Share

2. Gigolo Idola

Penulis: Nona Muda
last update Tanggal publikasi: 2026-07-20 16:12:10

Pemuda sembilan belas tahun itu berjalan melewati Victoria begitu saja menuju sofa beludru, tempat pakaian Tom Ford-nya terlipat rapi.

 

Baginya, aturan ini adalah hukum suci yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun, bahkan oleh wanita paling berkuasa di New York sekalipun.

 

Satu klien, satu malam. Hanya itu.

 

Hiro tahu betul bagaimana psikologi wanita bekerja. Sekali dia memberikan sesi kedua atau ketiga, hubungan profesional ini akan berubah menjadi obsesi emosional.

 

Wanita-wanita kesepian itu akan mulai menuntut perhatian, mengirim pesan di siang hari, dan perlahan ingin memiliki dirinya sepenuhnya. Dan itu adalah petaka untuk kebebasannya.

 

Dunia malam ini adalah arena bermainnya untuk melepas penat dari kekangan dinasti mafia Rossi, bukan penjara baru yang mengikat kakinya. Dengan menolak pengulangan, Hiro memastikan dirinya tetap menjadi legenda yang tidak tersentuh, sebuah fantasi langka yang selalu menyisakan rasa penasaran membara di benak setiap kliennya.

 

"Satu malam bersamaku adalah sebuah kemewahan, Victoria. Simpan ingatan malam ini dengan baik, karena kamu tidak akan pernah mendapatkannya lagi," tambah Hiro sambil mengancingkan kemeja hitamnya dengan tenang, membiarkan dua kancing teratas terbuka yang memamerkan tulang selangkangnya yang seksi.

 

Victoria hanya bisa berdiri mematung di dekat pintu kamar mandi, menggigit bibir bawahnya dengan rasa frustrasi yang menumpuk. Dia kaya, dia berkuasa, dan biasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan di kota ini hanya dengan menjentikkan jari.

 

Namun malam ini, di depan seorang pangeran malam berusia sembilan belas tahun, egonya dihancurkan hingga tidak bersisa. Ada rasa kesal, namun jauh di dalam lubuk hatinya, penolakan dingin dari Hiro justru membuat gairah dan rasa pemujaannya kepada pemuda itu berlipat ganda.

 

Hiro tidak peduli dengan gejolak batin wanita itu. Setelah memakai jam tangan Audemars Piguet hitamnya dan menyisir rambut dengan jemari tangan, dia melangkah menuju pintu keluar penthouse. Sebelum membuka pintu, dia berbalik sekilas, memberikan seringai tipis yang mematikan.

 

"Selamat malam, Ibu Senator. Semoga tidurmu nyenyak."

 

Klik!

 

Pintu tertutup rapat. Hiro melangkah keluar menuju lorong koridor yang sepi, meninggalkan Victoria yang masih tenggelam dalam fantasi satu malam yang tidak akan pernah terulang.

 

Pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit. Mobil Lamborghini Aventador hitam milik Hiro membelah jalanan Manhattan yang basah sisa hujan, menuju ke sebuah kawasan elit di distrik Meatpacking.

 

Langkah kakinya bergerak santai namun tegap saat memasuki pintu masuk rahasia khusus VIP menuju The Gilded Cage, kelab malam paling eksklusif, mewah, dan tersembunyi di kota New York.

 

The Gilded Cage bukan sekadar kelab malam biasa dengan dentuman musik yang memekakkan telinga.

 

Tempat ini adalah labirin dosa bagi kaum borjuis, sebuah sangkar emas di mana para miliarder, selebritas papan atas, dan wanita sosialita papan atas mengubur moralitas mereka demi kepuasan instan.

 

Di sinilah arena bermain utama Hiro, tempat dia menyembunyikan identitas darah mafianya di balik topeng seorang pemuas dahaga malam yang paling dicari.

 

Dentuman musik deep house yang elegan bergetar halus di bawah lantai marmer hitam saat Hiro melangkah masuk ke area lounge VIP lantai dua.

 

Sinar lampu neon temaram berwarna ungu dan emas menyiram tubuh tegapnya, langsung menarik perhatian belasan pasang mata wanita yang duduk di sofa-sofa beludru mewah. Aura maskulinitasnya yang dominan terlalu kuat untuk diabaikan.

