat, atau takut.
“Menurut pengakuannya,” kata Paman lagi, “Kairan mencari istri bukan karena kesepian semata. Dia butuh pasangan. Seseorang yang bisa menjadi rumah.”
Kalimat itu menetap lama di kepala Liora.
Menjadi rumah.
“Aku nggak ingin pembantu,” Paman menirukan ucapan Kairan. “Aku ingin keluarga.”
Liora menelan ludah.
“Paman nggak tahu banyak soal masa lalunya,” aku Paman jujur. “Dia tertutup. Tapi satu hal Paman yakin, dia lelaki bertanggung jawab.”
Hening menyelimuti mereka.
“Nah,” Paman menatap Liora dengan serius. “Setelah mendengar semua itu, apa kamu masih yakin ingin menikah dengannya?”
Liora mengangkat wajahnya. Tatapannya mantap.
“Iya, Paman.”
Tidak ada keraguan.
Bukan karena Kairan tampan. Bukan karena jabatannya. Tapi karena, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Liora merasa aman pada seseorang yang belum sepenuhnya ia kenal.
“Aku ingin mengenalnya lebih jauh,” lanjut Liora.
Paman tersenyum lega.
“Kalau begitu,” katanya mantap, “Paman akan menyiapkan pernikahan kalian.”
BERSAMBUNG
***
“Halo?”Suara Liora terdengar ragu saat menerima panggilan itu. Bahkan sebelum ia sempat menarik napas lebih dalam, dadanya sudah terasa sesak. Ia menelan ludah, bersiap mendengar suara di seberang sana.“Kamu dimana?”Nada suara Kairan terdengar tegang. Ada emosi yang ditimbulkan dari sepatah kata barusan.“A-aku ada di pantai,” Liora menjawab sembari ketakutan.Tangannya refleks memilin ujung baju. Seperti anak kecil yang ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Padahal ia hanya pergi sebentar. Padahal ia sudah meninggalkan pesan.“Pantai mana?”Nada itu masih sama. Datar, namun ditekan oleh emosi yang tertahan.Liora menyebutkan nama pantai, lalu menjelaskan rumah makan seafood tempatnya berada. Ia bicara terbata, takut ada satu kata saja yang salah dan akan membuat Kairan semakin marah.Belum sempat ia menambahkan apa pun, sambungan telepon terputus.TUT.Bunyi itu menggem
Belum pernah dalam hidup Liora merasa sangat jenuh. Kesunyian di dalam rumahnya membuat Liora seakan tertekan dan makin bersedih.Dia merasa tidak ada satu pun di rumahnya yang bisa menghibur hatinya saat ini.Maka Liora memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah itu. Dia ingin bisa bernapas. Ingin membuang kegelisahan dan sesak yang dia sendiri tidak bisa menjabarkannya dengan baik.Liora hanya membawa tas kecil berisi dompet dan ponselnya. Dia hanya berencana untuk pergi sebentar, bukan selamanya.Dia hanya sedang marah dengan sikap dingin Kairan, bukan ingin meninggalkannya.Sebelum melangkah pergi, ia menulis sepucuk pesan singkat di selembar kertas. Tangannya bergetar halus saat menuliskan kalimat sederhana. Ia akan keluar sebentar dan akan kembali. Kertas itu ia letakkan di atas meja ruang tamu, tempat yang pasti akan dilewati Kairan saat pulang nanti.Liora tidak mampu mengirimkan pesan ke ponsel Kairan. Dia masih belum bi
