LOGINMendengar kalimat kasar dan tidak berperasaan yang keluar dari mulut kakaknya sendiri tepat di depan wajah istrinya yang sedang menahan sakit, amarah Arga yang sejak di kantor sudah ia bendung sekuat tenaga kini benar-benar runtuh.
Rahangnya mengetat sempurna, urat-urat di lehernya tampak menegang, dan matanya menatap Anna dengan kilat kemarahan yang sangat mengerikan. Pria yang biasanya selalu sabar dan mengalah itu kini bangkit berdiri dengan tegap. "Mbak AnnHari demi hari berganti menjadi minggu, minggu merayap menjadi bulan, hingga tak terasa roda waktu berputar melewati beberapa tahun. Dunia terus bergerak maju, meninggalkan puing-puing trauma masa lalu, sementara takdir kehidupan orang-orang di dalamnya mengalami pergeseran yang sangat drastis.Di tempat yang berbeda, badai hukum dan kehancuran rumah tangga Hary telah usai. Berbekal dokumen pernyataan pengakuan dosa di atas meterai yang ditandatangani Anna di rumah sakit waktu itu, Hanna melancarkan serangan hukum yang sangat rapi dan tanpa cela. Di persidangan cerai, Hary tak berkutik sedikit pun. Seluruh bukti perselingkuhan dan penyalahgunaan dana perusahaan dibeberkan secara terbuka.Hanna berhasil menceraikan Hary secara sah. Hary resmi didepak keluar dari rumah mewahnya tanpa membawa sepeser pun harta gono-gini. Bahkan, perusahaan tempat Hary bernaung, yang sebenarnya dirintis dan dibesarkan menggunakan modal utama dari keluarga Hanna kini sepe
Keheningan di kamar rawat Anna terasa kian menjepit. Lembaran kertas ber-kop hukum itu masih terhampar di atas selimut Anna, menatapnya laksana cermin yang memantulkan seluruh dosa dan kebodohannya. Pen berujung hitam yang disodorkan Hanna berada tegap di jemarinya yang bergetar hebat.Di hadapannya, Hanna berdiri tegak dengan sepasang mata tajam yang menuntut kepastian. Tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan. Hanya ada kalkulasi dingin seorang wanita elegan yang siap meruntuhkan kehidupan suami yang telah mengkhianatinya.Anna menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Pelipisnya dibasahi keringat dingin. Di dalam benaknya, dua bayangan masa depan berputar dengan begitu mengerikan, dinding penjara yang dingin serta kehancuran nama baiknya secara total, atau menyerahkan seluruh sisa harga dirinya ke dalam dokumen pengakuan dosa ini demi sebuah kebebasan bersyarat."Aku tidak punya waktu seharian untuk menunggumu berfikir," tekan Hanna dengan suara rendah yang amat mematika
Sepeninggal Mama Fitri dan Angga dari kamarnya, hening mendadak merayap begitu pekat. Kamar rawat nomor 305 itu kini terasa laksana sel isolasi yang memenjarakan jiwa Anna. Suara derak daun pintu yang tertutup rapat seolah mengunci seluruh kehampaan dan rasa malu di dalam dirinya.Anna masih bergeming di atas bangsal. Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut nyeri bekas tamparan keras dari sang ibu yang tak pernah sekalipun menyakitinya seumur hidup. Namun, rasa perih di kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan hantaman penyesalan yang kini menggerogoti dadanya. Kata-kata sang ibu dan kenyataan bahwa Nayra sedang berjuang melewati koma di kamar sebelah terus berputar-putar di dalam kepalanya laksana teror tanpa henti.Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Selang infus di tangannya terasa semakin berat, mencerminkan kerapuhan fisiknya yang baru saja kehilangan janin beberapa hari lalu.Cklek.Suara engsel pintu yang terdorong pelan memecah lamunan panjang
Anna mematung, memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. Ia menoleh perlahan, menatap ibunya dengan mata membelalak tak percaya. Seumur hidupnya, Mama Fitri tidak pernah sekalipun melayangkan tangan atau memukul anak-anaknya, seburuk apa pun kesalahan yang mereka perbuat.Mama Fitri berdiri mematung dengan tangan kanan yang masih bergetar di udara. Air mata kekecewaan yang sangat mendalam akhirnya pecah dan mengalir deras membasahi pipinya yang keriput."Jaga mulutmu, Anna!" ucap Mama Fitri dengan suara parau yang menyayat hati. "Kamu pikir Mama gak tahu apa yang sudah kamu perbuat di Jakarta selama ini, hah?! Kamu pikir Mama gak tahu kebusukan apa yang kamu sembunyikan sampai adik-adikmu harus menanggung akibatnya?!"Napas Mama Fitri memburu hebat, dadanya kembang-kempis menahan rasa sesak yang kian melilit tangkainya. Tamparan tadi tidak hanya membakar pipi Anna, tetapi juga meninggalkan perih yang luar biasa di telapak tangan tua Mama Fitri. Air matanya menetes satu perasi
Keesokan harinya, koridor lantai tiga rumah sakit perlahan mulai ramai oleh riuk pikuk aktivitas pagi. Bau antiseptik yang khas menyeruak di udara, berpadu dengan derak roda troli medis yang didorong para perawat.Nayra akhirnya telah dipindahkan dari ruang ICU menuju kamar rawat inap semula kamar nomor 304. Meski selang ventilator besar sudah dilepas dan digantikan oleh nasal kanula oksigen biasa, kondisi wanita itu masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia masih terbaring kaku dalam buaian koma medis akibat pendarahan hebat dan komplikasi yang dialaminya.Mama Fitri telah tiba sejak pagi-pagi sekali setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari kampung halaman. Sementara itu, orang tua Nayra dikabarkan masih berada di perjalanan menyusul menggunakan jalur darat dan diprediksi baru akan sampai menjelang siang.Setelah beberapa saat mengelus kening menantunya yang dingin sambil memanjatkan doa-doa keselamatan di dalam kamar, Mama Fitr
Di luar ruang ICU, koridor rumah sakit terasa begitu lengang. Suara dengung pendingin udara berpadu dengan langkah gontai beberapa perawat yang melintas dari kejauhan menjadi satu-satunya latar belakang suara di lorong steril tersebut. Lampu-lampu neon memancarkan cahaya putih yang dingin, menambah aura kesedihan yang menggelayuti keluarga kecil itu.Di atas deretan kursi besi dingin yang menempel di dinding, Angga dan Ayu masih setia duduk menanti. Keduanya tampak teramat lelah. Lingkaran hitam menutupi bagian bawah mata mereka setelah seharian penuh dihantam badai emosi, mulai dari mengurus Riko di ruang anak, melerai keributan Arga dan Rama di taman, hingga menyaksikan pertaruhan nyawa Nayra dan bayinya di ruang operasi.Ayu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengusap lehernya yang terasa kaku. Matanya menatap pintu kaca tebal ruang ICU yang tertutup rapat, membayangkan beban berat yang saat ini tengah menghimpit pundak adik iparnya di dalam sana.Ia memiringkan kepa
Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal
Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke
JEDUARRR!Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Nayra mendadak mencos. Kalimat Mbak Dewi barusan terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua asumsi liar dan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya sejak semalam.‘’Di keroyok?" beo Nayra, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan
‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra m







