Home / Mafia / Sweet Decepticon / Bab 32 Tenangkan Dirimu

Share

Bab 32 Tenangkan Dirimu

Author: Silentia
last update publish date: 2026-10-03 19:57:36

Badai di atas Lago di Como mengamuk tanpa ampun. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi megahnya Villa Bellagio, benteng batu megah abad ke-19 milik Don Alessandro yang berdiri kaku di atas tebing curam menghadap danau.

Di dalam ruang perjamuan berlantai marmer hitam, suasana terasa panas oleh kepulan asap cerutu dan ketegangan yang menyesakkan.

Antonio Rossi duduk di ujung meja kayu oak, wajahnya dipenuhi amarah yang membara. Di sekelilingnya, lima kepala fraksi veteran Cavaliere Holdings
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sweet Decepticon   Bab 34 Bagaimana Rasanya?

    Cahaya fajar menyingsing di atas cakrawala Milan, membiaskan warna keemasan yang dingin di sepanjang puncak pencakar langit Porta Nuova. Angin sisa badai semalam masih bertiup pelan, menyapu bersih jelaga dan kekacauan yang ditinggalkan di Como dan Monza. Di dalam kamar utama penthouse, pendar keemasan itu menerobos masuk dari sela-sela tirai otomatis yang perlahan terbuka, jatuh tepat di atas permukaan seprai sutra hitam yang kusut. Vittoria terbangun lebih dulu. Ia tidak lagi merasa lelah. Rasa sakit dan trauma dari masa lalunya seolah telah terbakar habis dalam api gairah dan kemenangan semalam. Vittoria menggeser tubuhnya pelan, menatap pria yang tidur di sebelahnya. Domenico terbaring telentang, dada bidangnya yang penuh garis otot dan sisa garukan halus bergerak naik-turun secara teratur. Dalam lelapnya yang langka, rahang tegas Domenico tampak sedikit lebih rileks, namun satu tangannya yang kokoh masih melingkar protektif di atas pinggang telanjang Vittoria, sebuah refleks p

  • Sweet Decepticon   Bab 33 Di Atas Ranjang Ini

    Deru baling-baling helikopter perlahan memudar, digantikan oleh keheningan malam di atas ketinggian penthouse Porta Nuova. Angin badai dari arah Lago di Como yang terbawa hingga ke pusat kota Milan hanya mampu mengetuk kencang dinding kaca raksasa, tanpa sanggup menembus kekedapan ruangan yang megah itu.Aroma asap mesiu dan bau besi yang sempat melekat pada pakaian mereka telah menguap, digantikan oleh pendar lampu kota yang temaram dan kehangatan dari perapian modern di sudut kamar utama.Vittoria berdiri di tengah ruangan, membelakangi pintu. Mantel tebalnya telah terlepas dan tergeletak di lantai, menyisakan gaun merah darahnya yang melekat ketat di tubuh. Jemarinya yang ramping gemetar tipis, bukan karena takut, melainkan karena efek sisa adrenalin dari pembantaian di Villa Bellagio dan penumpasan keluarga Rossi yang baru saja usai.Hanya dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka telah merebut papan catur, menumbangkan Don Alessandro, meremukkan Lorenzo, dan menyapu bersih anca

  • Sweet Decepticon   Bab 32 Tenangkan Dirimu

    Badai di atas Lago di Como mengamuk tanpa ampun. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi megahnya Villa Bellagio, benteng batu megah abad ke-19 milik Don Alessandro yang berdiri kaku di atas tebing curam menghadap danau.Di dalam ruang perjamuan berlantai marmer hitam, suasana terasa panas oleh kepulan asap cerutu dan ketegangan yang menyesakkan.Antonio Rossi duduk di ujung meja kayu oak, wajahnya dipenuhi amarah yang membara. Di sekelilingnya, lima kepala fraksi veteran Cavaliere Holdings duduk membisu, sementara Marcello Cavaliere berdiri gelisah di dekat perapian besar."Kamu berjanji jalur distribusi Conti akan jatuh ke tanganku, Alessandro!" raung Antonio Rossi, menghantamkan tinjunya ke meja hingga gelas-gelas kristal berdenting kencang. "Cucumu dan wanita jalang itu baru saja mempermalukanku di pabrik Monza! Anakku hampir mati ditembak sniper-sniper milik Domenico!"Don Alessandro duduk tenang di kursi kebesarannya, jemarinya yang tua memutar-mutar gelas wiski. Matanya yan

