로그인
Hiro mengulas seringai serigala yang paling mematikan. Dia tahu, dinding es sang dokter bedah telah runtuh satu jengkal lagi menuju perangkap taruhannya bersama Madam Chloe."Perintahmu adalah tugasku, Dok," bisik Hiro, suara baritonnya merayap rendah.Tanpa membuang waktu, Hiro merengkuh pinggang ramping Evelyn, menuntun langkah wanita itu membelah kerumunan aula dansa menuju pintu keluar VIP. Mereka berjalan mengabaikan tatapan syok Arthur Sterling yang sengaja mereka lewati di dekat pintu utama. Hiro bahkan sempat memberikan satu kedipan mata penuh ejekan kepada sang pengacara, memicu emosi Arthur hingga pria 36 tahun itu nyaris meremukkan gelas kristal di tangannya.Begitu mereka tiba di area pelataran luar, petugas valet hotel dengan cekatan langsung mengantarkan Lamborghini Aventador hitam milik Hiro ke depan karpet merah. Pintu gunting mobil super itu terangkat ke atas, dan Hiro dengan sangat gagah membimbing Evelyn untuk masuk ke dalam kabin sebelum dia sendiri memutari kap
Sebelum Evelyn sempat melayangkan makian kasar dari mulutnya, sesosok pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas formal melangkah mendekati mereka. Dia adalah salah satu investor utama rumah sakit sekaligus kolega senior Arthur Sterling."Dr. Crawford?" sapa pria itu, matanya memandang heran pada keintiman posisi Hiro dan Evelyn. "Saya tidak menyangka akan melihat Anda di sudut seperti ini. Dan... siapakah pemuda luar biasa di sebelah Anda ini? Apakah dia salah satu rekan sejawat dari luar negeri?"Evelyn menegang sesaat, dia sedang merasa menghadapi sebuah ujian. Jika dia mengatakan yang sebenarnya bahwa Hiro adalah pria bayaran, reputasinya akan runtuh.Namun, sebelum ada kata-kata keluar dari bibir Evelyn, Hiro sudah lebih dulu mengambil alih situasi.Hiro menegakkan tubuhnya, mengulurkan tangan kanannya yang kokoh dengan senyum formal yang terlihat sangat menawan dan berwibawa, sebuah topeng sempurna yang biasa dia gunakan untuk mengelabui dunia luar dari dunia miliknya ya
"Lepaskan tanganmu, Berengsek!" Arthur mendesis, mencoba menyentakkan tangannya.Cengkeraman Hiro justru mengunci pergelangan tangan sang pengacara makin rapat, membuat sendi-sendinya berbunyi ngilu. Beberapa pengusaha properti yang berdiri tidak jauh dari mereka mulai berbisik, menoleh ke arah keributan kecil di dekat pintu masuk itu.Evelyn menatap Arthur dengan kepuasan dingin yang membuncah di dadanya. Rencananya mempekerjakan pria bayaran ini berjalan jauh lebih sempurna dari dugaannya. Keangkuhan suaminya yang selama lima tahun ini selalu mendominasi hidupnya, runtuh dalam hitungan menit di tangan seorang berondong kelab malam."Kau mau tahu apa yang harus kau bicarakan dengannya, Arthur?" sela Evelyn, melipat kedua tangannya di depan dada, mempertegas lekuk tubuhnya yang matang di balik gaun merah marun tersebut. "Bicarakan tentang bagaimana rasanya menjadi pecundang. Kau menuntutku menjadi istri penurut untuk menjaga reputasimu, sementara kau sendiri bertingkah seperti bina
"Tutup mulutmu, Sampah," desis Evelyn tanpa menoleh. "Simpan bualan murahmu itu. Fokus saja pada jalanan."Mobil Lamborghini Aventador itu terus melaju dengan kecepatan tinggi, membelah kepadatan jalur Manhattan menuju Fifth Avenue tempat Hotel Ritz-Carlton berdiri megah. Suasana di dalam kabin kembali sunyi, namun atmosfernya terasa begitu pekat oleh ketegangan psikologis. Evelyn berkali-kali meremas tas tangan kecilnya, mencoba mengontrol debaran jantungnya yang menggila akibat amarah dan rasa gugup yang berbaur menjadi satu. Malam ini adalah pertaruhan besar bagi harga dirinya.Tepat pukul 19.15, raungan garang mesin Lamborghini milik Hiro melambat saat memasuki pelataran drop-off Hotel Ritz-Carlton. Karpet merah panjang telah digelar dari pintu utama hingga ke tepi jalan. Puluhan fotografer media hiburan dan bisnis tampak berjejer di balik barikade besi, siap mengabadikan kedatangan para taipan dan sosialita kota.Begitu mobil super pekat itu berhenti tepat di titik utama karpe
Carla menatap punggung tegap Hiro yang sedang mengancingkan kemeja hitam barunya. Kecewa dan curiga berbaur di dadanya. Namun, dia tahu bahwa memaksa Hiro bicara saat ini sama saja dengan menabrakkan diri ke dinding batu."Baiklah, aku pergi," bisik Carla pelan, suaranya tercekat. Dia melangkah keluar, menutup pintu unit 412 dengan embusan napas berat yang menyisakan keheningan mencekam bagi Hiro.Hiro mengembuskan napas panjang setelah memastikan langkah kaki Carla menjauh. Dia berjalan ke arah jendela, menatap jalanan New York di bawah sana dengan tatapan kosong.Evelyn Crawford mengira dia hanyalah pelacur pria kelas atas. Carla mengira dia adalah mantan kekasih yang berubah menjadi bajingan pencari uang instan. Sementara ayahnya, sang kepala dinasti mafia Rossi, mengira bisa mengendalikan seluruh hidupnya dengan ancaman takhta.Hiro mendengus sinis. Alasan utamanya mengasingkan diri ke apartemen kumuh ini dan bekerja di bawah agensi Madam Chloe bukanlah karena dia butuh uang. Dia
Setiap dorongan tubuh tegapnya terasa begitu posesif, seolah dia sedang memahat namanya kembali di dalam jiwa dan raga gadis itu. Irama yang dibangunnya adalah kombinasi sempurna antara kedalaman dan kecepatan yang meningkat perlahan."Lihat aku," bisik Hiro, tangannya membimbing dagu Carla agar menatapnya. Mata mereka bertemu dalam gelap. "Aku ingin melihat matamu saat ini."Carla menatap Hiro dengan mata yang berkabut oleh gairah dan cinta, dan hal itu hampir membuat Hiro kehilangan kendali. Dia mempercepat gerakannya, pinggulnya berirama menghantam paha Carla dengan suara basah yang memenuhi ruangan. Setiap dorongan membuat ranjang berdecit pelan, bergerak mengikuti ritme mereka.Carla menggigit bibirnya, tetapi desahan-desahan kecil tetap lolos dari sela bibirnya. Kakinya yang melingkar di pinggang Hiro semakin mengencang, menarik pria itu lebih dalam ke dalam dirinya setiap kali Hiro mendorong maju. "Hiro... lebih dalam...ahhh," desah Carla, suaranya hancur oleh kenikmatan yan