 

"Oh, look who’s back..., Hiro!" sebuah suara manja menyapa dari arah kanan.

 

Seorang wanita pirang berusia tiga puluh lima tahun, istri dari seorang CEO bank investasi terkemuka di Wall Street, bangkit dari kursinya dengan segelas sampanye di tangan. Dia menghadang langkah Hiro dengan tatapan mata yang lapar dan penuh gairah.

 

"Aku sudah menunggumu selama dua minggu, Hiro," bisik wanita itu, sengaja merapat hingga dadanya menyentuh lengan kekar Hiro.

 

"Malam ini, apartemenku kosong. Suamiku sedang di London. Aku bersedia membayar berapapun tarif yang kamu minta. Kita ulangi malam liar kita yang di yacht waktu itu, bagaimana?" imbuh wanita itu, nampaknya sudah tidak sabar lagi berada di bawah kungkungan tubuh tinggi dan kekar milik Hiro.

 

Hiro menghentikan langkahnya sejenak. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat menawan namun terasa sangat berjarak. Dengan gerakan lembut namun tegas, tangan panjangnya memegang bahu wanita itu, mendorongnya mundur beberapa senti secara halus.

 

"Kamu luar biasa malam itu, Helena," sahut Hiro, suara baritonnya terdengar tenang dan menghanyutkan, "tapi kamu tahu aturanku. Satu kali adalah seni, dua kali adalah kesalahan. Nikmati sampanyemu malam ini."

 

"Hiro, please..., jangan sedingin ini," keluh Helena dengan wajah merengut frustrasi, namun Hiro sudah melangkah melewatinya tanpa menoleh lagi.

 

Baru berjalan beberapa langkah menuju bar utama, langkah Hiro kembali tertahan. Kali ini seorang aktris terkenal yang baru saja memenangkan penghargaan teater bergengsi menghadangnya.

 

Wanita itu menurunkan kacamata hitamnya, menatap Hiro dengan tatapan memohon yang tidak pernah dia tunjukkan di depan media.

 

"Hiro, satu malam lagi. Hanya satu malam. Aku akan memesan seluruh lantai hotel tertinggi di Manhattan untuk kita," bisik sang aktris dengan nada mendesak.

 

"Maaf, mawar yang sudah dipetik tidak bisa mekar dua kali," jawab Hiro dingin, kalimat penolakannya terdengar puitis namun mematikan harapan wanita itu seketika.

 

Bagi Hiro, no repeat order bukan sekadar jargon bisnis. Itu adalah harga diri, kendali mutlak, dan benteng pertahanan yang membuatnya tetap menjadi predator tertinggi di The Gilded Cage. Dia tidak menjual emosinya, dia hanya menjual fantasi satu malam yang sempurna.

 

Begitu fajar menyingsing, kontrak selesai, dan dia kembali menjadi pria yang tidak tersentuh oleh siapapun.

 

Hiro terus melangkah membelah kerumunan sosialita yang menatapnya dengan rasa damba dan kesal yang bercampur menjadi satu, menuju ke sudut meja bar utama yang sedikit gelap.

 

Di sana, seorang wanita paruh baya bertubuh sintal dengan gaun malam berkelas sedang mengisap rokok elektriknya dengan santai.

 

Dia adalah Madam Chloe, pengelola agensi elit sekaligus pemilik The Gilded Cage.

 

"Kamu benar-benar kejam, Hiro," Madam Chloe terkekeh pelan saat Hiro mendudukkan tubuh tegapnya di kursi bar di sebelahnya, lalu melanjutkan kalimatnya dengan bibir bergincu merah itu, "kulihat ada tiga hati wanita terkaya di New York yang baru saja kamu patahkan dalam waktu kurang dari lima menit."

 

"Mereka hanya serakah, Chloe," sahut Hiro malas sambil memberi isyarat kepada bartender.

 

"Mereka sudah mendapatkan malam terbaik dalam hidup mereka. Meminta lebih adalah bentuk ketidakbersyukuran."

 

Bartender dengan sigap meletakkan segelas Bourbon on the rocks di depan Hiro. Pemuda itu mengambil gelasnya, memutar es batu di dalamnya hingga berdenting pelan, lalu meneguknya sedikit, menikmati kehangatan alkohol yang membakar tenggorokannya.

