Share

Pertengkaran

Author: Simplyree
last update publish date: 2025-11-09 07:46:27

"Siapa yang pinter?" Sebuah suara berat mengagetkan Vita. Ia dengan cepat mendongak, dan mendapati Arga sudah berdiri tepat di depannya.

Vita berdehem pelan, dan mencoba menetralkan suaranya.

"Eh, Mas Arga udah selesai mandi?" tanyanya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

Arga membalas dengan anggukan. Ia kemudian menarik kursi lalu duduk di hadapan sang istri. "Tadi lagi ngetawain apa?" tanyanya penasaran melihat istrinya tertawa sendirian.

Vita yang semula berniat mengambil nasi untuk Ar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Bab terakhir

    Arga tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, seolah menyusun kata-kata yang tepat agar tidak terdengar terlalu kasar di telinga Vita. Tangannya masih mengusap punggung sang istri dengan ritme pelan. “Gilang bukan cuma menipu kamu. Dia sudah melakukan itu ke banyak wanita di Korea saat berkuliah di sana,” ucap Arga dengan nada rendah dan penuh kehati-hatian. Vita mengangkat wajahnya perlahan dengan mata yang seketika melebar. “Banyak?” tanyanya hampir tak percaya.Arga mengangguk tipis. “Iya. Jumlahnya nggak sedikit. Total kerugian para korban bahkan sampai ratusan juta won,” jawabnya.Ia berhenti sejenak dan rahangnya perlahan mengeras. “Dan yang bikin kasus ini makin rumit adalah karena salah satu korbannya anak dari polisi yang dulunya senior Mas.”“Senior?” tanya Vita memastikan. Dengan cepat Arga mengangguk, namun ia memilih diam dan tidak melanjutkan bahwa senior yang dimaksud adalah orang yang membuatnya keluar dari kepolisian. Vita menutup mulutnya dengan tangan

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Rasa penasaran

    Vita keluar dari kamar mandi dengan rambut masih meneteskan air. Aroma sabun yang menenangkan membuatnya sedikit lebih rileks. Ia menempelkan handuk ke rambutnya, menggosok pelan sambil berjalan menuju cermin di kamar.Wajahnya tampak sedikit lebih baik dibanding saat pertama kali tiba di rumah, meski masih ada bekas kemerahan di pipi dan pergelangan tangan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan menegangkan yang masih tersisa di kepalanya. Saat teringat bagaimana Arga datang dan melepaskan ikatannya, sudut bibirnya terangkat tipis, ada rasa hangat yang muncul begitu saja di dada.Namun rasa itu tidak bertahan lama. Vita menoleh ke arah jendela lalu melangkah mendekat. Dengan tangan sedikit gemetar ia menyingkap tirai perlahan. Dari celah kecil itu terlihat tiga pria yang tadi mengantarnya pulang masih berjaga di depan rumah. “Mas Arga kok belum pulang ya?” gumam Vita pelan, ada nada cemas yang terdengar dalam suaranya.Matanya menatap kosong ke arah jalan yang sepi. L

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Misi selesai

    “Kalian yakin dia pelakunya?” tanya Bima dengan nada serius, matanya menatap Gilang yang tertidur dalam posisi duduk dan tangan terborgol. “Kami yakin, Pak. Bapak bisa lihat sendiri bukti fotonya,” jawab Nova tegas.Bima mengangguk singkat. Ia menepuk pundak Nova pelan sebagai bentuk apresiasi. Lalu tatapannya beralih pada Arga yang berdiri sedikit jauh membelakanginya sambil mengisap rokok.Bima melangkah mendekat hingga berdiri di samping pria itu. “Terima kasih karena sudah berhasil menangkap pelaku yang sudah merugikan banyak pihak, termasuk putri saya sendiri,” ucapnya. Arga tidak segera menjawab. Ia menyesap rokok dalam-dalam kemudian mengepulkan asapnya ke depan. “Jangan terlalu senang. Saya melakukan ini karena dia juga sudah menyakiti istri saya,” balasnya dingin. Arga membuang puntung rokok ke lantai dan hendak melangkah pergi, namun suara Bima kembali menghentikannya.“Semua bayaran untukmu sudah saya transfer. Saya harap itu cukup sebagai balasan atas jasa kamu kali ini

