تسجيل الدخول"Jadi ... kamu benar-benar menolaknya?" tanya Arina lagi seolah sedang memastikan."Benar.""Dan keluargamu langsung menerima?"Gavin terkekeh pelan. "Jelas saja nggak akan semudah itu."Arina mengerutkan kening."Ayahku marah besar waktu pertama kali aku mengatakan tidak. Dia bahkan mengira aku hanya sedang bercanda.""Terus?""Aku menjelaskan baik-baik bahwa aku nggak mau menikah dengan seseorang hanya karena keluarga menganggap kami cocok. Masalahnya bukan cocok dalam hal menjalin hubungan, melainkan karena dianggap setara dalam hal bisnis dan faktor finansial."Arina terdiam."Bagiku, pernikahan bukan sekadar kesepakatan dua keluarga. Yang menjalani kehidupan setelah menikah adalah aku. Jadi, aku merasa punya hak untuk menentukan dengan siapa aku ingin hidup."Kalimat itu membuat Arina tanpa sadar menatap Gavin lebih lama. Dia kembalikan mengingatkan dirinya sendiri. Dia seorang wanita dan tak bisa setegas Gavin. Dia hanya menolak sekali, namun orang tuanya memaksa dengan ancaman,
"Aku menolak perjodohan itu."Arina terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan Gavin. Entah kenapa, meskipun laki-laki itu sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia menolak perjodohan tersebut, hati Arina tetap belum sepenuhnya tenang.Justru ada bagian kecil dalam hatinya yang merasa lega.Ada keinginan yang diam-diam muncul untuk melanjutkan hubungannya dengan Gavin. Bukan lagi sekadar hubungan yang berawal dari sebuah perjanjian. Bukan karena kebutuhan masing-masing. Bukan pula karena keadaan yang memaksa mereka untuk saling berdekatan.Perasaan itu muncul begitu saja.Tanpa disadari, perhatian dan kepedulian Gavin perlahan membuat pertahanan hati Arina runtuh. Laki-laki itu selalu ada ketika dia membutuhkan bantuan. Gavin juga sering menggodanya, membuatnya kesal, tetapi di saat yang sama selalu menunjukkan kepedulian yang tidak pernah Arina dapatkan dari laki-laki lain.Arina bahkan tidak pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.Di
Gavin menaikkan tubuh Arina di meja dekat dinding lalu mengunci tubuhnya di sana. Setelah mencium wanita itu cukup lama, tubuhnya tak bisa menahan diri lagi. Dia ingin menyentuh Arina. Bibirnya kini berada di leher Arina memberikan kecupan dan gigitan ringan. Sementara tangannya sibuk menyentuh titik sensitif wanita itu dibawah sana. Tubuh Arina tak bisa menolak sentuhan Gavin, tapi dia masih bisa berpikir waras saat ini. "Gavin, please berhenti!" "Nggak bisa Arina. Aku sudah nggak tahan lagi." Gavin melanjutkan gerakan bibir dan hatinya di tubuh Arina. Sampai akhirnya Arina mencapai pelepasannya untuk yang pertama. Tubuh Arina lemas. Gavin menjauh sedikit untuk melepaskan baju di tubuhnya dan tubuh Arina. Dia langsung menggendong Arina dan membawanya ke kamar. Mereka mengulanginya lagi, aktivitas panas di atas ranjang yang membuat Gavin candu dan tak ingin cepat berlalu. Tubuh Gavin akhirnya benar-benar lemas. Setelah beberapa saat, laki-laki itu ambruk di samping Ari
"Dari mana, Arina?"Nada suara Gavin terdengar rendah, tetapi penuh tekanan.Arina yang baru saja masuk ke apartemen langsung menoleh. Tatapan laki-laki itu membuat langkahnya terhenti. Gavin berdiri di dekat sofa dengan wajah tegang, seolah-olah dialah yang berhak marah.Arina menghela napas pelan. Bukannya menjawab, dia justru memalingkan wajah.Aneh.Seharusnya dia yang marah.Bukankah Gavin yang sudah berbohong kepadanya?Beberapa hari lalu, Arina bahkan pernah bertanya dengan jelas apakah Gavin memiliki pacar, tunangan, atau bahkan istri. Saat itu, Gavin dengan santainya mengatakan bahwa dirinya tidak sedang memiliki hubungan dengan wanita mana pun.Namun, apa yang Arina lihat di lobby tadi?Seorang wanita datang ke apartemen Gavin. Mereka bahkan berpelukan begitu dekat. Wanita itu terus menempel pada Gavin seolah keduanya memiliki hubungan yang jauh lebih dari sekadar teman.Dan sekarang Gavin justru bertanya kepadanya dari mana dia pergi?Arina melipat kedua tangannya di dada.
Arina melirik sekilas ke arah meja Aryo.Davina masih bergelayut manja di lengan laki-laki itu. Tubuhnya bahkan sengaja dirapatkan, seolah ingin memastikan siapa pun yang melihat mereka tahu bahwa dirinya begitu dekat dengan Aryo.Benar-benar menjijikkan.Namun, anehnya, Arina tidak lagi merasakan sakit seperti dulu.Dia tahu Davina sengaja melakukan semua itu. Wanita itu ingin memancing emosinya, ingin melihat Arina cemburu atau setidaknya menunjukkan bahwa kehadiran mereka masih berpengaruh terhadap dirinya.Sayangnya, usaha itu sia-sia.Arina sudah terlalu lelah untuk peduli.Hubungannya dengan Aryo sudah berakhir sejak lama, bahkan jika secara resmi mereka masih terikat dalam pernikahan yang belum selesai. Perasaan yang dulu pernah membuat dadanya sesak kini seolah sudah mati.Arina justru merasa heran melihat Aryo.Laki-laki itu tampak gelisah. Sesekali pandangannya bergerak ke sekitar, kemudian kembali kepada Davina. Bahkan ketika Davina menyandarkan kepala di bahunya, Aryo tida
Arina mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia sudah mengambil keputusan untuk tidak kembali ke apartemen Gavin. Bukan karena ingin mengikuti laki-laki itu. Bukan pula karena ingin mencari tahu siapa wanita yang datang ke apartemen tersebut. Arina hanya membutuhkan udara segar. Dia ingin menjauh sejenak dari semua hal yang membuat kepalanya terasa penuh. Urusan Gavin dengan wanita itu bukan urusannya. Setidaknya, itulah yang terus Arina tanamkan dalam pikirannya. Kafe kecil yang cukup sepi akhirnya menjadi pilihan. Tempat itu tidak terlalu ramai. Hanya terdengar suara mesin kopi, denting sendok yang sesekali beradu dengan cangkir, serta alunan musik lembut dari pengeras suara di sudut ruangan. Arina duduk sendirian di dekat jendela. Di hadapannya terdapat secangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis. Dia mengangkat cangkir itu, menyeruput sedikit, lalu menghembuskannya perlahan. "Ya, benar..." gumam Arina. Dia meletakkan cangkir kembali. "Hubunganku dan dia hanya sebat







