Share

90| Tanpa Basa-Basi

Author: sidonsky
last update publish date: 2026-04-15 01:14:25

Seminggu lebih berlalu, dan Aruna masih tidak memiliki jawaban atas hilangnya kabar Atlas.

Shooting reality show itu selesai tepat di hari ketujuh, berjalan relatif mulus tanpa drama besar di penghujungnya. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada konflik terbuka, semuanya tampak... normal. Terlalu normal, bahkan. Namun di balik itu, ada satu hal yang berubah, dan hampir semua orang menyadarinya, Aruna tidak lagi seceria biasanya.

Ia lebih banyak diam.

Lebih sering menyendiri di sudut, sibuk dengan p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   111| Terbongkarnya Rahasia

    Suasana bar itu nyaris tak terlihat dari jalan utama, tersembunyi di balik bangunan tua berfasad batu gelap yang tampak seperti gudang tak terpakai. Tidak ada papan nama mencolok, hanya sebuah lambang kecil berbentuk ukiran logam di samping pintu, nyaris tak terlihat kecuali bagi mereka yang tahu apa yang mereka cari. Jalan menuju ke sana sempit, sedikit menurun, seakan membawa siapa pun yang masuk menjauh dari dunia luar.Dari keramaian, dari cahaya, dan dari logika.Aruna memarkir mobilnya beberapa meter dari pintu masuk. Mesin dimatikan, tetapi ia tidak langsung turun. Tangannya masih mencengkeram kemudi, jemarinya sedikit memutih karena tekanan yang tak ia sadari. Malam terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah ikut menunggu keputusan yang sudah ia ambil sejak beberapa jam lalu.Ia akhirnya membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Angin malam menyentuh wajahnya, dingin, tetapi tidak cukup untuk meredakan panas yang mengendap di dadanya. Ia sudah melarang pengawal Atlas untuk iku

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   110| Perpisahan

    Aruna sudah melihatnya dengan jelas. Tidak lagi sekadar dugaan, bukan pula perasaan yang ia lebih-lebihkan sendiri. Kali ini, semuanya nyata, tertangkap oleh mata kepalanya sendiri tanpa bisa ia bantah atau ia putarbalikkan.Atlas... tidak benar-benar tidak bisa ditemui.Selama ini, sesibuk apa pun lelaki itu, selalu ada celah kecil yang ia sempatkan untuk Aruna. Entah itu sekadar lima menit di sela rapat, atau panggilan yang tetap selalu ia angkat. Bahkan di hari-hari terpadatnya, Atlas tetap hadir dengan caranya sendiri. Setidaknya, begitu yang ia rasakan.Tapi kali ini berbeda.Tidak ada kabar. Tidak ada waktu yang diselipkan. Tidak ada usaha sekecil apa pun untuk sekadar terlihat ada.Dan itu... cukup untuk menjelaskan segalanya."Kalau dia udah gak berguna, menurut kamu apa yang akan terjadi? Dia akan dibuang."Suara Agasa terngiang lagi. Tajam. Menyebalkan. Dan sialnya, masuk akal di waktu seperti ini."Enggak..." gumam Aruna pelan, mengacak rambutnya frustasi. Jari-jarinya meny

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   109| Tak Pernah Dekat

    Dengan dua tentengan plastik besar di kedua tangannya, Aruna bersenandung pelan ketika mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan lobi Heartline. Pagi itu ia sudah rapi dengan setelan kerjanya, celana panjang berpotongan lurus yang membingkai kakinya dengan elegan, dipadukan dengan atasan yang tetap menampilkan ciri khasnya: sederhana, tapi berani dengan potongan terbuka di bagian bahu. Rambutnya ditata setengah diikat, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di sisi wajah.Ia tampak siap, bukan hanya untuk pekerjaannya.Tapi juga untuk menemui Atlas.Begitu pintu mobil dibukakan, Aruna turun dengan hati-hati, memastikan tentengannya tidak terjatuh. Aroma makanan hangat samar tercium dari dalam plastik, membuat senyumnya semakin lebar. Ia bahkan tidak sadar sejak tadi terus bersenandung, langkahnya ringan, hampir seperti melompat kecil.Beberapa orang di lobi menoleh ketika ia masuk. Wajah Aruna sudah cukup dikenal, apalagi setelah berita yang beredar beberapa waktu terakhir.

