แชร์

3. Pertama Kali Ditolak?

ผู้เขียน: Nona Muda
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-20 16:12:30

Madam Chloe justru meledak dalam tawa renyah, embusan asap rokok elektriknya membubung tipis, menyamarkan binar nakal di kedua matanya yang dipoles dengan riasan bold. 

 

"Dengarkan aku, Hiro," ujar Chloe setelah tawanya mulai mereda, jemari lenturnya yang dihiasi cat kuku merah darah mengetuk permukaan meja marmer bar. 

 

"Aku tidak akan menyia-nyiakan aset berhargaku hanya untuk menjadi tempat sampah emosi wanita patah hati. Tapi wanita yang satu ini? Dia berbeda. Taruhan bersamaku, dia tidak akan menangis di bahumu."

 

"Dia juga tidak akan bercerita panjang lebar tentang apa yang terjadi, " Lanjut Madam Chloe. 

 

Hiro mendengus tipis, kembali menyesap Bourbon-nya yang mulai mencair. 

 

"Semua wanita yang sedang hancur selalu mengatakan hal yang sama sebelum mereka mulai merengek tentang betapa berengseknya pria di dunia ini, Chloe."

 

"Oh, ya? Bagaimana kalau kuberi tahu dia adalah Dr. Evelyn Crawford? Dokter bedah kardiotoraks terbaik di rumah sakit pusat kota," bisik Chloe, sengaja memajukan tubuhnya agar suaranya tidak tenggelam dalam dentuman deep house. 

 

"Dan pria berengsek yang membuatnya menenggak Scotch murni malam ini adalah Arthur Sterling. Pengacara korporat kelas kakap yang fotonya baru saja viral sejam lalu karena tidur dengan dua model sekaligus. Dia ke sini bukan untuk menangis, Hiro. Dia ke sini untuk membalas dendam dengan cara paling liar."

 

"Asal kau tahu saja, dia tidak menangis sama sekali, Hiro, " kata Madam Chloe lagi. 

 

Mendengar nama itu, seulas senyum dingin terbit di wajah tampan Hiro. 

 

Reputasi Arthur Sterling sebagai pengacara licik yang sering bersinggungan dengan beberapa bisnis sampingan keluarga Rossi bukanlah hal baru baginya. Menarik sekali melihat istri dari pria sombong itu terdampar di sarang dosanya.

 

"Wow, sepertinya cukup menarjk," gumam Hiro, meletakkan gelasnya yang kini telah kosong. "Baiklah. Mari kita lihat seberapa keras dinding pertahanan sang dokter bedah kita malam ini."

 

"Semoga beruntung, Pangeran," kekeh Chloe saat Hiro bangkit berdiri, merapikan kerah kemeja Tom Ford-nya yang hitam pekat.

 

Hiro melangkah dengan ritme konstan yang santai namun penuh wibawa, membelah kepulan asap tipis dan kerumunan tipis di area VIP. 

 

Begitu tiba di sudut bar yang temaram, dia mendudukkan tubuh tegapnya tepat di kursi kosong sebelah Evelyn. 

 

Aroma parfum maskulin yang mahal dan intimidatif langsung menguar dari tubuh Hiro, mendominasi ruang udara di sekitar mereka.

 

Evelyn sama sekali tidak menoleh. Matanya yang indah di balik kacamata berbingkai tipis menatap kosong ke arah deretan botol alkohol di depannya. Jemarinya yang ramping bergerak lambat, memutar gelas Scotch ketiganya.

 

"Minum sendirian di tempat seperti ini biasanya berujung pada dua hal," Hiro membuka suara, nada baritonnya terdengar rendah, halus, dan penuh jebakan yang biasa membuat lutut wanita lemas. 

 

"Sakit kepala yang hebat di pagi hari, atau penyesalan yang manis. Manakah yang sedang kamu cari, Dok?"

 

Awalnya hening, tidak ada tanggapan.

 

Evelyn bahkan tidak berkedip. Dia mengangkat gelasnya, meneguk cairan berwarna emas itu hingga tandas, lalu mengetuk meja bar dengan pelan untuk memberi isyarat kepada bartender agar menuangkannya lagi.

