เข้าสู่ระบบVilla Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian yang melingkar di leher para wanita dan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangan para pria.
Acara Gala Cavaliere. Vittoria melangkah masuk, lengannya terpaut kaku pada lengan Lorenzo. Ia mengenakan gaun strapless berwarna perak metalik yang menyapu lantai, memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan presisi yang menyakitkan. Kain itu terasa dingin di kulitnya, seperti baju zirah yang ia kenakan untuk menutupi retakan di jiwanya. "Tersenyumlah," bisik Lorenzo di telinganya. Cengkeramannya di lengan Vittoria sedikit mengerat, posesif namun kosong. "Keluarga Cavaliere jarang membuka pintu untuk umum. Kita harus memberikan kesan terbaik." Vittoria memaksakan sudut bibirnya naik. Senyum itu terasa palsu, seringkih gelas champagne yang bisa pecah kapan saja. "Tentu, Lorenzo," jawabnya datar. Ruangan itu penuh sesak dengan aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau ambisi dan keserakahan. Musik klasik mengalun lembut dari sudut ruangan, dimainkan oleh orkestra kuartet gesek yang mungkin bayarannya lebih mahal daripada biaya hidup seumur hidup orang biasa. Vittoria merasa mual. Matanya menyapu kerumunan. Ia melihat wajah-wajah yang familier seperti politisi yang korup, pewaris yang manja, dan istri-istri trofi yang saling melempar pujian beracun. Mereka semua memakai topeng. Sama sepertinya. "Ah, Signor Rossi!" seru Lorenzo, tiba-tiba melepaskan lengan Vittoria untuk menyalami seorang pria tua gemuk. Vittoria dibiarkan berdiri sendiri. Seperti biasa. Ia hanya aksesori. Dibutuhkan saat masuk, lalu diletakkan di rak saat permainan bisnis dimulai. Vittoria mengambil segelas champagne dari nampan pelayan yang lewat, menyesapnya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Matanya terus bergerak, mencari celah untuk bernapas, hingga pandangannya terkunci pada satu sudut ruangan. Darahnya terasa membeku. Di sana, di dekat pilar marmer besar, berdiri Lorenzo. Dia tidak sedang bicara bisnis dengan Signor Rossi. Suaminya sedang berdiri sangat dekat dengan seorang wanita muda berambut pirang, Elena, putri bungsu dari rekan bisnisnya. Jarak mereka melanggar batas kesopanan sosial. Tangan Lorenzo bertumpu santai di pinggang ramping Elena, jemarinya mengetuk-ngetuk kain gaun gadis itu dengan keakraban yang memuakkan. Vittoria menahan napas. Ia berharap ia salah lihat. Ia berharap ini hanya paranoia akibat trauma. Namun, semuanya nyata. Bahkan mereka tidak bersembunyi. Mereka melakukannya di tengah ratusan pasang mata, di bawah lampu kristal yang terang benderang. Rasa panas menjalar di balik kelopak matanya. Bukan air mata sedih, melainkan rasa malu yang membakar. Ia merasa telanjang di tengah keramaian ini, meskipun ia mengenakan gaun seharga ribuan euro. Vittoria meletakkan gelasnya yang masih penuh di meja terdekat dengan tangan gemetar. Ia tidak menoleh lagi ke arah Lorenzo. Ia berbalik dan berjalan cepat, nyaris berlari, menerobos kerumunan tamu. Ia mengabaikan sapaan beberapa kenalan. Ia terus berjalan menuju pintu kaca besar di ujung koridor yang mengarah ke taman belakang. Begitu pintu itu tertutup di belakangnya, suara bising pesta itu teredam, digantikan oleh kesunyian malam yang dingin. Udara malam menampar kulitnya, membekukan air mata yang nyaris jatuh. Vittoria menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah dan bunga mawar yang tajam. Taman belakang Villa Necchi luas dan temaram. Jalur setapak berbatu diapit oleh pagar tanaman yang tinggi, menciptakan labirin bayangan yang sempurna untuk bersembunyi. Vittoria berjalan tanpa tujuan, tumit stiletto-nya terbenam di sela-sela bebatuan. Kakinya sakit, hatinya