Beranda / Mafia / Sweet Decepticon / Bab 2 Saya Sedikit Terbawa Suasana

Share

Bab 2 Saya Sedikit Terbawa Suasana

Penulis: Silentia
last update Tanggal publikasi: 2026-02-13 13:38:53

Penthouse di Porta Nuova itu hening, dingin, dan berbau kemewahan, sangat berbanding terbalik dari bengkel kumuh tempat Vittoria memungut "peliharaan" barunya. Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan cakrawala Milan yang basah, namun Vittoria tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan.

Ia berdiri di tengah ruang tamu, menuang wiski ke dalam gelas kristal dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang menuntut pelepasan. Amarah di dalam dadanya bukan lagi api kecil. Semua itu adalah inferno yang siap melalap apa saja.

Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menguar keluar, membawa aroma sabun sandalwood mahal miliknya yang kini bercampur dengan aroma tubuh pria asing.

Vittoria berbalik, dan napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat Nico keluar hanya dengan handuk putih yang melilit pinggangnya. Jika di bengkel dia terlihat menarik, di sini, di bawah pencahayaan lampu temaram penthouse, dia adalah sebuah mahakarya maskulinitas yang berbahaya.

Tanpa noda oli dan pakaian kotor, tubuhnya terekspos dengan kejujuran yang brutal. Otot-ototnya padat, dibentuk bukan oleh gym mewah, melainkan oleh kerja keras yang nyata. Tetesan air mengalir dari rambut hitamnya yang basah, menelusuri leher yang kokoh, dada bidang yang dihiasi beberapa bekas luka samar, hingga menghilang di balik batas handuk di perutnya yang kencang. Dia bukan bocah. Dia adalah senjata yang mungkin akan membuatnya tenggelam.

Nico berhenti melangkah, matanya yang gelap menyapu ruangan sebelum terkunci pada Vittoria. Tidak ada kecanggungaan. Tidak ada rasa malu seorang miskin yang masuk ke istana ratu. Dia berdiri di sana dengan ketenangan yang mengganggu.

"Minum," perintah Vittoria sambil menyodorkan gelas wiski. Ia butuh mematahkan ketenangan pria itu. Ia butuh melihat kepatuhan peliharaanya.

Nico mendekat. Langkah kakinya tanpa suara di atas lantai marmer. Dia mengambil gelas itu, jemarinya menyentuh kulit Vittoria sekilas.

Vittoria merasa kulit Nico panas, kasar, dan mengejutkan. Dia menenggak cairan ambar itu dalam sekali teguk, tanpa meringis sedikit pun, seolah dia terbiasa meminum racun yang lebih keras dari ini.

"Sekarang apa, Signora?" suaranya rendah, serak sisa alkohol yang membakar tenggorokan. "Anda sudah membersihkan saya. Apakah saya sudah cukup pantas untuk seprai sutra Anda?"

Ada nada ironi di sana, tapi Vittoria memilih mengabaikannya. Ia meletakkan gelas kosong itu dengan bunyi klak keras di atas meja.

"Jangan banyak bicara," desis Vittoria. Ia maju selangkah, menipiskan jarak. "Aku tidak membayarmu untuk bicara. Aku membayarmu untuk membuatku lupa."

Vittoria mencengkeram bahu Nico, kuku-kukunya yang tajam menancap ke kulit pria itu, mencari pelampiasan. "Hapus dia," bisiknya parau, matanya berkaca-kaca oleh amarah. "Hapus sentuhan suamiku. Hapus ingatanku. Gantikan semuanya dengan rasa sakit, atau rasa nikmat, aku tidak peduli. Hancurkan aku jika perlu."

Itu adalah undangan untuk perang, bukan percintaan.

Nico menatap Vittoria sejenak, tatapan yang tak terbaca, sebelum tangan besarnya bergerak. Bukan dengan keraguan, tapi dengan kepastian yang menakutkan. Ia meraih pinggang Vittoria, menariknya hingga tubuh mereka bertabrakan dengan keras.

"Sesuai keinginanmu," gumam Nico di telinganya.

