Home / Male Adult / Cintai Aku, Dok? / 5. Ditampar (Bukan) Pelanggan

Share

5. Ditampar (Bukan) Pelanggan

Author: Nona Muda
last update publish date: 2026-07-20 16:13:16

Evelyn terdiam beberapa detik. Napasnya yang hangat—bercampur aroma alkohol—menerpa leher Hiro. Sunyi di bawah lampu jalan Manhattan itu terasa mencekam. Tapi tiba-tiba, kabut di matanya sirna. Berganti dengan kilatan sadar yang tajam dan dingin.

 

Plak!

 

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Hiro. Suara telapak tangan Evelyn itu memecah kesunyian malam.

 

Hiro terperangah. Kepalanya sedikit menoleh ke kanan. Untuk pertama kalinya, seorang wanita berani menampar calon penerus Dinasti Rossi. Panas tamparan masih menyengat di kulitnya.

 

Evelyn menarik napas panjang, mencengkeram sisa kendali yang tersisa di kepalanya yang masih berputar. Badannya memang masih oleng, tapi matanya menatap Hiro dengan amarah yang membakar habis genangan air matanya.

 

"Jangan pernah lancang menyentuhku, Bocah," desis Evelyn. Suaranya kembali datar, tegas, penuh wibawa—seperti saat dia memimpin operasi di ruang bedah. "Aku tahu persis apa yang kamu lakukan. Kamu memanfaatkan kehancuran orang lain buat memuaskan ego menjijikkanmu."

 

Perlahan Hiro menoleh kembali. Sudut bibirnya berdenyut, tapi bukannya marah, matanya justru menyala dengan ketertarikan yang lebih pekat. Jantungnya berdegup kencang oleh adrenalin yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Wanita ini bukan kelinci yang mudah menyerah—dia macan tutul yang terluka.

 

Perlahan Hiro mengangkat kedua tangannya, mundur setengah langkah. Dia memilih berhenti memaksa. Naluri predatornya berbisik, kalau dia memaksakan diri malam ini, dinding es Evelyn akan terkunci selamanya.

 

"Baik, Dok. Aku mundur," ucap Hiro. Nadanya kembali santai, tapi tetap ada bobot bariton yang mengintimidasi. Seringai tipisnya kembali terukir di bibir yang baru saja ditampar. "Aku hargai batasanmu."

 

Saat menjauh, pandangannya tanpa sengaja menyapu siluet Evelyn di bawah lampu jalan. Blazer abu-abu yang tersampir longgar di satu bahu memperlihatkan lekuk tubuhnya di balik kemeja sutra putih yang pas di badan.

 

Hiro menyadari satu hal. Pakaian Evelyn malam itu sama sekali tidak terbuka atau menggoda. Dia berpakaian formal dan elegan. Tapi potongan kemejanya yang melekat justru menegaskan bentuk tubuh proporsional—pinggang ramping, lekuk dada yang tersembunyi anggun. Wanita ini punya kecantikan fisik yang matang dan berkelas. Sangat berbeda dari model-model muda yang biasa mengelilingi Arthur Sterling atau perempuan kelab yang sengaja memamerkan kulit.

 

Sangat indah, batin Hiro. Egonya kini terbakar habis oleh rasa tertantang yang absolut. Taruhan dengan Madam Chloe bukan lagi sekadar soal memenangkan lantai VIP. Ini sudah jadi obsesi pribadi: menaklukkan setiap jengkal keangkuhan dokter bedah ini.

 

Evelyn merapikan blazernya. Tangannya sedikit gemetar, tapi dipaksakan tegas—dia tak mau menunjukkan kelemahan lagi di depan pria asing ini.

 

"Posisimu di kelab itu mungkin bikin kamu merasa seperti raja," ucap Evelyn dingin, "tapi di duniaku, kamu bukan apa-apa."

 

Dia berbalik, memunggungi Hiro. Kali ini dia berjalan ke tepi jalan yang lebih terang, mengabaikan Hiro seolah pemuda itu telah menguap bersama udara malam.

 

Hiro menurunkan tangannya, memasukkan ke saku celana Tom Ford-nya. Pipi kirinya masih kebas, tapi kepuasan aneh justru menjalar di dadanya.

 

"Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan dengan duniaku yang akan segera mendatangi duniamu, Dr. Evelyn Crawford," bisik Hiro pelan, suaranya tenggelam dalam deru angin malam New York.

 

Hiro tidak membiarkan mangsanya lepas begitu saja. Dengan isyarat tangan yang halus, Lamborghini Aventador hitam miliknya merayap pelan membelah keheningan trotoar, mengikuti langkah kaki Evelyn dari jarak aman. Sorot lampu xenon mobil super itu memanjang di atas aspal, mengawal siluet sang dokter yang berjalan dengan punggung yang dipaksakan tegak, meski beberapa kali langkahnya tampak limbung.