 

"Lagipula," sambung Hiro sambil menyandarkan punggungnya ke kursi bar, matanya yang tajam mulai menyapu seluruh ruangan kelab dengan bosan, "semua wanita di sini malam ini terlihat sama. Membosankan. Terlalu mudah ditebak dan terlalu pasrah."

 

Madam Chloe tersenyum misterius, mengembuskan asap tipis ke udara sebelum menepuk bahu Hiro pelan.

 

"Kalau begitu, kurasa malam ini dewi keberuntungan sedang berpihak padamu, Sang Pangeran. Coba lihat ke ujung bar sebelah barat. Ada mangsa baru yang tampaknya sangat membutuhkan sentuhan hangatmu."

 

Hiro menaikkan sebelah alisnya. Dia memutar tubuhnya sedikit, mengikuti arah pandangan mata Madam Chloe menuju sudut bar yang paling remang-remang dan sepi. Di sana, duduk seorang wanita yang langsung membuat perhatian Hiro terkunci sepenuhnya.

 

"Hei, wanita itu terlihat seperti wanita yang sedang frustasi, Ma'am. Apa kau yakin aku disuruh mendekatinya? Sebelum bercinta, aku pasti harus mendengarkan keluh kesahnya, and that's not my part of my service, kau tahu itu, kan?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   74. Tagihan Malam Ketiga

    Evelyn meremas memo hitam dari Hiro di dalam genggamannya, merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang akibat kombinasi rasa jengah dan desiran adrenalin yang pekat.Pemuda sembilan belas tahun itu benar-benar tahu bagaimana cara mengobrak-abrik seluruh tatanan hidupnya. Menolak dokumen ini di depan Julian Vance hanya akan memperlihatkan kelemahannya, namun menerimanya begitu saja berarti dia secara sukarela mengunci dirinya di dalam sangkar emas yang dirancang sang pangeran mafia.Sepanjang sisa jam dinasnya hingga matahari terbenam di balik cakrawala Manhattan, fokus Evelyn terbagi dua. Tangannya memang memegang pisau bedah dengan presisi yang kaku, tetapi otaknya terus melakukan hitung mundur menuju pukul delapan malam.Pukul 20.00 malam, hujan musim gugur di luar jendela rumah sakit kian deras, menumpahkan hawa dingin yang menusuk tulang. Evelyn melangkah keluar dari lift basement barat dengan pakaian kasualnya, mantel wol abu-abu yang membungkus kemeja sutra gading.

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   73. Jengah

    Evelyn melangkah mundur satu jengkal, menatap akta kepemilikan saham bersampul kulit hitam itu seolah benda tersebut adalah detonator bom yang siap meledakkan sisa-sisa kewarasannya.Gila. Remaja sembilan belas tahun itu benar-benar sudah kehilangan seluruh akal sehatnya. Membeli hampir separuh yayasan rumah sakit terbesar di Manhattan hanya untuk dijadikan 'mahar' pembalasan dendam?"Tuan Rossi... kau benar-benar tahu cara menguji batas kesabaranku," desis Evelyn kaku, suaranya bergetar menahan gejolak jengah yang kian memuncak.Cklek!Belum sempat Evelyn meletakkan kembali berkas gila itu, pintu ruang kerjanya diketuk dua kali sebelum akhirnya didorong terbuka dari luar. Dr. Julian Vance, Sp.B (K) Trauma melangkah masuk dengan rahang yang mengeras sempurna dan wajah matang yang pucat pasi. Di tangannya terikat sebuah map administrasi hukum yang baru saja dikirimkan oleh dewan direksi yayasan."Evelyn! Apa maksud dari laporan dewan komisaris lima menit yang lalu?!" desis Julian, suar

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   72. Selamat Malam, Nyonya Rossi

