Se connecterPonsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.
Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo. “Di mana kamu?” “Vittoria, angkat teleponnya!” “Aku menelepon polisi jika kamu tidak menjawab dalam sepuluh menit.” “Apa kamu gila? Menghilang tanpa kabar?” Vittoria membaca pesan-pesan itu dengan tatapan kosong saat Maserati-nya meluncur pelan memasuki gerbang besi tempa Villa Lombardi. Rumah itu, menjulang megah di kawasan San Siro, dikelilingi taman yang dipangkas sempurna dan patung-patung marmer yang dingin. Dulu, Vittoria melihat tempat ini sebagai pencapaian. Simbol bahwa ia telah berhasil menjadi pendamping yang sempurna bagi salah satu pria paling berkuasa di Milan. Sekarang, tempat ini terlihat seperti makam. Vittoria memarkir mobilnya. Sebelum keluar, ia melirik pantulan dirinya di kaca spion. Riasannya sudah ia perbaiki, rambutnya sudah ia rapikan, dan ia mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi mata yang mungkin masih menyimpan sisa-sisa gairah liar semalam. Namun, ia tahu ada yang berbeda. Ada rasa sakit yang nikmat di antara kedua pahanya, sebuah pengingat rahasia, sebuah tanda kepemilikan yang ditinggalkan oleh montir miskin itu. Rasa sakit itu membuatnya merasa hidup. Vittoria baru saja melangkah keluar dari mobil ketika pintu utama vila terbanting terbuka. Lorenzo Lombardi berderap keluar. Wajahnya yang tampan, namun kini terlihat terlalu halus, terlalu terawat, terlalu palsu, merah padam karena amarah dan kepanikan. "Vittoria!" teriaknya. Suaranya memecah ketenangan pagi yang aristokrat. Lorenzo mencengkeram lengan atas Vittoria begitu jarak mereka tertutup. Cengkeramannya kuat, tapi tidak memiliki otoritas yang sama dengan sentuhan Nico. Cengkeraman Lorenzo terasa seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya, bukan pria yang mengklaim miliknya. "Dari mana saja kamu?!" bentak Lorenzo, napasnya berbau kopi mahal dan mint. "Ponselmu mati semalaman. Aku menelepon ibumu, teman-teman sosialitamu, bahkan sekretarismu. Tidak ada yang tahu kamu di mana! Aku hampir melapor ke polisi!" Vittoria diam. Di balik kacamata hitamnya, ia menatap suaminya dengan dingin. Dulu, ia akan meminta maaf. Dulu, ia akan gemetar takut mengecewakan "Sang Raja". Tapi sekarang? Bayangan Lorenzo yang sedang menanamkan wajahnya di leher model muda itu berkelebat di benaknya, tumpang tindih dengan bayangan Nico yang menatapnya tajam saat ia mencapai klimaks. "Lepaskan aku, Lorenzo," kata Vittoria. Suaranya tenang, datar, dan mematikan. Lorenzo tertegun. Ia melepaskan cengkeramannya, seolah tersengat listrik. Ia belum pernah mendengar nada bicara seperti itu dari istrinya yang penurut. "Apa, apa maksudmu?" Lorenzo mencoba menurunkan nada suaranya, memasang kembali topeng "suami yang khawatir". Ia menyisir rambutnya yang tertata rapi ke belakang. "Sayang, aku khawatir setengah mati. Kamu tidak pernah seperti ini. Kamu selalu ada di rumah sebelum tengah malam. Apa yang terjadi?" "Aku butuh udara segar," jawab Vittoria singkat, berjalan melewatinya menuju pintu masuk yang menjulang tinggi. Lorenzo mengejarnya, langkah kakinya beradu dengan lantai marmer foyer. "Udara segar? Semalaman? Dengan ponsel mati? Apa kamu sadar betapa buruknya citra kita jika ada wartawan yang tahu kamu menghilang?" Citra. Tentu saja. Vittoria berhenti di kaki tangga utama. Ia berbalik perlahan, membuka kacamata hitamnya, dan menatap lurus ke mata biru