Ciuman itu bukan permintaan izin. Itu adalah penaklukan. Bibir Nico melumat bibir Vittoria dengan lapar, kasar, dan menuntut. Tidak ada kelembutan yang biasa diberikan Lorenzo. Ini adalah ciuman seseorang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan.

Lidahnya menerobos masuk, mengklaim mulut Vittoria, memaksanya mendongak, memaksanya menerima dominasi yang mentah.

Vittoria mengerang, bukan protes, tapi penerimaan. Ini yang ia butuhkan selama ini. Sedikit kasar dan menantang.

Ia mendorong Nico mundur hingga pria itu menabrak sofa kulit besar di tengah ruangan. Vittoria ingin memegang kendali. Ia ingin menjadi orang yang mengambil kepuasan sendiri. Ia mendorong Nico duduk, lalu tanpa ragu, ia naik ke pangkuan pria itu, mendudukinya dengan gaun merah yang tersingkap hingga paha.

"Lihat aku," perintah Vittoria, napasnya memburu. Tangannya menangkup wajah Nico, memaksa pria itu menatap matanya. "Kamu milikku malam ini. Ingat itu."

Nico menyeringai tipis, seringai iblis yang terhibur muncul secara samar. "Aku melihatmu, Vittoria."

Vittoria bergerak liar. Ia mencium leher Nico, menggigit kulit di bahunya cukup keras hingga meninggalkan bekas merah. Ia melampiaskan frustrasinya, kemarahannya pada Lorenzo, pada gadis muda itu, pada dunianya yang runtuh. Ia menggunakan tubuh Nico sebagai kanvas untuk melukis rasa sakitnya.

Awalnya, Vittoria merasa menang. Ia yang mengatur ritme. Ia yang menggerakkan pinggulnya, menuntut gesekan yang memabukkan. Ia merasa berkuasa karena bisa membuat pria asing ini mengerang tertahan di bawah sentuhannya.

Namun, perlahan, dinamika itu bergeser. Tangan Nico yang semula diam di pinggangnya mulai bergerak. Jemarinya yang kasar meremas pinggul Vittoria dengan kekuatan yang mengejutkan, menahan gerakannya.

"Terlalu cepat," bisik Nico, suaranya bukan lagi milik seorang montir miskin. Itu suara seseorang yang terbiasa memberi perintah.

"Jangan mengaturku!" Vittoria mencoba memprotes, mencoba mempertahankan ilusinya. Tapi Nico tidak mendengarkan.

Dengan satu gerakan, Nico menunjukkan kekuatan inti tubuh yang mengerikan, ia membalik posisi mereka. Dunia Vittoria terasa berputar. Dalam sekejap, punggungnya menghantam bantalan sofa, dan Nico menjulang di atasnya seperti raksasa.

Bayangan tubuh pria itu menelan Vittoria sepenuhnya.

"Kamu membayarku untuk melakukan tugasku, Signora," kata Nico, matanya berkilat gelap, pupilnya membesar menelan iris cokelatnya. "Biarkan aku bekerja."

Sebelum Vittoria bisa membantah, Nico membungkamnya lagi. Kali ini, tidak ada ruang untuk negosiasi.

Sentuhan Nico berubah. Bukan lagi pasif, melainkan predator. Tangan pria itu menjelajah tubuh Vittoria dengan keahlian yang membuat kepala Vittoria pening. Dia tahu persis di mana harus menyentuh, seberapa kuat harus menekan. Dia tidak meminta, dia mengambil reaksi dari tubuh Vittoria seolah itu adalah hak lahirnya.

Vittoria mencoba mencakar punggungnya, mencoba mendapatkan kembali kendalinya, tapi kekuatan Nico terlalu besar. Pria itu menahan kedua pergelangan tangan Vittoria di atas kepalanya dengan satu tangan, menguncinya dengan mudah, sementara tangan lainnya melucuti pertahanan Vittoria.

"Nico!" Vittoria tersentak, suaranya pecah. Amarahnya mulai luntur, digantikan oleh gelombang kenikmatan yang menakutkan.

