LOGIN
Langit Milan tidak sekadar hujan malam ini, langit sedang berdarah.
Air turun dalam tirai-tirai kelabu yang tebal, menghapus gemerlap lampu kota fashion itu menjadi lukisan abstrak yang luntur. Namun, bagi Vittoria Lombardi, badai di luar jendela mobilnya tidak ada artinya dibandingkan dengan kehancuran yang baru saja meluluhlantakkan dadanya. Ia mematikan mesin Maserati hitamnya di ujung gang sempit di distrik Navigli. Tempat ini jauh dari Via Montenapoleone. Di sini, udara berbau kanal keruh, sampah basah, dan keputusasaan. Tangan Vittoria gemetar saat ia mencengkeram kemudi, buku-buku jarinya memutih. Di jok penumpang, tergeletak sebuah amplop manila yang sudah terbuka. Foto-foto di dalamnya seolah mencemoohnya. Lorenzo, suaminya. Pria yang ia puja selama satu dekade, tertangkap kamera sedang menanamkan wajahnya di leher seorang gadis yang cukup muda untuk menjadi putrinya. Bukan perselingkuhan itu yang membunuhnya tapi senyum Lorenzo di foto itu. Senyum tulus yang sudah bertahun-tahun tidak Vittoria lihat. Ia tidak menangis. Air mata adalah kemewahan bagi mereka yang masih memiliki harapan. Vittoria hanya merasakan dingin yang absolut, sejenis mati rasa yang menuntut untuk diisi dengan api. Ia butuh kehancuran. Jika ia harus terbakar, ia akan menyeret dunia bersamanya. Matanya tertuju pada satu-satunya sumber cahaya di gang itu, sebuah bengkel tua dengan pintu bergulir yang setengah terbuka. Cahaya neon berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan. Sempurna. Vittoria keluar dari mobil. Hujan langsung menyerbu, membasahi gaun sutra merah crimson miliknya hingga menempel seperti kulit kedua. Ia tidak peduli. Ia berjalan membelah hujan, tumit stiletto-nya mengetuk aspal retak dengan ritme perang. Kemudian ia masuk ke bengkel itu seperti seorang ratu yang memasuki ruang eksekusi. Aroma oli, bensin, dan logam dingin menyengat hidungnya, bau maskulinitas yang kasar dan tidak disaring. Di sana, di bawah sorotan lampu gantung yang berayun pelan, ada seorang pria. Dia sedang berbaring di atas papan seluncur di bawah sasis sebuah mobil tua, hanya kakinya yang terlihat. Kaki yang panjang, dibalut celana jins belel yang penuh noda hitam. "Bengkel sudah tutup," suara itu menggema dari bawah mobil. Berat dan terdengar serak. Seperti suara mesin yang dipaksa hidup di pagi yang beku. "Aku tidak datang untuk memperbaiki mobil," jawab Vittoria. Suaranya tenang, namun tajam seperti pecahan kaca. Papan seluncur itu bergeser. Pria itu meluncur keluar. Vittoria menahan napas, meski ia berusaha menyembunyikannya. Pria itu bangkit berdiri dalam satu gerakan fluida yang menunjukkan kekuatan otot inti yang luar biasa. Dia tinggi, sangat tinggi dengan bahu lebar yang meregangkan kain kaus putih tipisnya yang kotor. Wajahnya tercoreng oli hitam di tulang pipi dan rahang, namun itu tidak bisa menyembunyikan struktur wajah yang mematikan. Rahang tegas, hidung mancung yang lurus, dan mata itu, demi Tuhan, matanya segelap oli yang menodai tangannya, namun tajam seperti mata elang yang baru saja melihat mangsa. Pria itu menyeka tangannya dengan kain lap yang tergantung di saku belakang, matanya memindai Vittoria dari ujung rambut yang basah hingga ujung kaki. Tatapan itu tidak sopan. Itu adalah tatapan seorang pria yang biasa melihat wanita telanjang, atau mungkin, biasa menelanjangi mereka dengan matanya. "Kamu basah kuyup, Signora," katanya datar. Tidak ada nada simpati. Hanya observasi fakta. "Siapa namamu?" tanya Vittoria, mengabaikan komentarnya. Pria itu melempar kain lap ke meja kerja. "Nico." "Hanya Nico?" "Untuk orang-orang yang datang tengah malam dengan gaun seharga lima ribu euro ke bengkel kumuh? Ya, hanya Nico." Dia bersandar pada meja kerja, menyilangkan lengan di dada. Otot