Lorenzo. "Citra?" ulang Vittoria, bibirnya melengkung sinis. "Kamu takut citra kita rusak, Lorenzo? Atau kamu takut aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kulihat?" Wajah Lorenzo memucat sedikit. Jakunnya bergerak naik-turun. "Apa yang kamu bicarakan?" Vittoria ingin berteriak. Ia ingin melemparkan foto-foto perselingkuhan itu ke wajah munafik suaminya. Tapi tidak. Itu terlalu mudah. Terlalu cepat. Pembalasan dendam terbaik disajikan dingin dan berkat Nico, Vittoria kini memiliki senjata rahasia, yaitu ketidakpedulian. "Tidak ada," Vittoria mengangkat bahu, berpura-pura bosan. "Aku hanya lelah menjadi boneka pajanganmu di setiap pesta amal. Aku menginap di penthouse lama. Sendirian. Aku butuh tidur tanpa mendengar dengkuranmu atau dering telepon bisnis-mu." Kebohongan itu meluncur mulus. Setengah benar, setengah menutupi dosa terbesarnya. Lorenzo menghela napas lega, ketegangan di bahunya merosot. "Oh... di penthouse. Tuhan, Vittoria, kenapa tidak bilang? Aku pikir kamu diculik atau kecelakaan." Lorenzo melangkah mendekat, mencoba memeluk Vittoria. Tangannya melingkar di pinggang istrinya, mencoba menariknya mendekat untuk ciuman rekonsiliasi. Vittoria menegang saat tubuh Lorenzo menempel padanya, seluruh sistem saraf Vittoria menjerit menolak. Aroma parfum citrus Lorenzo yang mahal kini terasa menyengat dan memuakkan dibandingkan dengan aroma musk alami, oli, dan keringat jantan Nico yang masih terbayang di ingatan sensoriknya. Kulit Lorenzo terlalu halus. Tangannya terlalu lembut. Dia tidak memiliki kalus kasar yang menggesek kulit Vittoria dengan kasar namun nikmat. Dia tidak memiliki aura bahaya yang membuat darah Vittoria berdesir. Vittoria mundur selangkah, menghindar sebelum bibir Lorenzo menyentuhnya. "Jangan," kata Vittoria tajam. Lorenzo mengerutkan kening, tangannya tergantung di udara. "Ada apa denganmu? Aku suamimu." "Aku lelah, Lorenzo. Sangat lelah," potong Vittoria. Ia membalikan badan, mulai menaiki tangga marmer itu. "Jangan ganggu aku. Aku ingin mandi dan tidur. Jangan berani-berani masuk ke kamarku sampai makan malam." "Vittoria!" panggil Lorenzo, nada frustrasi dan otoritas kembali muncul dalam suaranya. "Kita ada Gala Cavaliere lusa nanti. Kamu harus mencoba gaunmu. Kamu tidak bisa bersikap kekanak-kanakan seperti ini!" Langkah Vittoria terhenti di anak tangga kesepuluh. Gala Cavaliere. Nama itu mengirimkan getaran aneh ke tulang punggungnya, meski ia tidak tahu kenapa. Itu adalah pesta tahunan paling bergengsi di Eropa, diadakan oleh keluarga perbankan dan industri tertua di Italia. Keluarga yang katanya memegang separuh ekonomi negara di telapak tangan mereka. "Aku akan datang," jawab Vittoria tanpa menoleh. "Sekarang, biarkan aku sendiri." Vittoria melanjutkan langkahnya, meninggalkan Lorenzo yang berdiri terpaku di foyer luas itu, bingung dan marah melihat perubahan drastis pada istrinya yang biasanya penurut. Sesampainya di kamar tidurnya yang mewah, kamar yang terasa seperti sangkar berlapis emas, Vittoria membanting pintu dan menguncinya. Ia bersandar di pintu, napasnya memburu. Ia melihat ke sekeliling kamar itu. Tempat tidur king size dengan seprai sutra yang selalu rapi, foto pernikahan mereka yang besar di dinding, lemari penuh pakaian desainer. Semuanya terasa asing. Vittoria berjalan ke kamar mandi, menyalakan shower dengan air terpanas yang bisa ia tahan. Ia melepas pakaiannya, membiarkan gaun dan lingerie mahalnya jatuh ke