Home / Mafia / Sweet Decepticon / Bab 3 Kamu mengusirku, Signora?

Share

Bab 3 Kamu mengusirku, Signora?

Author: Silentia
last update publish date: 2026-02-13 13:59:30

Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.

Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya.

Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan rasa nyeri yang sangat spesifik di antara kedua pahanya.

Ingatan malam itu membanjiri benaknya seperti air bah.

Bengkel kumuh, gujan, cek lima puluh ribu euro, dan Nico. Mata Vittoria terbuka lebar. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Di sebelahnya, di atas seprai sutra Mesir seharga ribuan euro yang kini kusut masai, seorang pria asing sedang tidur telungkup. Punggungnya yang lebar, dihiasi otot-otot yang terbentuk sempurna dan beberapa bekas luka samar, naik-turun dengan irama yang tenang.

Wajah Vittoria memanas. Rasa malu yang begitu pekat merayap naik dari perut hingga ke lehernya.

Apa yang telah ia lakukan? Ia, Vittoria Lombardi, nyonya dari salah satu dinasti tekstil terhormat, baru saja tidur dengan seorang montir jalanan yang ia pungut di tengah hujan? Ia telah merendahkan dirinya sendiri menjadi serendah suaminya. Tidak, mungkin lebih rendah. Ia membayarnya.

"Tuhan," bisiknya ngeri.

Ia harus menyingkirkan pria ini. Sekarang juga. Sebelum pelayan datang. Sebelum realitas menghancurkan sisa harga dirinya.

Dengan gerakan hati-hati, Vittoria mencoba bangun. Ia tidak mengenakan pakaian satu helai benang pun. Udara dingin penthouse membuat kulitnya meremang. Ia melihat selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh Nico dan kakinya sendiri.

Ia mencengkeram ujung selimut dan menariknya pelan.

Kain itu tergeser dan saat itulah napas Vittoria tercekat.

Nico tidak sedang tidur pulas seperti yang ia kira, atau mungkin tidur pria itu begitu tenang hingga selimut yang tersingkap pun tak mengganggunya.

Posisi tubuhnya sedikit miring sekarang dan di sana, tanpa sehelai benang pun yang menutupi, Vittoria melihat bukti virilitas pagi hari pria itu.

Milik Nico menegang sempurna, mencuat angkuh dari sela paha yang berotot, tampak lebih besar dan mengintimidasi di bawah cahaya pagi yang jujur daripada di kegelapan malam tadi. Urat-urat halusnya terlihat jelas, pulsasinya tampak hidup.

Vittoria terpaku. Logikanya berteriak, Lari, bodoh! Tapi tubuhnya, tubuhnya yang pengkhianat justru bereaksi sebaliknya. Ia merasakan denyutan familiar di pusat tubuhnya, sebuah respons basah yang memalukan hanya karena melihat pemandangan itu.

"Menikmati pemandangan, Signora?"

Suara serak khas bangun tidur itu memecah keheningan.

Vittoria tersentak, pandangannya naik cepat ke wajah Nico. Pria itu sudah membuka matanya. Sepasang iris gelap itu menatapnya, tidak dengan rasa kantuk, tapi dengan kewaspadaan predator yang malas. Ada seringai miring di bibirnya yang tebal.

"Aku, aku hanya ingin mengambil selimut," gagap Vittoria. Wibawanya hancur berantakan. Ia mencoba menarik kain itu lagi untuk menutupi dadanya yang terekspos, tapi tangan Nico bergerak lebih cepat.

Tangan besar itu mencengkeram pergelangan tangan Vittoria kuat.

"Kamu terlihat lapar," gumam Nico. Matanya turun, menelanjangi Vittoria untuk kedua kalinya, berhenti lama di dada Vittoria yang naik-turun cepat, lalu turun ke perut ratanya, dan ke area kewanitaannya yang terbuka. "Atau semalam belum cukup memuaskan?"

"Lepaskan aku, Nico. Ini kesalahan. Aku harus...."

Nico menarik tangan Vittoria. Sedangkan Vittoria tidak punya keseimbangan untuk melawan. Tubuhnya terhempas kembali ke kasur, tepat di samping tubuh hangat Nico. Sebelum ia bisa berteriak, Nico sudah berguling, mengurungnya di bawah kungkungan lengan dan kaki yang berat.

Aroma pria itu, musk alami, keringat tidur, dan sisa percintaan mereka mengisi indra penciuman Vittoria, memabukkan dan melumpuhkan.

"Kesalahan?" bisik Nico tepat di depan bibirnya. Paha pria itu mendesak masuk di antara kaki Vittoria, dan Vittoria bisa merasakan kekuatan Nico yang menekan perut bawahnya. Terasa sangat oanas, keras, dan menuntut. "Tubuhmu tidak bilang ini kesalahan, Vittoria. Tubuhmu bilang kamu menginginkannya lagi."

"Tidak," bantah Vittoria lemah. Tangannya menahan dada bidang Nico, tapi bukannya mendorong, jemarinya justru melengkung, mencengkeram kulit pria itu.

"Pembohong," geram Nico. Ia tidak menunggu izin kali ini. Ia tahu Vittoria juga menginginkannya.

Nico menciumnya, bukan ciuman manis selamat pagi, tapi ciuman yang memakan napas, kasar, dalam, dan penuh kepemilikan. Pada saat yang sama, tangannya meluncur ke bawah, menemukan pusat Vittoria yang sudah basah dan siap.

Vittoria mengerang tertahan ke dalam mulut Nico saat jari pria itu masuk, menggodanya tanpa ampun.

"Lihat?" Nico melepaskan ciumannya, menatap mata Vittoria yang berkabut gairah. "Kamu basah untuk montir miskin ini, Signora. Kamu sangat menginginkanku di dalam dirimu."

"Tolong...." Vittoria tidak tahu apakah ia memohon untuk berhenti atau memohon untuk dilanjutkan.

Nico memilih opsi kedua. Ia mengangkat pinggul Vittoria, memposisikannya dengan kasar, lalu menghentakkan dirinya masuk dalam satu gerakan tusukan yang dalam.

"Ahhh!" Vittoria melengkungkan punggungnya, kepalanya terlempar ke bantal. Rasa penuh itu luar biasa. Nico mengisi setiap inci dirinya, meregangkannya hingga batas kenikmatan dan rasa sakit yang nikmat.

Tidak ada romansa pagi itu.

Nico bergerak dengan ritme yang stabil dan menghukum. Setiap sorongan pinggulnya membuat tempat tidur berguncang, membuat suara kulit bertemu kulit menggema di ruangan sunyi itu. Vittoria mencakar punggung Nico, kakinya melilit pinggang pria itu secara insting, berusaha menariknya lebih dalam lagi.

Rasa malu Vittoria terbakar habis, digantikan oleh kebutuhan mendesak untuk mencapai pelepasan. Ia membenci betapa tubuhnya tunduk pada pria ini. Ia membenci betapa mudahnya Nico membuatnya melupakan siapa dirinya.

"Sebut namaku," perintah Nico lagi, napasnya menderu di leher Vittoria.

"Nico... Nico!"

Saat puncak itu datang, Vittoria merasa seolah jiwanya ditarik keluar. Ia bergetar hebat dalam pelukan pria itu, sementara Nico menggeram rendah, menuntaskan dirinya dengan beberapa hentakan terakhir yang brutal sebelum jatuh menindih tubuh Vittoria yang lemas.

Lima belas menit kemudian.

Vittoria berdiri di depan cermin besar, sudah terbalut bathrobe sutra putih. Tangannya gemetar saat ia mengikat tali di pinggangnya seerat mungkin, seolah kain tipis itu bisa menjadi baju besi yang melindunginya dari kenyataan.

Ia menoleh ke arah tempat tidur. Nico sedang duduk di tepi ranjang, menarik celana jins kotornya. Punggungnya yang telanjang masih menampilkan bekas cakaran merah, tanda mata darinya.

Vittoria menarik napas panjang, memasang kembali topeng dinginnya. Ia mengambil dompet dari meja rias, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus euro. Lalu ia berjalan mendekati Nico, menjaga jarak aman. Ia tidak ingin menyentuhnya lagi. Jika ia menyentuhnya, ia takut ia akan hancur lagi.

"Ini," kata Vittoria datar. Ia meletakkan uang itu di atas meja nakas di samping Nico. "Untuk taksi dan untuk sarapanmu."

Nico berhenti mengancingkan celananya. Ia menatap tumpukan uang itu, lalu menatap wajah Vittoria yang pucat namun angkuh.

"Kamu mengusirku, Signora?" tanya Nico tenang.

"Transaksi kita selesai," kata Vittoria, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, meski lututnya masih terasa lemas. "Kamu sudah mendapatkan biaya kuliahmu dan kamu sudah mendapatkan bonus pagi ini. Sekarang, pergi. Aku ada pertemuan nanti siang."

Itu bohong. Ia hanya ingin sendiri untuk mandi dan menggosok tubuhnya hingga merah, mencoba menghilangkan jejak tangan pria itu.

Nico berdiri. Ia mengenakan kaus kotornya kembali, menyembunyikan tubuh dewa itu di balik kain lusuh. Dia mengambil uang itu.