bicep-nya menonjol, dihiasi tato samar yang tertutup debu bengkel. "Apa yang Anda inginkan? Obat-obatan? Senjata? Atau Anda tersesat dari pesta di pusat kota?" Vittoria melangkah maju, membiarkan genangan air kotor membasahi ujung sepatunya. Ia perlu merasa kotor. Ia perlu menodai kesempurnaan palsu yang selama ini ia jaga. "Aku dengar kamu punya tunggakan kuliah," kata Vittoria. Itu adalah tebakan liar, informasi sekilas yang ia dapat dari detektif pribadinya yang awalnya menyelidiki area ini untuk kasus lain. Montir muda, berbakat, tapi miskin. Sangat Klise. Rahang Nico mengetat sedikit. Gerakan mikro yang hampir tak terlihat, namun Vittoria menangkapnya. "Kena kau," batinnya. "Itu bukan urusan Anda," suaranya merendah, lebih berbahaya. Vittoria membuka tas tangannya yang basah, mengeluarkan buku cek dan pena. Dengan tangan gemetar karena adrenalin, bukan ketakutan, ia menulis serangkaian angka. Enam nol. Cukup untuk membayar biaya hidup seseorang selama lima tahun. Ia merobek kertas itu dan mengangkatnya di antara mereka. "Aku akan membayar lunas semuanya," kata Vittoria. "Hutangmu. Kuliahmu. Sewa tempat kumuh ini. Semuanya." Mata Nico turun ke kertas itu. Dia tidak langsung mengambilnya. Dia menatap angka itu, lalu menatap wajah Vittoria lagi. Ada kilatan aneh di matanya, bukan ketamakan, melainkan hiburan? Keingintahuan? "Dan apa yang harus saya jual untuk kertas itu?" tanya Nico pelan. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Vittoria bisa merasakan panas tubuhnya yang menguar. "Ginjal saya? Atau saya harus membunuh seseorang untuk Anda?" "Aku ingin kamu," bisik Vittoria. Jantungnya berpacu liar, memukul-mukul rusuknya. Ini gila. Ini menjijikkan dan ini adalah hal paling membebaskan yang pernah ia lakukan. "Malam ini. Hanya malam ini." Alis Nico terangkat sebelah. "Anda ingin membeli pelacur? Ada banyak di tikungan jalan sana." "Aku tidak ingin pelacur," desis Vittoria, nada dominasi mulai merembes dalam suaranya. Ia mencengkeram kerah kaus Nico yang kotor, menarik pria raksasa itu sedikit merunduk. "Aku ingin seseorang yang bisa aku kendalikan. Aku ingin boneka. Aku ingin kamu melakukan apa pun yang aku katakan, tanpa bertanya, tanpa membantah, dan tanpa perasaan." Vittoria menatap tajam ke dalam mata gelap itu. "Suamiku membuangku seperti sampah. Malam ini, aku ingin menjadi orang yang memegang kendali. Aku ingin memiliki sesuatu yang murni hanya karena aku membayarnya." Hening. Suara hujan mengisi kekosongan di antara mereka. Nico menatapnya lama, tatapan yang seolah menembus kulit, daging, dan langsung melihat ke dalam jiwanya yang busuk. Lalu, perlahan, senyum miring muncul di wajah pria itu. Senyum yang tampak polos, namun membuat bulu kuduk Vittoria meremang tanpa alasan yang jelas. "Boneka, ya?" Nico bergumam, seolah mencicipi kata itu di lidahnya. Tangannya yang besar dan kasar bergerak naik, mengambil cek itu dari sela jari Vittoria. Sentuhan kulitnya kasar, kapalan, dan panas. "Saya butuh uang itu," kata Nico, suaranya berubah menjadi nada pasrah yang meyakinkan. "Sangat butuh." "Jadi kita sepakat?" "Apa aturannya?" "Kamu milikku," tegas Vittoria. "Kamu diam dan kamu harus patuh. Kamu lakukan apa pun yang aku perintahkan dan besok pagi, kita tidak pernah bertemu lagi." Nico menunduk, menyembunyikan matanya. Bahunya turun, seolah beban kemiskinan akhirnya menekannya untuk menyerah. "Baik, Signora. Saya milik Anda malam ini." Kemenangan meledak di dada Vittoria. Rasa sakit akibat pengkhianatan Lorenzo sedikit tumpul, digantikan oleh euforia kekuasaan yang memabukkan. Ia telah membeli manusia. Ia telah mereduksi pria maskulin dan kuat ini menjadi objek. "Masuk ke mobil," perintah Vittoria, berbalik dan berjalan keluar tanpa menunggu. Di belakangnya, Nico atau pria