"Sstt," Nico menempelkan bibirnya di leher Vittoria, di titik nadinya yang berdegup kencang. "Kamu tidak perlu berpikir. Kamu tidak perlu menjadi Nyonya Lombardi di sini. Jadilah milikku."

Kata-kata itu seharusnya membuat Vittoria marah tapi saat Nico menyatukan tubuh mereka, saat ia merasakan betapa penuh dan kerasnya pria itu mengisi kekosongannya, segala logika Vittoria menguap.

Nico terlalu besar, terlalu kuat, terlalu mendominasi. Setiap gerakan Nico menghapus nama Lorenzo dari benaknya. Setiap hentakan pinggulnya yang ritmis dan tak kenal ampun memaksa Vittoria untuk melengkungkan punggung, menyerahkan suara, harga diri, dan kewarasannya.

Vittoria yang tadi merasa seperti ratu yang membeli budak, kini merasa seperti kapal kecil yang terombang-ambing di tengah badai samudra. Ia tenggelam. Ia kewalahan.

Nico tidak membiarkannya istirahat. Dia menuntut segalanya. Dia menatap lurus ke mata Vittoria saat ia mendorong wanita itu ke tepi jurang, memastikan Vittoria tahu persis siapa yang memberikan kenikmatan ini.

"Sebut namaku," perintah Nico, suaranya serak di telinga Vittoria.

"Nico, Nico...." isak Vittoria, air mata akhirnya lolos dari sudut matanya, bercampur dengan keringat. Bukan air mata sedih, tapi pelepasan total. Seumur hidup, baru kali ini ia bisa merasakan hal seperti ini.

"Bagus," bisik Nico.

Saat puncaknya datang, dunia Vittoria meledak menjadi serpihan cahaya putih. Ia mencengkeram bahu Nico, berteriak tanpa suara, tubuhnya mengejang hebat dalam penyerahan total. Ia hancur, namun untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia merasa utuh.

Nico menahannya di sana, membiarkan gelombang itu mereda perlahan, sebelum ia sendiri menyusulnya dengan geraman rendah yang primal, menanamkan dirinya sedalam mungkin ke dalam diri Vittoria.

Keheningan kembali turun di penthouse itu, tapi kali ini lebih berat. Lebih intim.

Vittoria terbaring lemas di sofa, napasnya masih tersengal-sengal, tubuhnya terasa berat dan lunak seperti lilin yang meleleh. Ia tidak bisa menggerakkan jari kelingkingnya sekalipun. Ia merasa terekspos, telanjang, dan sepenuhnya dikalahkan.

Nico menarik diri, lalu berbaring di sampingnya, menarik selimut bulu yang ada di ujung sofa untuk menutupi tubuh Vittoria yang gemetar.

Vittoria menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Ia telah membeli "mainan" untuk membuang amarahnya, tapi mainan itu baru saja membongkar jiwanya dan menyatukannya kembali dengan cara yang salah.

"Kamu," bisik Vittoria, suaranya parau. "Kamu seharusnya hanya menuruti perintahku."

Nico, yang sedang menyandarkan kepalanya di lengan sofa, menoleh. Matanya kembali terlihat tenang, topeng "pemuda lugu" itu kembali terpasang, meski sedikit retak di bagian pinggirnya.

"Maafkan saya, Signora," katanya lembut, tapi tidak ada penyesalan di wajahnya. Tangannya bergerak menyisihkan rambut basah dari dahi Vittoria. "Saya rasa, saya sedikit terbawa suasana. Saya harap saya memuaskan uang Anda."

Vittoria menutup matanya. Memuaskan? Pria itu baru saja menghancurkannya.

Di balik senyum tipisnya, Domenico Cavaliere mengamati wanita yang kini tertidur karena kelelahan di sampingnya. Ia merasakan kepuasan yang gelap menjalar di dadanya.

Vittoria mengira dia telah kalah dalam permainan ranjang ini. Dia tidak tahu bahwa kekalahan sesungguhnya baru saja dimulai. Domenico tidak hanya menginginkan tubuh wanita ini satu malam. Ia menginginkan segalanya.

