Beranda / Mafia / Sweet Decepticon / Bab 1 Saya Milik Anda Malam Ini

Share

Sweet Decepticon
Sweet Decepticon
Penulis: Silentia

Bab 1 Saya Milik Anda Malam Ini

Penulis: Silentia
last update Tanggal publikasi: 2026-02-13 13:17:56

Langit Milan tidak sekadar hujan malam ini, langit sedang berdarah.

Air turun dalam tirai-tirai kelabu yang tebal, menghapus gemerlap lampu kota fashion itu menjadi lukisan abstrak yang luntur. Namun, bagi Vittoria Lombardi, badai di luar jendela mobilnya tidak ada artinya dibandingkan dengan kehancuran yang baru saja meluluhlantakkan dadanya.

Ia mematikan mesin Maserati hitamnya di ujung gang sempit di distrik Navigli. Tempat ini jauh dari Via Montenapoleone. Di sini, udara berbau kanal keruh, sampah basah, dan keputusasaan.

Tangan Vittoria gemetar saat ia mencengkeram kemudi, buku-buku jarinya memutih. Di jok penumpang, tergeletak sebuah amplop manila yang sudah terbuka. Foto-foto di dalamnya seolah mencemoohnya. Lorenzo, suaminya. Pria yang ia puja selama satu dekade, tertangkap kamera sedang menanamkan wajahnya di leher seorang gadis yang cukup muda untuk menjadi putrinya.

Bukan perselingkuhan itu yang membunuhnya tapi senyum Lorenzo di foto itu. Senyum tulus yang sudah bertahun-tahun tidak Vittoria lihat.

Ia tidak menangis. Air mata adalah kemewahan bagi mereka yang masih memiliki harapan. Vittoria hanya merasakan dingin yang absolut, sejenis mati rasa yang menuntut untuk diisi dengan api. Ia butuh kehancuran. Jika ia harus terbakar, ia akan menyeret dunia bersamanya.

Matanya tertuju pada satu-satunya sumber cahaya di gang itu, sebuah bengkel tua dengan pintu bergulir yang setengah terbuka. Cahaya neon berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan.

Sempurna.

Vittoria keluar dari mobil. Hujan langsung menyerbu, membasahi gaun sutra merah crimson miliknya hingga menempel seperti kulit kedua. Ia tidak peduli. Ia berjalan membelah hujan, tumit stiletto-nya mengetuk aspal retak dengan ritme perang. Kemudian ia masuk ke bengkel itu seperti seorang ratu yang memasuki ruang eksekusi.

Aroma oli, bensin, dan logam dingin menyengat hidungnya, bau maskulinitas yang kasar dan tidak disaring.

Di sana, di bawah sorotan lampu gantung yang berayun pelan, ada seorang pria.

Dia sedang berbaring di atas papan seluncur di bawah sasis sebuah mobil tua, hanya kakinya yang terlihat. Kaki yang panjang, dibalut celana jins belel yang penuh noda hitam.

"Bengkel sudah tutup," suara itu menggema dari bawah mobil. Berat dan terdengar serak. Seperti suara mesin yang dipaksa hidup di pagi yang beku.

"Aku tidak datang untuk memperbaiki mobil," jawab Vittoria. Suaranya tenang, namun tajam seperti pecahan kaca.

Papan seluncur itu bergeser. Pria itu meluncur keluar.

Vittoria menahan napas, meski ia berusaha menyembunyikannya.

Pria itu bangkit berdiri dalam satu gerakan fluida yang menunjukkan kekuatan otot inti yang luar biasa. Dia tinggi, sangat tinggi dengan bahu lebar yang meregangkan kain kaus putih tipisnya yang kotor. Wajahnya tercoreng oli hitam di tulang pipi dan rahang, namun itu tidak bisa menyembunyikan struktur wajah yang mematikan.

Rahang tegas, hidung mancung yang lurus, dan mata itu, demi Tuhan, matanya segelap oli yang menodai tangannya, namun tajam seperti mata elang yang baru saja melihat mangsa.

