分享

Bab 3

作者: Soda Pop
Setelah makan, Debora membawa surat perjanjian cerai itu ke pengadilan negeri untuk mengajukan perceraian.

"Akta cerai bisa diambil setelah masa tenang satu bulan selesai."

Begitu keluar dari pengadilan negeri, muncul sedikit rasa antusias yang sudah lama hilang di dalam hatinya.

Beberapa hari berikutnya, dia membuat janji dengan teman-temannya satu per satu, menganggap ini sebagai pertemuan terakhir sebelum pergi.

Sementara itu, Bravy sibuk menangani pekerjaan yang tertunda selama sebulan terakhir.

Mereka berdua pergi pagi pulang malam, jadi selama beberapa hari hampir tidak saling berbicara sama sekali.

Sampai seminggu kemudian, di perayaan 100 tahun SMA Ukara. Sebagai alumni terkenal, Bravy dan Debora tentu menerima undangan.

Begitu mobil berhenti di depan gerbang sekolah, Debora langsung melihat Amanda yang mengenakan gaun putih.

Bravy tampak tidak terkejut dengan kemunculan Amanda. Dia turun dari mobil dan langsung berjalan menghampirinya.

Dia mengernyit saat melihat bekas lebam kebiruan di lengan Amanda yang belum hilang sepenuhnya, lalu melepas jasnya dan menyampirkannya di tubuh Amanda.

Amanda sempat tertegun, lalu berpura-pura ingin melepas jas itu dan mengembalikannya. Matanya pun berkaca-kaca.

"Bravy, kamu sudah terlalu banyak bantu aku soal perceraianku. Aku nggak boleh terus repotin kamu."

Tanpa memberi kesempatan untuk menolak, Bravy menggenggam pergelangan tangannya. Nada suaranya dipenuhi kelembutan yang jarang terdengar. "Urusanmu nggak pernah menjadi beban bagiku."

Baru saja Debora berjalan mendekati mereka, dia sudah mendengar pengakuan penuh cinta dari Bravy itu. Langkah yang hendak dia ambil pun terhenti di tempat.

Tiba-tiba dia teringat dua tahun lalu, ketika dirinya mendadak terkena usus buntu akut dan harus menjalani operasi di rumah sakit sehingga butuh tanda tangan keluarga.

Sampai sekarang, dia masih ingat saat dirinya menahan sakit perut, lalu menelepon Bravy. Suara dingin bak es terdengar dari seberang telepon. "Kalau bukan urusan penting, jangan repotin aku."

Ternyata ketika benar-benar mencintai seseorang, bahkan bolak-balik naik pesawat dari satu kota ke kota lain selama sebulan penuh pun tidak terasa merepotkan.

Sedangkan tidak mencintai seseorang berarti bahkan saat hidup dan mati dipertaruhkan, orang itu tetap tidak akan peduli sedikit pun.

"Bora, jangan salah paham. Bravy cuma bantu aku nutupin memar ini karena hubungan pertemanan kami dulu."

Amanda yang melihat sosok Debora dari sudut matanya pun buru-buru keluar dari pelukan Bravy, lalu menatapnya dengan hati-hati.

Debora tersadar kembali, lalu tersenyum padanya. Di matanya hanya tersisa ketidakpedulian. "Nggak perlu dijelasin, aku ngerti semuanya."

Mengerti bahwa meskipun sudah menikah selama tiga tahun, di hati Bravy tetap hanya ada Amanda. Mengerti bahwa dirinya sebagai istri tidak akan pernah bisa memiliki posisi di dalam hati pria itu.

Bravy dan Amanda berjalan berdampingan di depan, sementara Debora mengikuti dari belakang dengan jarak yang tidak terlalu dekat ataupun terlalu jauh, mendengarkan Amanda mengenang masa muda mereka.

"Ah, danau buatan itu. Itu tempat pertama kali kita gandengan tangan, kamu masih ingat?"

"Itu lapangan basket. Waktu kelas dua SMA kamu menang pertandingan basket, lalu gendong aku dan putar-putar di depan banyak orang."

"Gedung sekolahnya masih sama seperti dulu. Setelah ujian masuk universitas, kita juga pernah foto bersama di sini. Nggak terasa sudah sepuluh tahun berlalu."

