MasukCahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.
Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan rasa nyeri yang sangat spesifik di antara kedua pahanya. Ingatan malam itu membanjiri benaknya seperti air bah. Bengkel kumuh, gujan, cek lima puluh ribu euro, dan Nico. Mata Vittoria terbuka lebar. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Di sebelahnya, di atas seprai sutra Mesir seharga ribuan euro yang kini kusut masai, seorang pria asing sedang tidur telungkup. Punggungnya yang lebar, dihiasi otot-otot yang terbentuk sempurna dan beberapa bekas luka samar, naik-turun dengan irama yang tenang. Wajah Vittoria memanas. Rasa malu yang begitu pekat merayap naik dari perut hingga ke lehernya. Apa yang telah ia lakukan? Ia, Vittoria Lombardi, nyonya dari salah satu dinasti tekstil terhormat, baru saja tidur dengan seorang montir jalanan yang ia pungut di tengah hujan? Ia telah merendahkan dirinya sendiri menjadi serendah suaminya. Tidak, mungkin lebih rendah. Ia membayarnya. "Tuhan," bisiknya ngeri. Ia harus menyingkirkan pria ini. Sekarang juga. Sebelum pelayan datang. Sebelum realitas menghancurkan sisa harga dirinya. Dengan gerakan hati-hati, Vittoria mencoba bangun. Ia tidak mengenakan pakaian satu helai benang pun. Udara dingin penthouse membuat kulitnya meremang. Ia melihat selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh Nico dan kakinya sendiri. Ia mencengkeram ujung selimut dan menariknya pelan. Kain itu tergeser dan saat itulah napas Vittoria tercekat. Nico tidak sedang tidur pulas seperti yang ia kira, atau mungkin tidur pria itu begitu tenang hingga selimut yang tersingkap pun tak mengganggunya. Posisi tubuhnya sedikit miring sekarang dan di sana, tanpa sehelai benang pun yang menutupi, Vittoria melihat bukti virilitas pagi hari pria itu. Milik Nico menegang sempurna, mencuat angkuh dari sela paha yang berotot, tampak lebih besar dan mengintimidasi di bawah cahaya pagi yang jujur daripada di kegelapan malam tadi. Urat-urat halusnya terlihat jelas, pulsasinya tampak hidup. Vittoria terpaku. Logikanya berteriak, Lari, bodoh! Tapi tubuhnya, tubuhnya yang pengkhianat justru bereaksi sebaliknya. Ia merasakan denyutan familiar di pusat tubuhnya, sebuah respons basah yang memalukan hanya karena melihat pemandangan itu. "Menikmati pemandangan, Signora?" Suara serak khas bangun tidur itu memecah keheningan. Vittoria tersentak, pandangannya naik cepat ke wajah Nico. Pria itu sudah membuka matanya. Sepasang iris gelap itu menatapnya, tidak dengan rasa kantuk, tapi dengan kewaspadaan predator yang malas. Ada seringai miring di bibirnya yang tebal. "Aku, aku hanya ingin mengambil selimut," gagap Vittoria. Wibawanya hancur berantakan. Ia mencoba menarik kain itu lagi untuk menutupi dadanya yang terekspos, tapi tangan Nico bergerak lebih cepat. Tangan besar itu mencengkeram pergelangan tangan Vittoria kuat. "Kamu terlihat lapar," gumam Nico. Matanya turun, menelanjangi Vittoria untuk kedua kalinya, berhenti lama di dada Vittoria yang naik-turun cepat, lalu turun ke perut ratanya, dan ke area kewanitaannya yang terbuka. "Atau semalam belum cukup memuaskan?" "Lepaskan aku, Nico. Ini kesalahan. Aku harus...." Nico menarik tangan Vittoria. Sedangkan Vittoria tidak punya keseimbangan untuk melawan. Tubuhnya terhempas kembali ke kasur, tepat di samping tubuh hangat Nico. Sebelum ia bisa berteriak, Nico sudah berguling, mengurungnya di bawah kungkungan lengan dan kaki yang berat. Aroma pria itu, musk alami, keringat tidur, dan sisa percintaan mereka mengisi indra penciuman Vittoria, memabukkan dan melumpuhkan. "Kesalahan?" bisik Nico tepat di depan bibirnya. Paha pria itu mendesak masuk di antara kaki Vittoria, dan Vittoria bisa merasakan kekuatan Nico yang menekan perut bawahnya. Terasa sangat oanas, keras, dan menuntut. "Tubuhmu tidak bilang ini kesalahan, Vittoria. Tubuhmu bilang kamu menginginkannya lagi." "Tidak," bantah Vittoria lemah. Tangannya menahan dada bidang Nico, tapi bukannya mendorong, jemarinya justru melengkung, mencengkeram kulit pria itu. "Pembohong," geram Nico. Ia tidak menunggu izin kali ini. Ia tahu Vittoria juga menginginkannya. Nico menciumnya, bukan ciuman manis selamat pagi, tapi ciuman yang memakan napas, kasar, dalam, dan penuh kepemilikan. Pada saat yang sama, tangannya meluncur ke bawah, menemukan pusat Vittoria yang sudah basah dan siap. Vittoria mengerang tertahan ke dalam mulut Nico saat jari pria itu masuk, menggodanya tanpa ampun. "Lihat?" Nico melepaskan ciumannya, menatap mata Vittoria yang berkabut gairah. "Kamu basah untuk montir miskin ini, Signora. Kamu sangat menginginkanku di dalam dirimu." "Tolong...." Vittoria tidak tahu apakah ia memohon untuk berhenti atau memohon untuk dilanjutkan. Nico memilih opsi kedua. Ia mengangkat pinggul Vittoria, memposisikannya dengan kasar, lalu menghentakkan dirinya masuk dalam satu gerakan tusukan yang dalam. "Ahhh!" Vittoria melengkungkan punggungnya, kepalanya terlempar ke bantal. Rasa penuh itu luar biasa. Nico mengisi setiap inci dirinya, meregangkannya hingga batas kenikmatan dan rasa sakit yang nikmat. Tidak ada romansa pagi itu. Nico bergerak dengan ritme yang stabil dan menghukum. Setiap sorongan pinggulnya membuat tempat tidur berguncang, membuat suara kulit bertemu kulit menggema di ruangan sunyi itu. Vittoria mencakar punggung Nico, kakinya melilit pinggang pria itu secara insting, berusaha menariknya lebih dalam lagi. Rasa malu Vittoria terbakar habis, digantikan oleh kebutuhan mendesak untuk mencapai pelepasan. Ia membenci betapa tubuhnya tunduk pada pria ini. Ia membenci betapa mudahnya Nico membuatnya melupakan siapa dirinya. "Sebut namaku," perintah Nico lagi, napasnya menderu di leher Vittoria. "Nico... Nico!" Saat puncak itu datang, Vittoria merasa seolah jiwanya ditarik keluar. Ia bergetar hebat dalam pelukan pria itu, sementara Nico menggeram rendah, menuntaskan dirinya dengan beberapa hentakan terakhir yang brutal sebelum jatuh menindih tubuh Vittoria yang lemas. Lima belas menit kemudian. Vittoria berdiri di depan cermin besar, sudah terbalut bathrobe sutra putih. Tangannya gemetar saat ia mengikat tali di pinggangnya seerat mungkin, seolah kain tipis itu bisa menjadi baju besi yang melindunginya dari kenyataan. Ia menoleh ke arah tempat tidur. Nico sedang duduk di tepi ranjang, menarik celana jins kotornya. Punggungnya yang telanjang masih menampilkan bekas cakaran merah, tanda mata darinya. Vittoria menarik napas panjang, memasang kembali topeng dinginnya. Ia mengambil dompet dari meja rias, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas pecahan seratus euro. Lalu ia berjalan mendekati Nico, menjaga jarak aman. Ia tidak ingin menyentuhnya lagi. Jika ia menyentuhnya, ia takut ia akan hancur lagi. "Ini," kata Vittoria datar. Ia meletakkan uang itu di atas meja nakas di samping Nico. "Untuk taksi dan untuk sarapanmu." Nico berhenti mengancingkan celananya. Ia menatap tumpukan uang itu, lalu menatap wajah Vittoria yang pucat namun angkuh. "Kamu mengusirku, Signora?" tanya Nico tenang. "Transaksi kita selesai," kata Vittoria, mengangkat dagunya tinggi-tinggi, meski lututnya masih terasa lemas. "Kamu sudah mendapatkan biaya kuliahmu dan kamu sudah mendapatkan bonus pagi ini. Sekarang, pergi. Aku ada pertemuan nanti siang." Itu bohong. Ia hanya ingin sendiri untuk mandi dan menggosok tubuhnya hingga merah, mencoba menghilangkan jejak tangan pria itu. Nico berdiri. Ia mengenakan kaus kotornya kembali, menyembunyikan tubuh dewa itu di balik kain lusuh. Dia mengambil uang itu. "Terima kasih atas kemurahan hati Anda," kata Nico. Nada suaranya sopan, tapi matanya, mata itu tertawa. Ia berjalan mendekati Vittoria dan Vittoria mundur selangkah, menabrak meja rias. Nico tidak menyentuhnya. Ia hanya mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya ke telinga Vittoria. "Tapi hati-hati, Vittoria. Sekali kamu merasakan candu, uang sebanyak apa pun tidak akan bisa membuatmu berhenti memintanya lagi." Nico menarik diri, memberikan senyum tipis yang misterius, lalu berbalik dan berjalan keluar kamar tanpa menoleh lagi. Pintu penthouse tertutup dengan bunyi klik pelan. Vittoria merosot ke lantai, kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Ia menatap uang yang masih tersisa di dompetnya. Ia merasa kotor. Ia merasa bodoh. Sementara itu, di dalam lift yang turun menuju lobi, Domenico Cavaliere membuang lembaran uang ratusan euro pemberian Vittoria ke tempat sampah di sudut lift dengan gerakan acuh tak acuh. