تسجيل الدخولMendengar teriakan histeris Devan yang menggelegar dari balik pintu kamar mandi, Mamih Eko langsung meletakkan gelas tehnya dengan cepat. Dengan langkah terburu-buru, wanita paruh baya itu langsung membuka pintu kamar mandi tersebut, menatap menantu Devan dengan dahi berkerut dalam."Ada apa lagi kata mamih juga sama mamih kamu ini." Ucap Mamih Eko mengomeli Devan yang tampak berdiri kaku di samping wastafel dengan wajah yang sudah pucat pasi mengalahkan wajah orang sakit.Devan langsung menoleh, matanya berkaca-kaca menunjuk ke arah lubang pembuangan air dan pakaian bawah Vani dengan ekspresi wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa seolah sedang melihat bencana besar."Mamih.... Huuuuuaaaa......lihat darahnya banyak kenapa gak abis-abis kasihan." Ucap Devan merengek heboh hampir menangis, merasa ngeri sekaligus iba melihat cairan merah pekat yang terus mengalir keluar dari tubuh istri kecilnya tanpa bisa dia bendung.Mamih Eko seketika menepuk jidatnya keras-keras, merasa tidak habi
"Tenang Voni baik-baik saja kalau haid ya gini sakit itu normal ada yang bisa nahan rasa sakit itu ada yang gak yang pasti Voni baik-baik ajah gak kenapa-kenapa." Ucap dokter memberikan penjelasan medis yang sangat menyejukkan hati, menegaskan bahwa kondisi Vani sama sekali tidak membahayakan nyawanya.Namun, rasa penasaran dan kecemasan Devan rupanya belum sepenuhnya sirna. Pria itu menunjuk layar kalender di ponselnya dengan dahi berkerut, menuntut penjelasan lebih lanjut atas ketidaksesuaian tanggal yang ada di otaknya."Tapi kenapa harusnya haid tanggal 20 ini tanggal segini udah haid?" Tanya Devan penuh selidiki, merasa heran mengapa siklus bulanan istrinya bisa meleset cukup jauh dari jadwal biasanya."Hehehehe... Emang begini siklus haid emang kadang maju kadang mundur." Ucap dokter menjelaskan sifat alami hormon wanita yang memang sering kali tidak menentu akibat faktor kelelahan atau pikiran.Devan menghembuskan napas panjang, akhirnya bisa menerima penjelasan logis tersebut
Melihat wajah Vani yang tiba-tiba memucat dengan air mata yang mulai menetes menahan sakit, Vano yang baru saja kembali dari arah meja ujung langsung berlari tergesa-gesa. "Om... iiiiiiiiiiiihhhhhhh.... kenapa bikin Voni nangis." Ucap Vano yang lari sambil bawa kerupuk di tangannya, langsung menyalahkan Devan atas air mata yang membasahi pipi Vani.Devan yang jantungnya sudah mau copot karena panik luar biasa, tidak memedulikan tuduhan Vano. Dengan sigap, pria bertubuh tegap itu langsung merengkuh tubuh mungil istrinya."Eeeehhhh......bukan...... Voni kenapa." Tanya Devan yang tiba-tiba langsung gendong Voni di pangkuan nya, mendekap erat tubuh gadis itu dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.Berada di pangkuan suaminya di tengah keramaian warung tenda yang dipenuhi banyak orang tentu saja membuat Vani merasa risi. Gadis itu menggeliat pelan, mencoba mendorong dada bidang Devan dengan sisa tenaganya."Lepas.... Voni gak apa-apa." Ucap Voni sembari merintih pelan, wajahnya bersembun
"Gak apa-apa kan mas suami kamu." Ucap Devan dengan nada suara berat yang sarat akan bisikan godaan, mencoba menenangkan kepanikan yang melanda benak Vani.Vani mencengkeram erat pundak tegap Devan, merasakan jantungnya berdegup begitu kencang sampai dadanya kembang kempis menahan sensasi luar biasa yang terus membanjiri tubuh bagian bawahnya."Ssssssstttttt...... Vani kan masih sekolah aaaaahhhhh......" Ucap Vani meracau pelan di sela desahannya, mencoba mengingatkan statusnya yang masih di bawah umur dan mengenakan seragam putih-abu kepada suaminya tersebut.Devan mengangguk samar, bibirnya mulai beralih menelusuri rahang tegas Vani hingga kembali ke area leher sensitifnya."Iya mas juga tau....gak akan di masukin dulu...." Ucap Devan memberikan janji penenang sembari terus memberikan gesekan-gesekan presisi di area luar, membuat pertahanan akal sehat Vani benar-benar lumpuh seketika."Ssssssstttttt......jangan di gigit ssssssstttttt....." Ucap Vani melenguh tinggi saat merasakan hi
