LOGIN🌹🌹🌹Ponsel itu masih tergenggam di tangan Naira ketika Andika pulang sore harinya. Pria itu baru saja melepas jas dan mengendurkan dasinya saat melihat Naira duduk termenung di sofa ruang tengah."Sudah sore begini, kamu masih di situ?" Andika tersenyum tipis, lalu duduk di sampingnya. "Kamu makan siang tadi?"Naira tak menjawab. Ia hanya menyodorkan ponselnya.Dahi Andika berkerut saat membaca pesan di layar. Semakin ke bawah, rahangnya semakin menegang. Ia membacanya sekali lagi, lebih pelan."Meli yang kirim ini?""Katanya begitu. Nomornya tidak kukenal.""Dan kamu belum membalasnya.""Belum." Naira menarik napas. "Aku bingung, And. Semalam dia membenciku setengah mati. Tapi pagi ini dia memanggilku *Kak*."Andika meletakkan ponsel itu di meja, lalu menatap Naira dengan sorot yang sulit dibaca. "Aku mengenal Meli sejak dia kecil, Nai. Dia memang manja dan keras kepala. Tapi dia tidak pernah bisa berpura-pura. Kalau dia marah, semua orang tahu. Kalau dia sedih, semua orang tahu."
🌹🌹🌹Naira melangkah masuk ke rumah dengan kaki yang terasa berat. Lampu ruang tengah masih menyala temaram, tetapi suasana rumah sudah sunyi. Bi Inah rupanya sudah beristirahat, begitu pula Nenek Andika yang biasanya menunggu mereka pulang sambil menonton televisi.Di belakangnya, suara mobil Andika terdengar menjauh ke arah garasi. Naira tak menunggu pria itu masuk. Ia langsung menaiki tangga menuju kamar, menutup pintunya pelan, lalu bersandar di baliknya.Hening.Tapi di kepalanya justru begitu ribut. Kalimat itu berputar-putar tanpa henti, seperti kaset rusak yang tak bisa dimatikan."Kamu anak pe***r, pergi dari rumah ini atau aku menyeretmu keluar."Naira memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya sesak. Ia merosot perlahan hingga terduduk di lantai, memeluk lututnya sendiri."Apa maksudnya, Bu ...?" bisiknya lirih, seakan ibunya yang telah lama tiada bisa menjawab dari suatu tempat.Selama ini yang ia tahu tentang ibunya hanyalah kelembutan. Tangan hangat yang mengusap rambutnya s
🌹🌹🌹 Dan malam ini Andika benar-benar menepati janjinya. Ia membawa Naira untuk ke rumah Meli guna menjelaskan hubungan mereka. Karena telah berjanji pada dirinya tak akan melepaskan Naira lagi dari hidupnya. Tanpa perjodohan itu Andika memang mencintai Naira sejak dulu. "Kamu yakin, And! Kita akan bisa membuat Meli mengerti." tanya Naira ragu. Ia khawatir pada kemarahan Meli, apa lagi bila ia mengingat ancaman gadis itu padanya beberapa hari lalu. Naira semakin yakin Meli tak akan mungkin bisa menerima hubungannya dengan Andika. "Kita akan berusaha." jawab Andika meyakinkan dan begitu mantap. Merekapun tiba di rumah Meli. Dan gadis itu menatap sinis pada kedua tamunya karena ancamannya tak berpengaruh bagi mereka. "Mau apa kalian menemuiku. Mau bilang kalau kalian tidak bisa dipisahkan, begitu" sungut Meli tak dapat lagi menahan amarahnya. "Mel ... Maafkan kami, aku memang tak bisa mengabulkan permintaanmu karena kamup