Pria itu menyeka tangannya dengan kain lap yang tergantung di saku belakang, matanya memindai Vittoria dari ujung rambut yang basah hingga ujung kaki. Tatapan itu tidak sopan. Itu adalah tatapan seorang pria yang biasa melihat wanita telanjang, atau mungkin, biasa menelanjangi mereka dengan matanya.

"Kamu basah kuyup, Signora," katanya datar. Tidak ada nada simpati. Hanya observasi fakta.

"Siapa namamu?" tanya Vittoria, mengabaikan komentarnya.

Pria itu melempar kain lap ke meja kerja. "Nico."

"Hanya Nico?"

"Untuk orang-orang yang datang tengah malam dengan gaun seharga lima ribu euro ke bengkel kumuh? Ya, hanya Nico." Dia bersandar pada meja kerja, menyilangkan lengan di dada. Otot bicep-nya menonjol, dihiasi tato samar yang tertutup debu bengkel. "Apa yang Anda inginkan? Obat-obatan? Senjata? Atau Anda tersesat dari pesta di pusat kota?"

Vittoria melangkah maju, membiarkan genangan air kotor membasahi ujung sepatunya. Ia perlu merasa kotor. Ia perlu menodai kesempurnaan palsu yang selama ini ia jaga.

"Aku dengar kamu punya tunggakan kuliah," kata Vittoria. Itu adalah tebakan liar, informasi sekilas yang ia dapat dari detektif pribadinya yang awalnya menyelidiki area ini untuk kasus lain. Montir muda, berbakat, tapi miskin. Sangat Klise.

Rahang Nico mengetat sedikit. Gerakan mikro yang hampir tak terlihat, namun Vittoria menangkapnya. "Kena kau," batinnya.

"Itu bukan urusan Anda," suaranya merendah, lebih berbahaya.

Vittoria membuka tas tangannya yang basah, mengeluarkan buku cek dan pena. Dengan tangan gemetar karena adrenalin, bukan ketakutan, ia menulis serangkaian angka. Enam nol. Cukup untuk membayar biaya hidup seseorang selama lima tahun.

Ia merobek kertas itu dan mengangkatnya di antara mereka.

"Aku akan membayar lunas semuanya," kata Vittoria. "Hutangmu. Kuliahmu. Sewa tempat kumuh ini. Semuanya."

Mata Nico turun ke kertas itu. Dia tidak langsung mengambilnya. Dia menatap angka itu, lalu menatap wajah Vittoria lagi. Ada kilatan aneh di matanya, bukan ketamakan, melainkan hiburan? Keingintahuan?

"Dan apa yang harus saya jual untuk kertas itu?" tanya Nico pelan. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Vittoria bisa merasakan panas tubuhnya yang menguar. "Ginjal saya? Atau saya harus membunuh seseorang untuk Anda?"

"Aku ingin kamu," bisik Vittoria. Jantungnya berpacu liar, memukul-mukul rusuknya. Ini gila. Ini menjijikkan dan ini adalah hal paling membebaskan yang pernah ia lakukan. "Malam ini. Hanya malam ini."

Alis Nico terangkat sebelah. "Anda ingin membeli pelacur? Ada banyak di tikungan jalan sana."

"Aku tidak ingin pelacur," desis Vittoria, nada dominasi mulai merembes dalam suaranya. Ia mencengkeram kerah kaus Nico yang kotor, menarik pria raksasa itu sedikit merunduk. "Aku ingin seseorang yang bisa aku kendalikan. Aku ingin boneka. Aku ingin kamu melakukan apa pun yang aku katakan, tanpa bertanya, tanpa membantah, dan tanpa perasaan."

Vittoria menatap tajam ke dalam mata gelap itu. "Suamiku membuangku seperti sampah. Malam ini, aku ingin menjadi orang yang memegang kendali. Aku ingin memiliki sesuatu yang murni hanya karena aku membayarnya."

Hening.

Suara hujan mengisi kekosongan di antara mereka. Nico menatapnya lama, tatapan yang seolah menembus kulit, daging, dan langsung melihat ke dalam jiwanya yang busuk.

