LOGIN"Perjanjian kita, mari kita perbaharui."Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka, dingin, tenang, seolah tidak sedang berdiri di tengah sisa emosi yang belum mereda dari malam panjang itu.Dan justru karena itulah, tawa Aruna pecah.Awalnya hanya kecil. Sebuah hembusan pendek yang lolos dari bibirnya. Namun dalam hitungan detik, tawa itu membesar, menggulung keluar tanpa bisa ia tahan. Tubuhnya sedikit membungkuk, satu tangan menutup perutnya yang terasa mengencang, sementara tangan yang lain terangkat untuk menghapus air mata yang tiba-tiba menggenang di sudut matanya.Ia benar-benar tertawa.Bukan karena lucu.Tapi karena terlalu tidak masuk akal.Lampu basement yang redup memantulkan bayangan mereka di lantai beton, dan di tengah ruang luas yang hampir kosong itu, suara tawa Aruna terasa terlalu nyaring, terlalu kontras dengan suasana yang dingin.Atlas tidak bergerak.Ia hanya berdiri di sana, menatap Aruna tanpa menyela, tanpa mencoba menghentikan. Rahangnya mengeras, namu
Aruna sudah merasa dirinya cukup gila selama beberapa hari terakhir. Keputusan-keputusan impulsif, emosi yang naik turun, sampai keberaniannya datang ke acara elit dengan pakaian yang jelas menantang aturan, semuanya terasa di luar kebiasaannya. Namun malam ini, ia menyadari satu hal yang membuatnya hampir ingin tertawa getir.Selalu ada yang lebih gila darinya.Dan orang itu adalah Atlas.Lelaki itu, tanpa ragu, tanpa aba-aba, tanpa memberi ruang sedikit pun untuknya berpikir, baru saja mengumumkan pertunangan mereka di depan kedua orang tuanya. Di depan orang-orang penting yang bahkan namanya saja bisa mengguncang banyak hal.Dan Aruna... tidak tahu apa-apa.Jantungnya masih berdetak tidak beraturan ketika suasana mendadak berubah. Lampu utama sedikit diredupkan, musik klasik mulai mengalun lembut memenuhi ruangan. Seorang pembawa acara naik ke atas panggung, suaranya terdengar tenang namun berwibawa, mengundang perhatian seluruh tamu."Para tamu undangan yang terhormat, kami persil
Mobil berwarna pink metallic itu meluncur pelan sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk utama gedung megah yang malam itu dipenuhi cahaya dan kilatan kamera.Lampu-lampu gantung yang menggantung tinggi di area lobi luar memantulkan cahaya ke permukaan mobil Aruna, membuat warnanya tampak semakin mencolok di antara deretan kendaraan hitam elegan milik para tamu undangan lain.Di balik kemudi, Aruna membuang napas panjang. Jarinya masih menggenggam stir, meski mesin sudah mati sejak beberapa detik lalu. Ia menatap lurus ke depan, ke arah karpet merah yang terbentang panjang, ke arah orang-orang yang turun dengan gaun mahal dan setelan jas sempurna. Dunia yang terasa terlalu jauh darinya.Beberapa jam lalu, ia masih berguling santai di atas kasur, menikmati milk tea bobanya, tenggelam dalam dunia kecilnya yang sederhana. Sekarang, tepat ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, ia berdiri di ambang sebuah acara yang bahkan tak pernah ia bayangkan akan hadiri. Gala dinner e
Sudah lama sekali Aruna tidak menikmati pagi seperti ini.Tidak ada jadwal padat yang menunggunya sejak subuh, tidak ada panggilan mendadak, tidak ada suara orang-orang yang terus memanggil namanya dari berbagai arah. Yang ada hanya keheningan nyaman, ditemani cahaya abu-abu dari langit mendung yang masuk melalui jendela kamarnya.Aruna masih berguling di atas kasur empuk itu, tubuhnya tenggelam di antara bantal-bantal besar yang ia peluk sejak tadi. Ia mengenakan kaos oversize favoritnya yang jatuh longgar hingga menutupi setengah pahanya, rambutnya diikat asal ke belakang, beberapa anak rambut terlepas dan jatuh di sisi wajahnya, memberi kesan berantakan yang justru terasa santai.Di tangannya, sebuah buku tebal terbuka—psikologi kriminal, bacaan yang beberapa hari terakhir menarik perhatiannya. Alisnya sesekali berkerut ketika menemukan bagian yang menarik, lalu kembali mengendur saat ia membalik halaman. Tidak ada tekanan untuk cepat selesai, tidak ada target. Ia membaca hanya ka
Suasana malam menyelimuti perjalanan van hitam yang membawa Aruna pulang menuju kediaman Amanda. Lampu-lampu jalan berjejer rapi di sepanjang jalan, memantul di kaca jendela seperti garis-garis cahaya yang terus bergerak mengikuti laju kendaraan. Kota belum benar-benar tidur, tapi hiruk pikuknya sudah mereda, menyisakan suara mesin kendaraan yang lewat sesekali dan dengungan halus dari aspal yang dilalui roda mobil.Di dalam van, suasana kontras dengan dunia luar—hening, tertahan.Aruna menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejak tadi. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena aktivitas seharian, tapi juga karena pikirannya yang tidak berhenti bekerja. Seharian ia sibuk, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tertawa, berbicara, bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi begitu ia diam seperti ini, semua yang ia hindari kembali datang tanpa permisi.Bayangan wajah Atlas muncul begitu saja.Sikap dinginnya.Jarak yang tiba-tiba tercipta.Dan yang paling meng
Lampu merah kecil menyala di sudut ruangan, menandakan siaran telah dimulai. Studio podcast Ruang Rasa terasa hangat dengan pencahayaan temaram yang sengaja dibuat nyaman, seolah setiap kata yang keluar di dalamnya akan terdengar lebih jujur. Aruna duduk tegak di kursinya, headphone melingkar di kepala, mikrofon berdiri tepat di hadapannya. Senyum tipis menghiasi wajahnya, rapi dan profesional, seakan tidak ada apa pun yang mengganggu pikirannya."Kadang," suaranya mengalun lembut, teratur, "kita terlalu sibuk mencari jawaban dari orang lain, sampai lupa kalau sebenarnya kita sendiri sudah tahu jawabannya."Di balik kaca, produser mengangkat jempol. Aruna membalas dengan anggukan kecil, lalu melanjutkan. Ia menyusun kata demi kata dengan hati-hati, menyelipkan tawa ringan di sela pembahasan, membuat suasana terasa dekat dan hangat. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari terakhir justru dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ia bahas di depan mikrofon, pertanyaan yang terus berputar tan
Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole
Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A
Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap
Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h