🌹🌹🌹 Naira memutuskan untuk melepaskan Andika setelah yakin dan penjelasan ibunya yang membuat ia berpikir. "Percayalah, Nai! Jika kalian memang berjodoh, Tuhan akan mempertemukan kalian kembali, bagaimanapun caranya!" Sulastri mengelus punggung tangan Naira. Naira semakin terdiam hanyut dalam perasaannya. "Hari sudah siang, kamu kok, belum siap-siap!" celetuk Sulastri lagi. "Aku lagi malas, Bu! Perasaanku lagi tidak baik!" kilah Naira "Jangan karena masalah ini, lalu kamu mengabaikan tugasmu! Ingat kamu digaji bukan untuk bersantai!" "Tapi, Bu!" Sulastri memberikan tatapan tajam. Ia tak ingin anaknya melalaikan tugas dan apa yang akan terjadi jika Naira tak masuk kerja. Yang ada, gadis itu hanya akan melamun sepanjang hari. "Baiklah ...." ucap Naira dengan malas. Gadis itupun segera melangkah ke kamar mandi. "Ibu selalu saja bisa untuk memak
🌹🌹🌹Meli diam saja saat diantar pulang Andika. Wajah sinisnya benar-benar terpancar dan kebenciannya semakin nampak.Andika hanya mampu mendesah pelan. Ingin ia menjelaskan bahwa dia dan Naira telah dijodohkan, tapi pria itu takut Meli akan bertambah marah padanya, hingga menghukum dirinya sendiri lagi."Ayolah Mel ... Jangan seperti anak kecil!" bujuk Andika mencairkan suasana yang begitu hening."Kau mengingkari janjimu, And. Aku benci kamu ... Sangat membencimu! Bila kau tak bisa menjauhi Naira. Jangan halangi aku untuk berbuat kejam pada wanita itu." ancam Meli berapi-api dengan bibir yang dilantunkan.Andika menarik nafas dalam, ia benci dengan keegoisan gadis di depannya ini. Pria itu bingung harus bagaimana lagi untuk menjelaskan semuanya. Meli tak pernah sedikitpun mau mengerti, perhatiannya selama ini disalah artikan oleh gadis itu. Andika hanya melindungi Meli sebagai adik perempuannya saja namun Meli beranggapan lain. Andai wakt
🌹🌹🌹 Di tempat Andika nampak terlihat banyak tamu berlalu lalang. Setelah keluar dari rumah sakit seminggu lalu ayah Andika terlihat semakin sehat. Selain untuk memperingati hari lahir ayah Andika juga untuk mengucap syukur atas kesembuhan pria itu. "Andika ...." panggil ayahnya dan pria itu segera mendekati ayahnya. "Tidakkah kau mengundang Naira! Ayah merindukannya." ucap ayah Andika Andika terdiam, Andika lupa untuk mengundang gadis itu, ia bingung sedang saat ini ia masih dalam ancaman Meli. Ia harus bisa memberi alasan yang membuat ayahnya yakin. "Dia akan datang, Ayah. Percayalah!" sahut Andika sekenanya takut ayahnya merasa tersakiti karena keteledoran Andika tidak mengundang Naira. Ayah Andika mengangguk dan membiarkan Andika kembali menyapa tamu-tamu yang hadir. "Selamat malam, Paman! Selamat ulang tahun." sapa satu suara yang membuat Husen menoleh ke arah sumber suara itu. "Bisma ... Syuk
🌹🌹🌹 "Nai, kaukah ini?" tanya seorang gadis dalam keremangan senja. Naira mengangguk merekapun saling berpelukan diiringi tangisan yang mengharukan. "Mengapa kau setega ini padaku, Nai! Pergi tanpa berita, apakah kau tidak merindukanku, eoh!" ucap Tasya memandang tajam pada saha
🌹🌹🌹Setelah menjenguk ayah Andika, Tasya berniat untuk mengunjungi rumah sahabatnya yang telah lama tak ditemuinya itu. Iapun menatap Bisma dan ingin meminta persetujuan dari pria yang belakangan ini sering menghabiskan waktu bersamanya."Ada apa kau m
🌹🌹🌹Saat ini Naira sedang memeriksa keadaan Ayah Andika. Dan kebetulan saat ini dalam ruangan itu tidak banyak yang menemani."Sudah dimakan buburnya, Tuan?" tanya Naira lembut."Belum, Dok!" jawab Ayah Andika.Naira l
TAKDIRKU ADALAH KAMU🌹🌹🌹🌹Siang itu Naira mengajak Ibunya melihat rumah yang baru di beli dari gaji pertamanya."Terima kasih, Nai!" ucapnya berlinangan air mata."Maafkan aku, Bu! Belum bisa memba