 

"Tuan Muda, apakah kita perlu memberi pengawalan?" suara Marco terdengar dari earpiece nirkabel di telinga Hiro. Mobil pengawal berjenis mobil hitam antipeluru milik keluarga Rossi terparkir satu blok di depan, siap memotong jalur taksi mana pun.

 

"Tidak perlu," sahut Hiro dingin sembari mengemudikan setir dengan satu tangan. Matanya terkunci pada Evelyn yang akhirnya berhasil menyetop sebuah taksi kuning di ujung persimpangan Broadway. 

 

"Biarkan dia pulang. Cukup cari tahu alamat tempat tinggalnya saat ini. Aku ingin data lengkapnya ada di mejaku sebelum matahari terbit."

 

"Dimengerti, Tuan."

 

Hiro menghentikan mobilnya saat taksi yang membawa Evelyn melesat menjauh. Dia menyandarkan punggungnya pada kursi kulit premium, membiarkan jemarinya menyentuh pipi kirinya yang masih terasa hangat akibat tamparan keras tadi.

 

Sebuah tawa rendah, parau, dan berbahaya lolos dari tenggorokannya. Ditolak, dihina, dan ditampar dalam satu malam—Dr. Evelyn Crawford baru saja memberikan pengalaman paling berkesan sepanjang sembilan belas tahun hidupnya.

 

...

Keesokan paginya, suasana Rumah Sakit Pusat Kota New York berjalan seperti biasa. Riuh rendah langkah kaki para perawat dan aroma antiseptik yang khas mendominasi lorong-lorong bangunan megah tersebut.

 

Evelyn berdiri di depan cermin toilet ruang kerja khususnya, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya tampak sedikit pucat akibat efek alkohol semalam, namun riasan tipis dan kacamata berbingkai perak miliknya berhasil menyamarkan kelelahan itu dengan sempurna. Jas putih dokternya terkancing rapi, membalut tubuh indahnya yang semalam sempat membuat seorang pewaris mafia kehilangan fokus.

 

Tok! Tok! Tok!

 

Pintu ruangannya diketuk dengan tergesa-gesa. Suster kepala, kepala perawat yang biasanya tenang, melangkah masuk dengan raut wajah semi panik sekaligus kagum.

 

"Dr. Crawford, maaf mengganggu waktu persiapan Anda," ujar suster itu dengan napas sedikit memburu. "Direktur Utama meminta Anda segera turun ke lobi utama sekarang juga."

 

Evelyn mengernyitkan alisnya, merapikan stetoskop di lehernya. "Ada apa, Suster? Jadwal operasiku baru akan dimulai satu jam lagi."

 

"Ini tentang donasi fasilitas medis baru, Dok. Ada perwakilan tertinggi dari sebuah yayasan konsorsium swasta yang datang secara mendadak," ujar suster itu dengan napas sedikit memburu. 

 

"Mereka menyumbangkan dana sebesar dua puluh juta dolar untuk pengembangan sayap baru bedah kardiotoraks. Direktur Utama meminta Anda selaku kepala tim bedah terbaik untuk menerima penyerahan simbolisnya sekarang juga."

 

Evelyn mengernyitkan alisnya, merapikan stetoskop di lehernya. "Donasi sebesar itu tanpa janji temu sebelumnya? Baiklah, saya segera ke sana."

 

Dengan langkah profesional yang anggun, Evelyn berjalan menyusuri lorong menuju lobi utama rumah sakit yang beratap kaca tinggi. 

 

Dari kejauhan, dia bisa melihat kerumunan jajaran direksi rumah sakit sedang membungkuk hormat mengelilingi seorang tamu penting yang identitasnya dirahasiakan rapat-rapat atas permintaan sang donatur.

 

Pihak rumah sakit hanya tahu bahwa pemuda asing itu adalah perwakilan dari sebuah korporasi cangkang multinasional kelas kakap.

 

Begitu kerumunan itu bergeser memberi jalan, langkah kaki Evelyn mendadak terkunci di atas lantai marmer. Napasnya tertahan di tenggorokan.

 

Di pusat perhatian itu, berdiri seorang pemuda dengan setelan jas abu-abu arang buatan penjahit terbaik Savile Row. 

 

Rambut hitamnya tertata rapi, mengekspos rahang tegas dan wajah blasteran yang teramat tampan. Aura dominasi yang dingin, intimidatif, dan teramat mahal menguar kuat, membuat para dokter senior di sekitarnya tampak kerdil.

