تسجيل الدخولYuniver langsung terdiam. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih jauh. Dari cara ayahnya mengatakannya, ia sudah tahu jawabannya.Vincent mungkin bisa memaafkan banyak hal selama semuanya masih menguntungkan dirinya. Namun jika pria itu mengetahui bahwa Count Vernois diam-diam memiliki kesepakatan dengan Ditrian, kemungkinan besar semua itu akan berakhir dalam satu malam.Yuniver menatap ayahnya dengan perasaan yang semakin rumit, ia menyadari bahwa Count Vernois bukan hanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Pria itu juga sedang menyembunyikan sesuatu dari Vincent. Dan jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya dirinya yang akan berada dalam bahaya. Seluruh keluarga Vernois bisa ikut terseret ke dalamnya.Begitu Yuniver kembali ke kediaman Duke Elgard, hari sudah mulai sore. Kereta yang membawanya berhenti di depan tangga utama, dan Erin segera turun lebih dahulu untuk membukakan pintu. Yuniver melangkah keluar dengan tenang, berusaha menyembunyikan semua yang baru saja ia dengar da
Count Vernois terdiam cukup lama sebelum akhirnya menghela napas. Wajahnya yang sejak tadi keras perlahan berubah serius, seolah apa yang hendak dikatakannya bukan sesuatu yang mudah untuk dibicarakan.“Aku tidak tahu pasti bagaimana Vincent akan menyingkirkan Duke Elgard.”Yuniver langsung terdiam. Jawaban itu sama sekali tidak membuatnya lega. Justru sebaliknya, ada sesuatu dalam nada suara ayahnya yang membuat perasaannya semakin tidak tenang.“Namun satu hal yang harus kau ketahui, Yuniver. Caranya tidak akan sesederhana yang kau bayangkan.” Count Vernois melanjutkan.Yuniver menundukkan pandangan. Jemarinya perlahan saling menggenggam di atas pangkuannya. Ia sudah menduga Vincent tidak akan melakukan sesuatu secara terbuka. Jika benar pria itu berniat menjatuhkan Ditrian, tentu ia akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menghubungkan dirinya dengan kejadian tersebut.“Sejak dulu Vincent memang memiliki ambisi,” ujar Count Vernois. “Dan seharusnya kau tahu itu lebih baik d
Yuniver membeku. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Count Vernois tanpa mampu memberikan jawaban. Kalimat ayahnya terus berputar di kepalanya, mengingatkannya pada dirinya yang dulu—wanita yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian Vincent.Dulu, mungkin jawabannya memang iya.Yuniver yang asli akan melakukan apa pun untuk Vincent. Ia bahkan rela menutup mata terhadap banyak hal hanya karena pria itu meminta sesuatu darinya. Pernikahannya dengan Ditrian pun tidak pernah benar-benar ia anggap sebagai sebuah pernikahan. Baginya, gelar Duchess Elgard hanyalah sebuah jalan untuk tetap berada di dekat Vincent dan membantunya mendapatkan apa yang diinginkannya.Namun semua itu berubah.Perlahan, Yuniver menarik napas panjang. Ia menundukkan wajah sejenak sebelum kembali menatap ayahnya.“Aku dulu memang seperti itu.”Count Vernois mengernyit. Ia mungkin mengira Yuniver akhirnya mengakui kesalahannya.Namun Yuniver melanjutkan dengan suara yang jauh lebih tenang.“Tapi sekara
Count Vernois terdiam cukup lama. Tatapannya berpindah kepada para pengawal yang berdiri di luar ruang kerja, kemudian kembali kepada Yuniver. Jelas sekali ia tidak mungkin membicarakan sesuatu yang sensitif selama masih ada orang lain yang bisa mendengarnya.Yuniver sendiri tidak bergeming. Ia berdiri di hadapan meja kerja ayahnya dengan wajah tenang, meskipun jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.“Aku tidak datang untuk mencari masalah, Ayah,” katanya akhirnya. “Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Count Vernois menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Dan kalau aku tidak ingin memberitahumu?”Yuniver menatapnya beberapa saat.“Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku melaporkannya kepada Ditrian.”Wajah Count Vernois langsung berubah.Yuniver melanjutkan sebelum ayahnya sempat menyela.“Ayah pikir sampai kapan Ayah bisa terus menyembunyikan semuanya?”Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini tidak ada keraguan di dalamnya.“Sekarang aku sudah menjadi Duchess El
Nama itu membuat suasana aula berubah dan cukup bagi Yuniver untuk menangkap perubahan kecil pada wajah ayahnya. Kemarahan yang sejak tadi memenuhi tatapan Count Vernois mendadak menghilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih sulit dibaca. Matanya menjadi tajam, sementara rahangnya mengeras."Kenapa kau menanyakan Vincent?"Yuniver tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan pria itu beberapa saat, mencoba membaca sesuatu dari ekspresinya. Namun seperti biasa, Count Vernois terlalu pandai menyembunyikan pikirannya."Karena semakin banyak hal yang terjadi," jawab Yuniver akhirnya, "semakin aku merasa ada sesuatu yang selama ini disembunyikan dariku."Count Vernois tetap diam. Yuniver melangkah maju satu langkah."Dan aku ingin tahu apakah Ayah salah satu orang yang mengetahuinya."Tidak ada jawaban. Count Vernois justru mengalihkan pandangannya ke arah para pengawal yang berdiri di belakang Yuniver. Ia tidak perlu mengatakan apa pun. Yuniver langsung mengerti.Apa pun yang ingin dibicarak
Yuniver langsung terdiam. Ia tahu persis apa yang dimaksud Ditrian. Penculikan itu masih terlalu jelas dalam ingatannya—ruangan gelap yang pengap, rantai yang membelenggu tangan dan kakinya, suara tawa para pria yang memperlakukannya dengan kasar, hingga saat Ditrian akhirnya menemukannya dalam keadaan terluka. Semua kejadian itu membuatnya sadar bahwa kekhawatiran suaminya bukan tanpa alasan.Ekspresi Yuniver perlahan melunak. Ia menghela napas kecil sebelum akhirnya mengangguk."Baiklah."Ditrian pun mengangguk kecil. "Besok kau boleh pergi."Senyum tipis muncul di wajah Yuniver. "Terima kasih."Namun baru saja ia hendak berbalik, suara Ditrian kembali menghentikan langkahnya."Dan malam ini, jangan terlalu banyak memikirkan apa pun."Yuniver menoleh. "Kenapa?""Kau masih harus beristirahat."Nada suara Ditrian tetap tenang, tetapi Yuniver tahu pria itu benar-benar memperhatikannya. Selama beberapa hari terakhir, Ditrian bahkan hampir tidak pernah membiarkannya sendirian terlalu lam
Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak
Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam
Kalimat itu membuat Erin membeku, iahanya berdiri diam sambil menatap Yuniver seolah tidak yakin dirinya mendengar dengan benar.“Apa?”“Aku bertanya,” ulang Yuniver pelan. “Apa kau bekerja untuk Vincent?”Wajah Erin langsung berubah, ia terlihat terluka seolah Yuniver baru saja mengatakan sesuatu
Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang







