Home / Romansa Pria / Cintai Aku, Dok? / 1. One Time Service

Share

Cintai Aku, Dok?
Cintai Aku, Dok?
Author: Nona Muda

1. One Time Service

Author: Nona Muda
last update publish date: 2026-07-20 16:11:33

"Kamu benar-benar perkasa, Hiro," bisik Victoria. Suaranya parau, terengah-engah di bawah remang lampu penthouse mewah Manhattan.

 

Wanita berusia empat puluh tahun itu menyandarkan kepalanya yang berkeringat di dada bidang pria di bawahnya.

 

Jari-jarinya yang melingkar cincin berlian lima karat menelusuri garis rahang Hiro yang tegas, lalu turun ke otot perut pemuda itu yang mengeras.

 

Napas Victoria masih memburu cepat, tidak teratur, kontras dengan Hiro yang bahkan tidak mengeluarkan keringat berlebih setelah dua jam sesi yang intens di atas seprai sutra abu-abu tersebut.

 

"Suamiku bahkan tidak bisa bertahan lima menit tanpa perlu obat kuat dan terengah-engah seperti orang sekarat," lanjut Victoria, ada nada frustrasi sekaligus pemujaan yang mendalam dalam suaranya.

 

"Tapi kamu, ini gila, dari mana pemuda sembilan belas tahun sepertimu mendapatkan kekuatan dan dominasi seperti ini?"

 

Hiro hanya terkekeh pelan. Suara tawa rendahnya terdengar berat dan bergema seksi di dalam kamar yang sunyi itu.

 

Tanpa menjawab, tangan panjangnya mengalir ke meja nakas, mengambil sekotak rokok Dunhill, memantik apinya dengan korek api Dupont emas, lalu menghirup asap nikotin itu dalam-dalam sebelum mengembuskannya ke langit-langit kamar.

 

"Ini bukan soal kekuatan, Victoria," kata Hiro dengan nada suara yang tenang, dalam, dan penuh percaya diri tanpa perlu dibuat-buat.

 

"Ini soal tahu apa yang diinginkan wanita matang sepertimu. Suamimu sibuk mengemis suara rakyat di podium senat, sementara aku? Aku hanya sibuk memastikan sang ratu mendapatkan haknya malam ini."

 

Victoria tersemai manja, matanya yang sayu karena kepuasan menatap Hiro seolah pemuda itu adalah dewa yang baru saja turun dari langit. Itu adalah tatapan yang selalu didapatkan Hiro dari para wanita sosialita kesepian yang menyewa jasanya.

 

Di mata mereka, Hiro bukan sekadar berondong sembilan belas tahun yang murah. Dia adalah pelarian, dominasi maskulin, dan kepuasan mutlak yang tidak bisa mereka dapatkan dari suami-suami tua mereka yang kaya namun lemah syahwat.

 

Wanita itu perlahan bangkit dari ranjang, membiarkan selimut sutra merosot dan memperlihatkan tubuhnya yang masih terawat dengan baik untuk ukuran wanita kepala empat.

 

Dia berjalan menuju tas Hermes Birkin hitamnya yang tergeletak di atas sofa beludru, merogoh sesuatu dari dalamnya, lalu berjalan kembali ke arah Hiro dengan langkah yang sengaja dibuat sensual.

 

Plak!

 

Sebuah kartu plastik berwarna hitam pekat dengan logo American Express Centurion yang legendaris dijatuhkan tepat di atas dada Hiro yang telanjang. Kartu hitam tanpa batas limit.

 

"Pakai itu," kata Victoria, suaranya berbisik panas di dekat telinga Hiro saat dia mengecup sekilas sudut bibir pemuda itu.

 

"Beli apa pun yang kamu mau untuk memanjakan dirimu. Mobil sport baru, jam tangan Rolex, atau apartemen tambahan. Aku sudah mengaturnya atas nama salah satu perusahaan cangkang milik suamiku. Tidak akan ada badan pajak atau jurnalis yang bisa melacaknya."

 

Hiro mengambil kartu hitam itu dengan dua jari, memutarnya di bawah cahaya lampu remang, lalu tersenyum tipis, hampir meremehkan.

 

Kartu ini bisa membeli sebuah rumah mewah di pinggiran kota New York tanpa perlu berkedip.

 

Bagi pemuda sembilan belas tahun biasa yang kelaparan di jalanan Bronx atau Brooklyn, kartu ini adalah tiket menuju surga instan.

 

Tapi bagi Hiro?

 

Ini hanya sekadar mainan bonus yang tidak bernilai.

 

"Kamu sangat murah hati, Ibu Senator," ujar Hiro sambil menyelipkan kartu hitam itu kembali ke belahan dada Victoria yang terbuka, membuat wanita itu terkesiap.

 

Hiro bangkit berdiri dari ranjang dengan gerakan santai namun penuh wibawa, memperlihatkan tinggi badannya yang mencapai 189 cm dengan proporsi tubuh atletis yang sempurna, hasil dari latihan fisik militer tanpa henti sejak dia bisa berjalan.

 

"Tapi aku tidak butuh uang haram suamimu. Simpan saja kartu ini untuk membeli tas Hermes berikutnya. Bayar saja tarif standarku ke agensi Madam Chloe seperti biasa," sambung Hiro dingin sambil berjalan menuju kamar mandi kaca.

 

Victoria terperangah di atas ranjang, matanya membelalak tidak percaya dengan mulut sedikit terbuka.

 

"Hiro, kamu gila? Kamu menolak Amex Centurion? Kamu tahu berapa banyak pria di kota ini yang rela menjual ginjal atau membunuh demi memegang kartu ini?"

 

"Aku tahu," jawab Hiro tanpa berbalik, menyalakan pancuran air hangat, dan kembali menjawab, "Tapi aku tidak suka berutang budi atau terikat dengan politikus. Itu buruk untuk reputasiku."

 

Tentu saja Hiro menolaknya dengan mudah. Victoria yang malang tidak pernah tahu siapa Hiro sebenarnya di siang hari.

 

Wanita itu mengira Hiro adalah mahasiswa miskin berwajah tampan blasteran Asia-Eropa yang menjual tubuh demi membayar sewa apartemen di Manhattan.

 

Dia tidak pernah tahu bahwa nama belakang pemuda itu adalah Rossi. Dia tidak tahu bahwa ayah Hiro adalah Don Salvatore Rossi, kepala keluarga mafia legendaris yang mengendalikan seluruh bisnis pelabuhan hitam, kasino ilegal, dan jalur distribusi bawah tanah di sepanjang pantai timur Amerika Serikat.

 

Uang?

 

Keluarga Rossi punya lebih dari cukup uang tunai yang ditanam di bank Swiss untuk membeli tiga wilayah New York jika mereka mau.

 

Jika sang ayah tahu putra mahkota tunggalnya menghabiskan malam dengan tidur bersama istri senator demi beberapa puluh ribu dolar, pria tua itu mungkin akan membakar seluruh isi kelab malam tempat Hiro bekerja.

 

Namun, inilah cara Hiro memberontak. Dia jenuh dengan dunia mafia yang penuh dengan bau darah, bubuk mesiu, pengkhianatan, dan formalitas kaku yang memuakkan.

 

Di bisnis keluarga, semua orang menatapnya dengan rasa takut, hormat palsu, atau rencana licik untuk menjatuhkannya.

 

Namun di atas ranjang ini, di dunia malam ini, Hiro memegang kendali penuh atas takdirnya sendiri tanpa perlu membawa-bawa nama besar ayahnya.

 

Di sini, dia adalah raja karena pesona, kekuatan, dan kemampuan maskulinitasnya sendiri, bukan karena moncong pistol yang diselipkan di pinggang.

 

"Apakah aku masih bisa memesanmu lagi, Hiro?" tanya Victoria cepat. Suaranya naik satu oktav, dipenuhi rasa cemas yang nyata saat mendengar gemercik air pancuran dari dalam kamar mandi kaca.

 

Wanita itu setengah berlari, mengabaikan selimut yang terseret di lantai, lalu berdiri tepat di depan pintu kaca yang mulai berembun.

 

Matanya menatap siluet tubuh telanjang Hiro yang samar di balik kaca buram, mengagumi garis punggung kokoh yang baru saja mendominasinya tanpa ampun.

 

"Sebutkan saja tarifmu berikutnya. Dua kali lipat? Tiga kali lipat? Aku tidak peduli," kejar Victoria lagi, jemarinya mengetuk kaca dengan tidak sabar.

 

"Aku butuh kamu, Hiro. Hanya kamu."

 

Pancuran air tiba-tiba mati. Keheningan malam Manhattan kembali merayap masuk ke dalam ruangan.

 

Pintu kaca bergeser terbuka, memperlihatkan Hiro yang melangkah keluar dengan handuk putih melingkar rendah di pinggulnya.

 

Bulir-bulir air sisa mandi mengalir lambat di atas kulitnya yang sedikit kecokelatan, jatuh melewati otot dadanya yang bidang. Wajah tampannya datar, tanpa ekspresi, seolah pujian dan tawaran uang dalam jumlah selangit dari istri seorang senator tidak lebih dari sekadar angin lalu.

 

Hiro mengambil handuk kecil, mengeringkan rambut hitamnya yang basah dengan gerakan santai, lalu menatap langsung ke manik mata Victoria.

 

Tatapannya dingin, menghujam, dan seketika membungkam desakan wanita di hadapannya.

 

"Cukup satu kali, Victoria. Tidak ada pengulangan," jawab Hiro. Suaranya terdengar bariton, tegas, dan mutlak tanpa celah untuk negosiasi.

 

Victoria tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan. "Apa? Tapi kenapa? Pelayananmu sempurna, aku membayar mahal, dan suamiku tidak akan pernah tahu—"

 

"Itu prinsipku," potong Hiro tajam, menyudahi kalimat Victoria sebelum wanita itu merendahkan harga dirinya lebih jauh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintai Aku, Dok?   81. You Are Mine, Forever ....

    Dua minggu kemudian, atmosfer di The Grand Rossi Pavilion, gedung pertemuan paling eksklusif di puncak tertinggi Manhattan, menjelma menjadi pusat perhatian seluruh bursa sosial dan otoritas tertinggi kota. Malam itu, hujan rintik-rintik musim gugur di luar seolah tak mampu meredam kemegahan pesta resepsi pernikahan agung yang digelar oleh dinasti dunia bawah tanah terbesar di Manhattan.Ratusan lampu gantung kristal memancarkan pendaran keemasan yang mewah di atas lantai marmer hitam yang steril. Seluruh fungsionaris federal, hakim agung, hingga jajaran konglomerat logistik pelabuhan timur berdiri kaku dengan pakaian formal mereka, menundukkan kepala penuh hormat setiap kali melintasi barisan pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco yang menjaga ketat setiap jengkal perimeter gedung.Di atas takhta pelaminan bergaya barok klasik, Nonna Francesca Rossi dan Madam Chloe duduk anggun sembari menyesap sampanye premium mereka, menatap lurus ke arah pintu masuk utama dengan seulas seny

  • Cintai Aku, Dok?   80. Menunggu Menuju Altar

    Pukul 13.00 siang, atmosfer di Rumah Sakit Pusat Kota Manhattan benar-benar telah bersih dari bayang-bayang masa lalu. Dokumen resmi dari otoritas federal dan kejaksaan agung baru saja mendarat di meja kerja Evelyn, mengonfirmasi bahwa seluruh sisa saham yayasan medis kini telah bersih dari nama Sterling dan resmi menjadi hak milik tunggal atas nama pribadinya.Evelyn sedang berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, menatap barisan tiga gaun pengantin sutra putih kiriman Hiro yang masih berdiri anggun diterpa cahaya matahari siang. Jas putih dokternya terkancing kaku di atas kemeja sutra gadingnya. Dinding esnya kini tidak lagi membungkus kerapuhan, melainkan memancarkan aura superioritas seorang penguasa medis tertinggi di Manhattan.Tok! Tok! Tok!Pintu ruang kerjanya diketuk kaku. Begitu pintu didorong terbuka, dua pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco melangkah masuk, mengapit sesosok wanita tua yang penampilannya kini sudah hancur berantakan tanpa sisa kemewahan.Vic

