Beranda / Mafia / Sweet Decepticon / Bab 8 Janji yang Mengikat

Share

Bab 8 Janji yang Mengikat

Penulis: Silentia
last update Tanggal publikasi: 2026-05-20 23:13:15

Pagi di Villa Lombardi selalu terasa seperti adegan dari film klasik yang diputar berulang-ulang, indah secara visual, namun membosankan hingga ke tulang.

Vittoria duduk di ujung meja makan panjang berbahan kayu mahogany, mengaduk cangkir espresonya tanpa minat. Di ujung meja yang lain, berjarak setidaknya tiga meter darinya, Lorenzo sedang sibuk menggeser layar tabletnya sambil memarahi seseorang di telepon.

"Aku tidak peduli alasan apa yang dia berikan, pecat dia! Bagaimana bisa kepala keaman
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sweet Decepticon   Bab 8 Janji yang Mengikat

    Pagi di Villa Lombardi selalu terasa seperti adegan dari film klasik yang diputar berulang-ulang, indah secara visual, namun membosankan hingga ke tulang.Vittoria duduk di ujung meja makan panjang berbahan kayu mahogany, mengaduk cangkir espresonya tanpa minat. Di ujung meja yang lain, berjarak setidaknya tiga meter darinya, Lorenzo sedang sibuk menggeser layar tabletnya sambil memarahi seseorang di telepon."Aku tidak peduli alasan apa yang dia berikan, pecat dia! Bagaimana bisa kepala keamanan membiarkan hal konyol seperti ini terjadi?" teriak Lorenzo, urat di lehernya menonjol. Ia membanting tabletnya ke atas meja, membuat piring porselen di dekatnya bergetar.Vittoria menyesap kopinya perlahan. Ia masih lelah setelah kejadian di Gala Cavaliere dua malam lalu. Punggungnya masih kaku, dan pikirannya terus mengulang momen di taman gelap itu.Momen saat tangan kasar seorang pria memakaikan sepatu ke kakinya dengan kelembutan yang mematikan."Ada apa?" tanya Vittoria datar, sekadar me

  • Sweet Decepticon   Bab 7 Aku Suka Api

    Pesta di Villa Necchi masih berdenyut di bawah sana, sebuah organisme raksasa yang memakan uang dan memuntahkan tawa palsu. Namun, di balkon lantai dua yang tersembunyi di balik bayang-bayang pilar batu, suasananya sedingin makam.Alessandro Cavaliere, patriark dari dinasti perbankan yang menguasai separuh Italia, berdiri tegak meski usianya sudah menginjak delapan puluh tahun. Tangannya bertumpu pada tongkat jalan berkepala perak, matanya yang tajam, mata yang sama yang diwariskan kepada cucunya, ia menatap lurus ke kegelapan taman di bawah.Ke tempat di mana, beberapa menit lalu, cucu tunggalnya berlutut di depan seorang wanita.Pintu kaca di belakangnya bergeser terbuka. Langkah kaki berat mendekat.Alessandro tidak menoleh. "Kamu terlihat menyedihkan dengan jas murahan itu, Domenico."Domenico, yang bagi dunia luar saat ini adalah Nico, berjalan mendekat ke pagar balkon. Ia mengeluarkan kotak rokok dari saku jasnya yang longgar, mengambil satu batang, dan menyalakannya. Cahaya api

  • Sweet Decepticon   Bab 6 Kamu Menutupi Karyaku

    Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan ke arah langit malam. Matanya yang gelap menatap Vittoria dengan kilatan geli."Mencari tempat tenang untuk merokok," jawabnya santai. "Bosku ada di dalam. Sedang mabuk dan menjilat pantat orang-orang kaya lainnya. Dia bilang aku boleh istirahat sebentar asal tidak jauh-jauh dari mobil.""Kamu sopir?" Vittoria menatapnya tidak percaya.Nico mengangkat bahu. "Montir di siang hari, sopir panggilan di malam hari. Hidup di Milan tidak murah, Signora. Apalagi kalau kamu punya tunggakan kuliah, ingat?"Kebohongan itu meluncur mulus dari lidah Domenico. Tentu saja dia bukan sopir. Jas murah ini ia pinjam dari salah satu pengawal pribadiny

  • Sweet Decepticon   Bab 5 Villa Necchi Campiglio

    Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian yang melingkar di leher para wanita dan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangan para pria.Acara Gala Cavaliere.Vittoria melangkah masuk, lengannya terpaut kaku pada lengan Lorenzo. Ia mengenakan gaun strapless berwarna perak metalik yang menyapu lantai, memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan presisi yang menyakitkan. Kain itu terasa dingin di kulitnya, seperti baju zirah yang ia kenakan untuk menutupi retakan di jiwanya."Tersenyumlah," bisik Lorenzo di telinganya. Cengkeramannya di lengan Vittoria sedikit mengerat, posesif namun kosong. "Keluarga Cavaliere jarang membuka pintu untuk umum. Kita harus memberikan kesan terbaik."Vittoria memaksakan sudut bibirnya naik. Senyum itu tera

  • Sweet Decepticon   Bab 4 Aku Suamimu

    Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“Vittoria, angkat teleponnya!”“Aku menelepon polisi jika kamu tidak menjawab dalam sepuluh menit.”“Apa kamu gila? Menghilang tanpa kabar?”Vittoria membaca pesan-pesan itu dengan tatapan kosong saat Maserati-nya meluncur pelan memasuki gerbang besi tempa Villa Lombardi. Rumah itu, menjulang megah di kawasan San Siro, dikelilingi taman yang dipangkas sempurna dan patung-patung marmer yang dingin.Dulu, Vittoria melihat tempat ini sebagai pencapaian. Simbol bahwa ia telah berhasil menjadi pendamping yang sempurna bagi salah satu pria paling berkuasa di Milan.Sekarang, tempat ini terlihat seperti makam.Vittoria memarkir mobilnya. Sebelum keluar, ia melirik pantulan dirinya di kaca spion. Ria

  • Sweet Decepticon   Bab 3 Kamu mengusirku, Signora?

    Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan rasa nyeri yang sangat spesifik di antara kedua pahanya.Ingatan malam itu membanjiri benaknya seperti air bah.Bengkel kumuh, gujan, cek lima puluh ribu euro, dan Nico. Mata Vittoria terbuka lebar. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.Di sebelahnya, di atas seprai sutra Mesir seharga ribuan euro yang kini kusut masai, seorang pria asing sedang tidur telungkup. Punggungnya yang lebar, dihiasi otot-otot yang terbentuk sempurna dan beberapa bekas luka samar, naik-turun dengan irama yang tenang.Wajah Vittoria memanas. Rasa malu yang begitu pekat merayap naik dari perut hingga ke lehernya.Apa yang telah ia lakukan? Ia, Vittoria Lombardi, nyonya dari salah satu dinasti tekstil terhormat, baru

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status