로그인Akhirnya Nerisa kembali ke kantor. Lebih baik bekerja daripada berada di kediaman lama, dan terus-terusan dimusuhi oleh keluarga suami. Pekerjaan mengalihkan pikiran sejenak. Bohong kalau ia tidak terpengaruh oleh kehamilan Amelia. Waktu itu, Nerisa sangat berharap dengan kehadiran buah hati. Ia hampir mendapatkannya, tetapi karena satu malam itu, impiannya berakhir. Ia tidak ingin menyalahkan siapa pun, dirinya lah yang tidak kuat. Selalu saja memaksakan kehendak padahal sudah tahu pilihan Alexander. Ketika sudah tidak berharap lagi, pria itu kembali mengusik. Membuatnya merasa bersalah karena berkhianat. Kata-kata Alexander tadi sangat menyakitkan. Ya, Nerisa memang munafik. Ia juga murahan karena melakukan itu bersama Lucien. Namun, ia sadar jika berpura-pura kuat hanya menyakiti diri. Ia menjaga diri untuk seorang pria, tetapi laki-laki itu juga tak bisa menjaga diri. Lalu buat apa bertahan? Nerisa telah membuang semua itu, ia mau mencoba suatu hal yang belum pernah ia lakukan
“Kembalikan milikku, kamu bebas bersama Amelia.” Alexander meneguk minumannya sampai habis. Ia terdiam sejenak, lalu kembali bicara, “Masalah kita tidak pantas didengar oleh orang lain. Lagi pula Mama hanya bercanda. Amelia sudah hamil. Aku tidak mau kamu membuatnya stress.” “Aku membuatnya stress? Dari mananya?” “Nerisa, aku perlu bicara denganmu.” Alexander beranjak dari duduknya, ia berjalan pergi. Sedangkan Amelia tersenyum sinis, ia mengusap perutnya, sengaja membuat Nerisa tidak berguna sebagai seorang istri. Nerisa ingin bangkit dari duduknya, tetapi Lucien tiba-tiba memegang tangannya itu. Nerisa lekas menarik diri. Ini di depan Dusela dan lainnya. Lucien benar-benar membuat jantungnya berdebar kencang. Melalui tatapan matanya, Nerisa berharap kekasih gelapnya ini mengerti. Ia harus menemui Alexander di kamar. Dengan ketidakrelaan, Lucien melepas wanitanya. Ia yakin ini berkaitan dengan tingkahnya tadi malam. Alexander sudah melihat apa yang terjadi, dan Lucien belum mem
Kedua tangan Nerisa mencengkeram erat ujung bantal ketika Lucien asik memberinya kenikmatan di bawah sana. Pinggulnya naik, tetapi ditahan untuk tetap berada dalam posisinya. Lucien ini, dia benar-benar memakannya.“Lu-Lucien … .” Nerisa mendongak, ia terengah-engah, tetapi masih saja belum berhenti. “Aku tidak melakukan apa-apa dengannya.” Kakinya semakin lebar, malah sekarang Lucien membalik tubuh ini. “Kamu mau apa lagi?”Lucien hanya diam saja. Ia melanjutkan hal yang belum selesai. Semua disapu bersih oleh pria ini. Selama bersama suami sendiri, Nerisa belum pernah dinikmati bagian belakang ini. Alexander pernah melakukan di bagian depan, tetapi di belakang ini. Astaga! Ternyata lebih nikmat. Apalagi di antara bagian depan serta belakang. Itulah dia titik yang paling sensitif.“Dari mana kamu belajar teknik ini? Apa kamu sering melakukannya dengan perempuan lain?” tanya Nerisa.Tidak ada jawaban, tetapi hanya seringai saja. Lucien tetap menjalankan niatnya itu. Ia tersenyum puas
“Meski kamu membenciku, aku tetap ayah kandungmu,” ucap Sebastian.“Sekarang baru menganggapku sebagai anak. Kamu tidak berhak mengaturku, Tuan Sebastian. Aku tidak mau menikah dengan putri dari keluarga Vale. Aku mencintai kekasihku.”“Kalau begitu bawa dia ke hadapanku!”“Nanti kamu juga tahu kekasihku.” Lucien tersenyum penuh arti, ia hendak pergi, tetapi Sebastian masih menahan.“Kamu sudah tidak ingin lagi kenang-kenangan ibumu?”Langkah Lucien terhenti, ia berbalik memandang Sebastian. “Kamu punya barang ibuku? Serahkan padaku sekarang juga.”Dulu Lucien masih kecil sehingga ia tidak tahu apa-apa. Semua barang dikemas oleh bibi yang sempat merawatnya dulu. Setelah itu, ia dibawa ke kediaman Valtheris. Barang-barang tersebut, ia tidak tahu di mana Sebastian menaruhnya. Lucien selalu dekat dengan gudang, ia pernah mencarinya ke sana, tetapi tidak menemukan barang ibunya.“Jika kamu bersedia bertunangan dengan putri dari keluarga Vale, aku akan berikan kenangan dari ibumu.”Dalam h
Lucien membawa Donna berkeliling kediaman keluarga Valtheris. Ini hanya alasan, ia tahu Sebastian ingin dirinya dekat dengan wanita ini. Lucien sendiri hanya menunjukkan apa yang ia ketahui, dan menanggapi seperlunya saat Donna bertanya. “Kak Lucien, apa kamu sudah punya pacar?” tanya Donna. “Sudah.” “Apa?” Donna malah kaget dengan jawaban itu. “Lalu kenapa kamu menerima pernikahan bisnis ini?” “Aku tidak menerimanya. Pria tua itu yang menginginkannya.” Donna tertawa mendengar jawaban seperti itu. “Kak Lucien ini suka sekali bercanda. Saat ayahku bilang kalau aku akan menikah dengan keluarga Valtheris, aku menolaknya. Karena setahuku putra keluarga ini sudah menikah. Tapi siapa sangka ada satu putra lainnya. Aku tidak mau dan mengancam akan pergi dari rumah. Setelah melihat fotomu, aku sangat tidak menyangka bahwa kamu adalah putra keluarga ini juga. Kenapa kamu tidak memperlihatkan dirimu yang sebenarnya ketika belajar di luar negeri?” Donna mengira Lucien mahasiswa miskin dulun
Lucien memerhatikan Nerisa dan Alexander yang berbisik-bisik. Ia mengepalkan tangan, kesal, cemburu karena keduanya terlihat akrab. Meski sudah menerima status Nerisa, melihat kekasih sendiri bercengkerama dengan suaminya, membuat hatinya sakit. Lucien merasa terkhianati. “Lucien,” panggil Sebastian. Namun, putranya itu tidak mendengar. Sebastian berdeham. “Lucien!” “Hmm, apa?” Lucien memalingkan wajah menghadap ayahnya. “Aku mendengarmu.” “Kamu sudah kenal Donna, bukan? Dia adik kelasmu dan kalian satu kampus.” Lucien memandang Donna yang tampak malu-malu. Apa ia mengenal wanita ini? Rasanya Lucien belum pernah melihatnya. “Ingatanku buruk.” Fiona berdeham, ia menahan tawa. Ia membenci Lucien, tetapi candaan ini membuatnya ingin tertawa saja. Nerisa pun sama hal dengan iparnya itu. Entah Lucien sengaja atau tidak, dia sangat berkata blak-blakkan. Paling tidak dia bisa menjawab dengan kata-kata yang tak terlalu menyakitkan seperti itu. “Kak Lucien, kita bahkan pernah berada di s