....

Tatapan Debora satu per satu menyapu pemandangan yang begitu familier dalam ingatannya. Sebenarnya di masa muda mereka juga ada dirinya, sosok yang tidak pernah diperhatikan.

Saat Bravy dan Amanda bergandengan tangan, dia berdiri di sisi lain danau buatan sambil menyimpan hadiah yang belum sempat diberikan ke tasnya.

Saat Bravy menggendong Amanda setelah memenangkan pertandingan basket, dia berdiri di luar kerumunan sambil menyembunyikan botol air yang sudah lama disiapkannya di belakang tubuh.

Saat Bravy dan Amanda berfoto bersama setelah ujian masuk universitas, dia memandangi sosok belakang mereka yang tampak begitu serasi, lalu berbalik meninggalkan sekolah.

Tak disangka, dia bukan hanya telah menyaksikan sendiri proses mereka saling jatuh cinta sepuluh tahun lalu, tetapi sekarang dia juga harus mendengarkan mereka mengenang masa lalu.

Bedanya, sepuluh tahun lalu hatinya dipenuhi rasa getir, sedangkan sekarang di dalam hatinya hanya ada ketenangan yang dingin.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 21

    Mendengar itu, rasa penyesalan di hati Jose semakin dalam. Kalau saja tadi dia bergerak sedikit lebih cepat, dia juga pasti akan ikut terjun tanpa ragu-ragu.Saat ini, Debora sendiri tidak tahu harus merasakan apa. Selama tiga tahun pernikahan, Bravy tidak pernah menghargainya.Namun setelah bercerai, pria itu justru rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkannya. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya meminta agar dikabari kalau Bravy sudah sadar nanti.Keesokan paginya, Bravy akhirnya siuman. Begitu mendapat kabar, Debora mengabaikan larangan Jose, langsung mencabut selang infusnya dan pergi ke ruang rawat Bravy.Saat melihatnya, mata Bravy langsung berbinar-binar. "Bora, syukurlah kamu nggak apa-apa. Uhuk, uhuk ...."Kondisinya jauh lebih parah dibandingkan Debora. Tubuhnya masih sangat lemah.Untuk sesaat, Debora menatapnya dengan ekspresi rumit. Lalu, dia berkata kepada Jose, "Jose, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya berdua saja."Kekecewaan di wajah Jose terlihat

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 20

    Begitu kata-kata itu terlontar, wajah Bravy langsung memucat. Dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti istrinya akan menyuruhnya pergi dan semua ini terjadi karena ulahnya sendiri.Bravy meninggalkan toko bunga dengan pikiran kosong. Setelah dia pergi, Debora akhirnya menghela napas lega."Jose, tadi terima kasih ya."Jose melambaikan tangan dengan santai. "Nggak apa-apa, cuma hal sepele."Setelah berkata begitu, dia berhenti sejenak, lalu berkata dengan ekspresi agak serius, "Kalau mantan suamimu datang ganggu lagi, langsung kasih tahu aku. Kamu perempuan dan harus menghadapi dia sendirian, aku takut kamu dalam bahaya."Setelah mereka semakin akrab, Jose memang pernah bertanya kenapa Debora datang ke kota kecil yang terpencil seperti ini.Debora sempat terdiam sesaat, tetapi akhirnya memilih untuk menceritakan pernikahannya yang gagal dengan Bravy.Hal-hal itu belum pernah dia ceritakan kepada siapa pun sebelumnya dan Jose adalah orang pertama yang mengetahuinya.Dia juga

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 19

    Bravy mencoba membantah, tetapi saat mencari-cari dalam ingatannya, dia tidak menemukan satu pun bukti untuk menyangkal perkataan Debora."Aku ... aku mencintaimu, Bora. Hanya saja aku sendiri nggak sadar ...."Mendengar kata "cinta", Debora menarik sudut bibirnya dengan penuh sindiran. "Kalau cinta, mana mungkin kamu bahkan nggak ingat hari ulang tahun pernikahan kita?""Kalau cinta, mana mungkin kamu nggak punya sedikit pun kepercayaan padaku?"Setiap pertanyaan itu seperti pisau tajam yang menusuk dada Bravy berulang kali hingga tubuhnya seolah-olah dipenuhi luka berdarah.Di saat itu, akhirnya dia menyadari betapa banyak kesalahan yang sudah dia lakukan. Ekspresi Bravy dipenuhi rasa sakit, sementara matanya bergolak oleh penyesalan yang belum pernah ada sebelumnya."Bora, aku benar-benar tahu aku salah. Meskipun sekarang kamu belum bisa maafin aku, bisa kamu kasih aku satu kesempatan? Aku bersedia nunggu, selama apa pun aku akan menunggu."Masih ada secercah harapan terakhir di mat

