MasukAnna langsung mendengus kesal mendengar pembelaan Arga.
Ia membuka pintu mobil dengan kasar, lalu melangkah keluar dan mengekor di belakang punggung tegap adiknya yang mulai berjalan membuka pintu utama rumah tersebut. Begitu pintu depan terbuka, suasana di dalam rumah terasa sangat sepi dan sunyi. Tidak ada aroma masakan hangat yang biasanya langsung menyambut penciuman Arga setiap kali ia melangkah masuk ke rumah ini. Arga melSepeninggal Mama Fitri dan Angga dari kamarnya, hening mendadak merayap begitu pekat. Kamar rawat nomor 305 itu kini terasa laksana sel isolasi yang memenjarakan jiwa Anna. Suara derak daun pintu yang tertutup rapat seolah mengunci seluruh kehampaan dan rasa malu di dalam dirinya.Anna masih bergeming di atas bangsal. Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut nyeri bekas tamparan keras dari sang ibu yang tak pernah sekalipun menyakitinya seumur hidup. Namun, rasa perih di kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan hantaman penyesalan yang kini menggerogoti dadanya. Kata-kata sang ibu dan kenyataan bahwa Nayra sedang berjuang melewati koma di kamar sebelah terus berputar-putar di dalam kepalanya laksana teror tanpa henti.Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Selang infus di tangannya terasa semakin berat, mencerminkan kerapuhan fisiknya yang baru saja kehilangan janin beberapa hari lalu.Cklek.Suara engsel pintu yang terdorong pelan memecah lamunan panjang
Anna mematung, memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. Ia menoleh perlahan, menatap ibunya dengan mata membelalak tak percaya. Seumur hidupnya, Mama Fitri tidak pernah sekalipun melayangkan tangan atau memukul anak-anaknya, seburuk apa pun kesalahan yang mereka perbuat.Mama Fitri berdiri mematung dengan tangan kanan yang masih bergetar di udara. Air mata kekecewaan yang sangat mendalam akhirnya pecah dan mengalir deras membasahi pipinya yang keriput."Jaga mulutmu, Anna!" ucap Mama Fitri dengan suara parau yang menyayat hati. "Kamu pikir Mama gak tahu apa yang sudah kamu perbuat di Jakarta selama ini, hah?! Kamu pikir Mama gak tahu kebusukan apa yang kamu sembunyikan sampai adik-adikmu harus menanggung akibatnya?!"Napas Mama Fitri memburu hebat, dadanya kembang-kempis menahan rasa sesak yang kian melilit tangkainya. Tamparan tadi tidak hanya membakar pipi Anna, tetapi juga meninggalkan perih yang luar biasa di telapak tangan tua Mama Fitri. Air matanya menetes satu perasi
Keesokan harinya, koridor lantai tiga rumah sakit perlahan mulai ramai oleh riuk pikuk aktivitas pagi. Bau antiseptik yang khas menyeruak di udara, berpadu dengan derak roda troli medis yang didorong para perawat.Nayra akhirnya telah dipindahkan dari ruang ICU menuju kamar rawat inap semula kamar nomor 304. Meski selang ventilator besar sudah dilepas dan digantikan oleh nasal kanula oksigen biasa, kondisi wanita itu masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia masih terbaring kaku dalam buaian koma medis akibat pendarahan hebat dan komplikasi yang dialaminya.Mama Fitri telah tiba sejak pagi-pagi sekali setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari kampung halaman. Sementara itu, orang tua Nayra dikabarkan masih berada di perjalanan menyusul menggunakan jalur darat dan diprediksi baru akan sampai menjelang siang.Setelah beberapa saat mengelus kening menantunya yang dingin sambil memanjatkan doa-doa keselamatan di dalam kamar, Mama Fitr
Di luar ruang ICU, koridor rumah sakit terasa begitu lengang. Suara dengung pendingin udara berpadu dengan langkah gontai beberapa perawat yang melintas dari kejauhan menjadi satu-satunya latar belakang suara di lorong steril tersebut. Lampu-lampu neon memancarkan cahaya putih yang dingin, menambah aura kesedihan yang menggelayuti keluarga kecil itu.Di atas deretan kursi besi dingin yang menempel di dinding, Angga dan Ayu masih setia duduk menanti. Keduanya tampak teramat lelah. Lingkaran hitam menutupi bagian bawah mata mereka setelah seharian penuh dihantam badai emosi, mulai dari mengurus Riko di ruang anak, melerai keributan Arga dan Rama di taman, hingga menyaksikan pertaruhan nyawa Nayra dan bayinya di ruang operasi.Ayu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengusap lehernya yang terasa kaku. Matanya menatap pintu kaca tebal ruang ICU yang tertutup rapat, membayangkan beban berat yang saat ini tengah menghimpit pundak adik iparnya di dalam sana.Ia memiringkan kepa
Di tengah kehancuran jiwanya, Arga mendongakkan kepala. Matanya yang merah dan sembap menatap dokter bedah yang masih berdiri menunggunya dengan sabar."Apakah... apakah saya bisa menemui istri saya, Dok?" tanya Arga lemah, hampir seperti bisikan gundah dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya.Dokter itu mengangguk pelan. "Bisa, Pak. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit). Tapi untuk saat ini, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk untuk mendampingi. Dan Anda harus mengenakan pakaian medis steril lengkap demi menjaga kondisi steril pasien dari risiko infeksi," ujar dokter menginstruksikan."Saya, Dok... Saya yang masuk. Tolong izinkan saya," ucap Arga tanpa ragu. Ia mengusap air matanya kasar, memaksa kakinya yang gemetar untuk kembali berdiri tegak.Lima belas menit kemudian, Arga sudah berada di depan pintu kaca tebal ruang ICU. Ia telah mengenakan jubah hijau steril, penutup kepala, dan masker yang menutupi sebagian besar wajahnya yang memar
Waktu terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik di depan ruang operasi terasa laksana siksaan yang membakar jiwa. Tiga puluh menit... empat puluh lima menit... satu jam berlalu tanpa ada kepastian.KLIK!Lampu merah indikator di atas pintu ruang operasi mendadak padam. Pintu besar itu terdorong terbuka. Seorang dokter spesialis anak (pediatris) keluar lebih dulu sambil mendorong sebuah inkubator kecil transparan, dikawal oleh dua orang suster.Arga, Angga, Mbak Ayu seketika berdiri, merangsek mendekat dengan jantung yang berdegup kencang."Dokter! Bagaimana anak dan istri saya, Dok?!" seru Arga histeris, matanya berusaha mengintip ke dalam dinding kaca inkubator.Dokter spesialis anak itu melepas maskernya dan memberikan senyuman tipis yang sangat menenangkan. "Selamat, Pak. Bayi Anda laki-laki. Beratnya memang hanya 1,9 kilogram karena lahir prematur di usia kehamilan delapan bulan, dan tadi sempat mengalami sedikit sesak napas karena kekurangan cairan ketuban."Arga menahan na
Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke
JEDUARRR!Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Nayra mendadak mencos. Kalimat Mbak Dewi barusan terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua asumsi liar dan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya sejak semalam.‘’Di keroyok?" beo Nayra, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan
‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra m
Pikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima







