Home / Mafia / Sweet Decepticon / Bab 4 Aku Suamimu

Share

Bab 4 Aku Suamimu

Author: Silentia
last update publish date: 2026-02-13 14:11:22

Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.

Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.

“Di mana kamu?”

“Vittoria, angkat teleponnya!”

“Aku menelepon polisi jika kamu tidak menjawab dalam sepuluh menit.”

“Apa kamu gila? Menghilang tanpa kabar?”

Vittoria membaca pesan-pesan itu dengan tatapan kosong saat Maserati-nya meluncur pelan memasuki gerbang besi tempa Villa Lombardi. Rumah itu, menjulang megah di kawasan San Siro, dikelilingi taman yang dipangkas sempurna dan patung-patung marmer yang dingin.

Dulu, Vittoria melihat tempat ini sebagai pencapaian. Simbol bahwa ia telah berhasil menjadi pendamping yang sempurna bagi salah satu pria paling berkuasa di Milan.

Sekarang, tempat ini terlihat seperti makam.

Vittoria memarkir mobilnya. Sebelum keluar, ia melirik pantulan dirinya di kaca spion. Riasannya sudah ia perbaiki, rambutnya sudah ia rapikan, dan ia mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi mata yang mungkin masih menyimpan sisa-sisa gairah liar semalam. Namun, ia tahu ada yang berbeda.

Ada rasa sakit yang nikmat di antara kedua pahanya, sebuah pengingat rahasia, sebuah tanda kepemilikan yang ditinggalkan oleh montir miskin itu. Rasa sakit itu membuatnya merasa hidup.

Vittoria baru saja melangkah keluar dari mobil ketika pintu utama vila terbanting terbuka.

Lorenzo Lombardi berderap keluar. Wajahnya yang tampan, namun kini terlihat terlalu halus, terlalu terawat, terlalu palsu, merah padam karena amarah dan kepanikan.

"Vittoria!" teriaknya. Suaranya memecah ketenangan pagi yang aristokrat.

Lorenzo mencengkeram lengan atas Vittoria begitu jarak mereka tertutup. Cengkeramannya kuat, tapi tidak memiliki otoritas yang sama dengan sentuhan Nico. Cengkeraman Lorenzo terasa seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya, bukan pria yang mengklaim miliknya.

"Dari mana saja kamu?!" bentak Lorenzo, napasnya berbau kopi mahal dan mint. "Ponselmu mati semalaman. Aku menelepon ibumu, teman-teman sosialitamu, bahkan sekretarismu. Tidak ada yang tahu kamu di mana! Aku hampir melapor ke polisi!"

Vittoria diam. Di balik kacamata hitamnya, ia menatap suaminya dengan dingin.

Dulu, ia akan meminta maaf. Dulu, ia akan gemetar takut mengecewakan "Sang Raja". Tapi sekarang? Bayangan Lorenzo yang sedang menanamkan wajahnya di leher model muda itu berkelebat di benaknya, tumpang tindih dengan bayangan Nico yang menatapnya tajam saat ia mencapai klimaks.

"Lepaskan aku, Lorenzo," kata Vittoria. Suaranya tenang, datar, dan mematikan.

Lorenzo tertegun. Ia melepaskan cengkeramannya, seolah tersengat listrik. Ia belum pernah mendengar nada bicara seperti itu dari istrinya yang penurut.

"Apa, apa maksudmu?" Lorenzo mencoba menurunkan nada suaranya, memasang kembali topeng "suami yang khawatir". Ia menyisir rambutnya yang tertata rapi ke belakang. "Sayang, aku khawatir setengah mati. Kamu tidak pernah seperti ini. Kamu selalu ada di rumah sebelum tengah malam. Apa yang terjadi?"

"Aku butuh udara segar," jawab Vittoria singkat, berjalan melewatinya menuju pintu masuk yang menjulang tinggi.

Lorenzo mengejarnya, langkah kakinya beradu dengan lantai marmer foyer. "Udara segar? Semalaman? Dengan ponsel mati? Apa kamu sadar betapa buruknya citra kita jika ada wartawan yang tahu kamu menghilang?"

Citra. Tentu saja.

Vittoria berhenti di kaki tangga utama. Ia berbalik perlahan, membuka kacamata hitamnya, dan menatap lurus ke mata biru Lorenzo.

"Citra?" ulang Vittoria, bibirnya melengkung sinis. "Kamu takut citra kita rusak, Lorenzo? Atau kamu takut aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kulihat?"

Wajah Lorenzo memucat sedikit. Jakunnya bergerak naik-turun. "Apa yang kamu bicarakan?"

Vittoria ingin berteriak. Ia ingin melemparkan foto-foto perselingkuhan itu ke wajah munafik suaminya. Tapi tidak. Itu terlalu mudah. Terlalu cepat.

Pembalasan dendam terbaik disajikan dingin dan berkat Nico, Vittoria kini memiliki senjata rahasia, yaitu ketidakpedulian.

"Tidak ada," Vittoria mengangkat bahu, berpura-pura bosan. "Aku hanya lelah menjadi boneka pajanganmu di setiap pesta amal. Aku menginap di penthouse lama. Sendirian. Aku butuh tidur tanpa mendengar dengkuranmu atau dering telepon bisnis-mu."

Kebohongan itu meluncur mulus. Setengah benar, setengah menutupi dosa terbesarnya.

Lorenzo menghela napas lega, ketegangan di bahunya merosot. "Oh... di penthouse. Tuhan, Vittoria, kenapa tidak bilang? Aku pikir kamu diculik atau kecelakaan."

Lorenzo melangkah mendekat, mencoba memeluk Vittoria. Tangannya melingkar di pinggang istrinya, mencoba menariknya mendekat untuk ciuman rekonsiliasi.

Vittoria menegang saat tubuh Lorenzo menempel padanya, seluruh sistem saraf Vittoria menjerit menolak. Aroma parfum citrus Lorenzo yang mahal kini terasa menyengat dan memuakkan dibandingkan dengan aroma musk alami, oli, dan keringat jantan Nico yang masih terbayang di ingatan sensoriknya.

Kulit Lorenzo terlalu halus. Tangannya terlalu lembut. Dia tidak memiliki kalus kasar yang menggesek kulit Vittoria dengan kasar namun nikmat. Dia tidak memiliki aura bahaya yang membuat darah Vittoria berdesir.

Vittoria mundur selangkah, menghindar sebelum bibir Lorenzo menyentuhnya. "Jangan," kata Vittoria tajam.

Lorenzo mengerutkan kening, tangannya tergantung di udara. "Ada apa denganmu? Aku suamimu."

"Aku lelah, Lorenzo. Sangat lelah," potong Vittoria. Ia membalikan badan, mulai menaiki tangga marmer itu. "Jangan ganggu aku. Aku ingin mandi dan tidur. Jangan berani-berani masuk ke kamarku sampai makan malam."

"Vittoria!" panggil Lorenzo, nada frustrasi dan otoritas kembali muncul dalam suaranya. "Kita ada Gala Cavaliere lusa nanti. Kamu harus mencoba gaunmu. Kamu tidak bisa bersikap kekanak-kanakan seperti ini!"

Langkah Vittoria terhenti di anak tangga kesepuluh.

Gala Cavaliere. Nama itu mengirimkan getaran aneh ke tulang punggungnya, meski ia tidak tahu kenapa. Itu adalah pesta tahunan paling bergengsi di Eropa, diadakan oleh keluarga perbankan dan industri tertua di Italia. Keluarga yang katanya memegang separuh ekonomi negara di telapak tangan mereka.

"Aku akan datang," jawab Vittoria tanpa menoleh. "Sekarang, biarkan aku sendiri."

Vittoria melanjutkan langkahnya, meninggalkan Lorenzo yang berdiri terpaku di foyer luas itu, bingung dan marah melihat perubahan drastis pada istrinya yang biasanya penurut.

Sesampainya di kamar tidurnya yang mewah, kamar yang terasa seperti sangkar berlapis emas, Vittoria membanting pintu dan menguncinya.

Ia bersandar di pintu, napasnya memburu.

Ia melihat ke sekeliling kamar itu. Tempat tidur king size dengan seprai sutra yang selalu rapi, foto pernikahan mereka yang besar di dinding, lemari penuh pakaian desainer. Semuanya terasa asing.

Vittoria berjalan ke kamar mandi, menyalakan shower dengan air terpanas yang bisa ia tahan. Ia melepas pakaiannya, membiarkan gaun dan lingerie mahalnya jatuh ke lantai marmer.

Ia berdiri di depan cermin besar di atas wastafel. Di sana, di lekukan lehernya, tersembunyi di balik rambut panjangnya, ada tanda merah keunguan. Bekas gigitan. Love bite.

Jari Vittoria menyentuh tanda itu. Sakit, tapi ia tersenyum. Senyum yang getir, gelap, dan berbahaya.

Lorenzo mencari istrinya yang hilang. Tapi dia tidak tahu, istrinya yang hilang tidak pernah pulang. Wanita yang kembali ke rumah ini adalah orang asing. Orang asing yang membawa rahasia kotor di antara pahanya dan kebencian dingin di dalam hatinya.

"Nikmati kuasamu selagi bisa, Lorenzo," bisik Vittoria pada bayangannya sendiri, mengulangi kata-kata yang pernah ia dengar entah di mana.

Vittoria masuk ke bawah guyuran air panas, mencoba mencuci jejak Nico dari kulitnya, namun ia tahu itu sia-sia. Pria itu sudah masuk ke dalam aliran darahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sweet Decepticon   Bab 27 Menyalakan Api Gairah

    Pintu ganda ruang rapat lantai lima puluh terkunci rapat dari dalam dengan dentang berat. Suara histeris Marcello yang diseret di koridor luar perlahan lenyap, digantikan oleh keheningan yang begitu pekat dan sarat akan ketegangan.Di dalam ruangan megah itu, sisa-sisa aroma konspirasi dan parfum mahal para anggota dewan masih menggantung di udara.Domenico tidak beranjak dari posisinya yang berlutut di hadapan Vittoria. Jemari besarnya yang kuat masih mencengkeram jemari kiri Vittoria, menahan wanita itu di atas kursi kulit kebesarannya. Matanya yang gelap, yang baru saja membantai karier politik pamannya tanpa berkedip, kini terkunci lurus pada bibir merah darah milik istrinya."Kamu melihat cara mereka menatapmu tadi, mia regina?" bisik Domenico, suaranya turun menjadi nada rendah yang menggetarkan dada. "Mereka ketakutan. Pria-pria tua yang menguasai bursa saham Milan gemetar di depan seorang wanita bergaun merah."Vittoria menunduk, menatap pria yang mengurung kakinya di antara k

  • Sweet Decepticon   Bab 26 Kamu Melatih Serigala yang Sangat Tajam

    Wajah Marcello berubah dari pucat menjadi merah padam, lalu hijau kelabu. Napasnya memburu, matanya membelalak tak percaya menatap lembaran dokumen bernoda segel hukum resmi yang dibeberkan Vittoria di atas meja mahoni."Ini penipuan! Ini konspirasi kotor!" raung Marcello, menepuk meja dengan kedua telapak tangannya hingga cangkir-cangkir porselen di hadapan para anggota dewan berdenting kencang. "Bagaimana bisa wanita ini, bekas istri bajingan Lombardi, memegang sepuluh persen saham mengambang Konsorsium Utara?! Itu tidak sah!""Jaga lidahmu, Marcello," suara Domenico meluncur pelan, namun getaran dingin di dalamnya membuat dua anggota dewan tertua di sebelah kiri refleks menarik kursi mereka ke belakang.Domenico melangkah melintasi karpet tebal, berdiri tepat di belakang kursi Vittoria. Kedua tangannya yang kokoh hinggap di sandaran kursi istrinya, memagari Vittoria dengan aura dominasi mutlak yang tak tergoyahkan."Dokumen itu disahkan oleh Notaris Negara dan Bank Sentral Milan te

  • Sweet Decepticon   Bab 25 Mereka Akan Mencoba Memakanmu Hidup-hidup

    Katedral Sant'Ambrogio yang biasanya megah dan teduh sore itu terasa sedingin ruang eksekusi. Tidak ada bunga-bunga putih mewah, tidak ada alunan musik yang menggema, dan tidak ada barisan tamu yang memberikan ucapan selamat.Di dalam kapel pribadi yang tertutup untuk umum, hanya ada seorang pastor tua yang gemetar membaca ikrar, Enzo yang berdiri berjaga di balik pintu ganda, serta dua pengawal bersenjata lengkap yang mengawasi sudut-sudut pilar marmer.Vittoria berdiri di hadapan altar dengan gaun pengantin sutra putih berpotongan simpel namun tegas. Di sampingnya, Domenico berdiri tegap bagaikan patung batu dalam setelan tuxedo hitam kaku."Dengan otoritas gereja dan hukum sipil yang diberikan kepadaku," suara pastor tua itu bergetar pelan di tengah keheningan kapel yang angker, "aku menyatakan kalian berdua resmi sebagai suami istri. Apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia."Domenico tidak menunggu perintah pastor. Ia meraih jemari kiri Vittoria