 

Keberadaan pemuda setinggi 189 cm di sampingnya dianggap tak lebih dari seonggok sampah saja. 

 

Hiro menaikkan sebelah alisnya. Gengsinya sebagai predator tertinggi di The Gilded Cage sedikit terusik, namun egonya justru mendidih oleh rasa tertantang.

 

Ini pertama kalinya dalam sejarah karier sebagai pemuas para wanita, seorang wanita bahkan tidak sudi meliriknya pada detik pertama.

 

"Bartender, berikan wanita ini Macallan 25, dan masukkan ke tagihanku," perintah Hiro, suaranya sengaja dibuat lebih menuntut seraya menopang dagu dengan satu tangan, memiringkan tubuhnya untuk menatap profil samping wajah Evelyn yang tampak sangat anggun namun dingin bak es kutub. 

 

"Sepertinya seleramu cukup keras untuk seorang wanita yang biasanya memegang pisau bedah."

 

Evelyn akhirnya bergerak. Dia memutar kepalanya lambat, menatap Hiro dari balik lensa kacamatanya.

 

Tatapan matanya tajam, dingin, dan dipenuhi kabut emosi, namun sama sekali tidak ada binar kekaguman atau ketertarikan yang biasanya terpancar dari mata wanita lain saat melihat wajah tampan Hiro.

 

"Kira-kira, butuh berapa banyak uang yang harus kubayar agar sampah sepertimu pergi dari hadapanku?" tanya Evelyn. Suaranya terdengar serak, datar, namun sarat akan penghinaan yang telak.

 

Hiro sempat tertegun sesaat, sebelum akhirnya sebuah tawa pendek dan diredam lolos dari bibirnya. 

 

Sampah? 

 

Sebutan yang luar biasa berani untuk seorang calon pewaris tunggal dinasti mafia Rossi.

 

"Uangku mungkin lebih dari cukup untuk membeli rumah sakit tempatmu bekerja, Sayang," sahut Hiro, tatapan matanya menggelap, memancarkan aura dominasi yang mulai keluar dari kekangannya. 

 

"Jadi, mari kita simpan obrolan tentang uang. Aku di sini hanya menawarkan kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh suamimu yang sedang sibuk bersama model-model mudanya itu."

 

Rahang Evelyn mengencang seketika. Ucapannya barusan jelas menghantam titik paling rapuh dari harga dirinya yang baru saja hancur malam ini. Dia meletakkan gelasnya dengan dentingan keras yang berbahaya.

 

"Kamu pikir kamu tahu segalanya tentang aku, Bocah?" desis Evelyn, tubuhnya condong ke arah Hiro, membuat aroma alkohol bercampur parfum mawar mahalnya menguar. 

 

"Kamu tidak lebih dari sekadar mainan mahal yang disewakan kelab ini untuk wanita kesepian. Aku tidak butuh pelipur lara, dan aku jelas tidak butuh berondong yang mengira dunia berputar di sekitar ketampanannya."

 

Evelyn bangkit dari kursinya, meraih tas tangan dan blazernya dengan gerakan cepat meskipun tubuhnya sedikit limbung akibat pengaruh alkohol. 

 

Dia melemparkan beberapa lembar uang seratus dolar ke atas meja bar untuk membayar minumannya sendiri, menolak mentah-mentah traktiran Hiro.

 

"Simpan Scotch mahalmu untuk dirimu sendiri," ucap Evelyn dingin tanpa menatap Hiro lagi, lalu berbalik dan melangkah pergi dengan langkah yang dipaksakan tegak menuju pintu keluar.

 

Hiro tetap duduk di kursinya, memandangi beberapa lembar uang yang tergeletak di meja, lalu mengalihkan pandangannya pada punggung Evelyn yang perlahan menjauh. Untuk pertama kalinya, dia diacuhkan. Untuk pertama kalinya, dia ditolak dengan begitu angkuh.

 

Bukannya marah, dada Hiro justru bergemuruh oleh letupan adrenalin yang luar biasa dahsyat. Seringai serigala perlahan terkembang di bibirnya. Target ini jauh lebih menantang daripada puluhan istri senator atau artis yang merangkak memohon di kakinya.

