Share

4. Taruhan

Author: Nona Muda
last update publish date: 2026-07-20 16:12:47

Madam Chloe justru meledak dalam tawa yang lebih keras dari sebelumnya. Bahunya naik-turun, membuat berlian di kalungnya berkilauan di bawah sorotan lampu neon The Gilded Cage. 

 

Beberapa pria di meja VIP seberang sempat menoleh, namun langsung membuang muka saat menyadari tawa itu berasal dari sang penguasa kelab.

 

"Taruhan? Kamu menantangku untuk bertaruh atas Dr. Evelyn Crawford, Hiro?" Chloe menyeka sudut matanya yang sedikit berair akibat terlalu banyak tertawa, lalu menggelengkan kepala penuh arti. 

 

"Kamu benar-benar pangeran yang arogan. Dengar, Bocah. Wanita itu baru saja menginjak harga dirimu dan membuangnya ke tempat sampah, tapi kamu malah ingin membuat kontrak taruhan?"

 

Hiro tidak berkedip. Tatapan matanya masih setajam elang, terpaku pada pintu keluar tempat siluet anggun Evelyn menghilang beberapa saat lalu. 

 

Jemari tangannya yang kokoh mengetuk permukaan gelas Bourbon yang kini telah kosong, menciptakan ketukan ritmis yang penuh intimidasi.

 

"Aku tidak pernah kalah, Chloe. Kamu tahu itu," sahut Hiro, suara baritonnya terdengar amat rendah, dingin, dan sarat akan ancaman mutlak seorang Rossi. 

 

"Sebutkan saja taruhannya. Apa yang ingin kamu pertaruhkan jika aku berhasil membawa dokter angkuh itu berlutut di bawah kendaliku malam ini juga?"

 

Chloe menghentikan tawanya, menyadari bahwa pemuda sembilan belas tahun di hadapannya ini tidak sedang bercanda. 

 

Naluri berburu seorang predator tertinggi telah bangkit di dalam diri Hiro, dan Chloe tahu persis betapa berbahayanya jika seorang pewaris mafia sudah mulai terobsesi.

 

"Baiklah," ucap Chloe, seulas senyum licik terpeta di bibirnya yang merah darah. Dia memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja marmer. 

 

"Jika kamu berhasil menjinakkan Evelyn malam ini tanpa memaksa—ingat, dia harus menyerahkan dirinya secara sukarela kepadamu—aku akan memberikan hak pengelolaan penuh atas lantai VIP The Gilded Cage beserta seluruh komisinya untukmu selama satu tahun ke depan. Tanpa potongan agensi sepeser pun."

 

Sebuah tawaran yang luar biasa gila. Lantai VIP kelab ini menghasilkan jutaan dolar setiap bulannya dari para konglomerat dunia. 

 

Namun bagi Hiro, nilai uang itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kepuasan mutlak untuk menaklukkan ego Dr. Evelyn Crawford.

 

"Dan jika aku gagal?" tanya Hiro, menantang balik mata Chloe.

 

"Jika kamu gagal, kamu harus membuang prinsip konyol no repeat order-mu itu khusus untuk tiga klien VIP pilihan-ku bulan depan," jawab Chloe dengan binar kemenangan di matanya. 

 

"Bagaimana? Setuju?"

 

Hiro mengeluarkan seringai serigala yang mematikan. Tanpa ragu, dia mengulurkan tangan kanan, menjabat jemari lentur Madam Chloe untuk mengunci kesepakatan taruhan mereka. 

 

"Deal. Bersiaplah kehilangan kuasa atas lantai VIP-mu, Chloe."

 

Setelah melepaskan jabatan tangan mereka, Hiro langsung berdiri tegak. Dia tidak membuang waktu lagi. 

 

Sambil berjalan cepat meninggalkan meja bar, tangan panjangnya merogoh saku celana Tom Ford miliknya, mengambil ponsel pintar enkripsi miliknya, lalu mendial sebuah nomor cepat.

 

"Marco," panggil Hiro dingin saat panggilan itu terhubung di dering pertama. Suara di seberang sana adalah kepala pengawal pribadinya yang selalu berjaga di luar kelab. 

