Share

Bab 111

Penulis: Mommy_Ar
last update Tanggal publikasi: 2026-07-17 08:29:12

Di kantin rumah sakit yang terletak di area basemen, suasana terbilang cukup lengang.

Hanya ada beberapa pengunjung yang duduk berjauhan, menikmati kopi atau sekadar mencari udara segar di luar kepenatan ruang rawat.

Di salah satu sudut meja dekat ventilasi besar, Arga dan Angga duduk berhadapan. Dua cangkir kopi hitam yang mulai mendingin tergeletak di atas meja, tidak disentuh sama sekali oleh pemiliknya.

Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, memikul beban keluarga yang kian hari
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mmh_Ara😊😊
duuuhhh,,serba salah juga sih,,, klo Arga jujur apa yg terjadi,,pasti Nayra ikut kepikiran,,, tp klo bisa sih,,,Jujur dikit² aja,,,dan di bicarakan dengan tenang
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 126

    Sepeninggal Mama Fitri dan Angga dari kamarnya, hening mendadak merayap begitu pekat. Kamar rawat nomor 305 itu kini terasa laksana sel isolasi yang memenjarakan jiwa Anna. Suara derak daun pintu yang tertutup rapat seolah mengunci seluruh kehampaan dan rasa malu di dalam dirinya.Anna masih bergeming di atas bangsal. Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut nyeri bekas tamparan keras dari sang ibu yang tak pernah sekalipun menyakitinya seumur hidup. Namun, rasa perih di kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan hantaman penyesalan yang kini menggerogoti dadanya. Kata-kata sang ibu dan kenyataan bahwa Nayra sedang berjuang melewati koma di kamar sebelah terus berputar-putar di dalam kepalanya laksana teror tanpa henti.Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Selang infus di tangannya terasa semakin berat, mencerminkan kerapuhan fisiknya yang baru saja kehilangan janin beberapa hari lalu.Cklek.Suara engsel pintu yang terdorong pelan memecah lamunan panjang

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 125

    Anna mematung, memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. Ia menoleh perlahan, menatap ibunya dengan mata membelalak tak percaya. Seumur hidupnya, Mama Fitri tidak pernah sekalipun melayangkan tangan atau memukul anak-anaknya, seburuk apa pun kesalahan yang mereka perbuat.Mama Fitri berdiri mematung dengan tangan kanan yang masih bergetar di udara. Air mata kekecewaan yang sangat mendalam akhirnya pecah dan mengalir deras membasahi pipinya yang keriput."Jaga mulutmu, Anna!" ucap Mama Fitri dengan suara parau yang menyayat hati. "Kamu pikir Mama gak tahu apa yang sudah kamu perbuat di Jakarta selama ini, hah?! Kamu pikir Mama gak tahu kebusukan apa yang kamu sembunyikan sampai adik-adikmu harus menanggung akibatnya?!"Napas Mama Fitri memburu hebat, dadanya kembang-kempis menahan rasa sesak yang kian melilit tangkainya. Tamparan tadi tidak hanya membakar pipi Anna, tetapi juga meninggalkan perih yang luar biasa di telapak tangan tua Mama Fitri. Air matanya menetes satu perasi

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 124

    Keesokan harinya, koridor lantai tiga rumah sakit perlahan mulai ramai oleh riuk pikuk aktivitas pagi. Bau antiseptik yang khas menyeruak di udara, berpadu dengan derak roda troli medis yang didorong para perawat.Nayra akhirnya telah dipindahkan dari ruang ICU menuju kamar rawat inap semula kamar nomor 304. Meski selang ventilator besar sudah dilepas dan digantikan oleh nasal kanula oksigen biasa, kondisi wanita itu masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia masih terbaring kaku dalam buaian koma medis akibat pendarahan hebat dan komplikasi yang dialaminya.Mama Fitri telah tiba sejak pagi-pagi sekali setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari kampung halaman. Sementara itu, orang tua Nayra dikabarkan masih berada di perjalanan menyusul menggunakan jalur darat dan diprediksi baru akan sampai menjelang siang.Setelah beberapa saat mengelus kening menantunya yang dingin sambil memanjatkan doa-doa keselamatan di dalam kamar, Mama Fitr

