Beranda / Mafia / Sweet Decepticon / Bab 5 Villa Necchi Campiglio

Share

Bab 5 Villa Necchi Campiglio

Penulis: Silentia
last update Tanggal publikasi: 2026-05-10 22:55:53

Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian yang melingkar di leher para wanita dan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangan para pria.

Acara Gala Cavaliere.

Vittoria melangkah masuk, lengannya terpaut kaku pada lengan Lorenzo. Ia mengenakan gaun strapless berwarna perak metalik yang menyapu lantai, memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan presisi yang menyakitkan. Kain itu terasa dingin di kulitnya, seperti baju zirah yang ia kenakan untuk menutupi retakan di jiwanya.

"Tersenyumlah," bisik Lorenzo di telinganya. Cengkeramannya di lengan Vittoria sedikit mengerat, posesif namun kosong. "Keluarga Cavaliere jarang membuka pintu untuk umum. Kita harus memberikan kesan terbaik."

Vittoria memaksakan sudut bibirnya naik. Senyum itu terasa palsu, seringkih gelas champagne yang bisa pecah kapan saja. "Tentu, Lorenzo," jawabnya datar.

Ruangan itu penuh sesak dengan aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau ambisi dan keserakahan. Musik klasik mengalun lembut dari sudut ruangan, dimainkan oleh orkestra kuartet gesek yang mungkin bayarannya lebih mahal daripada biaya hidup seumur hidup orang biasa.

Vittoria merasa mual.

Matanya menyapu kerumunan. Ia melihat wajah-wajah yang familier seperti politisi yang korup, pewaris yang manja, dan istri-istri trofi yang saling melempar pujian beracun. Mereka semua memakai topeng. Sama sepertinya.

"Ah, Signor Rossi!" seru Lorenzo, tiba-tiba melepaskan lengan Vittoria untuk menyalami seorang pria tua gemuk.

Vittoria dibiarkan berdiri sendiri. Seperti biasa. Ia hanya aksesori. Dibutuhkan saat masuk, lalu diletakkan di rak saat permainan bisnis dimulai.

Vittoria mengambil segelas champagne dari nampan pelayan yang lewat, menyesapnya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Matanya terus bergerak, mencari celah untuk bernapas, hingga pandangannya terkunci pada satu sudut ruangan.

Darahnya terasa membeku. Di sana, di dekat pilar marmer besar, berdiri Lorenzo. Dia tidak sedang bicara bisnis dengan Signor Rossi.

Suaminya sedang berdiri sangat dekat dengan seorang wanita muda berambut pirang, Elena, putri bungsu dari rekan bisnisnya. Jarak mereka melanggar batas kesopanan sosial. Tangan Lorenzo bertumpu santai di pinggang ramping Elena, jemarinya mengetuk-ngetuk kain gaun gadis itu dengan keakraban yang memuakkan.

Vittoria menahan napas. Ia berharap ia salah lihat. Ia berharap ini hanya paranoia akibat trauma. Namun, semuanya nyata. Bahkan mereka tidak bersembunyi. Mereka melakukannya di tengah ratusan pasang mata, di bawah lampu kristal yang terang benderang.

Rasa panas menjalar di balik kelopak matanya. Bukan air mata sedih, melainkan rasa malu yang membakar. Ia merasa telanjang di tengah keramaian ini, meskipun ia mengenakan gaun seharga ribuan euro.

Vittoria meletakkan gelasnya yang masih penuh di meja terdekat dengan tangan gemetar. Ia tidak menoleh lagi ke arah Lorenzo. Ia berbalik dan berjalan cepat, nyaris berlari, menerobos kerumunan tamu.

Ia mengabaikan sapaan beberapa kenalan. Ia terus berjalan menuju pintu kaca besar di ujung koridor yang mengarah ke taman belakang.

Begitu pintu itu tertutup di belakangnya, suara bising pesta itu teredam, digantikan oleh kesunyian malam yang dingin.

Udara malam menampar kulitnya, membekukan air mata yang nyaris jatuh. Vittoria menarik napas panjang, menghirup aroma tanah basah dan bunga mawar yang tajam.

Taman belakang Villa Necchi luas dan temaram. Jalur setapak berbatu diapit oleh pagar tanaman yang tinggi, menciptakan labirin bayangan yang sempurna untuk bersembunyi.

Vittoria berjalan tanpa tujuan, tumit stiletto-nya terbenam di sela-sela bebatuan. Kakinya sakit, hatinya sakit, harga dirinya hancur tapi ia terus berjalan sampai di sebuah area terpencil di dekat kolam air mancur yang tidak menyala. Di sana, di bawah naungan pohon cypress tua, ada sebuah bangku batu. Vittoria menjatuhkan dirinya di sana.

Dengan gerakan kasar, ia melepaskan sepatu hak tingginya dan melemparnya ke rumput. "Persetan dengan mereka semua," desisnya pada kegelapan.

"Kamu tahu, sepatu itu terlihat mahal. Sayang kalau dibiarkan basah oleh embun."

Suara itu muncul dari balik bayangan pilar di dekatnya. Terdengar rendah, berat, dan familiar hingga ke tulang sumsum.

Vittoria tersentak, jantungnya melompat ke tenggorokan. Ia berdiri dengan sigap, rasa takut menyergapnya. "Siapa di sana?!"

Sosok itu melangkah keluar dari kegelapan. Cahaya bulan yang pucat jatuh ke wajahnya, mengungkapkan fitur tajam yang beberapa hari ini menghantui mimpi-mimpi Vittoria.

Nico.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sweet Decepticon   Bab 14 Malam yang Panjang

    Gerbang besi Villa Lombardi yang biasanya berdiri megah menyambut kepulangan mereka, kini terasa seperti pintu masuk menuju sirkus keputusasaan. Dua mobil sedan hitam asing terparkir di halaman utama. Beberapa pria berwajah kaku dengan setelan jas abu-abu formal tampak berdiri di teras, membawa map tebal dan mencatat aset-aset luar ruangan.Orang-orang bank. Pembawa pesan kematian bagi status sosial keluarga Lombardi.Begitu Bentley berhenti, Vittoria bahkan tidak menunggu Nico membukakan pintunya. Ia mendorong pintu mobil sendiri, melangkah keluar dengan tergesa, mengabaikan tatapan menilai dari para petugas penyitaan.Nico keluar dari kursi kemudi, memasang kembali kacamata hitamnya, dan mengikuti langkah Vittoria dari jarak yang diatur dengan sangat sopan. Namun, matanya yang tajam di balik lensa gelap itu merekam setiap jengkal kepanikan yang menggantung di udara.Di dalam foyer, suasananya jauh lebih buruk.Lorenzo sedang mengamuk kepada seorang pria paruh baya yang memegang sur

  • Sweet Decepticon   Bab 13 Ke Neraka yang Kamu Ciptakan

    Mobil itu membelah jalanan Milan dengan kecepatan konstan. Di kursi belakang, Vittoria duduk membisu, menatap pemandangan kota yang lewat di balik kaca jendela dengan tatapan kosong. Di kepalanya, suara histeris Lorenzo dan pengakuan terselubung Nico pagi ini berputar seperti kaset rusak.Ia merasa ngeri, namun di saat yang sama, ada kepuasan gelap yang muncul di dadanya melihat pria yang mengkhianatinya kini merangkak di ambang kehancuran.Dari kursi kemudi, Domenico—yang masih memakai topeng pelayan sebagai Nico—menatap pantulan Vittoria di kaca spion tengah. Melihat ekspresi wanita itu, ingatan Domenico melayang kembali ke kejadian beberapa jam lalu, tepatnya tengah malam tadi di basement sunyi Vila Lombardi.Malam itu, suasana kabin mobil sedingin es, hanya diterangi cahaya remang lampu dasbor. Di kursi belakang, Vittoria akhirnya tenang dan tertidur karena kelelahan setelah tangisannya mereda. Nico memastikan wanita itu benar-benar terlelap melalui kaca spion, sebelum ia meraba

  • Sweet Decepticon   Bab 12 Lalu Apa yang Akan Kamu Lakukan

    Pagi itu, langit Milan cerah tanpa cela. Matahari bersinar keemasan, menembus jendela kaca Villa Lombardi yang menjulang tinggi. Sebuah ironi yang kejam, karena di dalam rumah itu, badai sedang mengamuk.Vittoria baru saja melangkah keluar dari kamarnya saat suara pecahan barang menggema dari arah ruang kerja suaminya di lantai bawah.Denting beling yang beradu dengan marmer disusul oleh raungan kasar terdengar jelas. Bukan suara elegan yang biasa dia gunakan saat berpidato di depan para pemegang saham, melainkan seperti suara seekor binatang yang sedang terpojok.Vittoria mempercepat langkahnya menuruni tangga. Saat ia tiba di ambang pintu ruang kerja yang terbuka separuh, ia membeku.Ruangan itu kacau balau. Lampu meja antik dari kristal Baccarat telah hancur berkeping-keping di lantai. Kertas-kertas berserakan dan di tengah kekacauan itu, Lorenzo berdiri dengan rambut acak-acakan, kemeja sutranya kusut, dan wajahnya memerah karena amarah yang bercampur dengan kepanikan nyata. Lor

  • Sweet Decepticon   Bab 11 Keadilan Datang dari Iblis yang Kamu Bayar

    Makan siang di Ristorante Cracco berbintang Michelin itu selalu terasa seperti medan perang yang disamarkan dengan taplak meja linen putih dan hidangan truffle.Vittoria duduk di antara empat wanita yang mengenakan perhiasan seharga sebuah rumah mewah. Mereka adalah istri-istri dari rekan bisnis dan saingan Lorenzo. Di permukaan, mereka membicarakan yayasan amal, pameran seni di Paris, dan pelatih pilates baru. Namun di bawah permukaan, setiap kalimat adalah pisau bedah yang siap menguliti kelemahan siapa pun yang lengah."Vittoria, Darling," panggil Isabella, istri seorang senator yang wajahnya terlalu kencang akibat botoks. Ia mengiris daging veal-nya dengan anggun. "Aku tidak melihat Lorenzo menemanimu di pembukaan galeri semalam. Kudengar dia sedang sangat... sibuk."Isabella menekan kata 'sibuk' dengan nada yang membuat perut Vittoria melilit."Dia sedang mengurus akuisisi pabrik tekstil keluarga Rossi di pinggiran kota," jawab Vittoria dengan senyum terpaksa. "Itu kesepakatan b

  • Sweet Decepticon   Bab 10 Aku yang Memilikimu

    Jalanan Via Montenapoleone dihiasi oleh deretan etalase mengkilap dan orang-orang yang berjalan dengan kepala terangkat tinggi. Namun, bagi Vittoria, jalanan mode paling prestisius di Milan itu hari ini terasa seperti lorong eksekusi. Mobil hitamnya merapat sempurna di depan butik eksklusif Armani. Tanpa menunggu valet, Nico keluar dan membukakan pintu untuk Vittoria. "Kita sudah sampai, Signora," kata Nico. Wajahnya datar, seolah insiden mencekik tengkuk di dalam mobil tadi hanyalah halusinasi Vittoria semata. Vittoria turun tanpa membalas tatapannya. Ia merapikan trench coat-nya dan melangkah masuk ke dalam butik. Udara dingin beraroma lili putih langsung menyambutnya. "Ah, Signora Lombardi! Selamat datang," sapa Madame Celine, manajer butik yang elegan, dengan senyum lebar. "Ruang VIP sudah kami siapkan. Tiga gaun yang Anda minta sudah menunggu." Vittoria mengangguk pelan. "Terima kasih, Celine. Tolong siapkan juga—" Langkah Vittoria terhenti ketika ia menyadari bayangan

  • Sweet Decepticon   Bab 9 Kamu Terlihat Tegang

    "Bagus," Lorenzo menepuk lengan istrinya sekilas, sentuhan yang terasa hampa. "Sayang, aku berangkat dulu. Pakai dia untuk apa pun yang kamu butuhkan hari ini. Bawa tas belanjaanmu, atau apa pun.""Lorenzo, tunggu," suara Vittoria nyaris pecah. Ia tidak bisa berada di dalam mobil tertutup berdua saja dengan pria ini. Pria yang tahu persis bagaimana rasa kulitnya, bagaimana desahannya.Tapi Lorenzo tidak mendengarkan. Dia sudah melangkah menuju Maserati-nya sendiri yang terparkir tak jauh dari situ, sibuk kembali dengan ponsel di telinganya.Vittoria ditinggalkan sendirian. Berdiri di undakan teras, berhadapan dengan mimpi buruknya yang paling menggoda.Nico melangkah maju, memutar tubuhnya dan membuka pintu penumpang Bentley itu dengan gerakan elegan yang terlatih. Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangan bersarung tangan hitamnya."Silakan, Signora."Vittoria menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai marmer teras. Ia melirik ke sekeliling, memastikan

  • Sweet Decepticon   Bab 6 Kamu Menutupi Karyaku

    Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me

  • Sweet Decepticon   Bab 4 Aku Suamimu

    Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“

  • Sweet Decepticon   Bab 3 Kamu mengusirku, Signora?

    Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan

  • Sweet Decepticon   Bab 1 Saya Milik Anda Malam Ini

    Langit Milan tidak sekadar hujan malam ini, langit sedang berdarah. Air turun dalam tirai-tirai kelabu yang tebal, menghapus gemerlap lampu kota fashion itu menjadi lukisan abstrak yang luntur. Namun, bagi Vittoria Lombardi, badai di luar jendela mobilnya tidak ada artinya dibandingkan dengan keha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status