LOGINGara-gara topik pembicaraan tiba-tiba berbelok ke arah putrinya, seulas senyum tulus langsung terukir di wajah sang dokter."Saya cuma berusaha menjalankan tugas saya sebagai laki-laki yang baik buat mastiin mental Amara tetap stabil setiap hari. Kondisi psikologis ibu hamil itu sangat berpengaruh besar pada pertumbuhan fisik janin di dalam kandungannya. Apalagi setelah Amara ngelewatin semua trauma penderitaan batin yang ditinggalkan sama mantan suaminya kemarin."Pujian tidak langsung dari wanita bertangan besi ini menjadi bukti nyata bahwa posisinya di keluarga ini semakin kuat. Adrian merasa sangat menikmati perubahan sikap sang nyonya besar yang mulai menerima kehadirannya secara terbuka."Saya sangat berterima kasih karena kamu sudah sabar menghadapi sikap keras kepala putri saya selama ini, Nak Adrian," ucap Bu Ratih menatap lurus ke depan kaca mobil mengamati sorot lampu jalanan."Amara itu perempuan hebat yang pantas dapetin seluruh kebahagiaan di dunia ini, Tante. Saya udah
Menatap lekat barisan huruf bertinta hitam di atas secarik kertas tersebut, napas Adrian seakan berhenti mengalir. Alamat yang tertera dengan sangat jelas itu merupakan lokasi persembunyian rahasia ayah kandungnya di sebuah desa terpencil. Akibat keterkejutan yang luar biasa besar, keringat dingin seketika merembes keluar membasahi tengkuk leher pria berbadan tegap ini.Lantaran menangkap perubahan drastis pada raut wajah calon menantunya, dahi Bu Ratih berkerut sangat dalam. Wanita paruh baya ini melipat kedua tangannya di depan dada membawa tatapan penuh selidik."Kenapa wajah kamu tiba-tiba tegang dan pucat begitu melihat alamat itu, Nak Adrian?" tegur Bu Ratih dengan nada suara yang penuh rasa curiga.Dihantam pertanyaan tajam tersebut secara mendadak, insting bertahan hidup sang dokter langsung meronta liar. Laki-laki maskulin ini buru-buru menelan ludahnya susah payah untuk menetralkan kepanikan absolut di dalam dadanya. Di otaknya yang cerdas, berbagai macam alibi masuk akal la
"Jalannya memang rusak parah dan jarang dilewati kendaraan besar, makanya saya bingung kenapa Tante mau ke sana," pancing Adrian menatap lurus mata wanita tersebut."Suami saya baru saja menelepon dari bandara dan memberikan instruksi khusus. Dia menyuruh saya mencari mantan rekan bisnisnya yang bernama Darmawan malam ini. Papanya Amara cuma ingin memastikan sendiri kalau musuh lamanya itu benar-benar tidak lagi menjadi ancaman bagi keluarga kami."Mendengar nama itu disebut dengan sangat jelas, beban berat seakan terangkat dari pundak Adrian. Otot bahunya yang semula menegang kaku kini perlahan mengendur sepenuhnya.Laki-laki maskulin ini diam-diam membuang napas kelegaan dari sela bibirnya."Oh begitu ceritanya, saya sangat mengerti kekhawatiran Tante dan Om Arman soal keamanan aset perusahaan," balas Adrian melipat kembali kertas putih tersebut dengan rapi. Pria ini lalu menyodorkannya kembali ke tangan sang nyonya besar.Senyum santai kini benar-benar menghiasi wajah tampannya tan