 

"Dokter wanita berblazer abu-abu baru saja keluar dari pintu VIP. Dia sedang mabuk berat. Pastikan kamu tahu mobil apa yang dia naiki atau ke mana dia berjalan. Aku keluar sekarang."

 

"Dimengerti, Tuan Muda. Dia baru saja melewati gerbang depan," jawab suara berat Marco dari ujung telepon.

 

Hiro menutup ponselnya dengan sekali sentakan, lalu mempercepat langkah kakinya membelah kegelapan lorong eksklusif The Gilded Cage. 

 

Di luar, udara malam Manhattan yang dingin langsung menusuk kulitnya saat dia melangkah keluar dari pintu keluar rahasia. 

 

Sinar lampu jalanan memantul di atas kap mesin Lamborghini Aventador hitamnya yang terparkir gagah di sudut jalan.

 

Dari jarak sekitar lima puluh meter di depannya, Hiro bisa melihat sosok Evelyn. Wanita itu berjalan dengan langkah yang semakin limbung di trotoar yang sepi, blazer abu-abunya kini sudah tersampir asal-asalan di satu bahu. 

 

Dia tampak sedang berusaha mengangkat tangan untuk menghentikan taksi kuning yang lewat, namun karena pengaruh alkohol yang terlalu kuat di tubuhnya, gerakannya terlihat lemah.

 

Sebuah taksi kuning perlahan melambat dan menepi tepat di depan Evelyn. Namun, sebelum jemari ramping sang dokter sempat menyentuh gagang pintu mobil, sebuah tangan kekar dengan kemeja hitam Tom Ford yang digulung hingga sikut telah lebih dulu mencengkeram pintu taksi tersebut, lalu mendorongnya kembali hingga tertutup rapat.

 

Brak!

 

Evelyn terperanjat, tubuhnya yang sedikit tidak stabil terhuyung mundur satu langkah akibat suara benturan keras itu. 

 

Dia mendongak dengan tatapan mata yang buram karena mabuk, dan langsung berhadapan dengan dada bidang serta rahang tegas milik pemuda sembilan belas tahun yang beberapa menit lalu dihinanya di meja bar.

 

"Kamu?." desis Evelyn, suaranya terdengar semakin serak dan tidak bertenaga. Dia mencoba membenarkan letak kacamatanya yang sedikit miring.

 

"Mau apa lagi kamu, Sampah? Kubilang pergi!"

 

Hiro sama sekali tidak memedulikan makian itu. Dia melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum mawar mahal milik Evelyn kembali menginvasi indra penciumannya. 

 

Mengabaikan taksi kuning yang akhirnya melesat pergi karena kesal, Hiro menundukkan kepalanya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata Evelyn yang kini dipenuhi oleh kabut keputusasaan yang mendalam.

 

"Sopir taksi di New York tidak akan mau membawa wanita mabuk yang bisa muntah di kursi belakang mereka kapan saja, Dok," ucap Hiro, suara baritonnya terdengar begitu tenang namun penuh dengan otoritas yang mendominasi.

 

Evelyn mendengus sinis, mencoba mendorong dada Hiro dengan sisa tenaganya yang payah, namun tubuh kekar pemuda berwajah blasteran itu sama sekali tidak bergeser satu senti pun. 

 

Dinding pertahanan sang dokter yang kaku di rumah sakit kini benar-benar runtuh oleh rasa frustrasi atas pengkhianatan suaminya, bercampur dengan alkohol yang membakar otaknya.

 

"Bukan urusanmu! Aku bisa pulang sendiri!" seru Evelyn, meskipun suaranya terdengar parau. Air mata yang sejak tadi dia tahan mati-matian di dalam kelab akhirnya luruh satu tetes, melewati pipinya yang memerah akibat mabuk. 

 

"Jangan berani-berani mengasihaniku, Bocah brengsek!"

 

Melihat setetes air mata itu jatuh, seringai di wajah Hiro perlahan menghilang, digantikan oleh tatapan berburu yang semakin gelap dan intens. 

 

Dia tahu, wanita angkuh ini sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya. Dan di sinilah peran Hiro dimulai: bukan sebagai pelipur lara yang cengeng, melainkan sebagai pria yang akan memberi wanita ini cara paling liar untuk membalas dendam.