"Terima kasih atas kemurahan hati Anda," kata Nico. Nada suaranya sopan, tapi matanya, mata itu tertawa. Ia berjalan mendekati Vittoria dan Vittoria mundur selangkah, menabrak meja rias.

Nico tidak menyentuhnya. Ia hanya mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya ke telinga Vittoria. "Tapi hati-hati, Vittoria. Sekali kamu merasakan candu, uang sebanyak apa pun tidak akan bisa membuatmu berhenti memintanya lagi."

Nico menarik diri, memberikan senyum tipis yang misterius, lalu berbalik dan berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi.

Pintu penthouse tertutup dengan bunyi klik pelan. Vittoria merosot ke lantai, kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Ia menatap uang yang masih tersisa di dompetnya. Ia merasa kotor. Ia merasa bodoh.

Sementara itu, di dalam lift yang turun menuju lobi, Domenico Cavaliere membuang lembaran uang ratusan euro pemberian Vittoria ke tempat sampah di sudut lift dengan gerakan acuh tak acuh.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku jinsnya yang robek, menekan satu nomor.

"Siapkan mobilku di blok sebelah," perintahnya dingin, suaranya berubah total menjadi nada otoriter seorang CEO yang ditakuti. "Dan cari tahu jadwal Vittoria Lombardi minggu depan. Aku ingin tahu ke mana saja dia pergi."

Senyum licik terbit di wajahnya.

Ongkos taksi? Lucu sekali. Vittoria pikir dia yang memegang kendali karena dia yang membayar. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja memberikan tiket masuk gratis bagi Domenico untuk menghancurkan hidupnya dan kemudian membangunnya kembali sesuai keinginannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sweet Decepticon   Bab 13 Ke Neraka yang Kamu Ciptakan

    Mobil itu membelah jalanan Milan dengan kecepatan konstan. Di kursi belakang, Vittoria duduk membisu, menatap pemandangan kota yang lewat di balik kaca jendela dengan tatapan kosong. Di kepalanya, suara histeris Lorenzo dan pengakuan terselubung Nico pagi ini berputar seperti kaset rusak.Ia merasa ngeri, namun di saat yang sama, ada kepuasan gelap yang muncul di dadanya melihat pria yang mengkhianatinya kini merangkak di ambang kehancuran.Dari kursi kemudi, Domenico—yang masih memakai topeng pelayan sebagai Nico—menatap pantulan Vittoria di kaca spion tengah. Melihat ekspresi wanita itu, ingatan Domenico melayang kembali ke kejadian beberapa jam lalu, tepatnya tengah malam tadi di basement sunyi Vila Lombardi.Malam itu, suasana kabin mobil sedingin es, hanya diterangi cahaya remang lampu dasbor. Di kursi belakang, Vittoria akhirnya tenang dan tertidur karena kelelahan setelah tangisannya mereda. Nico memastikan wanita itu benar-benar terlelap melalui kaca spion, sebelum ia meraba

  • Sweet Decepticon   Bab 12 Lalu Apa yang Akan Kamu Lakukan

    Pagi itu, langit Milan cerah tanpa cela. Matahari bersinar keemasan, menembus jendela kaca Villa Lombardi yang menjulang tinggi. Sebuah ironi yang kejam, karena di dalam rumah itu, badai sedang mengamuk.Vittoria baru saja melangkah keluar dari kamarnya saat suara pecahan barang menggema dari arah ruang kerja suaminya di lantai bawah.Denting beling yang beradu dengan marmer disusul oleh raungan kasar terdengar jelas. Bukan suara elegan yang biasa dia gunakan saat berpidato di depan para pemegang saham, melainkan seperti suara seekor binatang yang sedang terpojok.Vittoria mempercepat langkahnya menuruni tangga. Saat ia tiba di ambang pintu ruang kerja yang terbuka separuh, ia membeku.Ruangan itu kacau balau. Lampu meja antik dari kristal Baccarat telah hancur berkeping-keping di lantai. Kertas-kertas berserakan dan di tengah kekacauan itu, Lorenzo berdiri dengan rambut acak-acakan, kemeja sutranya kusut, dan wajahnya memerah karena amarah yang bercampur dengan kepanikan nyata. Lor

