MasukEvelyn tidak mengedipkan mata, bahkan ketika embusan napas Hiro yang hangat dan beraroma mint menyapu permukaan kulit lehernya yang sensitif. Alih-alih gemetar atau memalingkan wajah seperti kebanyakan wanita yang kehilangan akal sehat di bawah pesona lelaki penghibur satu ini, Evelyn justru menegakkan punggungnya. Otot-otot tubuhnya yang terlatih untuk tetap tenang di bawah tekanan meja operasi selama berjam-jam bekerja dengan sinkronisasi yang sempurna.Dengan gerakan yang teramat tenang dan penuh perhitungan, Evelyn mengangkat gelas wiski murni di tangan kanannya. Dia tidak meminumnya. Sebaliknya, dia menempelkan dinding gelas kaca yang sedingin es itu tepat di tengah dada bidang Hiro yang polos—tepat di atas otot pektoralis mayor yang sedang naik turun karena napas pemuda itu."Suhu tubuhmu terlalu tinggi untuk seseorang yang mengklaim sedang memegang kendali, Bocah," ujar Evelyn. Suaranya terdengar sangat jernih, flat, dan benar-benar kontras dengan dentuman bass deep house ya
Hiro terdiam selama beberapa detik. Seringai serigala perlahan terukir di sudut bibirnya yang tegas. Ide Madam Chloe benar-benar gila, manipulatif, dan sangat berisiko. Namun, justru karena itulah adrenalin di dalam tubuh sang pewaris mafia langsung berdesir hebat. Ini adalah jenis permainan liar yang paling disukai oleh naluri predatornya."Kau memang iblis, Chloe," gumam Hiro, suara baritonnya merayap rendah, dipenuhi intonasi kepuasan yang dingin."Aku menganggap itu sebagai pujian tertinggi, Pangeran," kekeh Chloe. Dia mengembuskan asap rokok elektriknya yang wangi ke udara, lalu menyerahkan sebuah amplop hitam tebal dengan cetakan foil emas berlogo khusus The Gilded Cage ke atas meja rias. "Tiketnya sudah siap. Gunakan kurir pribadimu agar tidak terendus oleh suaminya yang licik itu."Hiro menyambar amplop itu, merogoh ponsel pintar enkripsi miliknya, lalu mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Evelyn.[ Aku punya resep obat terbaik untuk menyembuhkan sakit hatimu malam ini, Do
Para perawat di belakang mereka langsung menahan napas, mulai saling berbisik curiga mendengar kata 'semalam' dan 'melindungi' yang keluar dari mulut pemuda tampan tersebut.Evelyn mengepalkan kedua tangannya di dalam saku jas putihnya. Gengsinya dipertaruhkan di depan seluruh stafnya sendiri. Dia menatap tajam pergelangan tangan Hiro yang sama sekali tidak menunjukkan tanda memar atau bengkak—bocah itu jelas-jelas hanya sedang mencari alasan untuk mengganggunya.Mengabaikan seluruh drama manja yang disajikan Hiro, Evelyn membenarkan letak kacamata berbingkai peraknya. Seringai kejam seorang kepala bedah terukir tipis di bibirnya."Kalau memang tanganmu sakit dan tidak bisa disembuhkan," Evelyn memajukan tubuhnya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata elang Hiro dengan pandangan sedingin es kutub, "bagaimana kalau kita bawa saja kamu ke ruang operasi sekarang? Tangannya dipotong saja sampai ke siku agar tidak perlu mengeluh lagi. Kebetulan, gergaji tulangku sedang menganggur
Sikap mundurnya tadi terbukti berhasil memancing reaksi Evelyn. Dinding pertahanan sang dokter bedah kardiotoraks tidak lagi sekaku sebelumnya, melainkan mulai terkikis oleh ego yang terluka dan pengaruh alkohol yang membakar otaknya. Evelyn meneguk wiski di tangannya hingga tandas dalam sekali hentakan, persis seperti yang dilakukan Hiro sebelumnya. Sensasi panas cairan pekat itu membakar tenggorokannya, memicu batuk kecil yang samar sebelum dia meletakkan gelas kosong tersebut dengan dentingan keras ke atas meja marmer. "Menguras dompetku?" Evelyn mendengus hambar, melangkah maju satu tindak hingga ujung sepatu hak tingginya nyaris bersentuhan dengan sepatu pantofel mewah Hiro. Dia mendongak, menantang langsung dominasi fisik pemuda setinggi 189 cm di hadapannya. "Tarifmu tidak akan ada apa-apanya dibanding seluruh biaya operasional ruang bedahku, Bocah. Kamu pikir berapa banyak uang yang bisa dihasilkan oleh pelacur pria dalam semalam?" Hiro menundukkan kepalanya sedikit, me
Hiro mengulas seringai serigala yang tipis di sudut bibirnya. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Jemari kokohnya memindahkan tuas transmisi, menginjak pedal gas, dan membiarkan Lamborghini Aventador hitam itu bergerak mundur perlahan keluar dari gang buntu, sebelum akhirnya melesat membelah jalanan Manhattan yang mulai sunyi.Sepanjang perjalanan, keheningan di dalam kabin mobil terasa begitu pekat dan menekan. Evelyn beberapa kali melirik ke arah luar jendela, sementara otaknya sibuk mencerna runtuhnya seluruh dinding pertahanan diri yang selama ini dia banggakan. Dia adalah seorang kepala tim bedah kardiotoraks yang terhormat, namun malam ini dia membiarkan dirinya dilarikan oleh seorang brondong sewaan kelab malam yang baru saja berlumuran darah.Tepat pukul 20.00, Lamborghini milik Hiro berhenti dengan mulus di area parkir bawah tanah sebuah menara penthouse ultra-mewah di kawasan Upper East Side. Tempat ini memiliki akses lift pribadi yang langsung menuju unit milik Evelyn
Frank meledak dalam tawa meremehkan. Suara tawanya bergema keras di antara dinding bata gang yang sempit. Empat anak buahnya ikut menyeringai lebar. Mereka saling pandang, menganggap gertakan pemuda di hadapan mereka tak lebih dari lelucon konyol. "Bocah ingusan ini kebanyakan menonton film rupanya," ejek Frank. Dia mengayunkan pipa besi di tangannya hingga memotong angin dengan suara mendesing. "Dengar, Pelacur Kelab. Wajah tampanmu itu tidak akan bisa menyelamatkan tulang-tulangmu malam ini. Kerjakan!" Dua preman bertubuh paling besar langsung maju menerjang. Pria di sebelah kiri mengayunkan balok kayu tebal ke arah pelipis Hiro. Serangan itu mematikan, mengincar lumpuhnya kesadaran dalam sekali hantam. Di dalam Lamborghini, Evelyn menahan napas. Dia memejamkan mata rapat-rapat, tidak sanggup melihat kepala pemuda itu pecah di depan matanya. Namun, Hiro bahkan tidak berkedip. Darah dingin klan Rossi yang mengalir di nadinya mengambil alih seluruh kendali tubuhnya. Tepat saat b