sakit, harga dirinya hancur tapi ia terus berjalan sampai di sebuah area terpencil di dekat kolam air mancur yang tidak menyala. Di sana, di bawah naungan pohon cypress tua, ada sebuah bangku batu. Vittoria menjatuhkan dirinya di sana. Dengan gerakan kasar, ia melepaskan sepatu hak tingginya dan melemparnya ke rumput. "Persetan dengan mereka semua," desisnya pada kegelapan. "Kamu tahu, sepatu itu terlihat mahal. Sayang kalau dibiarkan basah oleh embun." Suara itu muncul dari balik bayangan pilar di dekatnya. Terdengar rendah, berat, dan familiar hingga ke tulang sumsum. Vittoria tersentak, jantungnya melompat ke tenggorokan. Ia berdiri dengan sigap, rasa takut menyergapnya. "Siapa di sana?!" Sosok itu melangkah keluar dari kegelapan. Cahaya bulan yang pucat jatuh ke wajahnya, mengungkapkan fitur tajam yang beberapa hari ini menghantui mimpi-mimpi Vittoria. Nico.Aroma mesiu dan bau amis dari noda darah di atas marmer masih menusuk hidung, namun Domenico tidak membuang waktu. Pria itu sudah berada di depan panel kontrol dinding, memicu protokol pembersihan darurat.Dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit, tim pembersih internal Cavaliere Holdings berpakaian serba hitam tanpa identitas melangkah masuk melalui tangga darurat. Dengan presisi militer yang senyap, mereka mengangkat dua mayat pengawal, mengobati satu yang pingsan, dan merestorasi area penthouse seolah pertumpahan darah tak pernah terjadi di sana.Vittoria berdiri di dekat pembatas kaca, mengamati gerak-gerik tim tersebut dengan jemari yang saling bertaut kencang. Pertahanan mentalnya hampir habis, tetapi insting bertahan hidupnya memaksa pikirannya tetap jernih.Domenico menghampirinya, menyerahkan segelas wiski tanpa es."Minum ini," perintahnya pendek. Suaranya sudah kembali tenang, tetapi mata gelap itu menyimpan kewaspadaan seorang predator yang siap menerkam kembali.Vittor
Ancaman Don Alessandro menggantung di udara bagaikan kabut beracun. Empat moncong pistol bersilenser masih terkunci lurus ke arah dada Domenico dan Vittoria. Setiap detik terasa ditarik ulur, pekat oleh ketegangan yang siap meledak menjadi pertempuran berdarah. Vittoria merasakan dingin merayap dari telapak kakinya. Nama keluarganya ayahnya kembali diseret ke dalam jurang kehancuran. Namun sebelum ketakutan berhasil melumpuhkan pikirannya, genggaman tangan Domenico di jemarinya mengetat, menyalurkan dominasi yang tak tergoyahkan. "Menyentuh keluarga Conti berarti menyatakan perang denganku, Kakek," suara Domenico meluncur sedingin es, tanpa getaran sedikit pun. "Dan kamu tahu betul bahwa aku tidak pernah menyisakan musuh dalam perang." Marcello terkekeh sumbang, mencoba menutupi kegugupannya di balik senyum culas. "Kamu sendirian di sini, Domenico! Pengawalmu di lantai bawah sudah dilumpuhkan oleh orang-orang kami. Kamu tidak punya kartu untuk dimainkan lagi!" "Kamu yakin?" Domeni
Cahaya matahari musim gugur yang pucat menembus kaca raksasa, memantulkan bayangan dua cangkir porselen berisi espresso yang membiarkan asapnya menguap di atas meja marmer.Vittoria sudah mengenakan setelan blazer dan rok pensil berwarna putih gading, anggun, kaku, dan siap berperang. Di hadapannya, tiga berkas tebal berstempel Cavaliere Holdings dan dokumen pembatalan Project Vanguard telah ditandatangani dengan tinta hitam yang masih segar.Domenico berdiri di dekat jendela, mengancingkan manset kemeja hitam mewahnya. Wajahnya yang semalam terbakar gairah kini kembali sepenuhnya menjadi topeng es Domenico Cavaliere yang tak tersentuh."Pengacara pribadi keluarga Conti sudah menerima pengalihan saham secara penuh sepuluh menit yang lalu," kata Domenico, suara beratnya stabil tanpa cela. "Ayahmu resmi aman dari jeratan kebangkrutan Lorenzo. Janjiku lunas."Vittoria merapikan kerah blazernya, mengangkat wajahnya yang dingin. "Dan janjiku juga lunas. Aku milikmu di atas kertas, Domenico