Menjelang malam hari, Adrian memacu mobil mewahnya membelah kemacetan ibu kota yang terasa amat memuakkan. Dokter spesialis ini melaju kencang menuju kediaman keluarga konglomerat untuk menemui sang kekasih tercinta. Pikirannya terbagi antara mengeksekusi mantan suami kekasihnya dan merawat ayahnya yang sedang sakit parah di desa.Adrian membalas sapaan itu dengan anggukan singkat. Dia berjalan cepat menaiki anak tangga pualam menuju kamar utama di lantai dua."Aku kira kamu bakal pulang larut banget sehabis operasi pasien darurat itu, Mas," sapa Amara merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.Adrian langsung menghampiri ranjang berukuran besar itu tanpa menunda waktu. Dia menyambut pelukan hangat dari ibu calon anaknya tersebut dengan perasaan rindu."Operasinya berjalan lancar dan aku langsung buru-buru balik ke sini buat nemenin kekasihku tersayang. Aku ngga bisa tenang ninggalin kamu sendirian di rumah sebesar ini tanpa pengawasanku secara langsung. Kamu pasti kecapekan banget hab
Mendapatkan rentetan kekalahan yang luar biasa memalukan di depan selingkuhan dan musuhnya, Doni tiba-tiba tertawa terbahak-bahak menyerupai orang kehilangan kewarasan. Laki-laki dengan penampilan luar biasa berantakan ini menyugar rambut klimisnya ke belakang merespons ancaman kurungan penjara tersebut menggunakan gestur sangat meremehkan.Ditariknya sebuah gawai pintar dari saku kemeja bagian dada yang rupanya sedari tadi menyimpan rencana pamungkas paling mematikan bagi keharmonisan rumah tangga Amara."Kalian semua memang berhasil membuat gue terlihat seperti sampah jalanan kotor yang tidak berguna sedikit pun pada hari yang menyebalkan ini. Kalian pikir, gue bakalan datang bertarung ke tempat kumuh ini tanpa membawa asuransi kemenangan yang mematikan langkah kalian berdua? Gue jamin kehidupan romantis penuh kebohongan lo sama Amara, gue bakalan langsung tamat menyedihkan sebentar lagi."Tepat setelah memamerkan senyuman iblisnya yang teramat menjijikkan, Doni mengarahkan layar pe
Mematikan mesin kendaraannya secara perlahan tanpa menghasilkan suara bising, sang dokter kandungan melangkah keluar anggun membawa aura dominasi yang luar biasa mengintimidasi saraf lawan.Berbeda dengan dugaan liar para kawanan preman bayaran tersebut, pria karismatik ini sama sekali tidak memamerkan senjata tajam sedikit pun untuk menyerang maju.Dokter tampan bermata tajam ini justru berdiri tegak penuh wibawa mutlak layaknya seorang algojo kematian yang siap mencabut nyawa para pendosanya di tiang gantungan. Kemudian, tangan kanannya dengan amat santai memutar sebuah rekaman suara dari ponsel genggamnya menggunakan tingkat volume paling maksimal memecah keheningan udara."Gue butuh bantuan tangan kotor lo buat nyingkirin dokter sombong itu secepatnya dari rumah sakit kita, Dok," terdengar amat jelas suara Doni dari dalam alat komunikasi genggam milik Adrian menggema memecah keheningan mencekam. Bukti pemufakatan jahat penyuapan Surya pada waktu istirahat siang tadi kini mengalun
Sebagai bentuk keputusasaan, Adrian menghela napas sangat panjang melalui hidungnya. Dia sadar posisinya sangat lemah di hadapan kekuatan uang milik mertua Doni tersebut. Pria itu harus membangun batasan emosional yang ketat agar tidak semakin hancur di kemudian hari."Kurang berapa lagi?
Di klinikmya, Adrian berdiri di bawah shower. Dia memutar keran ke arah biru. Air yang semula hangat berubah menjadi dingin menusuk tulang. Adrian memejamkan mata dan mendongakkan wajahnya. Dia membiarkan air dingin itu menampar kulit wajah dan tubuhnya.Sejak bangun tidur tadi pagi, tubuhnya teras
"Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat
"Kamar mandi dalam lagi dipakai sama Bu Amara," kilah Adrian cepat sebelum mertuanya itu bertanya lebih jauh."Jadi saya terpaksa