yang dunia kenal sebagai Domenico Cavaliere, tetap diam sejenak. Saat punggung Vittoria menjauh, postur tubuh "Nico" berubah total. Bahu yang tadinya turun kini tegap. Ekspresi bingung dan pasrah di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh seringai dingin yang mengerikan. Domenico menatap cek di tangannya. Lima puluh ribu euro. Bagi orang biasa, ini adalah keberuntungan. Baginya? Ini bahkan tidak cukup untuk membayar tagihan champagne di pesta akhir pekannya. Ia meremas kertas itu hingga kusut, lalu memasukkannya ke saku dengan sembarangan. Sudah berbulan-bulan ia bersembunyi di lubang tikus ini, menjalankan hukuman kakeknya untuk "belajar nilai uang dan kerja keras" sebelum ia resmi mengambil alih takhta kerajaan bisnis Cavaliere. Ia bosan setengah mati. Ia merindukan permainan kekuasaan. Ia merindukan sensasi memburu dan tiba-tiba, seekor domba betina yang terluka datang berjalan sendiri ke dalam kandang serigala, melemparkan uang, dan menuntut untuk menjadi "pemegang kendali". Vittoria Lombardi. Istri dari Lorenzo, pria yang perusahaannya baru saja Domenico hancurkan sahamnya minggu lalu lewat manipulasi pasar gelap. Ironi ini terlalu manis untuk diabaikan. Domenico mengambil jaket kulit usangnya, menyembunyikan tubuh predatornya di balik lapisan kain kumuh. Ia melangkah keluar menuju hujan, matanya terkunci pada sosok wanita yang menunggunya di dalam mobil mewah itu. Wanita itu berpikir dia baru saja membeli mainan untuk pelariannya. Oh, cara mia, batin Domenico, lidahnya menyapu bibir bawahnya. Kamu tidak membeli budak. Kamu baru saja menandatangani kontrak kepemilikanmu sendiri. Ia membuka pintu mobil dan masuk, membawa aroma hujan dan bahaya ke dalam ruang steril Vittoria. "Jalan," kata Vittoria tanpa menoleh, tangannya mencengkeram setir. Domenico menyandarkan kepalanya, menatap profil samping Vittoria yang tegang dan cantik. Ia membiarkan topeng "Nico si montir miskin" kembali terpasang sempurna. "Ke mana saja Anda mau, Signora," jawabnya lembut. Saat mesin menderu dan mobil meluncur membelah malam Milan, Domenico tersenyum dalam kegelapan. Vittoria ingin bermain peran sebagai dominatriks malam ini? Baik. Ia akan membiarkan wanita itu merasa menang. Ia akan membiarkannya merasa berkuasa. Karena tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat harapan di mata seseorang sesaat sebelum kamu menghancurkannya dan membuat mereka berlutut, memohon ampun padamu. Malam ini baru permulaan dan Domenico tidak berniat melepaskan mainan barunya besok pagi.Pagi di Villa Lombardi selalu terasa seperti adegan dari film klasik yang diputar berulang-ulang, indah secara visual, namun membosankan hingga ke tulang.Vittoria duduk di ujung meja makan panjang berbahan kayu mahogany, mengaduk cangkir espresonya tanpa minat. Di ujung meja yang lain, berjarak setidaknya tiga meter darinya, Lorenzo sedang sibuk menggeser layar tabletnya sambil memarahi seseorang di telepon."Aku tidak peduli alasan apa yang dia berikan, pecat dia! Bagaimana bisa kepala keamanan membiarkan hal konyol seperti ini terjadi?" teriak Lorenzo, urat di lehernya menonjol. Ia membanting tabletnya ke atas meja, membuat piring porselen di dekatnya bergetar.Vittoria menyesap kopinya perlahan. Ia masih lelah setelah kejadian di Gala Cavaliere dua malam lalu. Punggungnya masih kaku, dan pikirannya terus mengulang momen di taman gelap itu.Momen saat tangan kasar seorang pria memakaikan sepatu ke kakinya dengan kelembutan yang mematikan."Ada apa?" tanya Vittoria datar, sekadar me