lantai marmer. Ia berdiri di depan cermin besar di atas wastafel. Di sana, di lekukan lehernya, tersembunyi di balik rambut panjangnya, ada tanda merah keunguan. Bekas gigitan. Love bite. Jari Vittoria menyentuh tanda itu. Sakit, tapi ia tersenyum. Senyum yang getir, gelap, dan berbahaya. Lorenzo mencari istrinya yang hilang. Tapi dia tidak tahu, istrinya yang hilang tidak pernah pulang. Wanita yang kembali ke rumah ini adalah orang asing. Orang asing yang membawa rahasia kotor di antara pahanya dan kebencian dingin di dalam hatinya. "Nikmati kuasamu selagi bisa, Lorenzo," bisik Vittoria pada bayangannya sendiri, mengulangi kata-kata yang pernah ia dengar entah di mana. Vittoria masuk ke bawah guyuran air panas, mencoba mencuci jejak Nico dari kulitnya, namun ia tahu itu sia-sia. Pria itu sudah masuk ke dalam aliran darahnya.Nico sedang bersandar di batang pohon, satu tangannya dimasukkan ke saku celana, tangan lainnya memegang rokok yang menyala. Asap tipis mengepul di sekitar wajahnya, memberinya aura misterius."Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Vittoria, suaranya bergetar. Antara kaget, marah, dan lega.Nico menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan ke arah langit malam. Matanya yang gelap menatap Vittoria dengan kilatan geli."Mencari tempat tenang untuk merokok," jawabnya santai. "Bosku ada di dalam. Sedang mabuk dan menjilat pantat orang-orang kaya lainnya. Dia bilang aku boleh istirahat sebentar asal tidak jauh-jauh dari mobil.""Kamu sopir?" Vittoria menatapnya tidak percaya.Nico mengangkat bahu. "Montir di siang hari, sopir panggilan di malam hari. Hidup di Milan tidak murah, Signora. Apalagi kalau kamu punya tunggakan kuliah, ingat?"Kebohongan itu meluncur mulus dari lidah Domenico. Tentu saja dia bukan sopir. Jas murah ini ia pinjam dari salah satu pengawal pribadiny
Villa Necchi Campiglio malam itu bukan lagi sekadar bangunan bersejarah di jantung Milan; ia telah berubah menjadi panggung sandiwara raksasa bagi kaum elit Eropa. Lampu-lampu kristal chandelier bergelantungan seperti tetesan air mata beku di langit-langit, memantulkan cahaya pada perhiasan berlian yang melingkar di leher para wanita dan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangan para pria.Acara Gala Cavaliere.Vittoria melangkah masuk, lengannya terpaut kaku pada lengan Lorenzo. Ia mengenakan gaun strapless berwarna perak metalik yang menyapu lantai, memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan presisi yang menyakitkan. Kain itu terasa dingin di kulitnya, seperti baju zirah yang ia kenakan untuk menutupi retakan di jiwanya."Tersenyumlah," bisik Lorenzo di telinganya. Cengkeramannya di lengan Vittoria sedikit mengerat, posesif namun kosong. "Keluarga Cavaliere jarang membuka pintu untuk umum. Kita harus memberikan kesan terbaik."Vittoria memaksakan sudut bibirnya naik. Senyum itu tera
Ponsel Vittoria bergetar hebat di telapak tangannya begitu ia mengaktifkannya kembali. Layar yang menyala menampilkan rentetan notifikasi yang memuakkan lima puluh panggilan tak terjawab, dua puluh pesan suara, dan pesan teks yang bertumpuk.Semuanya dari satu nama, yaitu Lorenzo.“Di mana kamu?”“Vittoria, angkat teleponnya!”“Aku menelepon polisi jika kamu tidak menjawab dalam sepuluh menit.”“Apa kamu gila? Menghilang tanpa kabar?”Vittoria membaca pesan-pesan itu dengan tatapan kosong saat Maserati-nya meluncur pelan memasuki gerbang besi tempa Villa Lombardi. Rumah itu, menjulang megah di kawasan San Siro, dikelilingi taman yang dipangkas sempurna dan patung-patung marmer yang dingin.Dulu, Vittoria melihat tempat ini sebagai pencapaian. Simbol bahwa ia telah berhasil menjadi pendamping yang sempurna bagi salah satu pria paling berkuasa di Milan.Sekarang, tempat ini terlihat seperti makam.Vittoria memarkir mobilnya. Sebelum keluar, ia melirik pantulan dirinya di kaca spion. Ria
