MasukEvelyn meremas memo hitam dari Hiro di dalam genggamannya, merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang akibat kombinasi rasa jengah dan desiran adrenalin yang pekat.Pemuda sembilan belas tahun itu benar-benar tahu bagaimana cara mengobrak-abrik seluruh tatanan hidupnya. Menolak dokumen ini di depan Julian Vance hanya akan memperlihatkan kelemahannya, namun menerimanya begitu saja berarti dia secara sukarela mengunci dirinya di dalam sangkar emas yang dirancang sang pangeran mafia.Sepanjang sisa jam dinasnya hingga matahari terbenam di balik cakrawala Manhattan, fokus Evelyn terbagi dua. Tangannya memang memegang pisau bedah dengan presisi yang kaku, tetapi otaknya terus melakukan hitung mundur menuju pukul delapan malam.Pukul 20.00 malam, hujan musim gugur di luar jendela rumah sakit kian deras, menumpahkan hawa dingin yang menusuk tulang. Evelyn melangkah keluar dari lift basement barat dengan pakaian kasualnya, mantel wol abu-abu yang membungkus kemeja sutra gading.
Evelyn melangkah mundur satu jengkal, menatap akta kepemilikan saham bersampul kulit hitam itu seolah benda tersebut adalah detonator bom yang siap meledakkan sisa-sisa kewarasannya.Gila. Remaja sembilan belas tahun itu benar-benar sudah kehilangan seluruh akal sehatnya. Membeli hampir separuh yayasan rumah sakit terbesar di Manhattan hanya untuk dijadikan 'mahar' pembalasan dendam?"Tuan Rossi... kau benar-benar tahu cara menguji batas kesabaranku," desis Evelyn kaku, suaranya bergetar menahan gejolak jengah yang kian memuncak.Cklek!Belum sempat Evelyn meletakkan kembali berkas gila itu, pintu ruang kerjanya diketuk dua kali sebelum akhirnya didorong terbuka dari luar. Dr. Julian Vance, Sp.B (K) Trauma melangkah masuk dengan rahang yang mengeras sempurna dan wajah matang yang pucat pasi. Di tangannya terikat sebuah map administrasi hukum yang baru saja dikirimkan oleh dewan direksi yayasan."Evelyn! Apa maksud dari laporan dewan komisaris lima menit yang lalu?!" desis Julian, suar
Evelyn mendongak, menantang tatapan elang Hiro tanpa riak ketakutan.Sisa tawa manis di bibirnya perlahan memadat menjadi seulas senyuman sinis yang menawan, khas seorang wanita matang yang tahu betul cara menghadapi arogansi darah muda."Keinginanmu tidak berlaku untukku, Rossi," sahut Evelyn kaku, suaranya mengalun flat dan sedingin es, meruntuhkan dominasi verbal yang baru saja dibangun oleh pemuda sembilan belas tahun itu.Evelyn meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Hiro yang kokoh terbalut kemeja satin hitam. Tanpa menggunakan kekuatan kasar, dia memberikan dorongan mantap yang penuh penekanan, memaksa postur tegap setinggi 189 sentimeter itu mundur satu jengkal demi memberikan ruang oksigen bagi dadanya yang sempat berdebar tidak karuan."Kau bisa meruntuhkan Sterling Group, menyita aset pelabuhan mereka, atau mengunci Arthur di balik sel federal dalam waktu semalam karena mereka memang kotor," lanjut Evelyn, berdiri dari sofa beludru dengan gerakan yang anggun seir
Hiro melonggarkan cengkeramannya pada pinggang ramping Evelyn, lalu memutar tubuh anggun wanita itu agar menghadapnya sepenuhnya.Di bawah temaram api perapian yang menari, sepasang mata elang pemuda sembilan belas tahun itu menatap lurus ke dalam mata Evelyn. Dia bisa melihat sisa-sisa ketegangan dari ruang operasi yang masih membekas di garis wajah sang dewi bedah jantung.Hiro tidak bertindak barbar. Dengan gerakan yang lembut namun pasti, jemari besarnya bergerak naik ke wajah Evelyn. Dia melepas kacamata berbingkai perak itu perlahan, meletakkannya di atas meja konter marmer hitam tanpa memutuskan kontak mata mereka. Tanpa lensa kaku itu, Evelyn terlihat begitu rapuh dan menawan dalam balutan gaun satin zamrudnya."Kau sudah menyelesaikan tugas medismu dengan sangat baik hari ini, Dok," bisik Hiro rendah, suara baritonnya yang berat mengalun dengan kelembutan yang mematikan. "Sekarang, biarkan aku yang mengambil alih kendalinya."Hiro menuntun Evelyn berjalan lambat menuju sofa b
Evelyn tidak membalas pesan teks tersebut.Dia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja marmer dengan ketukan kaku yang sangat minimal, menolak membiarkan getaran jengah di dadanya terendus oleh Natalie. Dinding esnya tetap kokoh, tidak terusik oleh kehadiran sang gadis porselen ataupun kontrol tak terlihat yang sedang dimainkan oleh Hiro dari luar sana.Cklek!Tepat dua menit sesuai dengan estimasi waktu yang tertera di layar ponsel Evelyn, pintu kayu mahoni ruang kerjanya didorong terbuka dengan satu sentakan yang teratur. Marco melangkah masuk membelah ruangan dengan setelan jas hitam taktisnya yang kaku. Pria tegap kepala tim intelijen dinasti Rossi itu menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah Evelyn, memberikan penghormatan yang membekukan atmosfer ruangan."Maaf atas kelancangan intrusi ini, Dr. Crawford," ucap Marco, suaranya mengalun datar dan dingin khas profesional dunia bawah. Dia membalikkan tubuh tegapnya, menatap langsung ke arah Natalie yang masih meringkuk di atas so
Evelyn menghentikan langkahnya tepat dua jengkal setelah melewati ambang pintu.Sepasang matanya dari balik kacamata berbingkai perak menatap kaku sosok Natalie Vance yang sedang meringkuk ketakutan di atas sofa kulitnya. Aroma parfum mahal bercampur sisa ketegangan domestik yang dibawa gadis itu mendadak memenuhi ruangan kerjanya, mengusik ketenangan yang sangat Evelyn butuhkan setelah dua jam memeras fokus di ruang bedah.Namun, alih-alih melangkah panik atau memeluk gadis itu dengan simpati emosional, Evelyn justru menunjukkan reaksi yang datar. Dinding es Kepala Departemen Bedah Jantung miliknya kembali mengeras sempurna secara instan.Evelyn berjalan kaku melewati sofa tersebut, sepenuhnya mengabaikan isakan parau Natalie seolah-olah gadis itu hanyalah seonggok properti ruangan yang salah tempat. Dengan gerakan yang teratur dan mantap, Evelyn meletakkan map dokumen medis di atas meja kerjanya, melepas stetoskop dari lehernya dengan ketukan yang tegas, lalu menggantung jas putih d