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   108| Kabar Miring

    [Agasa Dikabarkan Menyudahi Hubungannya dengan Azalea, Diduga Karena Jadwal Padat]Kabar itu muncul begitu saja, seperti percikan api yang jatuh ke tumpukan kering.Dalam hitungan jam, jagat maya langsung riuh.Hubungan yang bahkan belum genap enam bulan itu resmi berakhir. Pernyataan yang beredar terdengar sederhana, perbedaan kesibukan, jadwal yang tidak lagi sejalan, dan keputusan untuk fokus pada karier masing-masing. Tidak ada drama di permukaan.Namun publik... tidak pernah puas dengan permukaan.Spekulasi bermunculan, komentar bertebaran, dan seperti biasa, orang ketiga selalu menjadi bumbu favorit.Lebih sialnya lagi, tepat di waktu yang sama, preview reality show yang mereka bintangi bersama sebulan lalu akhirnya dirilis. Potongan-potongan adegan yang diambil tanpa konteks, tatapan-tatapan yang dipotong secara dramatis, dan interaksi yang sengaja diperjelas... semuanya mengarah pada satu narasi yang sama.Ada orang ketiga, dan lagi-lagi nama Aruna terseret.Di dalam kamar yan

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   107| Menyengat Seperti Lebah

    Sepanjang pembahasan kontrak kerja sama itu berlangsung, semangat Aruna perlahan memudar. Di awal ia masih mampu tersenyum, menanggapi dengan profesional, bahkan sesekali menyela dengan pertanyaan yang tepat. Namun semakin lama waktu berjalan, kehadiran Agasa di hadapannya seperti bayangan yang tak bisa ia abaikan.Suara lelaki itu, cara ia berbicara santai seolah tidak pernah ada luka di antara mereka, dan yang paling mengganggu, cara ia sesekali menatap Aruna dengan senyum tipis yang terlalu akrab, semuanya terasa menekan.Di bawah meja, tanpa disadari, jari-jari Aruna mencubit pahanya sendiri. Pelan di awal, lalu semakin kuat setiap kali Agasa membuka suara. Itu kebiasaannya sejak dulu, pengganti menggigiti kuku yang kini sudah ia coba hentikan. Rasa nyeri kecil itu entah bagaimana mampu menahan gejolak di dalam dadanya agar tidak meledak keluar.Namun tetap saja, napasnya beberapa kali terasa berat.Kelly yang duduk di sampingnya tentu tidak melewatkan hal itu. Perempuan itu bebe

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   106| Pretty Bad

    Pagi itu datang dengan cara yang terlalu menyenangkan untuk disebut biasa.Sejak Aruna membuka mata dan berguling kecil di atas kasur luas yang masih menyimpan wangi khas Atlas, senyumnya tak kunjung hilang. Aroma itu seperti tertinggal di bantal, di seprai, bahkan di udara yang ia hirup perlahan.Hangat, familiar, dan entah kenapa... menenangkan.Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu menutup mata lagi hanya untuk memastikan bahwa semua ini nyata. Bahwa ia benar-benar kembali ke rumah ini. Bahwa semalam bukan mimpi.Bahwa sekarang... ia berada di ruang yang sama dengan lelaki yang perlahan mengacaukan ritme hidupnya.Dengan napas ringan, Aruna bangkit. Kakinya menyentuh lantai dingin sebelum ia mengenakan sandal bulu warna pink kesayangannya. Langkahnya ringan, hampir seperti melayang, saat ia berjalan menuju kamar mandi dan mulai bersiap.Make-up tipis ia poleskan di depan cermin, cukup untuk membuat wajahnya terlihat segar tanpa berlebihan. Ram

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   33| Studio Rekaman

    Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   32| Pertunjukan

    Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   30| Azalea

    Sudah dua hari sejak kepulangan mereka dari Heartline Haven Resort.Namun rasanya, suasana pulau itu masih tertinggal samar di kepala Aruna—angin laut, suara ombak, dan… seseorang yang kini justru tidak ada di dekatnya.Ballroom hotel malam itu dipenuhi cahaya yang terlalu terang untuk sekadar acar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status