Dan malam ini, ia baru saja menanamkan benih obsesi yang akan membuat Vittoria Lombardi tidak akan pernah bisa lepas darinya, bahkan jika wanita itu lari ke ujung dunia sekalipun.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sweet Decepticon   Bab 34 Bagaimana Rasanya?

    Cahaya fajar menyingsing di atas cakrawala Milan, membiaskan warna keemasan yang dingin di sepanjang puncak pencakar langit Porta Nuova. Angin sisa badai semalam masih bertiup pelan, menyapu bersih jelaga dan kekacauan yang ditinggalkan di Como dan Monza. Di dalam kamar utama penthouse, pendar keemasan itu menerobos masuk dari sela-sela tirai otomatis yang perlahan terbuka, jatuh tepat di atas permukaan seprai sutra hitam yang kusut. Vittoria terbangun lebih dulu. Ia tidak lagi merasa lelah. Rasa sakit dan trauma dari masa lalunya seolah telah terbakar habis dalam api gairah dan kemenangan semalam. Vittoria menggeser tubuhnya pelan, menatap pria yang tidur di sebelahnya. Domenico terbaring telentang, dada bidangnya yang penuh garis otot dan sisa garukan halus bergerak naik-turun secara teratur. Dalam lelapnya yang langka, rahang tegas Domenico tampak sedikit lebih rileks, namun satu tangannya yang kokoh masih melingkar protektif di atas pinggang telanjang Vittoria, sebuah refleks p

  • Sweet Decepticon   Bab 33 Di Atas Ranjang Ini

    Deru baling-baling helikopter perlahan memudar, digantikan oleh keheningan malam di atas ketinggian penthouse Porta Nuova. Angin badai dari arah Lago di Como yang terbawa hingga ke pusat kota Milan hanya mampu mengetuk kencang dinding kaca raksasa, tanpa sanggup menembus kekedapan ruangan yang megah itu.Aroma asap mesiu dan bau besi yang sempat melekat pada pakaian mereka telah menguap, digantikan oleh pendar lampu kota yang temaram dan kehangatan dari perapian modern di sudut kamar utama.Vittoria berdiri di tengah ruangan, membelakangi pintu. Mantel tebalnya telah terlepas dan tergeletak di lantai, menyisakan gaun merah darahnya yang melekat ketat di tubuh. Jemarinya yang ramping gemetar tipis, bukan karena takut, melainkan karena efek sisa adrenalin dari pembantaian di Villa Bellagio dan penumpasan keluarga Rossi yang baru saja usai.Hanya dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka telah merebut papan catur, menumbangkan Don Alessandro, meremukkan Lorenzo, dan menyapu bersih anca

  • Sweet Decepticon   Bab 32 Tenangkan Dirimu

    Badai di atas Lago di Como mengamuk tanpa ampun. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi megahnya Villa Bellagio, benteng batu megah abad ke-19 milik Don Alessandro yang berdiri kaku di atas tebing curam menghadap danau.Di dalam ruang perjamuan berlantai marmer hitam, suasana terasa panas oleh kepulan asap cerutu dan ketegangan yang menyesakkan.Antonio Rossi duduk di ujung meja kayu oak, wajahnya dipenuhi amarah yang membara. Di sekelilingnya, lima kepala fraksi veteran Cavaliere Holdings duduk membisu, sementara Marcello Cavaliere berdiri gelisah di dekat perapian besar."Kamu berjanji jalur distribusi Conti akan jatuh ke tanganku, Alessandro!" raung Antonio Rossi, menghantamkan tinjunya ke meja hingga gelas-gelas kristal berdenting kencang. "Cucumu dan wanita jalang itu baru saja mempermalukanku di pabrik Monza! Anakku hampir mati ditembak sniper-sniper milik Domenico!"Don Alessandro duduk tenang di kursi kebesarannya, jemarinya yang tua memutar-mutar gelas wiski. Matanya yan