 

Bocah sembilan belas tahun dari kelab semalam.

 

Pemuda yang semalam dicapnya sebagai 'sampah kelab malam' kini berdiri di sana dengan senyum formal yang sangat menawan, memerankan peran sebagai seorang eksekutif muda yang terhormat dengan sangat sempurna. 

 

Sinar matahari pagi yang menembus atap kaca lobi jatuh tepat di wajahnya, menyamarkan bekas kemerahan samar di pipi kirinya yang merupakan hasil karya tangan Evelyn sendiri.

 

Direktur Utama rumah sakit langsung melambaikan tangan dengan wajah semringah begitu melihat kehadiran Evelyn. 

 

"Ah, ini dia! Dr. Evelyn Crawford, kepala tim bedah kardiotoraks terbaik kami. Dok, perkenalkan, ini adalah perwakilan dari pihak donatur tunggal kita. Beliau meminta namanya tidak dipublikasikan ke media demi privasi korporasi."

 

Hiro memutar tubuh tegapnya secara perlahan. Sepasang mata elangnya yang gelap langsung mengunci pandangan Evelyn. 

 

Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas seringai tipis yang teramat halus—sebuah kode rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. 

 

Seringai serigala yang menandakan bahwa permainan berburu yang sesungguhnya baru saja dimulai di dunia Hiro yang sekarang mendatangi dunia Evelyn.

 

Dia melangkah maju dua tindak, mengikis jarak di antara mereka, lalu mengulurkan tangan kanannya yang kokoh ke hadapan Evelyn di depan seluruh jajaran direksi rumah sakit.

 

"Senang bertemu dengan Anda secara resmi, Dr. Crawford," ucap Hiro, suaranya sengaja dibuat penuh wibawa dan formal, menyembunyikan nada nakal yang semalam membuat telinga Evelyn panas. 

 

"Saya harap kontribusi dari pihak kami bisa membantu Anda meruntuhkan setiap dinding pembatas dalam menyelamatkan nyawa pasien di masa depan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintai Aku, Dok?   81. You Are Mine, Forever ....

    Dua minggu kemudian, atmosfer di The Grand Rossi Pavilion, gedung pertemuan paling eksklusif di puncak tertinggi Manhattan, menjelma menjadi pusat perhatian seluruh bursa sosial dan otoritas tertinggi kota. Malam itu, hujan rintik-rintik musim gugur di luar seolah tak mampu meredam kemegahan pesta resepsi pernikahan agung yang digelar oleh dinasti dunia bawah tanah terbesar di Manhattan.Ratusan lampu gantung kristal memancarkan pendaran keemasan yang mewah di atas lantai marmer hitam yang steril. Seluruh fungsionaris federal, hakim agung, hingga jajaran konglomerat logistik pelabuhan timur berdiri kaku dengan pakaian formal mereka, menundukkan kepala penuh hormat setiap kali melintasi barisan pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco yang menjaga ketat setiap jengkal perimeter gedung.Di atas takhta pelaminan bergaya barok klasik, Nonna Francesca Rossi dan Madam Chloe duduk anggun sembari menyesap sampanye premium mereka, menatap lurus ke arah pintu masuk utama dengan seulas seny

  • Cintai Aku, Dok?   80. Menunggu Menuju Altar

    Pukul 13.00 siang, atmosfer di Rumah Sakit Pusat Kota Manhattan benar-benar telah bersih dari bayang-bayang masa lalu. Dokumen resmi dari otoritas federal dan kejaksaan agung baru saja mendarat di meja kerja Evelyn, mengonfirmasi bahwa seluruh sisa saham yayasan medis kini telah bersih dari nama Sterling dan resmi menjadi hak milik tunggal atas nama pribadinya.Evelyn sedang berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, menatap barisan tiga gaun pengantin sutra putih kiriman Hiro yang masih berdiri anggun diterpa cahaya matahari siang. Jas putih dokternya terkancing kaku di atas kemeja sutra gadingnya. Dinding esnya kini tidak lagi membungkus kerapuhan, melainkan memancarkan aura superioritas seorang penguasa medis tertinggi di Manhattan.Tok! Tok! Tok!Pintu ruang kerjanya diketuk kaku. Begitu pintu didorong terbuka, dua pengawal jas hitam taktis milik pasukan Marco melangkah masuk, mengapit sesosok wanita tua yang penampilannya kini sudah hancur berantakan tanpa sisa kemewahan.Vic

