Startseite / Romansa / Suamiku, Jangan Mati Lagi! / Bab 36 - Perusak Selera Makan

Teilen

Bab 36 - Perusak Selera Makan

last update Veröffentlichungsdatum: 22.08.2026 21:00:32

Sejak Darius pergi, Serena tak pernah lagi melewatkan sarapan paginya di meja makan. Keberadaan pria itu selalu membuatnya merasa tidak nyaman. Kini, dengan kepergian Darius, Serena merasa memiliki ruang untuk bernapas lega dan bebas menjelajahi kastil tanpa rasa cemas akan berpapasan dengan suaminya. Meski rumor buruk tentangnya kian liar dari hari ke hari, Serena tak ambil pusing. Selama ia bisa makan dan hidup tenang, ocehan para pelayan bukan masalah baginya. Terlebih sejak ancamannya har

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Suamiku, Jangan Mati Lagi!    Bab 119 - Satu-satunya Wanita Milik Suaminya

    Apa istrinya benar-benar ingin memotong lidah para gadis desa? Darius cukup yakin hal itu tidak mungkin dilakukan Serena. Namun tiba-tiba ia teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu dimana Serena mematahkan kaki kakak kandungnya. Wajah pria itu memucat seketika. "Kamu ... benar-benar ingin memotong lidah mereka?" tanya Darius. Suaranya tercekat, membayangkan skenario berdarah yang masih mungkin diciptakan oleh Serena. Melihat Darius yang tampak begitu percaya, Serena tidak tau apakah dia harus menangis atau tertawa. Di satu sisi, wajah pahlawan perang yang ketakutan oleh gertakan wanita kecil sepertinya sungguh pemandangan yang menggelikan. Di sisi lain, Darius yang percaya dengan reputasinya sebagai wanita kasar dan kejam membuat hatinya merasa tidak nyaman. "Apa kamu berpikir aku adalah wanita yang kejam?" Serena bertanya dengan wajah dan nada suara yang datar. menatap lekat-lekat manik mata suaminya dengan netra birunya y

  • Suamiku, Jangan Mati Lagi!    Bab 118 - Itu Bukan Sekedar Candaan

    Suasana di meja makan mendadak menjadi sangat hening. Wezuan yang baru saja menyadari kesalahannya mendadak diam seribu bahasa. Nenek Zuan yang sejak diam menonton tampak tertegun sejenak. Sedang Darius, orang yang paling panik diantara mereka semua tanpa sadar menahan napasnya. Melihat kepanikan yang membeku di sekelilingnya, lengkungan bibir Serena mendadak melunak. Raut dingin di wajahnya luntur seketika, berganti dengan tawa halus yang merdu di dengar. ​"Aku hanya bercanda," gumam Serena ringan, seolah apa yang baru saja dia katakan sebelumnya tidak berarti apa-apa. Seolah dia hanya melempar lelucon paling tidak berdosa di dunia.Tanpa beban, Serena kembali meraih sendoknya, mengambil makanan dan mulai menyuapkannya ke dalam mulut dengan gerakan yang sangat anggun. Ia menikmati kunyahannya dengan tenang, sama sekali tak merasa bersalah telah merusak keharmonisan di meja makan. Melihat Serena melanjutkan makan dengan tenang, ​suasana menceka

  • Suamiku, Jangan Mati Lagi!    Bab 117 - Suaminya Menjadi Incaran Para Gadis Desa

    "Ah, benar! Kakak Ipar harus ekstra hati-hati!" seru Wezuan heboh sembari mengacungkan sumpitnya ke udara. Menyadari percakapan ini mulai diarahkan padanya, Serena yang memegang sendok hendak menyuapkan makanan ke mulutnya terhenti sesaat. Mata biru wanita itu beralih pada Wezuan. Kenapa tiba-tiba percakapan ini melibatkannya? "Hari ini hampir setengah dari wanita muda di desa datang ke klinik. Dan tebak? Mereka semua mendadak mengaku sakit kepala, sesak napas, bahkan ada yang berpura-pura terkilir hanya agar bisa disentuh atau diobati oleh Kakak Darius!"​Serena yang baru saja hendak kembali menyuapkan nasi ke mulutnya, mematung di tempat. Jemarinya membeku, membuat alat makannya hampir terlepas dari genggaman. Ia bahkan tak sadar nasi yang ada di sendoknya sudah jatuh, kembali ke piringnya. Apa? Apa yang baru saja dia dengar?Dia baru meninggalkan suaminya sebentar, dan sudah banyak gadis desa yang mengincar suami

