تسجيل الدخولRatu Li Jing duduk di tepi tempat tidurnya, memegang kotak itu di pangkuannya. Tangannya mengusap ukiran bunga peony yang halus. Jika ia memakai minyak itu, kulitnya akan perlahan rusak, tubuhnya akan melemah tanpa sebab yang jelas, dan suatu hari nanti ia tidak bisa lagi memberikan pewaris bagi takhta. Mei Ling ingin melihatnya memudar, diusir, atau bahkan mati perlahan tanpa ada yang bisa menuduhnya melakukan pembunuhan, seperti di kehidupan lama Li Jing. Itu adalah rencana yang kejam dan penuh perhitungan. Dia bagaikan bunga polos yang disentuh mudah layu dan rusak. Sungguh keahlian yang luar biasa. "Kau pikir kau bisa menjatuhkanku dengan cara sehina ini, Mei Ling?" bisik Li Jing pelan, matanya menyala dengan tekad yang kuat. "Kau salah menilai siapa aku. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan hidupku dan hidup orang yang kucintai sekarang, seperti apa yang telah kau rengut di kehidupanku yang lalu!" Mata Ametys Li Jing berkilat dingin. Xiao Xing ikutan menggeram pelan
Tiga hari berlalu sejak Wang Ming terluka dan diambang kematian. Air suci tabib Ren Hao benar-benar ajaib. Wang Ming yang diambang kematian akhirnya kembali dan sehat. Sejak itulah Li Jing memahami, apa yang tersirat dan yang maksud dari pesan oleh Tabib Ren Hao sebelum dia kembali hidup. Seakan Tabib Dewa Ren Hao tahu bahwa itulah nanti masa depan Li Jing dan Wang Ming di kehidupan kedua mereka. Yang saat itu menjadi rahasia langit, yang tidak boleh sembarangan di ungkapkan. Hari itu saat malam menyapa Kerajaan Langit, hening menyelimuti kamar pribadi Li Jing. Cahaya lilin jatuh lembut ke atas meja rias kayu cendana yang tertata rapi. Xiao Xing yang baru pulang dari menjalankan tugas rahasia yang diperintahkan Li Jing kembali. Kini dia berdiri di sisi Li Jing sambil memperhatikan seorang pelayan lain datang mendekat. Gadis muda itu berjalan perlahan, meletakkan sebuah kotak perhiasan berukir indah tepat di tengah permukaan meja. Kotak itu berwarna merah delima dengan ukiran bu
"Kau tahu," bisiknya pelan, suaranya bergetar namun lembut. "Dulu aku membayangkan betapa bahagianya aku jika melihatmu terbaring tak berdaya seperti ini. Aku membencimu, Wang Ming. Aku membencimu karena aku pikir kau orang yang membunuh aku dengan dingin dan kejam. Tapi sekarang melihatmu seperti ini... rasanya hatiku seperti dirobek berkali-kali lipat lebih sakit daripada luka di bahumu."Ia mendekatkan wajahnya, mencium pelan punggung tangan Wang Ming yang digenggamnya."Papa pernah bilang kau menderita sendirian. Dulu aku tidak percaya. Tapi sekarang aku paham. Kau menyembunyikan rasa sakitmu di balik sikap dinginmu agar tak ada yang bisa menyakitimu lebih jauh dan aku... aku malah menambah lukamu selama ini."Air mata kembali jatuh, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena penyesalan yang mendalam."Maafkan aku, suamiku. Maaf karena aku buta selama ini. Maaf karena aku membuatmu merasa kesepian di istanamu sendiri. Mulai sekarang, jika kau harus menanggung beban berat,
Seorang tabib istana berlari mendekat dengan perlengkapan di tangan, wajahnya cemas. Li Jing mengangkat kepalanya, menatap tabib itu dengan tatapan yang memohon dan penuh ancaman sekaligus. "Selamatkan dia," ucap Li Jing dengan suara rendah namun bergetar, tangan Wang Ming masih digenggamnya erat seakan nyawanya sendiri bergantung padanya. "Kau harus menyelamatkannya. Karena jika dia mati, aku akan menghancurkan seluruh kerajaan ini sampai ke akar-akarnya." "Baik, Yang Mulia Ratu," jawab tabib istana itu dengan tubuh gemetar. "Ampun Yang Mulia, pedang ini beracun. Ini racun 'seribu racun cinta' jika Yang Mulia Baginda tidak bisa tahan maka jantungnya akan meledak, racun asmara ini sangat kuat dan berbahaya sehingga dilarang peredarannya di sekitar Kerajaan Langit, Kerajaan Awan dan Jalur Selatan. Jika ketahuan maka akan dihukum mati. Karena efek yang berbahaya," jelas tabib itu tersungkur dengan keringat dingin dan tubuh gemetar hebat. Li Jing hanya menggeram, matanya memberikan
Kini, Raja Wang Ming dan Li Jing, bergerak selaras, seolah satu jiwa dalam dua tubuh. Setiap kali Wang Ming menyerang, Li Jing menutup celahnya. Saat Li Jing maju, Wang Ming menjaga punggungnya. Pangeran Sulung melihat itu dan wajahnya semakin gelap. Ia menyadari bahwa selama mereka berdiri bersama, tak ada yang bisa menjatuhkan mereka."Kalian pikir kesetiaan itu akan menyelamatkan kalian?" teriak Pangeran Sulung, lalu meraih obor dari tangan pelayan di sampingnya dan melemparkannya ke arah tumpukan kain kering di dekat pintu masuk. Api langsung membesar, menutup jalan keluar sepenuhnya. "Sekarang kalian punya dua pilihan. Tewas terbakar atau mati di tangan pasukanku!"Panas menjadi tak tertahankan. Langit-langit kayu di atas mereka mulai runtuh, debu dan abu jatuh ke mana-mana. Wang Ming menarik tangan Li Jing mundur perlahan, menjauh dari reruntuhan yang jatuh. Nafas mereka memburu, keringat bercampur dengan jelaga di wajah. Li Jing melihat tiang besar di atas Pangeran Sulung mu
Api sudah menjilat tiang-tiang kayu penyangga, suara jeritan orang-orang terdengar dari dalam. Di depan pintu masuk, berdiri Pangeran Sulung dengan senyum penuh kemenangan, dikelilingi puluhan pengawal setianya yang sudah siap bertarung. Saat melihat Wang Ming dan Li Jing datang, pangeran itu tertawa keras tanpa rasa bersalah sedikit pun."Kau datang lebih cepat dari yang kuduga, Adikku tersayang," ucap Pangeran Sulung dengan nada mengejek. "Tapi ... Sayang sekali. Kalau kau datang sedikit lagi, semuanya sudah menjadi abu.""Kau gila!" bentak Wang Ming, langkah kakinya berhenti beberapa meter di hadapan adiknya sendiri. "Mereka adalah orang-orang tidak bersalah! Termasuk para selir yang tidak pernah menyakitimu!""Takhta tidak bisa diraih tanpa pengorbanan, Adikku," jawab Pangeran Sulung santai, lalu matanya beralih ke Li Jing dengan tatapan jijik. "Kau juga, Ratu palsu. Kau pikir aku tidak tahu siapa kau sebenarnya? Kau hanyalah wanita yang seharusnya sudah mati. Kau tidak pantas be
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
“Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun
Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka







