เข้าสู่ระบบDao Kian tertegun mendengar tentang hal yang belum pernah diketahui sebelumnya. “Semangka” beracun yang bisa membunuh ketika dilahap. “Ya, mereka sengaja menaruh racun di dada untuk membunuh target mereka.” Jelas Feng Rou. “Padahal itu bagian paling nikmat yang tak bisa ditolak oleh sebagian pria mana pun di dunia ini.” Gerutu Dao Kian. “Tidak boleh, Dao Kian!” Bentak Feng Rou, kali ini wajahnya gelisah. “Racun mereka sangat mematikan dan tak ada penawarnya. Dao Kian terdiam cukup lama. Sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya. “Aku tak peduli dengan itu.” Balas Dao Kian akhirnya. “Yang terpenting kita harus menemukan Feiyan terlebih dahulu.” Feng Rou masih gelisah, seolah tahu bahwa Dao Kian pasti tak akan mendengar nasehatnya. Meskipun Dao Kian sudah bisa mengendalikan emosi tapi dia masih belum bisa menahan hasratnya jika sudah muncul. Dengan berat hati, Feng Rou mengikuti Dao Kian yang semakin jauh melewati koridor istana. Ketika sudah sampai di depan g
“Mi‐Mian!” Dao Kian menggoyangkan tubuh yang sudah tergeletak tak berdaya. Ternyata kondisi Mian sudah tak bernyawa. Ada beberapa luka tusukan di tubuh dayang yang pernah berhubungan dengan Dao Kian. Feng Rou berjalan mendekat. “Apakah ini adalah sebuah serangan musuh?” Dao Kian tak menjawab pertanyaan itu. Pikirannya masih mengingat masa indah yang singkat tentang Mian. Feng Rou menepuk pundak Dao Kian dengan lembut. Memberikan semangat dan rasa turut berduka yang mendalam. Namun Feng Rou teringat dengan Feiyan yang juga tinggal di kerajaan itu. Lalu dia berlari cepat masuk ke dalam istana. “Feiyan!” Teriak Feng Rou penuh kekhawatiran. Dao Kian meletakkan jasad Mian dengan perlahan, sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam istana menyusul Feng Rou. Masih dengan genangan air mata yang tersisa, penglihatannya menyusuri setiap sudut istana. Mencari keberadaan Feiyan atau siapa saja yang bisa memberikan petunjuk. “Kak Feng!” Dao Kian melihat Feng Rou yang terpaku di depan s
Mereka melihat tumpukan manusia tak bernyawa yang menggunung. Kemungkinan jumlahnya berkisar delapan puluh sampai sembilan puluh.Puluhan jasad itu terdiri dari pria dan wanita yang sengaja disusun bertumpuk.“Mungkinkah Ratu Xiao Lan yang melakukan ini?” Tanya Feng Rou sambil menunjuk bendera kerajaan Yue yang berkibar di tiang bambu yang menancap di salah satu jasad.“Tidak mungkin kalau Xiao Lan melakukan hal sekeji ini!” Bantah Dao Kian menuju dengan keras.Feng Rou kembali waspada sambil memperhatikan sekeliling. Dia berprasangka, mungkin ada petunjuk yang dapat mengungkap siapa pelakunya.Benar saja, Feng Rou menemukan sebuah coret-coret tulisan di sebuah rumah.“Dao Kian! Lihat ini!” Feng Rou mengamati dan membaca tulisan itu.“Aku tahu kau akan kembali dalam waktu dekat. Jika kau membaca pesan ini, datanglah ke puncak bukit Yuan.”Dao Kian juga membaca pesan tersebut. Tapi dalam tulisan itu tidak ada nama penulisnya.“Satu hal yang aku yakini!” Dao Kian menatap tajam ke arah t
Setelah badai nafsu yang terasa abadi itu akhirnya mereda, keheningan kembali menyelimuti ruangan tersebut, hanya menyisakan suara napas mereka yang saling bersahutan. Dao Kian perlahan menarik diri dari tubuh Feng Rou. Feng Rou tergeletak tak berdaya, benar-benar lumpuh oleh kenikmatan. Matanya setengah tertutup, dadanya naik turun dengan cepat, dan kulitnya masih terasa panas. Seluruh energi Feng Rou terkuras habis oleh stamina yang lebih mirip monster daripada stamina manusia.Dao Kian, yang kini merasa jauh lebih tenang, merebahkan tubuhnya di samping Feng Rou. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, membiarkan kulit mereka yang berkeringat saling menempel.“Kak Feng...” bisik Dao Kian, suaranya kembali normal namun terdengar lebih berat dan berwibawa.Feng Rou mengeluarkan desahan panjang, menyandarkan kepalanya di dada bidang Dao Kian.“Jangan lagi... aku tidak kuat...” bisiknya dengan nada yang masih serak. “Kau sudah lakukan padaku tiga kali... seolah kau benar-benar meng
“Aku sudah menduga.” Feng Rou tersenyum pahit. “Aku merasakan ada energi aneh saat aku menyentuh tanganmu tadi.”“Kau tidak marah?” Tanya Dao Kian.“Mengapa aku harus marah?” Feng Rou mengangkat alis. “Kau bukan anak kecil. Semuanya sudah terjadi dan kau harus menjalani konsekuensi dari tindakanmu.”Feng Rou meraih tangan kanan Dao Kian untuk memberikan dukungan moral. Namun, begitu kulit mereka bersentuhan, sebuah sengatan listrik yang hebat menjalar ke seluruh tubuh Feng Rou secara tiba-tiba.“Ini kah kekuatan permata itu?” Batin Feng Rou, matanya melebar. Wanita itu merasakan panas yang luar biasa terpancar dari telapak tangan Dao Kian. Sebuah energi yang begitu liar dan mendesak.Rasa panas itu tidak berhenti di tangan, melainkan merayap naik ke dadanya, membuat jantungnya berdegup kencang.“Apa kau tidak apa-apa, Kak Feng?” Tanya Dao Kian sambil tersenyum tipis.Dia menatap Feng Rou dengan seksama seolah menyadari sesuatu yang sedang dirasakan Feng Rou saat ini.Dao Kian mulai m
“Kak... Feng?” bisik Dao Kian, nyaris tak percaya.Beberapa hari yang lalu, Feng Rou mengorbankan dirinya dengan melawan banyak prajurit Taiyang demi Dao Kian dan Feiyan agar bisa kabur. Pikiran Dao Kian menolak percaya jika yang menangkapnya saat ini benar-benar Feng Rou.Kain yang membelenggu itu terlepas dari pergelangan kaki Dao Kian. Sosok wanita melangkah keluar dari balik pohon besar yang tak jauh dari tempat Dao Kian terjatuh.“Kak Feng Rou!” Dao Kian bangkit berdiri. Matanya membelalak, tidak percaya. “Apa... itu benar-benar kau?”“Kau pikir siapa?” Feng Rou tersenyum ramah. “Apa kau tidak suka kalau masih hidup?”“Bukan begitu! Tapi aku melihatmu dikepung—“ Dao Kian tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. “Kau lupa,” potong Feng Rou, “aku ini bertahun-tahun hidup di hutan. Aku tidak akan mati semudah itu.”Feng Rou melangkah mendekati Dao Kian yang masih terlihat kebingungan.“Tapi bagaimana—““Aku punya sedikit kemampuan yang tidak pernah kau tahu,” jawab Feng Rou dengan nada