Tangan besar Domenico masih mengunci pinggul Vittoria, menahannya agar tidak mundur sejengkal pun."Kamu terlalu berani untuk seorang wanita yang baru saja menggadaikan masa depannya," bisik Domenico. Napas hangatnya beraroma wiski dan tembakau mahal, mengusap rahang Vittoria.Vittoria menengadahkan kepalanya, menatap lurus ke dalam mata gelap pria yang telah menghancurkan suaminya itu. Tidak ada lagi ketakutan di sana, hanya api ketabahan yang membara."Aku tidak menggadaikan masa depanku, Domenico," jawab Vittoria, suaranya tenang namun tajam. "Aku membeli kebebasan ayahku dan mengambil tempat yang seharusnya milikku."Domenico terkekeh rendah. Tangan kanannya bergerak naik, jemarinya yang kasar mengusap tulang pipi Vittoria, menelusuri leher halus wanita itu hingga berhenti di tali gaun sutranya."Kamu selalu mencari alasan untuk membenarkan gairahmu sendiri, Vittoria," gumam Domenico. Dengan satu gerakan lambat, ia menurunkan tali gaun itu dari bahu Vittoria. Kain sutra halus itu
Keheningan di ruang kerja itu terasa menghimpit. Tatapan Domenico terkunci rapat pada mata Vittoria, menunggu jawaban dari wanita yang kini sepenuhnya terpojok di balik dinding kaca.Vittoria menatap pria di hadapannya. Rasa benci, amarah, dan gairah gelap yang sulit dijelaskan bertarung hebat di dalam dadanya. Domenico telah memperhitungkan segalanya dengan presisi yang mengerikan, menghancurkan Lorenzo, mengepung keluarga Conti, dan kini menawarkan jalan keluar yang bertopeng mahkota."Kamu ingin aku menjadi istrimu?" suara Vittoria akhirnya terdengar, pelan namun jernih, tanpa getaran ketakutan lagi."Aku menginginkan ketundukan mutlakmu, Vittoria. Di dalam dokumen hukum, di atas tempat tidur, dan di hadapan dunia," jawab Domenico, mengusap rahang Vittoria dengan jari-jarinya yang hangat. "Nama Cavaliere bukan sekadar nama. Itu adalah perisai sekaligus senjata."Vittoria menghembuskan napas perlahan, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kendali atas dirinya sendiri. Jika ia harus menyera
Suara langkah kaki yang mantap dan berat bergema di atas lantai marmer, mendekati ruang kerja.Vittoria tidak panik. Ia tidak mencoba menutup map itu atau melarikan diri kembali ke ruang tengah. Meski berbahaya, ia berusaha untuk tenang, ia tetap berdiri tegak di balik meja kayu jati raksasa tersebut, membiarkan map merah bertuliskan Project Vanguard tetap terbuka lebar di bawah jarinya.Pintu kaca bergeser terbuka.Domenico melangkah masuk, melepaskan kancing kemeja teratasnya dengan satu tangan. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Vittoria yang berdiri di area pribadinya. Tatapannya meluncur turun ke map merah di atas meja, dan seketika itu juga, atmosfer di ruangan tersebut berubah menjadi dingin."Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak melakukan hal konyol, Vittoria," ujar Domenico. Suaranya rendah, halus, namun menyimpan bahaya yang nyata."Konyol?" Vittoria tertawa kecil, suara tawa yang hampa dan tajam. Ia mengangkat lembaran kertas dari berkas keluarganya.
Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me
Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“
Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan
Penthouse di Porta Nuova itu hening, dingin, dan berbau kemewahan, sangat berbanding terbalik dari bengkel kumuh tempat Vittoria memungut "peliharaan" barunya. Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan cakrawala Milan yang basah, namun Vittoria tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan.Ia







