INICIAR SESIÓNFebi terdiam beberapa detik, cukup lama.Lampu kamar rumah sakit menyala putih.Cahaya itu jatuh lembut di wajah ibunya yang sedang tertidur.Napas ibunya terdengar pelan.Teratur.Namun tetap lemah.Febi mengangkat pandangannya sedikit.Menatap ke arah tempat tidur.Sangat lama.Dadanya terasa… berat.Satu sisi dirinya ingin tetap di sini.Duduk dan menjaga sang ibu.Memastikan ibunya baik-baik saja.Namun—di sisi lain—ada pesan itu.Pesan yang merupakan perintah yang mutlak.Yang tidak pernah benar-benar bisa ia abaikan.Febi menelan ludah.Jarinya bergerak pelan di atas layar.Namun tidak langsung membalas.Ia hanya menatap pesan itu.Seolah berharap kata-katanya berubah.Atau hilang.Namun tentu saja tidak.Pesan itu tetap di sana.Diam.Menunggu.Febi menghembuskan napas pelan.Lalu akhirnya—mengetik.|Saya di rumah sakit, pak.|Ia berhenti sebentar.Menatap tulisan itu.Lalu menekan kirim.Pesan terkirim.Dan lagi—tidak ada balasan.Sunyi.Febi menaruh ponselnya pelan di pangk
Lorong rumah sakit itu panjang. Lampu-lampu putih di langit-langit menyala terang.Sampai-sampai bayangan orang-orang di lantai terlihat pucat.Febi berjalan cepat di sana. Langkahnya besar. Tasnya tergantung di bahu. Namun terasa lebih berat dari biasanya. Tangannya menggenggam tali tas itu erat. Seolah itu satu-satunya yang bisa ia pegang saat ini.Suara sepatu perawat terdengar di setiap sudut. Suara roda ranjang berderit. Suara mesin dari dalam kamar-kamar.Semua bercampur menjadi satu Namun tidak benar-benar ia dengar.Pikirannya hanya tertuju pada satu pintu.Di ujung lorong.Nomor kamar itu.Yang sudah ia hafal.Tanpa perlu melihat lagi.Langkahnya cepat.Tangannya terangkat.Berhenti di depan gagang pintu.Diam. Beberapa detik.Napasnya tertahan. Ia baru saja di hubungi oleh suster yang menjaga sang ibu. Ibunya collapse lagi. Dan itu cukup membuat dada Febi sesak luar biasa. Lalu— perlahan ia mendorong pintu itu.Pintu terbuka.Tidak ada suara keras.Hanya bunyi kecil dar
Febi melangkah masuk ke dalam gedung fakultas.Langkahnya pelan. Sedikit tertahan.Sepatunya berbunyi lirih di lantai keramik yang bersih, menyatu dengan suara langkah mahasiswa lain yang lalu-lalang di sekitarnya.Suasana pagi itu… ramai seperti biasa.Terlalu biasa.Beberapa mahasiswa duduk di kursi panjang di dekat taman dalam, tertawa sambil membicarakan sesuatu yang ringan.Beberapa yang lain berjalan tergesa, mungkin takut terlambat kelas.Ada juga yang berdiri berkelompok di dekat papan pengumuman.Semua terlihat normal.Seperti hari-hari sebelumnya.Namun—tidak bagi Febi.Ia berjalan melewati mereka semua dengan perasaan yang tidak biasa.Dadanya terasa sedikit berat.Seolah ada sesuatu yang terus menekan dari dalam. Pikirannya tidak benar-benar fokus pada jalan di depannya.Melainkan— pada sosok yang baru saja ia lihat beberapa menit yang lalu.Langga.Tatapan itu. Hanya sekilas. Namun terasa terlalu dalam.Febi menghela napas pelan. Tangannya kembali meremas tali tas di bah
Mesin mobil itu masih menyala pelan. Suaranya nyaris tidak terdengar. Hanya getaran halus yang terasa dari setir yang sedang digenggam erat oleh Febi. Tangannya belum bergerak, masih bertengger manis di sana. Ia terdiam, pikirannya masih tertuju pada sosok Langga– sugar Daddynya itu. Bayang-bayang kejadian semalam terus berkelebat di dalam kepalanya. Pipinya merona saat mengingat kejadian itu. Ia bahkan terus mendesah di bawah pria itu. Pria itu benar-benar perkasa, sampai membuat Febi kewalahan. Di luar—Miko masih berdiri dengan wajah penuh kagum. Tangannya bahkan sesekali mengelus badan mobil di depannya ini. Sungguh selama ini ia hanya bisa bermimpi bisa memegang mobil mewah ini. “Kak… coba jalanin dikit deh,” katanya lagi, suaranya lebih pelan sekarang, seolah tidak ingin merusak momen itu. Febi tidak langsung menjawab. Matanya masih lurus ke depan. Namun pikirannya—tidak benar-benar ada di sana. Justru masih tertuju pada sosok. Langga. Padahal bagi Febi— itu ter