Pesta di Villa Necchi masih berdenyut di bawah sana, sebuah organisme raksasa yang memakan uang dan memuntahkan tawa palsu. Namun, di balkon lantai dua yang tersembunyi di balik bayang-bayang pilar batu, suasananya sedingin makam.Alessandro Cavaliere, patriark dari dinasti perbankan yang menguasai separuh Italia, berdiri tegak meski usianya sudah menginjak delapan puluh tahun. Tangannya bertumpu pada tongkat jalan berkepala perak, matanya yang tajam, mata yang sama yang diwariskan kepada cucunya, ia menatap lurus ke kegelapan taman di bawah.Ke tempat di mana, beberapa menit lalu, cucu tunggalnya berlutut di depan seorang wanita.Pintu kaca di belakangnya bergeser terbuka. Langkah kaki berat mendekat.Alessandro tidak menoleh. "Kamu terlihat menyedihkan dengan jas murahan itu, Domenico."Domenico, yang bagi dunia luar saat ini adalah Nico, berjalan mendekat ke pagar balkon. Ia mengeluarkan kotak rokok dari saku jasnya yang longgar, mengambil satu batang, dan menyalakannya. Cahaya api
Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan ke arah langit malam. Matanya yang gelap menatap Vittoria dengan kilatan geli."Mencari tempat tenang untuk merokok," jawabnya santai. "Bosku ada di dalam. Sedang mabuk dan menjilat pantat orang-orang kaya lainnya. Dia bilang aku boleh istirahat sebentar asal tidak jauh-jauh dari mobil.""Kamu sopir?" Vittoria menatapnya tidak percaya.Nico mengangkat bahu. "Montir di siang hari, sopir panggilan di malam hari. Hidup di Milan tidak murah, Signora. Apalagi kalau kamu punya tunggakan kuliah, ingat?"Kebohongan itu meluncur mulus dari lidah Domenico. Tentu saja dia bukan sopir. Jas murah ini ia pinjam dari salah satu pengawal pribadiny
Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian yang melingkar di leher para wanita dan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangan para pria.Acara Gala Cavaliere.Vittoria melangkah masuk, lengannya terpaut kaku pada lengan Lorenzo. Ia mengenakan gaun strapless berwarna perak metalik yang menyapu lantai, memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan presisi yang menyakitkan. Kain itu terasa dingin di kulitnya, seperti baju zirah yang ia kenakan untuk menutupi retakan di jiwanya."Tersenyumlah," bisik Lorenzo di telinganya. Cengkeramannya di lengan Vittoria sedikit mengerat, posesif namun kosong. "Keluarga Cavaliere jarang membuka pintu untuk umum. Kita harus memberikan kesan terbaik."Vittoria memaksakan sudut bibirnya naik. Senyum itu tera
Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“Vittoria, angkat teleponnya!”“Aku menelepon polisi jika kamu tidak menjawab dalam sepuluh menit.”“Apa kamu gila? Menghilang tanpa kabar?”Vittoria membaca pesan-pesan itu dengan tatapan kosong saat Maserati-nya meluncur pelan memasuki gerbang besi tempa Villa Lombardi. Rumah itu, menjulang megah di kawasan San Siro, dikelilingi taman yang dipangkas sempurna dan patung-patung marmer yang dingin.Dulu, Vittoria melihat tempat ini sebagai pencapaian. Simbol bahwa ia telah berhasil menjadi pendamping yang sempurna bagi salah satu pria paling berkuasa di Milan.Sekarang, tempat ini terlihat seperti makam.Vittoria memarkir mobilnya. Sebelum keluar, ia melirik pantulan dirinya di kaca spion. Ria
Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan rasa nyeri yang sangat spesifik di antara kedua pahanya.Ingatan malam itu membanjiri benaknya seperti air bah.Bengkel kumuh, gujan, cek lima puluh ribu euro, dan Nico. Mata Vittoria terbuka lebar. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.Di sebelahnya, di atas seprai sutra Mesir seharga ribuan euro yang kini kusut masai, seorang pria asing sedang tidur telungkup. Punggungnya yang lebar, dihiasi otot-otot yang terbentuk sempurna dan beberapa bekas luka samar, naik-turun dengan irama yang tenang.Wajah Vittoria memanas. Rasa malu yang begitu pekat merayap naik dari perut hingga ke lehernya.Apa yang telah ia lakukan? Ia, Vittoria Lombardi, nyonya dari salah satu dinasti tekstil terhormat, baru