  • Cintai Aku, Dok?   79. Kebebasan Evelyn

    Keesokan paginya, tepat pukul 06.00, semburat cahaya fajar keperakan kembali menembus tirai sutra kamar tidur utama vila di atas tebing. Hujan rintik-rintik semalam telah reda, menyisakan pemandangan kota Manhattan yang tampak bersih dan berkabut tipis dari ketinggian jendela kaca besar.Evelyn perlahan membuka sepasang kelopak matanya. Efek ketegangan dari drama gaun pengantin dan operasi melelahkannya kemarin telah luruh sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang kini mendekap tubuh matangnya. Ketika dia mencoba bergerak, dia menyadari bahwa pinggang rampingnya masih dikunci dengan begitu kokoh oleh lengan kekar tangan kanan Hiro dari arah belakang.Punggung anggun Evelyn menempel tanpa celah pada dada bidang kokoh milik sang pangeran mafia. Detak jantung Hiro berdenyut tenang di kulit punggungnya, memancarkan kehangatan seorang pria sembilan belas tahun yang sepanjang malam memanjakannya dengan kelembutan yang protektif.Evelyn membetulkan posisi kacamata berbingkai peraknya yang

  • Cintai Aku, Dok?   78. Kehancuran Arthur

    Sementara kehangatan dan ketegangan romantis mengunci malam keempat antara Hiro dan Evelyn di atas tebing vila terisolasi, atmosfer yang dingin dan mencekam justru sedang menghantam ruang interogasi nomor empat di Gedung Federal FBI, pusat kota Manhattan.Lampu neon putih tanpa pelindung di langit-langit ruangan itu memancarkan pendaran kaku yang menyengat, menyorot langsung ke arah meja besi kelabu di tengah ruangan. Di sana, Arthur Sterling duduk dengan kondisi yang luar biasa mengenaskan. Setelan jas formal bermerek desainer terkenal miliknya kini sudah kusut berantakan tanpa dasi. Rambut klimisnya acak-acakan, dan wajah matangnya yang biasa dipenuhi keangkuhan Sterling Group kini tampak pucat dengan kantung mata hitam yang pekat.Brak!Sebuah map dokumen tebal bersampul merah dengan stempel khusus dari Otoritas Likuidasi Federal dihempaskan kaku di atas meja besi oleh seorang agen FBI bersetelan taktis. Namun, bukan agen tersebut yang mengambil kendali intimidasi di dalam ruangan

  • Cintai Aku, Dok?   77. Curi Start

    Sementara sedan hitam antipeluru itu melaju membelah kegelapan Manhattan menuju vila di atas tebing, di tempat lain, pusat kendali dari seluruh kegilaan ini sedang berputar dengan ritme yang jauh lebih tenang namun mematikan.Di lantai teratas The Gilded Cage, tepat di dalam ruang kerja pribadi pemilik kelab yang bernuansa barok klasik, aroma lilin esensial beraroma kayu cendana dan vanila menguar pekat. Pendaran lampu gantung kristal yang temaram menerangi sebuah meja mahoni besar yang kini dipenuhi oleh tumpukan berkas cetak eksklusif, sampel kain sutra premium, dan sketsa denah dekorasi bursa sosial kelas atas Manhattan.Nonna Francesca Rossi duduk anggun di atas kursi kebesaran berlapis kulit beludru hitam. Wanita berusia tujuh puluh tahun itu mengenakan gaun sutra tenun gelap khas Sisilia dengan barisan zamrud yang berkilau mewah di leher dan jemarinya. Di hadapannya, Madam Chloe berdiri kaku sembari memegang tablet digital yang terus memperbarui grafik saham pelabuhan Sterling G

  • Cintai Aku, Dok?   76. Kau ... Milikku!

    Evelyn menatap barisan gaun pengantin sutra putih yang berjejer kaku di depan jendela besarnya dengan pandangan yang sarat akan kemurkaan bercampur rasa jengah yang luar biasa. Sifat tidak tahu malu dan keliaran taktik manipulasi psikologis dari pemuda mafia sembilan belas tahun itu benar-benar telah meremukkan seluruh batasan profesionalitas yang selama belasan tahun ini dia agungkan di Manhattan.Madam Chloe hanya terkekeh renyah, merapikan mantel bulu hitamnya dengan gerakan yang anggun. "Perintah Tuan Muda Hiro adalah hukum yang absolut bagi kami, Evelyn. Gaun-gaun ini akan tetap berada di sini sampai kau memilih salah satu di antaranya. Selamat menikmati harimu, calon Nyonya Rossi."Tanpa menunggu balasan lagi, Chloe membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar membelah pintu mahoni bersama barisan desainernya, meninggalkan Evelyn sendirian di dalam keheningan ruang kerja yang kini telah bertransformasi menjadi butik pengantin komersial.Sepanjang sisa jam dinasnya siang itu, fokus E

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status