 

"Aku tidak sedang mengasihanimu, Evelyn," bisik Hiro, untuk pertama kalinya memanggil nama depan wanita itu dengan nada suara yang teramat seksi dan berbahaya. 

 

Tangan panjangnya bergerak secepat kilat, mencengkeram pinggang ramping Evelyn lalu menarik tubuh wanita itu hingga menempel erat pada tubuh atletisnya.

 

Evelyn terkesiap, napasnya memburu cepat saat merasakan kehangatan yang penuh intimidasi terpancar dari tubuh pemuda di hadapannya.

 

"Malam ini, suamimu sedang bersenang-senang dengan model-model mudanya," sambung Hiro, ibu jarinya mengusap lembut air mata di pipi Evelyn dengan sentuhan yang kontras dengan cengkeramannya yang kuat di pinggang wanita itu. 

 

"Jadi, mengapa kamu harus pulang ke rumah yang kosong dan menangis sendirian? Ikut denganku. Mari kita buat suamimu membayar setiap tetes air mata yang kamu keluarkan malam ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintai Aku, Dok?   81. You Are Mine, Forever ....

    Dua minggu kemudian, atmosfer di The Grand Rossi Pavilion, gedung pertemuan paling eksklusif di puncak tertinggi Manhattan, menjelma menjadi pusat perhatian seluruh bursa sosial dan otoritas tertinggi kota. Malam itu, hujan rintik-rintik musim gugur di luar seolah tak mampu meredam kemegahan pesta resepsi pernikahan agung yang digelar oleh dinasti dunia bawah tanah terbesar di Manhattan.Ratusan lampu gantung kristal memancarkan pendaran keemasan yang mewah di atas lantai marmer hitam yang steril. Seluruh fungsionaris federal, hakim agung, hingga jajaran konglomerat logistik pelabuhan timur berdiri kaku dengan pakaian formal mereka, menundukkan kepala penuh hormat setiap kali melintasi barisan pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco yang menjaga ketat setiap jengkal perimeter gedung.Di atas takhta pelaminan bergaya barok klasik, Nonna Francesca Rossi dan Madam Chloe duduk anggun sembari menyesap sampanye premium mereka, menatap lurus ke arah pintu masuk utama dengan seulas seny

  • Cintai Aku, Dok?   80. Menunggu Menuju Altar

    Pukul 13.00 siang, atmosfer di Rumah Sakit Pusat Kota Manhattan benar-benar telah bersih dari bayang-bayang masa lalu. Dokumen resmi dari otoritas federal dan kejaksaan agung baru saja mendarat di meja kerja Evelyn, mengonfirmasi bahwa seluruh sisa saham yayasan medis kini telah bersih dari nama Sterling dan resmi menjadi hak milik tunggal atas nama pribadinya.Evelyn sedang berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, menatap barisan tiga gaun pengantin sutra putih kiriman Hiro yang masih berdiri anggun diterpa cahaya matahari siang. Jas putih dokternya terkancing kaku di atas kemeja sutra gadingnya. Dinding esnya kini tidak lagi membungkus kerapuhan, melainkan memancarkan aura superioritas seorang penguasa medis tertinggi di Manhattan.Tok! Tok! Tok!Pintu ruang kerjanya diketuk kaku. Begitu pintu didorong terbuka, dua pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco melangkah masuk, mengapit sesosok wanita tua yang penampilannya kini sudah hancur berantakan tanpa sisa kemewahan.Vic

  • Cintai Aku, Dok?   79. Kebebasan Evelyn

    Keesokan paginya, tepat pukul 06.00, semburat cahaya fajar keperakan kembali menembus tirai sutra kamar tidur utama vila di atas tebing. Hujan rintik-rintik semalam telah reda, menyisakan pemandangan kota Manhattan yang tampak bersih dan berkabut tipis dari ketinggian jendela kaca besar.Evelyn perlahan membuka sepasang kelopak matanya. Efek ketegangan dari drama gaun pengantin dan operasi melelahkannya kemarin telah luruh sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang kini mendekap tubuh matangnya. Ketika dia mencoba bergerak, dia menyadari bahwa pinggang rampingnya masih dikunci dengan begitu kokoh oleh lengan kekar tangan kanan Hiro dari arah belakang.Punggung anggun Evelyn menempel tanpa celah pada dada bidang kokoh milik sang pangeran mafia. Detak jantung Hiro berdenyut tenang di kulit punggungnya, memancarkan kehangatan seorang pria sembilan belas tahun yang sepanjang malam memanjakannya dengan kelembutan yang protektif.Evelyn membetulkan posisi kacamata berbingkai peraknya yang

