تسجيل الدخولLi Mingzi sadar mereka hanya ingin mempermainkannya. Ia menatap Bai Huan sebentar, lalu menggelengkan kepala pelan."Aku cuma pengawal kecil." Suaranya terdengar pasrah. "Nggak punya kemampuan sebesar itu."Li Mingzi tidak berniat mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya kepada mereka. Lagipula, apa gunanya? Keluarga Bai sudah menilainya rendah sejak awal.Mendengar pengakuan itu, Bai Huan kehilangan minat. Ia menyilangkan tangan di dada dengan wajah dingin."Kalau begitu, buktikan keaslian surat pernikahan itu."Li Mingzi menatapnya beberapa detik. Alisnya terangkat sedikit."Apa kau ingin aku membuktikannya lewat mimpi?"Surat perjodohan itu dibuat oleh ayah Bai Yumeng yang sudah meninggal. Bagaimana mungkin ia membuktikannya?Namun siapa sangka, Bai Huan justru menjawab dengan nada mengejek."Ide bagus."Kakek Bai menghela napas panjang di sebelahnya. Ia mengangkat tangan untuk menenangkan suasana.Li Mingzi kemudian menatap lelaki tua itu dengan serius."Apakah Kakek juga bernia
Pramuniaga wanita itu benar-benar gemetar saat jari-jarinya menyentuh kancing pertama kemeja yang menempel di tubuhnya. Wajahnya memerah padam. Pelanggan lain mulai berbisik sambil melirik ke arah mereka.Namun tepat saat ia membuka kancing pertama, tangan Li Mingzi tiba-tiba bergerak cepat menahannya.Pramuniaga wanita membeku.Li Mingzi tersenyum lebar."Sudah cukup."Wanita itu menatap bingung."Aku cuma bercanda." Li Mingzi menggeleng santai. "Kalau kau benar-benar buka baju di sini, aku yang repot nanti."Bai Yumeng menghela napas panjang."Kau ini…"Pramuniaga wanita langsung menghapus air mata yang hampir keluar dari sudut matanya. Li Mingzi lalu menunjuk rak pakaian lagi."Ambil yang paling mahal."Wanita itu tersentak."Ma-maaf?""Pilih pakaian termahal di sini." Li Mingzi menoleh ke arah Bai Yumeng. "Istriku yang bayar."Bai Yumeng langsung menatap tajam."Jangan sembarangan panggil istri!""Memangnya kau bukan istriku?" Li Mingzi berkata dengan ringan."Aku belum setuju!"
“Dua ratus ribu ternyata receh sekali di kota ini…”Li Mingzi berdiri di depan etalase kaca sambil menghela napas panjang. Lampu-lampu terang Indah Mall memantulkan wajahnya yang tampak muram. Orang-orang berlalu lalang dengan pakaian mahal dan tas bermerek, sementara dirinya hanya memakai kaus hitam sederhana yang bahkan sedikit kusut karena dipakai dua hari.Ia melirik uang di tangannya lagi.Dua lembar seratus ribuan.Awalnya Li Mingzi merasa uang itu sudah cukup untuk membeli beberapa pakaian. Namun setelah masuk ke pusat perbelanjaan terbesar di kota itu, pikirannya langsung berubah total.“Celana saja sejuta…” gumamnya pelan. “Mereka menjahitnya pakai emas?”Seorang pria yang lewat menoleh aneh sebelum buru-buru pergi.Li Mingzi masuk ke salah satu toko pakaian pria dengan wajah serius. Pendingin ruangan langsung menyapu wajahnya. Aroma parfum mahal memenuhi udara.Matanya bergerak ke rak-rak pakaian.Kemeja.Jaket.Celana.Sepatu.Semua tampak bagus.Masalahnya cuma satu.“Harg
Tuan Tua Gong buru-buru menunduk lebih dalam.“Bukan begitu, Tuan Muda!” katanya cepat. “Aku… aku sebenarnya sudah mencoba menemui Anda sejak kemarin.”Li Mingzi mengangkat alis.“Lalu?”“Aku tak bisa meyakinkan mereka.”“Meyakinkan siapa?” Li Mingzi tertawa kecil. “Gong Qin?”Tuan Tua Gong langsung tercekat.Li Mingzi bersandar malas di kursi sambil memainkan gelas di tangannya.“Sekarang nggak perlu lagi.”Kalimat itu terdengar santai.Namun justru membuat punggung Gong Manli dingin.Semua orang tahu apa maksud ucapan itu.Gong Qin sudah mati.Tuan Tua Gong buru-buru mengangguk.“Benar! Benar sekali!” katanya tergesa-gesa. “Gong Qin memang pantas mati!”Ruan Yin yang berdiri di samping langsung meliriknya aneh.Ekspresi Gong Manli juga sedikit berubah.Namun lelaki tua itu tetap melanjutkan dengan nada emosional.“Berani menyerang Tuan Muda adalah dosa besar!” katanya geram. “Kalau dia mati di tangan Tuan Muda, itu memang nasibnya!”Li Mingzi menatap Gong Manli dengan sorot aneh.Se
Seorang wanita bergaun merah gelap masuk lebih dulu sambil menopang lengan seorang lelaki tua berambut putih. Meski usianya sudah senja, aura pria tua itu tetap menekan. Tatapannya tajam, langkahnya mantap, membuat beberapa pelayan di luar langsung menunduk hormat.Bing Lian yang suasana hatinya sudah buruk langsung mengernyit kesal.“Hei! Kalian salah kamar, ya?” tegurnya tajam. “Kami sedang makan!”Namun baru selesai bicara, tubuh Shen Mu langsung menegang.Wajahnya berubah drastis.“Di-Direktur Gong?!”Kursinya sampai bergeser keras saat dia buru-buru berdiri. Ekspresi dingin dan angkuh sebelumnya langsung lenyap tanpa sisa.Bing Lian terkejut melihat reaksinya. “Direktur Gong?”Shen Mu buru-buru menarik lengannya pelan sambil berbisik gugup, “Itu Tuan Tua Gong! Pendiri Grup Gong!”Jantung Bing Lian langsung berdebar.Grup Gong adalah raksasa bisnis Kota Awan. Bahkan status Shen Mu sebagai eksekutif belum tentu bisa bertemu langsung dengan orang setingkat itu kapan saja.Namun seka
“Bidang usahaku?” Li Mingzi mengulanginya polos. “Aku baru turun gunung beberapa hari lalu.”Bing Lian yang tadi tersenyum genit langsung berkedip bingung. “Apa?”“Aku belum punya pekerjaan tetap.” Li Mingzi menggaruk pipinya santai. “Sekarang masih tinggal bersama Yin Yin.”Beberapa detik suasana menjadi hening.Tatapan Bing Lian yang awalnya penuh minat perlahan berubah. Senyum di bibir merahnya juga mulai terasa palsu.“Jadi… pengangguran?” tanyanya hati-hati.Li Mingzi mengangguk jujur. “Kurang lebih begitu.”“Oh…”Jawaban itu langsung mematahkan ekspektasi Bing Lian. Tadi dia mengira Li Mingzi adalah tuan muda kaya yang sengaja berpakaian sederhana. Namun setelah mendengar sendiri pengakuannya, rasa antusiasnya menguap.Sepanjang perjalanan di pusat Kota Pasir, Bing Lian lebih banyak berbicara dengan Ruan Yin dibanding Li Mingzi.“Masih ingat Shen Mu?” tanyanya tiba-tiba sambil tersenyum.Ruan Yin sedikit terdiam. “Kenapa mendadak menyebut dia?”“Ya ampun, dia masih mencarimu sam