  • Sweet Decepticon   Bab 31 Aku Ingin Membakarnya dari Dalam

    Malam merayap makin pekat di atas kota Milan. Kemenangan mutlak atas Marco Rossi di gerbang pabrik Monza tidak serta-merta membawa ketenangan. Di dalam kabin kedap udara mobil mewah yang meluncur membelah jalanan basah menuju kawasan elit Brera, atmosfer justru terasa kian mencekam.Vittoria menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, matanya menatap pendar lampu-lampu jalanan yang membias di kaca mobil. Sarung tangan kulit hitamnya masih menempel kaku di pangkuannya."Don Alessandro tidak akan membiarkan kekalahan Rossi berlalu begitu saja," ujar Vittoria, memecah keheningan. Suaranya tenang, namun sarat akan kalkulasi yang tajam. "Rossi adalah sekutu rahasia kakekmu untuk menekan konsorsium utara. Begitu Antonio Rossi tahu dia ditipu oleh berkas kosong, dia akan menagih ganti rugi pada kakekmu."Domenico yang duduk di sebelahnya tidak memalingkan wajah dari layar tablet di tangannya. Jemari panjangnya menari di atas layar, memindai laporan transaksi pasar gelap yang baru saja diki

  • Sweet Decepticon   Bab 30 Jaga Mulutmu, Nyonya Cavaliere

    Awan hitam menggelantung rendah di atas kawasan industri Monza, membentangkan kabut tipis di sepanjang gerbang utama kompleks pabrik Conti Logistics. Kompleks bernilai puluhan juta euro itu adalah jantung distribusi bahan baku utara Italia, aset paling berharga yang kini sepenuhnya berada di bawah kendali Vittoria dan Domenico.Di luar pagar besi raksasa yang terkunci rapat, lima mobil SUV hitam berlogo keluarga Rossi terparkir melintang, memblokir jalan akses utama.Belasan pria bertubuh kekar dengan mantel kulit gelap dan senjata api terselip di balik jas berdiri mengepung gerbang. Di barisan paling depan, berdiri Marco Rossi, putra mahkota keluarga Rossi yang terkenal sadis, memegang cetakan salinan dokumen jalur distribusi Conti yang baru saja ia rebut dari Lorenzo."Buka gerbangnya!" teriak Marco dengan nada angkuh, menghentakkan kakinya ke tanah. "Atas nama konfrontasi klaim keluarga Rossi, pabrik dan seluruh jalur distribusi ini resmi disita sebagai jaminan utang Lombardi Group

  • Sweet Decepticon   Bab 29 Domenico adalah Iblis

    Aroma antiseptik dan cairan pembersih yang menyengat memenuhi lorong sempit rumah sakit umum di pinggiran kota Milan. Tempat ini kumuh dan remang-remang, sangat kontras dengan kemewahan penthouse milik Domenico atau ruang rapat Cavaliere Holdings.Domenico melangkah membelah lorong dengan mantel hitamnya, diikuti oleh Vittoria yang mengenakan gaun merah darah. Dua pengawal pribadi mereka berjalan sigap di depan, melumpuhkan dua pria berpakaian jaket kulit, orang-orang Rossi yang ditugaskan mengawasi kamar Lorenzo agar pria itu tidak melarikan diri tanpa menimbulkan kegaduhan.Enzo mendorong pintu kamar nomor 104 hingga terbuka lebar.Di atas tempat tidur besi kusam, terbaring Lorenzo Lombardi. Tubuhnya dalam kondisi mengenaskan, wajahnya lebam kebiruan, hidungnya dipasangi penyangga, salah satu kakinya digantung gips, dan dadanya terbungkus perban ketat akibat patah tulang iga.Lorenzo meringis saat mendengar pintu terbuka. Matanya yang bengkak melebar kengerian ketika melihat dua sos

  • Sweet Decepticon   Bab 6 Kamu Menutupi Karyaku

    Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me

  • Sweet Decepticon   Bab 5 Villa Necchi Campiglio

    Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian

  • Sweet Decepticon   Bab 4 Aku Suamimu

    Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“

  • Sweet Decepticon   Bab 3 Kamu mengusirku, Signora?

    Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status