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 123

    Di luar ruang ICU, koridor rumah sakit terasa begitu lengang. Suara dengung pendingin udara berpadu dengan langkah gontai beberapa perawat yang melintas dari kejauhan menjadi satu-satunya latar belakang suara di lorong steril tersebut. Lampu-lampu neon memancarkan cahaya putih yang dingin, menambah aura kesedihan yang menggelayuti keluarga kecil itu.Di atas deretan kursi besi dingin yang menempel di dinding, Angga dan Ayu masih setia duduk menanti. Keduanya tampak teramat lelah. Lingkaran hitam menutupi bagian bawah mata mereka setelah seharian penuh dihantam badai emosi, mulai dari mengurus Riko di ruang anak, melerai keributan Arga dan Rama di taman, hingga menyaksikan pertaruhan nyawa Nayra dan bayinya di ruang operasi.Ayu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengusap lehernya yang terasa kaku. Matanya menatap pintu kaca tebal ruang ICU yang tertutup rapat, membayangkan beban berat yang saat ini tengah menghimpit pundak adik iparnya di dalam sana.Ia memiringkan kepa

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 122

    Di tengah kehancuran jiwanya, Arga mendongakkan kepala. Matanya yang merah dan sembap menatap dokter bedah yang masih berdiri menunggunya dengan sabar."Apakah... apakah saya bisa menemui istri saya, Dok?" tanya Arga lemah, hampir seperti bisikan gundah dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya.Dokter itu mengangguk pelan. "Bisa, Pak. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit). Tapi untuk saat ini, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk untuk mendampingi. Dan Anda harus mengenakan pakaian medis steril lengkap demi menjaga kondisi steril pasien dari risiko infeksi," ujar dokter menginstruksikan."Saya, Dok... Saya yang masuk. Tolong izinkan saya," ucap Arga tanpa ragu. Ia mengusap air matanya kasar, memaksa kakinya yang gemetar untuk kembali berdiri tegak.Lima belas menit kemudian, Arga sudah berada di depan pintu kaca tebal ruang ICU. Ia telah mengenakan jubah hijau steril, penutup kepala, dan masker yang menutupi sebagian besar wajahnya yang memar

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 121

    Waktu terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik di depan ruang operasi terasa laksana siksaan yang membakar jiwa. Tiga puluh menit... empat puluh lima menit... satu jam berlalu tanpa ada kepastian.KLIK!Lampu merah indikator di atas pintu ruang operasi mendadak padam. Pintu besar itu terdorong terbuka. Seorang dokter spesialis anak (pediatris) keluar lebih dulu sambil mendorong sebuah inkubator kecil transparan, dikawal oleh dua orang suster.Arga, Angga, Mbak Ayu seketika berdiri, merangsek mendekat dengan jantung yang berdegup kencang."Dokter! Bagaimana anak dan istri saya, Dok?!" seru Arga histeris, matanya berusaha mengintip ke dalam dinding kaca inkubator.Dokter spesialis anak itu melepas maskernya dan memberikan senyuman tipis yang sangat menenangkan. "Selamat, Pak. Bayi Anda laki-laki. Beratnya memang hanya 1,9 kilogram karena lahir prematur di usia kehamilan delapan bulan, dan tadi sempat mengalami sedikit sesak napas karena kekurangan cairan ketuban."Arga menahan na

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Pegangan, Nay!

    Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Kebetulan atau Takdir

    "Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Suara aneh

    Krieeet... krieeet..."Eughhh!""Sshhhh..."Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, buk

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Dia pacarku!

    Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status