"Tiba-tiba lapar." Ucap Vani dengan nada suara lirih sembari melirik Devan dari sudut matanya.Devan yang masih setia berbaring di sebelahnya langsung membuka mata, menatap sang istri dengan kening berkerut heran mendengar keluhan lambung gadis tersebut."Jam segini bukannya tadi kamu udah makan?" Tanya Devan memastikan, mengingat porsi makan Vani saat menyantap bakso mang Kardi sore tadi sebenarnya sudah cukup banyak. Dan pas makan malam juga.Vani mengerucutkan bibirnya, lalu mendengus pelan menahan gejolak di perutnya yang tidak bisa diajak kompromi malam-malam begini. "Lapar lagi..... Vani mau ke Vano mau minta di bikinin mie goreng." Ucap Vani sembari bersiap bangkit dari kasur lantai, berniat menyambangi rumah kakaknya yang berada tepat di sebelah demi mendapatkan sepiring mie instan hangat."Bikin sendiri jangan minta di bikinin Vano." Ucap Devan melarang dengan nada suara yang terdengar tegas, tidak suka jika ada pria lain yang melayani kebutuhan perut istrinya.Vani langsung
Melihat kakek melompat-lompat kesakitan dengan wajah yang memerah padam menahan linu, Emran yang masih berdiri di dekat kaki Pak Damian langsung menarik kembali tangan mungilnya. Bocah cilik itu mengerjapkan mata bulatnya polos tanpa dosa, seolah tidak menyadari kalau jari-jari baru saja membuat sang kakek kesakitan."Maap gak sengaja..." Ucap Emran dengan suara pelan dan tampang cemberut, meskipun tidak ada nada penyesalan yang berarti di wajahnya.Pak Damian yang masih memegangi bagian bawah celananya langsung mundur, lalu bergelayut manja di lengan istrinya."Huuuuuaaaa.....mamih borokokok Daddy cedera mamih...." Ucap pak Damian mengadu, berharap mendapatkan belas kasihan dan pelukan hangat dari sang istri tercinta.Namun, alih-alih panik atau mengelus punggung suaminya, Mamih Eko justru melipat kedua tangan di dada sambil mendelikkan matanya dengan tatapan yang sangat puas melihat penderitaan pria paruh baya di sebelahnya."Syukurin...." Ucap Mamih Eko ketus tanpa beban, merasa k
"Lo gak lihat gimana pacar kesayangan lo itu ngebuli dia? Dia cuma diam, Dev! Padahal posisinya dia itu istri sah lo," ucap Eko dengan nada kesal yang tertahan. "Vani bisa saja lempar gelas itu ke muka Lana kalau dia mau, tapi dia gak sebodoh itu. Dia cuma gak mau cari masalah karena dia tahu sekar
"Jam dua malam, Tuan," bisik Vani lirih sambil melirik jam di dinding klinik."Sudah, cepat jangan banyak protes. Kamu itu istri saya, jadi saya sah-sah saja memegang tubuh kamu," potong Devan dengan nada yang tak ingin dibantah."Tapi, Tuan..." Vani masih berusaha menolak."Gak ada tapi-tapian, ce
"Nanti gue ceritain semuanya," ucap Devan pendek, mencoba mengakhiri rasa penasaran Eko.Mereka pun melangkah mengikuti suster dan dokter menuju ruang rawat Vani. Beruntung klinik ini cukup besar dan fasilitasnya lengkap, sehingga ada ruang inap yang memadai."Maaf, Tuan... tolong dijaga ya, jangan
"Sayang, ada apa?" tanya Devan dengan nada khawatir begitu menghampiri pacarnya."Ini, Sayang... pembantu kamu ceroboh banget! Dia mecahin gelas kesayangan aku, Sayang," adu Lana dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.Plak! Tanpa aba-aba dan tanpa bertanya lebih dulu, tangan Devan melayang kera