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Tertangkap basah

    “Mas Arga kok bisa tahu aku di sini?” tanya Vita dengan suara yang terdengar panik. “Udah kamu diam dulu, Mas bakal jelasin nanti,” jawab Arga cepat. Tangannya bekerja tegang dan tergesa, berusaha melepaskan ikatan kasar yang membelit tubuh istrinya. Saat melihat bekas kemerahan di lengan dan pipi Vita, mata Arga tampak berkaca-kaca. Ia merasa gagal menjaga istri tercintanya dari jeratan pria menakutkan itu. “Ayo cepet, jangan terlalu lama. Takut dia balik!” seru Nova dari arah pintu.Arga mempercepat gerakannya. Ikatan terakhir akhirnya terlepas. Vita mengembuskan napas panjang, hampir tak percaya ia bisa bebas secepat ini. Arga menariknya ke dalam pelukan singkat, kemudian melepasnya karena tidak ingin Nova menunggu lebih lama. Pria itu membantu Vita berdiri. “Ayo kita pergi dari sini,” ucapnya lembut. Begitu mencoba menapak, Vita meringis. Sakit itu menyambar dari pergelangan hingga betisnya. Kemungkinan karena ia terlalu lama terikat sehingga membuat otot-ototnya kaku dan peri

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Terbongkarnya rahasia besar

    “Kamu benar-benar nggak tahu pekerjaan suamimu yang sebenarnya?” tanya Gilang dengan suara merendah namun mengandung kecurigaan yang besar. “Mas Arga… dia karyawan kantor biasa bukan agen rahasia seperti yang kamu bilang,” jawab Vita lirih. Ia mengalihkan pandangan karena tak sanggup menatap langsung mata sipit pria itu yang terasa menusuk hingga ke tulang.Gilang tertawa keras, tawa yang terdengar seperti ejekan. Ia meraih dagu Vita dan membelai pipinya dengan sentuhan yang membuat kulit perempuan itu merinding. Tatapannya menancap ke mata Vita, seolah ingin menelanjangi isi kepalanya.“Kamu memang lugu, pantas saja kamu gampang dibodohi laki-laki," ucap pria itu dengan nada meremehkan. Tanpa menunggu balasan, Gilang berdiri. Langkahnya terdengar berat saat berbalik, meninggalkan Vita yang masih terbaring di lantai dingin dengan kedua tangan dan kaki terikat tali. Nafas Vita terengah, antara sakit dan rasa tidak berdaya.Namun sebelum Gilang sempat melangkah lebih jauh, sebuah suar

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Kecurigaan

    “Kenapa kamu tega lakuin ini ke aku?” tanya Vita tajam dengan tangan dan kaki yang sudah terikat tali. Tubuhnya dibiarkan terbaring begitu saja di lantai kotor penuh debu. Wajah perempuan itu bahkan tertutupi oleh rambut panjangnya.Di sisi lain Gilang yang duduk di kursi sedang menatapnya sambil tersenyum penuh keangkuhan. “Apalagi alasannya selain kamu yang bodoh dan gampang ditipu?” tanya pria itu diakhiri kekehan dengan maksud mengejek. Vita mengerjap. Matanya seolah sudah kering karena terlalu lama menangis beberapa saat lalu. Kepalanya kemudian memutar perkataan Arga yang menyuruhnya untuh menjauhi Gilang. Maaf Mas Arga, aku nyesel karena ngga nurutin perintah Mas Arga buat jauhin Gilang, bisik Vita dalam hati. “Lihat aja, aku bakal laporin kamu ke polisi!” seru Vita dengan suara bergetar. “Polisi? Silahkan aja kalau kamu bisa keluar dari sini hidup-hidup!” balas Gilang. Pria itu lanjut menyesap rokoknya sambil menghembuskan asap ke udara. Ia seolah tak memedulikan Vita

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Berbincang berdua

    "Kamu masih marah sama Mas?" tanya Arga saat ia akan masuk ke mobilnya."Kita kan udah bahas masalah ini tadi malem. Aku ngga mau kita terus-terusan berantem," jawab Vita lirih. Tangannya tanpa sadar memainkan ujung bajunya. "Kamu beneran mau memutus hubungan sama Gilang?" tanya Arga.Vita mengang

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Menuruti perintah suami

    "Mas punya buktinya!" ucap Arga serius. "Bukti apa?" tanya Vita dengan alis yang terangkat sebelah, seolah sedang menantang pria itu."Rekaman CCTV," jawab Arga."Mana? Coba aku pengin lihat!" tantang Vita semakin terlihat berani. Ia begitu ingin tahu bukti apa yang dimiliki Arga sehingga pria itu

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Kecurigaan sang teman

    Vita baru selesai memasak makan malam. Aroma tumisan dan wangi nasi hangat memenuhi ruang makan. Ia duduk di kursi menatap meja yang sudah tertata rapi.Senyum merekah tak lepas dari wajahnya karena sepuluh menit yang lalu Arga mengirim pesan bahwa pria itu sebentar lagi akan sampai di rumah. Jant

  • Suamiku ternyata seorang Intel   Bertemu sosok tak terduga

    Arga berjalan menuju ruangan yang baru saja ia sewa dengan wajah masih dipenuhi tanda tanya. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Gilang di tempat ini.Apa benar tadi itu Gilang? Atau cuma mirip? gumamnya dalam hati. Ia tidak sempat memastikan lebih jauh karena pria yang ia sangka Gilang lan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status