  • Sweet Decepticon   Bab 11 Keadilan Datang dari Iblis yang Kamu Bayar

    Makan siang di Ristorante Cracco berbintang Michelin itu selalu terasa seperti medan perang yang disamarkan dengan taplak meja linen putih dan hidangan truffle.Vittoria duduk di antara empat wanita yang mengenakan perhiasan seharga sebuah rumah mewah. Mereka adalah istri-istri dari rekan bisnis dan saingan Lorenzo. Di permukaan, mereka membicarakan yayasan amal, pameran seni di Paris, dan pelatih pilates baru. Namun di bawah permukaan, setiap kalimat adalah pisau bedah yang siap menguliti kelemahan siapa pun yang lengah."Vittoria, Darling," panggil Isabella, istri seorang senator yang wajahnya terlalu kencang akibat botoks. Ia mengiris daging veal-nya dengan anggun. "Aku tidak melihat Lorenzo menemanimu di pembukaan galeri semalam. Kudengar dia sedang sangat... sibuk."Isabella menekan kata 'sibuk' dengan nada yang membuat perut Vittoria melilit."Dia sedang mengurus akuisisi pabrik tekstil keluarga Rossi di pinggiran kota," jawab Vittoria dengan senyum terpaksa. "Itu kesepakatan b

  • Sweet Decepticon   Bab 10 Aku yang Memilikimu

    Jalanan Via Montenapoleone dihiasi oleh deretan etalase mengkilap dan orang-orang yang berjalan dengan kepala terangkat tinggi. Namun, bagi Vittoria, jalanan mode paling prestisius di Milan itu hari ini terasa seperti lorong eksekusi. Mobil hitamnya merapat sempurna di depan butik eksklusif Armani. Tanpa menunggu valet, Nico keluar dan membukakan pintu untuk Vittoria. "Kita sudah sampai, Signora," kata Nico. Wajahnya datar, seolah insiden mencekik tengkuk di dalam mobil tadi hanyalah halusinasi Vittoria semata. Vittoria turun tanpa membalas tatapannya. Ia merapikan trench coat-nya dan melangkah masuk ke dalam butik. Udara dingin beraroma lili putih langsung menyambutnya. "Ah, Signora Lombardi! Selamat datang," sapa Madame Celine, manajer butik yang elegan, dengan senyum lebar. "Ruang VIP sudah kami siapkan. Tiga gaun yang Anda minta sudah menunggu." Vittoria mengangguk pelan. "Terima kasih, Celine. Tolong siapkan juga—" Langkah Vittoria terhenti ketika ia menyadari bayangan

  • Sweet Decepticon   Bab 9 Kamu Terlihat Tegang

    "Bagus," Lorenzo menepuk lengan istrinya sekilas, sentuhan yang terasa hampa. "Sayang, aku berangkat dulu. Pakai dia untuk apa pun yang kamu butuhkan hari ini. Bawa tas belanjaanmu, atau apa pun.""Lorenzo, tunggu," suara Vittoria nyaris pecah. Ia tidak bisa berada di dalam mobil tertutup berdua saja dengan pria ini. Pria yang tahu persis bagaimana rasa kulitnya, bagaimana desahannya.Tapi Lorenzo tidak mendengarkan. Dia sudah melangkah menuju Maserati-nya sendiri yang terparkir tak jauh dari situ, sibuk kembali dengan ponsel di telinganya.Vittoria ditinggalkan sendirian. Berdiri di undakan teras, berhadapan dengan mimpi buruknya yang paling menggoda.Nico melangkah maju, memutar tubuhnya dan membuka pintu penumpang Bentley itu dengan gerakan elegan yang terlatih. Ia membungkuk sedikit, mengulurkan tangan bersarung tangan hitamnya."Silakan, Signora."Vittoria menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa seperti terpaku di lantai marmer teras. Ia melirik ke sekeliling, memastikan

  • Sweet Decepticon   Bab 8 Janji yang Mengikat

    Pagi di Villa Lombardi selalu terasa seperti adegan dari film klasik yang diputar berulang-ulang, indah secara visual, namun membosankan hingga ke tulang.Vittoria duduk di ujung meja makan panjang berbahan kayu mahogany, mengaduk cangkir espresonya tanpa minat. Di ujung meja yang lain, berjarak setidaknya tiga meter darinya, Lorenzo sedang sibuk menggeser layar tabletnya sambil memarahi seseorang di telepon."Aku tidak peduli alasan apa yang dia berikan, pecat dia! Bagaimana bisa kepala keamanan membiarkan hal konyol seperti ini terjadi?" teriak Lorenzo, urat di lehernya menonjol. Ia membanting tabletnya ke atas meja, membuat piring porselen di dekatnya bergetar.Vittoria menyesap kopinya perlahan. Ia masih lelah setelah kejadian di Gala Cavaliere dua malam lalu. Punggungnya masih kaku, dan pikirannya terus mengulang momen di taman gelap itu.Momen saat tangan kasar seorang pria memakaikan sepatu ke kakinya dengan kelembutan yang mematikan."Ada apa?" tanya Vittoria datar, sekadar me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status