 

Madam Chloe berjalan mendekat, menyandarkan sikunya di bar dengan senyum kemenangan yang tertahan.

 

"Jadi? Bagaimana rasanya ditolak oleh seorang dokter bedah, Sang Pangeran?"

 

Hiro mengambil gelas Bourbon baru yang diantarkan bartender, lalu meminumnya dalam satu tegukan kuat. 

 

Matanya masih menatap ke arah pintu keluar kelab yang kosong.

 

"Dia sangat angkuh, Chloe. Dan aku sangat suka menghancurkan keangkuhan wanita sepertinya," bisik Hiro dengan suara rendah yang berbahaya. 

 

"Siapkan kontraknya. Malam ini, aku akan meruntuhkan seluruh dinding es miliknya."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cintai Aku, Dok?   81. You Are Mine, Forever ....

    Dua minggu kemudian, atmosfer di The Grand Rossi Pavilion, gedung pertemuan paling eksklusif di puncak tertinggi Manhattan, menjelma menjadi pusat perhatian seluruh bursa sosial dan otoritas tertinggi kota. Malam itu, hujan rintik-rintik musim gugur di luar seolah tak mampu meredam kemegahan pesta resepsi pernikahan agung yang digelar oleh dinasti dunia bawah tanah terbesar di Manhattan.Ratusan lampu gantung kristal memancarkan pendaran keemasan yang mewah di atas lantai marmer hitam yang steril. Seluruh fungsionaris federal, hakim agung, hingga jajaran konglomerat logistik pelabuhan timur berdiri kaku dengan pakaian formal mereka, menundukkan kepala penuh hormat setiap kali melintasi barisan pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco yang menjaga ketat setiap jengkal perimeter gedung.Di atas takhta pelaminan bergaya barok klasik, Nonna Francesca Rossi dan Madam Chloe duduk anggun sembari menyesap sampanye premium mereka, menatap lurus ke arah pintu masuk utama dengan seulas seny

  • Cintai Aku, Dok?   80. Menunggu Menuju Altar

    Pukul 13.00 siang, atmosfer di Rumah Sakit Pusat Kota Manhattan benar-benar telah bersih dari bayang-bayang masa lalu. Dokumen resmi dari otoritas federal dan kejaksaan agung baru saja mendarat di meja kerja Evelyn, mengonfirmasi bahwa seluruh sisa saham yayasan medis kini telah bersih dari nama Sterling dan resmi menjadi hak milik tunggal atas nama pribadinya.Evelyn sedang berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, menatap barisan tiga gaun pengantin sutra putih kiriman Hiro yang masih berdiri anggun diterpa cahaya matahari siang. Jas putih dokternya terkancing kaku di atas kemeja sutra gadingnya. Dinding esnya kini tidak lagi membungkus kerapuhan, melainkan memancarkan aura superioritas seorang penguasa medis tertinggi di Manhattan.Tok! Tok! Tok!Pintu ruang kerjanya diketuk kaku. Begitu pintu didorong terbuka, dua pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco melangkah masuk, mengapit sesosok wanita tua yang penampilannya kini sudah hancur berantakan tanpa sisa kemewahan.Vic

  • Cintai Aku, Dok?   79. Kebebasan Evelyn

    Keesokan paginya, tepat pukul 06.00, semburat cahaya fajar keperakan kembali menembus tirai sutra kamar tidur utama vila di atas tebing. Hujan rintik-rintik semalam telah reda, menyisakan pemandangan kota Manhattan yang tampak bersih dan berkabut tipis dari ketinggian jendela kaca besar.Evelyn perlahan membuka sepasang kelopak matanya. Efek ketegangan dari drama gaun pengantin dan operasi melelahkannya kemarin telah luruh sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang kini mendekap tubuh matangnya. Ketika dia mencoba bergerak, dia menyadari bahwa pinggang rampingnya masih dikunci dengan begitu kokoh oleh lengan kekar tangan kanan Hiro dari arah belakang.Punggung anggun Evelyn menempel tanpa celah pada dada bidang kokoh milik sang pangeran mafia. Detak jantung Hiro berdenyut tenang di kulit punggungnya, memancarkan kehangatan seorang pria sembilan belas tahun yang sepanjang malam memanjakannya dengan kelembutan yang protektif.Evelyn membetulkan posisi kacamata berbingkai peraknya yang

  • Cintai Aku, Dok?   78. Kehancuran Arthur

    Sementara kehangatan dan ketegangan romantis mengunci malam keempat antara Hiro dan Evelyn di atas tebing vila terisolasi, atmosfer yang dingin dan mencekam justru sedang menghantam ruang interogasi nomor empat di Gedung Federal FBI, pusat kota Manhattan.Lampu neon putih tanpa pelindung di langit-langit ruangan itu memancarkan pendaran kaku yang menyengat, menyorot langsung ke arah meja besi kelabu di tengah ruangan. Di sana, Arthur Sterling duduk dengan kondisi yang luar biasa mengenaskan. Setelan jas formal bermerek desainer terkenal miliknya kini sudah kusut berantakan tanpa dasi. Rambut klimisnya acak-acakan, dan wajah matangnya yang biasa dipenuhi keangkuhan Sterling Group kini tampak pucat dengan kantung mata hitam yang pekat.Brak!Sebuah map dokumen tebal bersampul merah dengan stempel khusus dari Otoritas Likuidasi Federal dihempaskan kaku di atas meja besi oleh seorang agen FBI bersetelan taktis. Namun, bukan agen tersebut yang mengambil kendali intimidasi di dalam ruangan

  • Cintai Aku, Dok?   77. Curi Start

    Sementara sedan hitam antipeluru itu melaju membelah kegelapan Manhattan menuju vila di atas tebing, di tempat lain, pusat kendali dari seluruh kegilaan ini sedang berputar dengan ritme yang jauh lebih tenang namun mematikan.Di lantai teratas The Gilded Cage, tepat di dalam ruang kerja pribadi pemilik kelab yang bernuansa barok klasik, aroma lilin esensial beraroma kayu cendana dan vanila menguar pekat. Pendaran lampu gantung kristal yang temaram menerangi sebuah meja mahoni besar yang kini dipenuhi oleh tumpukan berkas cetak eksklusif, sampel kain sutra premium, dan sketsa denah dekorasi bursa sosial kelas atas Manhattan.Nonna Francesca Rossi duduk anggun di atas kursi kebesaran berlapis kulit beludru hitam. Wanita berusia tujuh puluh tahun itu mengenakan gaun sutra tenun gelap khas Sisilia dengan barisan zamrud yang berkilau mewah di leher dan jemarinya. Di hadapannya, Madam Chloe berdiri kaku sembari memegang tablet digital yang terus memperbarui grafik saham pelabuhan Sterling G

  • Cintai Aku, Dok?   76. Kau ... Milikku!

    Evelyn menatap barisan gaun pengantin sutra putih yang berjejer kaku di depan jendela besarnya dengan pandangan yang sarat akan kemurkaan bercampur rasa jengah yang luar biasa. Sifat tidak tahu malu dan keliaran taktik manipulasi psikologis dari pemuda mafia sembilan belas tahun itu benar-benar telah meremukkan seluruh batasan profesionalitas yang selama belasan tahun ini dia agungkan di Manhattan.Madam Chloe hanya terkekeh renyah, merapikan mantel bulu hitamnya dengan gerakan yang anggun. "Perintah Tuan Muda Hiro adalah hukum yang absolut bagi kami, Evelyn. Gaun-gaun ini akan tetap berada di sini sampai kau memilih salah satu di antaranya. Selamat menikmati harimu, calon Nyonya Rossi."Tanpa menunggu balasan lagi, Chloe membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar membelah pintu mahoni bersama barisan desainernya, meninggalkan Evelyn sendirian di dalam keheningan ruang kerja yang kini telah bertransformasi menjadi butik pengantin komersial.Sepanjang sisa jam dinasnya siang itu, fokus E

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status