  • Suamiku, Jangan Mati Lagi!    Bab 116 - Suaminya Menjadi Sangat Pemalu

    Kepala Serena berasap. Sepanjang hidupnya baru kali ini dia mendapatkan pelajaran yang benar-benar mengguncang isi kepalanya. Nenek Zuan menghabiskan hampir sepanjang hari di kamar Serena. Memberi banyak pengarahan dan membagikan pengalaman luar biasa miliknya. Dari luar Serena tampak seperti seorang murid yang patuh. Tetapi di dalam dirinya banyak riak yang benar-benar membuatnya kelimpungan. “Serena, apa kamu baik-baik saja?” Darius baru kembali di sore hari. Segera merasa cemas melihat keadaan Serena yang tampak linglung duduk di tempat tidur. “Wajahmu sangat merah. Apa kamu demam lagi?” Serena mematung saat telapak tangan Darius ditempelkan di dahinya. Mencium aroma maskulin dari Darius membuat Serena teringat kembali pelajaran yang diberikan nenek Zuan. Wajahnya jadi semakin merah. “Aku tidak apa-apa,” jawab Serena cepat sambil menarik turun tangan Darius dari wajahnya. Meskipun wajah dan nada suaranya terlih

  • Suamiku, Jangan Mati Lagi!    Bab 115 - Pelajaran Cinta dari Wanita Tua

    Apakah nenek Zuan sebenarnya adalah seorang cenayang?! Mata Serena mengerjap pelan. Wajahnya yang biasa dingin tak pernah dengan mudah memperlihatkan isi hati, tetapi wanita tua di hadapannya ini... bagaimana bisa tahu persis kecemasan yang tersembunyi di dadanya? “Nenek telah hidup lama. Memiliki banyak pengalaman. Memiliki rasa cemburu adalah hal yang wajar bagi pasangan suami istri. Tetapi rasa cemburu yang berlebihan itu tidak baik.” Cemburu? Kemarin saat Darius bertanya padanya, dia tidak sepenuhnya paham. Jadi sebenarnya perasaan yang dirasakannya saat itu adalah … cemburu? Serena berkedip pelan. Dia tidak tau apa nama perasaan tidak nyaman yang ia rasakannya. Dia hanya … merasa tidak bahagia. Sejak dia jatuh hati pada suaminya, Serena hanya ingin berada lebih dekat dengan Darius. Memilikinya. Menguncinya untuk dirinya sendiri. “Nenek, jika aku merasa cemburu, apa yang harus kulakukan?” Serena tidak memiliki

  • Suamiku, Jangan Mati Lagi!    Bab 114 - Suaminya Seperti Tungku yang Panas

    Tubuh Darius menjadi tegang. Dalam sekejap berubah kaku seperti papan kayu. Jantungnya ditabuh kencang layaknya genderang perang. Suhu kamar yang dingin meningkat dalam sekejap. Tubuh Darius sekarang sudah seperti tungku yang panas. “Panas ….” Dalam tidurnya Serena mengeluh. Merasa kepanasan, secara alami dia berusaha menjauhkan dirinya dari api yang mencoba membakarnya. Namun, sepasang lengan yang kuat menahannya, membuatnya tak bisa bergerak. Serena menggeliat, sedikit kesadarannya datang. “Kenapa panas sekali?” Bulu mata Serena bergerak. Mata birunya mulai terlihat ketika kelopak matanya mengerjap perlahan. Ketika Serena hendak mendongak, dahinya terbentur sesuatu yang keras. Serena mengaduh pelan. Wanita itu belum menyadari posisinya hingga ia merasakan belaian lembut di dahinya dan sebuah suara yang mengejutkannya. “Masih malam. Tidurlah kembali.” Darius berbisik dengan suara yang serak. Telinga Serena terasa gatal. Hembusan nap

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status