  • Sweet Decepticon   Bab 31 Aku Ingin Membakarnya dari Dalam

    Malam merayap makin pekat di atas kota Milan. Kemenangan mutlak atas Marco Rossi di gerbang pabrik Monza tidak serta-merta membawa ketenangan. Di dalam kabin kedap udara mobil mewah yang meluncur membelah jalanan basah menuju kawasan elit Brera, atmosfer justru terasa kian mencekam.Vittoria menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, matanya menatap pendar lampu-lampu jalanan yang membias di kaca mobil. Sarung tangan kulit hitamnya masih menempel kaku di pangkuannya."Don Alessandro tidak akan membiarkan kekalahan Rossi berlalu begitu saja," ujar Vittoria, memecah keheningan. Suaranya tenang, namun sarat akan kalkulasi yang tajam. "Rossi adalah sekutu rahasia kakekmu untuk menekan konsorsium utara. Begitu Antonio Rossi tahu dia ditipu oleh berkas kosong, dia akan menagih ganti rugi pada kakekmu."Domenico yang duduk di sebelahnya tidak memalingkan wajah dari layar tablet di tangannya. Jemari panjangnya menari di atas layar, memindai laporan transaksi pasar gelap yang baru saja diki

  • Sweet Decepticon   Bab 30 Jaga Mulutmu, Nyonya Cavaliere

    Awan hitam menggelantung rendah di atas kawasan industri Monza, membentangkan kabut tipis di sepanjang gerbang utama kompleks pabrik Conti Logistics. Kompleks bernilai puluhan juta euro itu adalah jantung distribusi bahan baku utara Italia, aset paling berharga yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali Vittoria dan Domenico.Di luar pagar besi raksasa yang terkunci rapat, lima mobil SUV hitam berlogo keluarga Rossi terparkir melintang, memblokir jalan akses utama.Belasan pria bertubuh kekar dengan mantel kulit gelap dan senjata api terselip di balik jas berdiri mengepung gerbang. Di barisan paling depan, berdiri Marco Rossi, putra mahkota keluarga Rossi yang terkenal sadis, memegang cetakan salinan dokumen jalur distribusi Conti yang baru saja ia rebut dari Lorenzo."Buka gerbangnya!" teriak Marco dengan nada angkuh, menghentakkan kakinya ke tanah. "Atas nama konfrontasi klaim keluarga Rossi, pabrik dan seluruh jalur distribusi ini resmi disita sebagai jaminan utang Lombardi Group

  • Sweet Decepticon   Bab 29 Domenico adalah Iblis

    Aroma antiseptik dan cairan pembersih yang menyengat memenuhi lorong sempit rumah sakit umum di pinggiran kota Milan. Tempat ini kumuh dan remang-remang, sangat kontras dengan kemewahan penthouse milik Domenico atau ruang rapat Cavaliere Holdings.Domenico melangkah membelah lorong dengan mantel hitamnya, diikuti oleh Vittoria yang mengenakan gaun merah darah. Dua pengawal pribadi mereka berjalan sigap di depan, melumpuhkan dua pria berpakaian jaket kulit, orang-orang Rossi yang ditugaskan mengawasi kamar Lorenzo agar pria itu tidak melarikan diri tanpa menimbulkan kegaduhan.Enzo mendorong pintu kamar nomor 104 hingga terbuka lebar.Di atas tempat tidur besi kusam, terbaring Lorenzo Lombardi. Tubuhnya dalam kondisi mengenaskan, wajahnya lebam kebiruan, hidungnya dipasangi penyangga, salah satu kakinya digantung gips, dan dadanya terbungkus perban ketat akibat patah tulang iga.Lorenzo meringis saat mendengar pintu terbuka. Matanya yang bengkak melebar kengerian ketika melihat dua sos

  • Sweet Decepticon   Bab 5 Villa Necchi Campiglio

    Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian

  • Sweet Decepticon   Bab 4 Aku Suamimu

    Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“

  • Sweet Decepticon   Bab 3 Kamu mengusirku, Signora?

    Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan

  • Sweet Decepticon   Bab 6 Kamu Menutupi Karyaku

    Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status