Se connecterMobil itu membelah jalanan Milan dengan kecepatan konstan. Di kursi belakang, Vittoria duduk membisu, menatap pemandangan kota yang lewat di balik kaca jendela dengan tatapan kosong. Di kepalanya, suara histeris Lorenzo dan pengakuan terselubung Nico pagi ini berputar seperti kaset rusak.Ia merasa ngeri, namun di saat yang sama, ada kepuasan gelap yang muncul di dadanya melihat pria yang mengkhianatinya kini merangkak di ambang kehancuran.Dari kursi kemudi, Domenico—yang masih memakai topeng pelayan sebagai Nico—menatap pantulan Vittoria di kaca spion tengah. Melihat ekspresi wanita itu, ingatan Domenico melayang kembali ke kejadian beberapa jam lalu, tepatnya tengah malam tadi di basement sunyi Vila Lombardi.Malam itu, suasana kabin mobil sedingin es, hanya diterangi cahaya remang lampu dasbor. Di kursi belakang, Vittoria akhirnya tenang dan tertidur karena kelelahan setelah tangisannya mereda. Nico memastikan wanita itu benar-benar terlelap melalui kaca spion, sebelum ia meraba
Pagi itu, langit Milan cerah tanpa cela. Matahari bersinar keemasan, menembus jendela kaca Villa Lombardi yang menjulang tinggi. Sebuah ironi yang kejam, karena di dalam rumah itu, badai sedang mengamuk.Vittoria baru saja melangkah keluar dari kamarnya saat suara pecahan barang menggema dari arah ruang kerja suaminya di lantai bawah.Denting beling yang beradu dengan marmer disusul oleh raungan kasar terdengar jelas. Bukan suara elegan yang biasa dia gunakan saat berpidato di depan para pemegang saham, melainkan seperti suara seekor binatang yang sedang terpojok.Vittoria mempercepat langkahnya menuruni tangga. Saat ia tiba di ambang pintu ruang kerja yang terbuka separuh, ia membeku.Ruangan itu kacau balau. Lampu meja antik dari kristal Baccarat telah hancur berkeping-keping di lantai. Kertas-kertas berserakan dan di tengah kekacauan itu, Lorenzo berdiri dengan rambut acak-acakan, kemeja sutranya kusut, dan wajahnya memerah karena amarah yang bercampur dengan kepanikan nyata. Lor
Makan siang di Ristorante Cracco berbintang Michelin itu selalu terasa seperti medan perang yang disamarkan dengan taplak meja linen putih dan hidangan truffle.Vittoria duduk di antara empat wanita yang mengenakan perhiasan seharga sebuah rumah mewah. Mereka adalah istri-istri dari rekan bisnis dan saingan Lorenzo. Di permukaan, mereka membicarakan yayasan amal, pameran seni di Paris, dan pelatih pilates baru. Namun di bawah permukaan, setiap kalimat adalah pisau bedah yang siap menguliti kelemahan siapa pun yang lengah."Vittoria, Darling," panggil Isabella, istri seorang senator yang wajahnya terlalu kencang akibat botoks. Ia mengiris daging veal-nya dengan anggun. "Aku tidak melihat Lorenzo menemanimu di pembukaan galeri semalam. Kudengar dia sedang sangat... sibuk."Isabella menekan kata 'sibuk' dengan nada yang membuat perut Vittoria melilit."Dia sedang mengurus akuisisi pabrik tekstil keluarga Rossi di pinggiran kota," jawab Vittoria dengan senyum terpaksa. "Itu kesepakatan b
Jalanan Via Montenapoleone dihiasi oleh deretan etalase mengkilap dan orang-orang yang berjalan dengan kepala terangkat tinggi. Namun, bagi Vittoria, jalanan mode paling prestisius di Milan itu hari ini terasa seperti lorong eksekusi. Mobil hitamnya merapat sempurna di depan butik eksklusif Armani. Tanpa menunggu valet, Nico keluar dan membukakan pintu untuk Vittoria. "Kita sudah sampai, Signora," kata Nico. Wajahnya datar, seolah insiden mencekik tengkuk di dalam mobil tadi hanyalah halusinasi Vittoria semata. Vittoria turun tanpa membalas tatapannya. Ia merapikan trench coat-nya dan melangkah masuk ke dalam butik. Udara dingin beraroma lili putih langsung menyambutnya. "Ah, Signora Lombardi! Selamat datang," sapa Madame Celine, manajer butik yang elegan, dengan senyum lebar. "Ruang VIP sudah kami siapkan. Tiga gaun yang Anda minta sudah menunggu." Vittoria mengangguk pelan. "Terima kasih, Celine. Tolong siapkan juga—" Langkah Vittoria terhenti ketika ia menyadari bayangan
"Bagus," Lorenzo menepuk lengan istrinya sekilas, sentuhan yang terasa hampa. "Sayang, aku berangkat dulu. Pakai dia untuk apa pun yang kamu butuhkan hari ini. Bawa tas belanjaanmu, atau apa pun.""Lorenzo, tunggu," suara Vittoria nyaris pecah. Ia tidak bisa berada di dalam mobil tertutup berdua saja dengan pria ini. Pria yang tahu persis bagaimana rasa kulitnya, bagaimana desahannya.Tapi Lorenzo tidak mendengarkan. Dia sudah melangkah menuju Maserati-nya sendiri yang terparkir tak jauh dari situ, sibuk kembali dengan ponsel di telinganya.Vittoria ditinggalkan sendirian. Berdiri di undakan teras, berhadapan dengan mimpi buruknya yang paling menggoda.Nico melangkah maju, memutar tubuhnya dan membuka pintu penumpang Bentley itu dengan gerakan elegan yang terlatih. Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangan bersarung tangan hitamnya."Silakan, Signora."Vittoria menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai marmer teras. Ia melirik ke sekeliling, memastikan
Pagi di Villa Lombardi selalu terasa seperti adegan dari film klasik yang diputar berulang-ulang, indah secara visual, namun membosankan hingga ke tulang.Vittoria duduk di ujung meja makan panjang berbahan kayu mahogany, mengaduk cangkir espresonya tanpa minat. Di ujung meja yang lain, berjarak setidaknya tiga meter darinya, Lorenzo sedang sibuk menggeser layar tabletnya sambil memarahi seseorang di telepon."Aku tidak peduli alasan apa yang dia berikan, pecat dia! Bagaimana bisa kepala keamanan membiarkan hal konyol seperti ini terjadi?" teriak Lorenzo, urat di lehernya menonjol. Ia membanting tabletnya ke atas meja, membuat piring porselen di dekatnya bergetar.Vittoria menyesap kopinya perlahan. Ia masih lelah setelah kejadian di Gala Cavaliere dua malam lalu. Punggungnya masih kaku, dan pikirannya terus mengulang momen di taman gelap itu.Momen saat tangan kasar seorang pria memakaikan sepatu ke kakinya dengan kelembutan yang mematikan."Ada apa?" tanya Vittoria datar, sekadar me
Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me
Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian
Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“
Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan