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jinsnya yang robek, menekan satu nomor. "Siapkan mobilku di blok sebelah," perintahnya dingin, suaranya berubah total menjadi nada otoriter seorang CEO yang ditakuti. "Dan cari tahu jadwal Vittoria Lombardi minggu depan. Aku ingin tahu ke mana saja dia pergi." Senyum licik terbit di wajahnya. Ongkos taksi? Lucu sekali. Vittoria pikir dia yang memegang kendali karena dia yang membayar. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja memberikan tiket masuk gratis bagi Domenico untuk menghancurkan hidupnya dan kemudian membangunnya kembali sesuai keinginannya.Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“Vittoria, angkat teleponnya!”“Aku menelepon polisi jika kamu tidak menjawab dalam sepuluh menit.”“Apa kamu gila? Menghilang tanpa kabar?”Vittoria membaca pesan-pesan itu dengan tatapan kosong saat Maserati-nya meluncur pelan memasuki gerbang besi tempa Villa Lombardi. Rumah itu, menjulang megah di kawasan San Siro, dikelilingi taman yang dipangkas sempurna dan patung-patung marmer yang dingin.Dulu, Vittoria melihat tempat ini sebagai pencapaian. Simbol bahwa ia telah berhasil menjadi pendamping yang sempurna bagi salah satu pria paling berkuasa di Milan.Sekarang, tempat ini terlihat seperti makam.Vittoria memarkir mobilnya. Sebelum keluar, ia melirik pantulan dirinya di kaca spion. Ria
Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan rasa nyeri yang sangat spesifik di antara kedua pahanya.Ingatan malam itu membanjiri benaknya seperti air bah.Bengkel kumuh, gujan, cek lima puluh ribu euro, dan Nico. Mata Vittoria terbuka lebar. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.Di sebelahnya, di atas seprai sutra Mesir seharga ribuan euro yang kini kusut masai, seorang pria asing sedang tidur telungkup. Punggungnya yang lebar, dihiasi otot-otot yang terbentuk sempurna dan beberapa bekas luka samar, naik-turun dengan irama yang tenang.Wajah Vittoria memanas. Rasa malu yang begitu pekat merayap naik dari perut hingga ke lehernya.Apa yang telah ia lakukan? Ia, Vittoria Lombardi, nyonya dari salah satu dinasti tekstil terhormat, baru
Penthouse di Porta Nuova itu hening, dingin, dan berbau kemewahan, sangat berbanding terbalik dari bengkel kumuh tempat Vittoria memungut "peliharaan" barunya. Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan cakrawala Milan yang basah, namun Vittoria tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan.Ia berdiri di tengah ruang tamu, menuang wiski ke dalam gelas kristal dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang menuntut pelepasan. Amarah di dalam dadanya bukan lagi api kecil. Semua itu adalah inferno yang siap melalap apa saja.Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menguar keluar, membawa aroma sabun sandalwood mahal miliknya yang kini bercampur dengan aroma tubuh pria asing.Vittoria berbalik, dan napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat Nico keluar hanya dengan handuk putih yang melilit pinggangnya. Jika di bengkel dia terlihat menarik, di sini, di bawah pencahayaan lampu temaram penthouse, dia adalah sebuah mahakarya maskulinitas yang b
Langit Milan tidak sekadar hujan malam ini, langit sedang berdarah. Air turun dalam tirai-tirai kelabu yang tebal, menghapus gemerlap lampu kota fashion itu menjadi lukisan abstrak yang luntur. Namun, bagi Vittoria Lombardi, badai di luar jendela mobilnya tidak ada artinya dibandingkan dengan kehancuran yang baru saja meluluhlantakkan dadanya.Ia mematikan mesin Maserati hitamnya di ujung gang sempit di distrik Navigli. Tempat ini jauh dari Via Montenapoleone. Di sini, udara berbau kanal keruh, sampah basah, dan keputusasaan.Tangan Vittoria gemetar saat ia mencengkeram kemudi, buku-buku jarinya memutih. Di jok penumpang, tergeletak sebuah amplop manila yang sudah terbuka. Foto-foto di dalamnya seolah mencemoohnya. Lorenzo, suaminya. Pria yang ia puja selama satu dekade, tertangkap kamera sedang menanamkan wajahnya di leher seorang gadis yang cukup muda untuk menjadi putrinya.Bukan perselingkuhan itu yang membunuhnya tapi senyum Lorenzo di foto itu. Senyum tulus yang sudah bertahun-