  • Cintai Aku, Dok?   79. Kebebasan Evelyn

    Keesokan paginya, tepat pukul 06.00, semburat cahaya fajar keperakan kembali menembus tirai sutra kamar tidur utama vila di atas tebing. Hujan rintik-rintik semalam telah reda, menyisakan pemandangan kota Manhattan yang tampak bersih dan berkabut tipis dari ketinggian jendela kaca besar.Evelyn perlahan membuka sepasang kelopak matanya. Efek ketegangan dari drama gaun pengantin dan operasi melelahkannya kemarin telah luruh sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang kini mendekap tubuh matangnya. Ketika dia mencoba bergerak, dia menyadari bahwa pinggang rampingnya masih dikunci dengan begitu kokoh oleh lengan kekar tangan kanan Hiro dari arah belakang.Punggung anggun Evelyn menempel tanpa celah pada dada bidang kokoh milik sang pangeran mafia. Detak jantung Hiro berdenyut tenang di kulit punggungnya, memancarkan kehangatan seorang pria sembilan belas tahun yang sepanjang malam memanjakannya dengan kelembutan yang protektif.Evelyn membetulkan posisi kacamata berbingkai peraknya yang

  • Cintai Aku, Dok?   78. Kehancuran Arthur

    Sementara kehangatan dan ketegangan romantis mengunci malam keempat antara Hiro dan Evelyn di atas tebing vila terisolasi, atmosfer yang dingin dan mencekam justru sedang menghantam ruang interogasi nomor empat di Gedung Federal FBI, pusat kota Manhattan.Lampu neon putih tanpa pelindung di langit-langit ruangan itu memancarkan pendaran kaku yang menyengat, menyorot langsung ke arah meja besi kelabu di tengah ruangan. Di sana, Arthur Sterling duduk dengan kondisi yang luar biasa mengenaskan. Setelan jas formal bermerek desainer terkenal miliknya kini sudah kusut berantakan tanpa dasi. Rambut klimisnya acak-acakan, dan wajah matangnya yang biasa dipenuhi keangkuhan Sterling Group kini tampak pucat dengan kantung mata hitam yang pekat.Brak!Sebuah map dokumen tebal bersampul merah dengan stempel khusus dari Otoritas Likuidasi Federal dihempaskan kaku di atas meja besi oleh seorang agen FBI bersetelan taktis. Namun, bukan agen tersebut yang mengambil kendali intimidasi di dalam ruangan

  • Cintai Aku, Dok?   77. Curi Start

    Sementara sedan hitam antipeluru itu melaju membelah kegelapan Manhattan menuju vila di atas tebing, di tempat lain, pusat kendali dari seluruh kegilaan ini sedang berputar dengan ritme yang jauh lebih tenang namun mematikan.Di lantai teratas The Gilded Cage, tepat di dalam ruang kerja pribadi pemilik kelab yang bernuansa barok klasik, aroma lilin esensial beraroma kayu cendana dan vanila menguar pekat. Pendaran lampu gantung kristal yang temaram menerangi sebuah meja mahoni besar yang kini dipenuhi oleh tumpukan berkas cetak eksklusif, sampel kain sutra premium, dan sketsa denah dekorasi bursa sosial kelas atas Manhattan.Nonna Francesca Rossi duduk anggun di atas kursi kebesaran berlapis kulit beludru hitam. Wanita berusia tujuh puluh tahun itu mengenakan gaun sutra tenun gelap khas Sisilia dengan barisan zamrud yang berkilau mewah di leher dan jemarinya. Di hadapannya, Madam Chloe berdiri kaku sembari memegang tablet digital yang terus memperbarui grafik saham pelabuhan Sterling G

  • Cintai Aku, Dok?   76. Kau ... Milikku!

    Evelyn menatap barisan gaun pengantin sutra putih yang berjejer kaku di depan jendela besarnya dengan pandangan yang sarat akan kemurkaan bercampur rasa jengah yang luar biasa. Sifat tidak tahu malu dan keliaran taktik manipulasi psikologis dari pemuda mafia sembilan belas tahun itu benar-benar telah meremukkan seluruh batasan profesionalitas yang selama belasan tahun ini dia agungkan di Manhattan.Madam Chloe hanya terkekeh renyah, merapikan mantel bulu hitamnya dengan gerakan yang anggun. "Perintah Tuan Muda Hiro adalah hukum yang absolut bagi kami, Evelyn. Gaun-gaun ini akan tetap berada di sini sampai kau memilih salah satu di antaranya. Selamat menikmati harimu, calon Nyonya Rossi."Tanpa menunggu balasan lagi, Chloe membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar membelah pintu mahoni bersama barisan desainernya, meninggalkan Evelyn sendirian di dalam keheningan ruang kerja yang kini telah bertransformasi menjadi butik pengantin komersial.Sepanjang sisa jam dinasnya siang itu, fokus E

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status