Cahaya matahari pagi Milan masuk tanpa permisi melalui celah tirai, menusuk kelopak mata Vittoria dengan kejam.Ia mengerang pelan, mencoba membalikkan badan, namun rasa sakit yang tumpul di sekujur tubuhnya langsung menghantam kesadarannya. Kepala pening akibat sisa wiski, punggung yang kaku, dan rasa nyeri yang sangat spesifik di antara kedua pahanya.Ingatan malam itu membanjiri benaknya seperti air bah.Bengkel kumuh, gujan, cek lima puluh ribu euro, dan Nico. Mata Vittoria terbuka lebar. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.Di sebelahnya, di atas seprai sutra Mesir seharga ribuan euro yang kini kusut masai, seorang pria asing sedang tidur telungkup. Punggungnya yang lebar, dihiasi otot-otot yang terbentuk sempurna dan beberapa bekas luka samar, naik-turun dengan irama yang tenang.Wajah Vittoria memanas. Rasa malu yang begitu pekat merayap naik dari perut hingga ke lehernya.Apa yang telah ia lakukan? Ia, Vittoria Lombardi, nyonya dari salah satu dinasti tekstil terhormat, baru
Penthouse di Porta Nuova itu hening, dingin, dan berbau kemewahan, sangat berbanding terbalik dari bengkel kumuh tempat Vittoria memungut "peliharaan" barunya. Dinding kaca setinggi langit-langit memamerkan cakrawala Milan yang basah, namun Vittoria tidak punya waktu untuk menikmati pemandangan.Ia berdiri di tengah ruang tamu, menuang wiski ke dalam gelas kristal dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang menuntut pelepasan. Amarah di dalam dadanya bukan lagi api kecil. Semua itu adalah inferno yang siap melalap apa saja.Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menguar keluar, membawa aroma sabun sandalwood mahal miliknya yang kini bercampur dengan aroma tubuh pria asing.Vittoria berbalik, dan napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat Nico keluar hanya dengan handuk putih yang melilit pinggangnya. Jika di bengkel dia terlihat menarik, di sini, di bawah pencahayaan lampu temaram penthouse, dia adalah sebuah mahakarya maskulinitas yang b
Langit Milan tidak sekadar hujan malam ini, langit sedang berdarah. Air turun dalam tirai-tirai kelabu yang tebal, menghapus gemerlap lampu kota fashion itu menjadi lukisan abstrak yang luntur. Namun, bagi Vittoria Lombardi, badai di luar jendela mobilnya tidak ada artinya dibandingkan dengan kehancuran yang baru saja meluluhlantakkan dadanya.Ia mematikan mesin Maserati hitamnya di ujung gang sempit di distrik Navigli. Tempat ini jauh dari Via Montenapoleone. Di sini, udara berbau kanal keruh, sampah basah, dan keputusasaan.Tangan Vittoria gemetar saat ia mencengkeram kemudi, buku-buku jarinya memutih. Di jok penumpang, tergeletak sebuah amplop manila yang sudah terbuka. Foto-foto di dalamnya seolah mencemoohnya. Lorenzo, suaminya. Pria yang ia puja selama satu dekade, tertangkap kamera sedang menanamkan wajahnya di leher seorang gadis yang cukup muda untuk menjadi putrinya.Bukan perselingkuhan itu yang membunuhnya tapi senyum Lorenzo di foto itu. Senyum tulus yang sudah bertahun-