Lalu, perlahan, senyum miring muncul di wajah pria itu. Senyum yang tampak polos, namun membuat bulu kuduk Vittoria meremang tanpa alasan yang jelas.

"Boneka, ya?" Nico bergumam, seolah mencicipi kata itu di lidahnya. Tangannya yang besar dan kasar bergerak naik, mengambil cek itu dari sela jari Vittoria. Sentuhan kulitnya kasar, kapalan, dan panas.

"Saya butuh uang itu," kata Nico, suaranya berubah menjadi nada pasrah yang meyakinkan. "Sangat butuh."

"Jadi kita sepakat?"

"Apa aturannya?"

"Kamu milikku," tegas Vittoria. "Kamu diam dan kamu harus patuh. Kamu lakukan apa pun yang aku perintahkan dan besok pagi, kita tidak pernah bertemu lagi."

Nico menunduk, menyembunyikan matanya. Bahunya turun, seolah beban kemiskinan akhirnya menekannya untuk menyerah. "Baik, Signora. Saya milik Anda malam ini."

Kemenangan meledak di dada Vittoria. Rasa sakit akibat pengkhianatan Lorenzo sedikit tumpul, digantikan oleh euforia kekuasaan yang memabukkan. Ia telah membeli manusia. Ia telah mereduksi pria maskulin dan kuat ini menjadi objek.

"Masuk ke mobil," perintah Vittoria, berbalik dan berjalan keluar tanpa menunggu.

Di belakangnya, Nico atau pria yang dunia kenal sebagai Domenico Cavaliere, tetap diam sejenak.

Saat punggung Vittoria menjauh, postur tubuh "Nico" berubah total. Bahu yang tadinya turun kini tegap. Ekspresi bingung dan pasrah di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh seringai dingin yang mengerikan.

Domenico menatap cek di tangannya. Lima puluh ribu euro. Bagi orang biasa, ini adalah keberuntungan. Baginya? Ini bahkan tidak cukup untuk membayar tagihan champagne di pesta akhir pekannya.

Ia meremas kertas itu hingga kusut, lalu memasukkannya ke saku dengan sembarangan.

Sudah berbulan-bulan ia bersembunyi di lubang tikus ini, menjalankan hukuman kakeknya untuk "belajar nilai uang dan kerja keras" sebelum ia resmi mengambil alih takhta kerajaan bisnis Cavaliere. Ia bosan setengah mati. Ia merindukan permainan kekuasaan. Ia merindukan sensasi memburu dan tiba-tiba, seekor domba betina yang terluka datang berjalan sendiri ke dalam kandang serigala, melemparkan uang, dan menuntut untuk menjadi "pemegang kendali".

Vittoria Lombardi. Istri dari Lorenzo, pria yang perusahaannya baru saja Domenico hancurkan sahamnya minggu lalu lewat manipulasi pasar gelap. Ironi ini terlalu manis untuk diabaikan.

Domenico mengambil jaket kulit usangnya, menyembunyikan tubuh predatornya di balik lapisan kain kumuh. Ia melangkah keluar menuju hujan, matanya terkunci pada sosok wanita yang menunggunya di dalam mobil mewah itu.

Wanita itu berpikir dia baru saja membeli mainan untuk pelariannya.

Oh, cara mia, batin Domenico, lidahnya menyapu bibir bawahnya. Kamu tidak membeli budak. Kamu baru saja menandatangani kontrak kepemilikanmu sendiri.

Ia membuka pintu mobil dan masuk, membawa aroma hujan dan bahaya ke dalam ruang steril Vittoria.

"Jalan," kata Vittoria tanpa menoleh, tangannya mencengkeram setir.

Domenico menyandarkan kepalanya, menatap profil samping Vittoria yang tegang dan cantik. Ia membiarkan topeng "Nico si montir miskin" kembali terpasang sempurna.

"Ke mana saja Anda mau, Signora," jawabnya lembut.

Saat mesin menderu dan mobil meluncur membelah malam Milan, Domenico tersenyum dalam kegelapan. Vittoria ingin bermain peran sebagai dominatriks malam ini? Baik. Ia akan membiarkan wanita itu merasa menang. Ia akan membiarkannya merasa berkuasa.

Karena tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat harapan di mata seseorang sesaat sebelum kamu menghancurkannya dan membuat mereka berlutut, memohon ampun padamu.

Malam ini baru permulaan dan Domenico tidak berniat melepaskan mainan barunya besok pagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sweet Decepticon   Bab 31 Aku Ingin Membakarnya dari Dalam

    Malam merayap makin pekat di atas kota Milan. Kemenangan mutlak atas Marco Rossi di gerbang pabrik Monza tidak serta-merta membawa ketenangan. Di dalam kabin kedap udara mobil mewah yang meluncur membelah jalanan basah menuju kawasan elit Brera, atmosfer justru terasa kian mencekam.Vittoria menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, matanya menatap pendar lampu-lampu jalanan yang membias di kaca mobil. Sarung tangan kulit hitamnya masih menempel kaku di pangkuannya."Don Alessandro tidak akan membiarkan kekalahan Rossi berlalu begitu saja," ujar Vittoria, memecah keheningan. Suaranya tenang, namun sarat akan kalkulasi yang tajam. "Rossi adalah sekutu rahasia kakekmu untuk menekan konsorsium utara. Begitu Antonio Rossi tahu dia ditipu oleh berkas kosong, dia akan menagih ganti rugi pada kakekmu."Domenico yang duduk di sebelahnya tidak memalingkan wajah dari layar tablet di tangannya. Jemari panjangnya menari di atas layar, memindai laporan transaksi pasar gelap yang baru saja diki

  • Sweet Decepticon   Bab 30 Jaga Mulutmu, Nyonya Cavaliere

    Awan hitam menggelantung rendah di atas kawasan industri Monza, membentangkan kabut tipis di sepanjang gerbang utama kompleks pabrik Conti Logistics. Kompleks bernilai puluhan juta euro itu adalah jantung distribusi bahan baku utara Italia, aset paling berharga yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali Vittoria dan Domenico.Di luar pagar besi raksasa yang terkunci rapat, lima mobil SUV hitam berlogo keluarga Rossi terparkir melintang, memblokir jalan akses utama.Belasan pria bertubuh kekar dengan mantel kulit gelap dan senjata api terselip di balik jas berdiri mengepung gerbang. Di barisan paling depan, berdiri Marco Rossi, putra mahkota keluarga Rossi yang terkenal sadis, memegang cetakan salinan dokumen jalur distribusi Conti yang baru saja ia rebut dari Lorenzo."Buka gerbangnya!" teriak Marco dengan nada angkuh, menghentakkan kakinya ke tanah. "Atas nama konfrontasi klaim keluarga Rossi, pabrik dan seluruh jalur distribusi ini resmi disita sebagai jaminan utang Lombardi Group

  • Sweet Decepticon   Bab 29 Domenico adalah Iblis

    Aroma antiseptik dan cairan pembersih yang menyengat memenuhi lorong sempit rumah sakit umum di pinggiran kota Milan. Tempat ini kumuh dan remang-remang, sangat kontras dengan kemewahan penthouse milik Domenico atau ruang rapat Cavaliere Holdings.Domenico melangkah membelah lorong dengan mantel hitamnya, diikuti oleh Vittoria yang mengenakan gaun merah darah. Dua pengawal pribadi mereka berjalan sigap di depan, melumpuhkan dua pria berpakaian jaket kulit, orang-orang Rossi yang ditugaskan mengawasi kamar Lorenzo agar pria itu tidak melarikan diri tanpa menimbulkan kegaduhan.Enzo mendorong pintu kamar nomor 104 hingga terbuka lebar.Di atas tempat tidur besi kusam, terbaring Lorenzo Lombardi. Tubuhnya dalam kondisi mengenaskan, wajahnya lebam kebiruan, hidungnya dipasangi penyangga, salah satu kakinya digantung gips, dan dadanya terbungkus perban ketat akibat patah tulang iga.Lorenzo meringis saat mendengar pintu terbuka. Matanya yang bengkak melebar kengerian ketika melihat dua sos