  • Sweet Decepticon   Bab 24 Aku Menciptakan Seorang Monster

    Aroma mesiu dan bau amis dari noda darah di atas marmer masih menusuk hidung, namun Domenico tidak membuang waktu. Pria itu sudah berada di depan panel kontrol dinding, memicu protokol pembersihan darurat.Dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit, tim pembersih internal Cavaliere Holdings berpakaian serba hitam tanpa identitas melangkah masuk melalui tangga darurat. Dengan presisi militer yang senyap, mereka mengangkat dua mayat pengawal, mengobati satu yang pingsan, dan merestorasi area penthouse seolah pertumpahan darah tak pernah terjadi di sana.Vittoria berdiri di dekat pembatas kaca, mengamati gerak-gerik tim tersebut dengan jemari yang saling bertaut kencang. Pertahanan mentalnya hampir habis, tetapi insting bertahan hidupnya memaksa pikirannya tetap jernih.Domenico menghampirinya, menyerahkan segelas wiski tanpa es."Minum ini," perintahnya pendek. Suaranya sudah kembali tenang, tetapi mata gelap itu menyimpan kewaspadaan seorang predator yang siap menerkam kembali.Vittor

  • Sweet Decepticon   Bab 23 Domenico, Hentikan!

    Ancaman Don Alessandro menggantung di udara bagaikan kabut beracun. Empat moncong pistol bersilenser masih terkunci lurus ke arah dada Domenico dan Vittoria. Setiap detik terasa ditarik ulur, pekat oleh ketegangan yang siap meledak menjadi pertempuran berdarah. Vittoria merasakan dingin merayap dari telapak kakinya. Nama keluarganya ayahnya kembali diseret ke dalam jurang kehancuran. Namun sebelum ketakutan berhasil melumpuhkan pikirannya, genggaman tangan Domenico di jemarinya mengetat, menyalurkan dominasi yang tak tergoyahkan. "Menyentuh keluarga Conti berarti menyatakan perang denganku, Kakek," suara Domenico meluncur sedingin es, tanpa getaran sedikit pun. "Dan kamu tahu betul bahwa aku tidak pernah menyisakan musuh dalam perang." Marcello terkekeh sumbang, mencoba menutupi kegugupannya di balik senyum culas. "Kamu sendirian di sini, Domenico! Pengawalmu di lantai bawah sudah dilumpuhkan oleh orang-orang kami. Kamu tidak punya kartu untuk dimainkan lagi!" "Kamu yakin?" Domeni

  • Sweet Decepticon   Bab 22 Dia Harus Lenyap dari Milan Sebelum Matahari Tenggelam

    Cahaya matahari musim gugur yang pucat menembus kaca raksasa, memantulkan bayangan dua cangkir porselen berisi espresso yang membiarkan asapnya menguap di atas meja marmer.Vittoria sudah mengenakan setelan blazer dan rok pensil berwarna putih gading, anggun, kaku, dan siap berperang. Di hadapannya, tiga berkas tebal berstempel Cavaliere Holdings dan dokumen pembatalan Project Vanguard telah ditandatangani dengan tinta hitam yang masih segar.Domenico berdiri di dekat jendela, mengancingkan manset kemeja hitam mewahnya. Wajahnya yang semalam terbakar gairah kini kembali sepenuhnya menjadi topeng es Domenico Cavaliere yang tak tersentuh."Pengacara pribadi keluarga Conti sudah menerima pengalihan saham secara penuh sepuluh menit yang lalu," kata Domenico, suara beratnya stabil tanpa cela. "Ayahmu resmi aman dari jeratan kebangkrutan Lorenzo. Janjiku lunas."Vittoria merapikan kerah blazernya, mengangkat wajahnya yang dingin. "Dan janjiku juga lunas. Aku milikmu di atas kertas, Domenico

  • Sweet Decepticon   Bab 6 Kamu Menutupi Karyaku

    Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico me

  • Sweet Decepticon   Bab 3 Kamu mengusirku, Signora?

    Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan

  • Sweet Decepticon   Bab 2 Saya Sedikit Terbawa Suasana

    Penthouse di Porta Nuova itu hening, dingin, dan berbau kemewahan, sangat berbanding terbalik dari bengkel kumuh tempat Vittoria memungut "peliharaan" barunya. Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan cakrawala Milan yang basah, namun Vittoria tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan.Ia

  • Sweet Decepticon   Bab 1 Saya Milik Anda Malam Ini

    Langit Milan tidak sekadar hujan malam ini, langit sedang berdarah. Air turun dalam tirai-tirai kelabu yang tebal, menghapus gemerlap lampu kota fashion itu menjadi lukisan abstrak yang luntur. Namun, bagi Vittoria Lombardi, badai di luar jendela mobilnya tidak ada artinya dibandingkan dengan keha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status