Liora menangis.Di dalam bioskop yang gelap, di antara cahaya layar yang silih berganti menampilkan adegan romantis, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menutup mata, bukan karena filmnya terlalu menyentuh, melainkan karena pikirannya telah berkelana terlalu jauh—ke tempat yang tidak seharusnya ia datangi.Di dalam bayangannya, Kairan menatapnya dengan mata yang hangat. Lelaki itu memanggil namanya dengan suara lembut, menyebut “Liora” seolah nama itu adalah sesuatu yang berharga. Dalam khayalnya, Kairan mencintainya. Menciumnya. Memeluknya tanpa ragu.Namun kesedihan datang menghantam dengan brutal ketika Liora sadar, semua itu tidak nyata.Ia terisak karena harus sampai membayangkan dirinya menjadi Anais hanya untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya sendiri.Liora bersumpah, ia tidak mengenal Anais. Tidak tahu bagaimana sifat wanita itu, tidak tahu apakah ia lebih cantik, lebih lembut, atau lebih pantas dari dirinya.Namun s
Sejak menikah dengan Kairan, dunia Liora seolah berhenti di dalam rumah itu.Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang sama. Memasak, membersihkan rumah, menunggu Kairan pulang, lalu kembali tenggelam dalam sunyi. Ia tidak keberatan dengan kehidupan yang tenang.Namun, tetap saja ada bagian kecil dalam dirinya yang rindu pada sesuatu yang berbeda. Keluar rumah. Menghirup udara kota. Merasa menjadi seorang istri yang diajak berjalan bersama.Karena itu, ketika Kairan mengajaknya menonton bioskop, jantung Liora langsung berdebar.Bukan karena filmnya.Melainkan karena ini adalah kali pertama mereka pergi bersama sejak menikah. Kencan pertama, meski tak pernah disebut sebagai kencan.Liora mempersiapkan dirinya dengan lebih sungguh-sungguh dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memastikan setiap detail tampak pantas. Gaun sederhana berwarna krem membingkai tubuhnya dengan lembut. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya dijepit di satu
Bukan hanya satu album yang ada di dalam dus itu.Liora duduk di lantai ruang kerja, punggungnya bersandar pada sisi meja. Tangannya gemetar saat mengeluarkan satu per satu isi dus cokelat polos itu. Album foto berjejer rapi, beberapa dibungkus plastik bening, sebagian lain sudah menguning di tepinya tanda usia dan sering dibuka.Satu album paling tebal menarik perhatiannya.Album foto pernikahan.Jari Liora berhenti di sampulnya. Di sana tertulis nama dengan tinta emas yang sedikit memudar. Kairan & Anais.Oh, namanya Anais?Liora membuka halaman pertama. Napasnya tertahan.Gaun pengantin putih, dekorasi sederhana tapi elegan. Anais berdiri anggun di samping Kairan. Perempuan itu cantik. Bukan cantik yang mencolok, tapi tenang, dewasa, dan terasa matang. Senyumnya lembut, matanya berbinar hangat.Dan Kairan…Kairan tersenyum.Senyum lebar. Nyata. Hidup.Bukan senyum tipis yang kadang ia berikan pada Li
Semakin dipikirkan, semakin Liora merasa mantan istri Kairan terlalu cantik untuk sekadar disebut manusia biasa.Wajah perempuan dalam foto itu terus menghantuinya sejak kemarin. Bahkan saat ini, ketika tangannya sibuk mengiris bawang dan mengaduk masakan di dapur, bayangan perempuan itu tetap melekat di kepalanya.Mata terang yang teduh, hidung mancung sempurna, bibir tipis kemerahan yang tampak selalu tersenyum meski hanya dalam foto. Rambut panjang hitam berkilau, jatuh rapi di bahu. Kulit putih susu tanpa cela.Sempurna.Liora menelan ludah, dadanya terasa sedikit sesak.Ia membandingkan wajah itu dengan bayangannya sendiri di pantulan microwave dapur. Matanya memang besar dan bulat, bibirnya ranum dan merekah alami, rambutnya tipis dengan semburat kemerahan. Cantik, kata sebagian orang. Tapi di hadapan perempuan dalam foto itu, Liora merasa seperti sketsa yang belum selesai.Desis minyak panas dari wajan menyadarkannya.“Eh