Febi masih berdiri di sana. Di tengah ruang tamu apartemen yang hangat. Dengan kartu hitam di satu tangan. Dan kunci mobil di tangan yang lain. Kedua benda itu masih terasa asing. Masih terasa terlalu berat untuk sekadar dipegang. Matanya perlahan turun menatap kunci itu lagi. Logam kecil itu berkilau pelan di bawah cahaya lampu. Tangannya sedikit bergerak. Sangat pelan. Seolah ia baru berani benar-benar menggenggamnya sekarang. Sementara di depannya— Langga masih berdiri dengan sikap yang sama tenangnya. “Besok kamu coba,” ucapnya pelan. Febi mengangkat kepala. “Coba…?” Langga mengangguk. “Mobilnya.” Febi terdiam. Beberapa detik. "Saya nggak bisa bawa mobil pak." Cicit Febi. Langga mendengus. "Akan saya suruh orang untuk ajarkan kamu naik mobil." Febi meringis lalu ia mengangguk kecil. “Iya… pak” Panggilan itu masih terdengar canggung. Namun kali ini tidak terlalu asing seperti sebelumnya. Langga hanya menatapnya sebentar. Lalu berjalan menjauh, kembali ke m
Motor itu terus melaju hingga akhirnya memasuki kawasan apartemen elit yang ada di kota Jakarta itu. Gedung-gedung tinggi berdiri berderet dengan lampu-lampu yang menyala di jendela mereka. Pengemudi motor memperlambat laju kendaraan. “Di sini ya, mbak?” tanyanya sambil menatap kawasan itu. Febi mengangkat kepala sedikit, kepalanya mengangguk perlahan. “Iya pak, di depan situ.” Motor berhenti di depan lobi apartemen. Febi turun perlahan. "Saya sudah bayar di aplikasi ya pak." "Siap Mbak" Motor itu pergi meninggalkannya. Sekarang Febi berdiri sendiri di depan gedung apartemen yang tinggi itu. Lampu-lampu lobi menyala terang. Beberapa orang keluar masuk gedung, tanpa peduli dengan kedatangan Febi. Semua terlihat seperti malam-malam biasa. Febi menarik napas panjang. Lalu melangkahkan kakinya masuk. Lantai marmer di dalam lobi memantulkan cahaya lampu gantung yang besar. Udara di dalam ruangan terasa lebih dingin karena AC. Lift itu berhenti beberap
Febi meremas kertas itu dengan kuat. Kertas tipis itu langsung kusut di dalam genggamannya. Beberapa detik ia hanya berdiri di sana. Diam. Matanya masih menatap tulisan tangan yang kini mulai sedikit terlipat di permukaan kertas. |Ini pil kontrasepsi. Kamu harus meminumnya. Saya tidak mau
“Urgent apa sih?” Suara Febi terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya. Bukan karena takut, tapi lebih karena bingung. Dalung yang berdiri tepat di depannya langsung menghela napas panjang dengan suara yang cukup kasar. “Mangkanya,” gerutunya, “punya HP itu dipakai, jangan ditaruh di tas aja.”
“Ma-mas Langga?”Suara itu keluar pelan.Sintia berdiri beberapa langkah dari pintu ruang tamu ketika sosok suaminya masuk ke dalam rumah. Pintu utama masih terbuka setengah, membiarkan udara malam merayap masuk bersama bau aspal yang masih hangat setelah seharian disiram matahari.Langga tidak lan
Langga masih berdiri sangat dekat. Terlalu dekat. Febi bahkan bisa mencium aroma parfum pria itu—aroma yang samar bercampur dengan bau kopi dan sesuatu yang lebih hangat, lebih maskulin. Belum sempat ia sepenuhnya memahami apa yang terjadi— Langga tiba-tiba menarik tubuhnya lebih dekat lagi.