  • Sweet Decepticon   Bab 28 Saksi Bisu dari Pergumulan Panas

    Cahaya siang menerobos masuk dari dinding kaca raksasa lantai lima puluh, membiaskan pendar kemewahan di atas meja kayu mahoni yang kini berantakan. Berkas-berkas saham yang tadi pagi dibahas oleh belasan anggota dewan berserakan di atas karpet tebal, menjadi saksi bisu dari pergumulan panas dan dominasi yang baru saja usai.Vittoria menyandarkan dadanya yang masih naik-turun pada dada bidang Domenico. Keduanya masih berada di atas meja rapat raksasa itu. Kemeja hitam Domenico terbuka lebar, memperlihatkan otot dadanya yang berkeringat tipis. Tangan besar pria itu melingkar erat di pinggang telanjang Vittoria, enggan memberi jarak meski ketegangan telah mengendur."Kamu ber berani sekali, Nyonya Cavaliere," bisik Domenico, jemarinya mengusap lembut garis punggung mulus Vittoria yang terekspos di balik gaun merahnya yang setengah terbuka. Suaranya serak, sarat akan kepuasan murni. "Membiarkan suamimu mengambilmu di atas meja dewan direksi."Vittoria membuka matanya perlahan. Ia tidak m

  • Sweet Decepticon   Bab 27 Menyalakan Api Gairah

    Pintu ganda ruang rapat lantai lima puluh terkunci rapat dari dalam dengan dentang berat. Suara histeris Marcello yang diseret di koridor luar perlahan lenyap, digantikan oleh keheningan yang begitu pekat dan sarat akan ketegangan.Di dalam ruangan megah itu, sisa-sisa aroma konspirasi dan parfum mahal para anggota dewan masih menggantung di udara.Domenico tidak beranjak dari posisinya yang berlutut di hadapan Vittoria. Jemari besarnya yang kuat masih mencengkeram jemari kiri Vittoria, menahan wanita itu di atas kursi kulit kebesarannya. Matanya yang gelap, yang baru saja membantai karier politik pamannya tanpa berkedip, kini terkunci lurus pada bibir merah darah milik istrinya."Kamu melihat cara mereka menatapmu tadi, mia regina?" bisik Domenico, suaranya turun menjadi nada rendah yang menggetarkan dada. "Mereka ketakutan. Pria-pria tua yang menguasai bursa saham Milan gemetar di depan seorang wanita bergaun merah."Vittoria menunduk, menatap pria yang mengurung kakinya di antara k

  • Sweet Decepticon   Bab 26 Kamu Melatih Serigala yang Sangat Tajam

    Wajah Marcello berubah dari pucat menjadi merah padam, lalu hijau kelabu. Napasnya memburu, matanya membelalak tak percaya menatap lembaran dokumen bernoda segel hukum resmi yang dibeberkan Vittoria di atas meja mahoni."Ini penipuan! Ini konspirasi kotor!" raung Marcello, menepuk meja dengan kedua telapak tangannya hingga cangkir-cangkir porselen di hadapan para anggota dewan berdenting kencang. "Bagaimana bisa wanita ini, bekas istri bajingan Lombardi, memegang sepuluh persen saham mengambang Konsorsium Utara?! Itu tidak sah!""Jaga lidahmu, Marcello," suara Domenico meluncur pelan, namun getaran dingin di dalamnya membuat dua anggota dewan tertua di sebelah kiri refleks menarik kursi mereka ke belakang.Domenico melangkah melintasi karpet tebal, berdiri tepat di belakang kursi Vittoria. Kedua tangannya yang kokoh hinggap di sandaran kursi istrinya, memagari Vittoria dengan aura dominasi mutlak yang tak tergoyahkan."Dokumen itu disahkan oleh Notaris Negara dan Bank Sentral Milan te

  • Sweet Decepticon   Bab 6 Kamu Menutupi Karyaku

    Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me

  • Sweet Decepticon   Bab 5 Villa Necchi Campiglio

    Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian

  • Sweet Decepticon   Bab 4 Aku Suamimu

    Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“

  • Sweet Decepticon   Bab 3 Kamu mengusirku, Signora?

    Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status