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 18

    Setelah mengetahui dari sekretarisnya bahwa Debora membeli tiket menuju Kota Gior, Bravy langsung menyuruh sekretaris membelikan tiket penerbangan tercepat ke sana.Hanya saja, dia lupa bahwa wilayah Kota Gior sangat luas. Hanya mengandalkan satu tiket pesawat saja tidak cukup untuk menentukan lokasi seseorang secara spesifik.Dia mencari selama hampir sepuluh hari di pusat Kota Gior, tetapi tetap tidak melihat sosok familier itu. Sementara itu, urusan perusahaan juga sudah menumpuk terlalu banyak dan benar-benar tidak bisa ditunda lagi.Tidak ada pilihan lain. Dia terpaksa kembali ke ibu kota untuk menangani urusan perusahaan, sambil meminta sekretarisnya menelusuri rekaman CCTV di sepanjang perjalanan guna menemukan keberadaan Debora di Kota Gior.Namun, kota kecil tempat Debora berada sekarang memang sangat terpencil. Butuh hampir 20 hari sampai akhirnya mereka menemukan wanita itu.Saat foto Debora yang sedang berada di toko bunga dikirim ke tangan Bravy, pria yang biasanya selalu

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 17

    Di saat yang sama, di sebuah toko bunga di daerah terpencil Kota Gior.Debora sedang membawa penyiram tanaman dan menyirami bunga-bunga segar yang baru datang hari ini.Cahaya matahari pertama di pagi hari menembus jendela kaca dan menerangi seluruh ruangan.Melihat toko bunga yang semuanya ditata sendiri oleh tangannya, sudut bibir Debora tanpa sadar terangkat membentuk senyum.Setelah menyerahkan surat perjanjian cerai ke pengadilan negeri, dia sudah memutuskan untuk datang ke Kota Gior.Kehidupan di sini terkenal lambat dan santai, cukup untuk membuat orang melupakan semua masalahnya.Sebenarnya sejak dua tahun lalu, dia sudah ingin datang berlibur ke Kota Gior. Namun, setiap kali dia membicarakannya dengan Bravy, pria itu selalu mengatakan perusahaan sedang sibuk dan tidak punya waktu.Saat itu, dia takut mengganggu pekerjaan Bravy, jadi tidak pernah membahasnya lagi. Keinginan itu pun terus tertunda.Namun, setelah Amanda kembali, Bravy justru bisa membatalkan semua jadwal hariann

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 16

    Tangan Bravy mengepal begitu erat hingga tulang-tulangnya berderak. Amarah besar pun membara di matanya saat dia menggertakkan gigi dan mengucapkan nama wanita itu. "Amanda ...!"Sejak pergi semalam, Bravy memang belum pulang, jadi Amanda mengobrol dengan sahabatnya di telepon tanpa menahan diri sedikit pun. Dia sama sekali tidak menyangka Bravy akan tiba-tiba pulang, bahkan mendengar semua perkataannya.Wajah Amanda langsung memucat. Dia buru-buru menutup telepon, panik bukan main. Namun, dia masih memegang secercah harapan terakhir. "Bravy, ka ... kapan kamu pulang?"Bravy hampir tidak bisa menahan amarahnya lagi. Seluruh tubuhnya memancarkan aura kelam dan menakutkan. "Aku dengar semua yang baru saja kamu katakan di telepon."Kalau perkataan ibunya semalam masih hanya dugaan, sekarang Amanda sendiri yang mengakui semuanya. Alerginya benar-benar hanya sandiwara untuk menjebak Debora.Namun, saat itu dirinya justru memercayai kebohongannya, salah paham pada Debora, bahkan menyuruhnya

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status