  • Cintai Aku, Dok?   78. Kehancuran Arthur

    Sementara kehangatan dan ketegangan romantis mengunci malam keempat antara Hiro dan Evelyn di atas tebing vila terisolasi, atmosfer yang dingin dan mencekam justru sedang menghantam ruang interogasi nomor empat di Gedung Federal FBI, pusat kota Manhattan.Lampu neon putih tanpa pelindung di langit-langit ruangan itu memancarkan pendaran kaku yang menyengat, menyorot langsung ke arah meja besi kelabu di tengah ruangan. Di sana, Arthur Sterling duduk dengan kondisi yang luar biasa mengenaskan. Setelan jas formal bermerek desainer terkenal miliknya kini sudah kusut berantakan tanpa dasi. Rambut klimisnya acak-acakan, dan wajah matangnya yang biasa dipenuhi keangkuhan Sterling Group kini tampak pucat dengan kantung mata hitam yang pekat.Brak!Sebuah map dokumen tebal bersampul merah dengan stempel khusus dari Otoritas Likuidasi Federal dihempaskan kaku di atas meja besi oleh seorang agen FBI bersetelan taktis. Namun, bukan agen tersebut yang mengambil kendali intimidasi di dalam ruangan

  • Cintai Aku, Dok?   77. Curi Start

    Sementara sedan hitam antipeluru itu melaju membelah kegelapan Manhattan menuju vila di atas tebing, di tempat lain, pusat kendali dari seluruh kegilaan ini sedang berputar dengan ritme yang jauh lebih tenang namun mematikan.Di lantai teratas The Gilded Cage, tepat di dalam ruang kerja pribadi pemilik kelab yang bernuansa barok klasik, aroma lilin esensial beraroma kayu cendana dan vanila menguar pekat. Pendaran lampu gantung kristal yang temaram menerangi sebuah meja mahoni besar yang kini dipenuhi oleh tumpukan berkas cetak eksklusif, sampel kain sutra premium, dan sketsa denah dekorasi bursa sosial kelas atas Manhattan.Nonna Francesca Rossi duduk anggun di atas kursi kebesaran berlapis kulit beludru hitam. Wanita berusia tujuh puluh tahun itu mengenakan gaun sutra tenun gelap khas Sisilia dengan barisan zamrud yang berkilau mewah di leher dan jemarinya. Di hadapannya, Madam Chloe berdiri kaku sembari memegang tablet digital yang terus memperbarui grafik saham pelabuhan Sterling G

  • Cintai Aku, Dok?   76. Kau ... Milikku!

    Evelyn menatap barisan gaun pengantin sutra putih yang berjejer kaku di depan jendela besarnya dengan pandangan yang sarat akan kemurkaan bercampur rasa jengah yang luar biasa. Sifat tidak tahu malu dan keliaran taktik manipulasi psikologis dari pemuda mafia sembilan belas tahun itu benar-benar telah meremukkan seluruh batasan profesionalitas yang selama belasan tahun ini dia agungkan di Manhattan.Madam Chloe hanya terkekeh renyah, merapikan mantel bulu hitamnya dengan gerakan yang anggun. "Perintah Tuan Muda Hiro adalah hukum yang absolut bagi kami, Evelyn. Gaun-gaun ini akan tetap berada di sini sampai kau memilih salah satu di antaranya. Selamat menikmati harimu, calon Nyonya Rossi."Tanpa menunggu balasan lagi, Chloe membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar membelah pintu mahoni bersama barisan desainernya, meninggalkan Evelyn sendirian di dalam keheningan ruang kerja yang kini telah bertransformasi menjadi butik pengantin komersial.Sepanjang sisa jam dinasnya siang itu, fokus E

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status