LOGINSudah dua minggu dirinya berada di Rumah Utama Keluarga Herlambang. Dia sudah kembali beraktifitas di kantornya lagi. Masih mengabaikan pesan-pesan dari mantan mertuanya. Semua pesan-pesan ancaman dan bujukan agar mencabut perkara pada Aldi maupun Cherryl diteruskan kepada pengacara keluarga.
Renovasi rumah orangtuanya sudah dimulai. Om Tara dan Om Pram tidak main-main dalam mengerjakan sesuatu. Semuanya ditangani oleh tenaga profesional yang handal. Arsitek
. “Orion My Dear?” Maharani mengulangi ucapan wanita itu, menoleh menatap Orion, “Siapa dia.”“Dia perempuan yang mengganggu video call kita. Yang sudah membuatmu marah kepadaku. Menolak menerima chat ataupun teleponku. Yang membuatku nekat menyeberangi samudera dan benua hanya untuk meyakinkanmu kalau aku benar-benar menyukaimu. Hanya kau yang aku mau. Hanya kau yang membuatku ingin mengikatkan hatiku dengan hatimu.” “Sophia?”Orion mengangguk sambil menatap istrinya. Dia mengira istrinya akan menatapnya dengan tatapan marah ataupun kecewa. Tetapi tidak. Maharani bahkan menyentuh pipinya dengan lembut sambil tersenyum.“My Dear Or…” Sophia tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Maharani menyentuh pipi Orion.Lorenzo melangkah keluar. Tubuh jangkungnya mengintimidasi perempuan itu yang sedang menatap Maharani dan Orion tak berkedip.“Biarkan kami lewat, Nona. Jangan halangi kami. Waktu kami sangat berharga untuk drama murahan yang biasa Anda sajikan di depan Mr. Petralis.”“Tapi a
. Mereka terbangun pagi-pagi sekali. Sholat Shubuh pertama di rumah itu terasa penuh khidmat. Orion mendengarkan Maharani mengaji di ruang tidurnya.“Aku tidak tahu apa arti dari bacaan yang kau baca. Tetapi rasanya menenangkan dan damai di sini. Efeknya lebih dalam dari lagu atupun musik yang menyentuh. Ini terkesan lebih agung, lebih sakral…”Dia mengangguk.“Aku membaca surat ar Rahman, yang artinya Maha Penyayang. Surat yang memberitahukan kita begitu banyakny anikmat yang sudah Tuhan berikan kepada kita, hal-hal yang tidak kita sadari. Maka sudah sepatutnya kita wajib bersyukur kepadaNya.”Orion memeluk istirnya yang masih duduk di atas sajadah. Dia mengecup ubun-ubunnya. “Terimakasih sudah menjadi istriku. Kau menghadirkan warna yang berbeda. Hidupku terasa lebih hidup bersamamu, My Queen.”“Mas Batman langsung ke kantor pagi ini?”Orion mengangguk. “Aku berangkat bersama Lorenzo. Ada sekretarisku di kantor. Kau ikutlah bersamaku. Setidaknya kau bisa melihat bagaimana suamimu
. Senyumnya lebar menghias wajahnya sementara jemarinya berada di dalam genggaman tangan suaminya, Orion Petralis. Mereka tiba lewat tengah malam di Madrid.Orion tidak membawanya ke apartemennya melainkan ke kediamannya di Madrid. Bangunan megah di hadapan mereka diterngi oleh lampu-lampu sorot dan lampu tangan yang menakjubkan membuatnya menjadi semakin terlihat indah sekaligus klasik. Bangunan dengan arsitektur Eropa klasik dengan berbagai ragam hiasan ukiran rumit pada bagian pilar, membuat dirinya terhenyak. Rumah dengan halaman luas dan asri. Bagian depannya memiliki taman Eropa. Semua bunga tumbuh di dalam petak-petaknya. Setiap semak dipangkas rapi hingga daunnya terlihat padat menghijau.Sementara bangunannya sendiri, berdiri megah menjulang. Bangunan 3 lantai dengan jendela-jendela lebar itu terlihat begitu angkuh. Ciri khas personal Orion Petralis di dunia bisnis. “My Queen, kau menyukainya?” Mereka masih berdiri di tangga undakan teras. Dirinya bahkan sudah tiga kali m
. “KAU SEDANG APA DI DALAM SANA?” suara si Kunyuk terdengar masih mengantuk. Ratna terdiam.“HEY KUNYUK! KAU BELUM LUPA DENGAN KEJADIAN TADI? KAU MENANTANGKU? TERSERAH APA YANG KULAKUKAN DI KAMAR MANDI INI. INI AREA PRIVASI!” Wajah Ratna merah padam. Si Kunyuk di luar pintu terdiam.“Aku… Maaf, aku hanya ingin bilang, aku akan keluar sebentar. Rokokku habis.”“Sana pergi! Kau kira aku akan memberimu uang untuk beli rokok? Aku bukan ibumu!”“Ya..ya. Jangan kemana-mana. Tuan Arya Surya sudah beberapa kali menghubungiku!” suara si Kunyuk terdengar lantang.“Aku tahu!”“Ingat jangan kemana-mana!” Ratna menempelkan telinganya ke daun pintu. Dia mendengar pintu depan yang dibuka dan ditutup kembali. Samar-samar terdengar suara deru mobilnya meninggalkan bungalownya. Dia kem
. Lorenzo mendatangi Orion dengan langkah-langkah panjangnya. Mereka berada di coffee shop setelah berkeliling Santorini. Langit berubah temaram karena hari menjelang sore.“Mr. Petralis, Anda harus segera kembali ke Italia sekarang juga. Ada beberapa dokumen yang tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk ditandatangani dan dibicarakan langsung dengan Anda.”“Tidak bisa kirimkan saja kemari dokumennya?” Orion melepas kacamata hitamnya.Lorenzo menggeleng. Maharani menatap mereka berdua. “Ada hal yang mendesak?” dia tersenyum, menepuk punggung tangan suaminya, “Ayo, Mas Batman harus mulai kerja. Liburan sudah selesai.”“Aku masih ingin di sini…”Maharani menggeleng.“Tidak bisa, Sayang. Kau harus bekerja. Cari uang. Beri makan istrimu. Karena makannya banyak…”Orion tergelak.“Banyak apanya…”Dia menatap Lorenzo.“Jadi, kapan kita berangkat ke Italia?”“Malam nanti, Mrs. Petralis. Kita tunggu hingga semua dokumen perjalanan siap.”Dia tersenyum.“Aku tidak sabar mengunjungi aparteme
. Kak Abdi menggeser kursor mouse.“Pak Sigit mengabari, Ratna Ananta menghubunginya kemarin malam lewat telepon anak buahnya yang menjadi kaki tangan Ratna untuk menjadi mata-matanya di kantor polisi.”Semua menatap layar proyektor. Ratna melakukan video call. Wajahnya terekam dengan baik dan ada wajah Pak Sigit dalam bentuk gambar insert kecil pada rekaman video call itu. Wajah Ratna tidak terlihat baik-baik saja. Pucat. Rambut sasaknya terlihat aneh dan berantakan. Dia merapikan seadanya dengan sebelah tangannya yang sehat. Sisa-sisa makeup-nya yang menor masih terlihat meskipun dia sudah mencuci mukanya. Wajahnya benar-benar terlihat lelah dan 10 tahun lebih tua dari usianya.“Ma’afkan saya yang berantakan seperti ini. Saya ditangkap orang-orang Arya Surya. Dan perempuan jalang itu, yang menjadi simpanan Ananta sekarang bersamanya.”“Siapa?”“Ibunya selingkuhannya Aldi. Jessica.”Wajahnya terlihat dipenuhi amarah. “Keduanya menempel seperti perangko. Dia menghajar saya yang ter
Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu
“Kami bertiga mempunyai bisnis yang berbeda. Papamu, Bagaskara Herlambang, bergerak di bisnis logam dan baja. Aku, sebagai anak tertua, bergerak di bisnis kaca untuk bangunan dan kendaraan. Dan adikku, Prambudi Herlambang, bergerak di bisnis plastik untuk bangunan. Semuanya terhubung
Dia, Maharani Ruby Herlambang. Dia memang yatim piatu tanpa saudara kandung lagi. Tetapi ia adalah salah satu pewaris dari keluarga Herlambang. Papanya, Bagaskara Herlambang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara Herlambang. Semuanya sukses memimpin perusahaannya masin
Di usia pernikahannya yang kedua, suaminya selingkuh. Perempuan masa lalu suaminya yang datang kembali sebagai desainer perhiasan untuk perusahaan yang dibangun olehnya tetapi dikelola oleh suaminya. Penunjukannya sebagai desainer perusahaan miliknya murni atas inisiatif suaminy