    Evelyn mendongak, menantang tatapan elang Hiro tanpa riak ketakutan.Sisa tawa manis di bibirnya perlahan memadat menjadi seulas senyuman sinis yang menawan, khas seorang wanita matang yang tahu betul cara menghadapi arogansi darah muda."Keinginanmu tidak berlaku untukku, Rossi," sahut Evelyn kaku, suaranya mengalun flat dan sedingin es, meruntuhkan dominasi verbal yang baru saja dibangun oleh pemuda sembilan belas tahun itu.Evelyn meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Hiro yang kokoh terbalut kemeja satin hitam. Tanpa menggunakan kekuatan kasar, dia memberikan dorongan mantap yang penuh penekanan, memaksa postur tegap setinggi 189 sentimeter itu mundur satu jengkal demi memberikan ruang oksigen bagi dadanya yang sempat berdebar tidak karuan."Kau bisa meruntuhkan Sterling Group, menyita aset pelabuhan mereka, atau mengunci Arthur di balik sel federal dalam waktu semalam karena mereka memang kotor," lanjut Evelyn, berdiri dari sofa beludru dengan gerakan yang anggun seir

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   71. Menikahlah Denganku, Dok?

    Hiro melonggarkan cengkeramannya pada pinggang ramping Evelyn, lalu memutar tubuh anggun wanita itu agar menghadapnya sepenuhnya.Di bawah temaram api perapian yang menari, sepasang mata elang pemuda sembilan belas tahun itu menatap lurus ke dalam mata Evelyn. Dia bisa melihat sisa-sisa ketegangan dari ruang operasi yang masih membekas di garis wajah sang dewi bedah jantung.Hiro tidak bertindak barbar. Dengan gerakan yang lembut namun pasti, jemari besarnya bergerak naik ke wajah Evelyn. Dia melepas kacamata berbingkai perak itu perlahan, meletakkannya di atas meja konter marmer hitam tanpa memutuskan kontak mata mereka. Tanpa lensa kaku itu, Evelyn terlihat begitu rapuh dan menawan dalam balutan gaun satin zamrudnya."Kau sudah menyelesaikan tugas medismu dengan sangat baik hari ini, Dok," bisik Hiro rendah, suara baritonnya yang berat mengalun dengan kelembutan yang mematikan. "Sekarang, biarkan aku yang mengambil alih kendalinya."Hiro menuntun Evelyn berjalan lambat menuju sofa b

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   70. Taruhan Kedua

    Evelyn tidak membalas pesan teks tersebut.Dia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja marmer dengan ketukan kaku yang sangat minimal, menolak membiarkan getaran jengah di dadanya terendus oleh Natalie. Dinding esnya tetap kokoh, tidak terusik oleh kehadiran sang gadis porselen ataupun kontrol tak terlihat yang sedang dimainkan oleh Hiro dari luar sana.Cklek!Tepat dua menit sesuai dengan estimasi waktu yang tertera di layar ponsel Evelyn, pintu kayu mahoni ruang kerjanya didorong terbuka dengan satu sentakan yang teratur. Marco melangkah masuk membelah ruangan dengan setelan jas hitam taktisnya yang kaku. Pria tegap kepala tim intelijen dinasti Rossi itu menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah Evelyn, memberikan penghormatan yang membekukan atmosfer ruangan."Maaf atas kelancangan intrusi ini, Dr. Crawford," ucap Marco, suaranya mengalun datar dan dingin khas profesional dunia bawah. Dia membalikkan tubuh tegapnya, menatap langsung ke arah Natalie yang masih meringkuk di atas so

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   69. Santai Saja, Dok ....

    Evelyn menghentikan langkahnya tepat dua jengkal setelah melewati ambang pintu.Sepasang matanya dari balik kacamata berbingkai perak menatap kaku sosok Natalie Vance yang sedang meringkuk ketakutan di atas sofa kulitnya. Aroma parfum mahal bercampur sisa ketegangan domestik yang dibawa gadis itu mendadak memenuhi ruangan kerjanya, mengusik ketenangan yang sangat Evelyn butuhkan setelah dua jam memeras fokus di ruang bedah.Namun, alih-alih melangkah panik atau memeluk gadis itu dengan simpati emosional, Evelyn justru menunjukkan reaksi yang datar. Dinding es Kepala Departemen Bedah Jantung miliknya kembali mengeras sempurna secara instan.Evelyn berjalan kaku melewati sofa tersebut, sepenuhnya mengabaikan isakan parau Natalie seolah-olah gadis itu hanyalah seonggok properti ruangan yang salah tempat. Dengan gerakan yang teratur dan mantap, Evelyn meletakkan map dokumen medis di atas meja kerjanya, melepas stetoskop dari lehernya dengan ketukan yang tegas, lalu menggantung jas putih d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status