ホーム / Mafia / TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA / BAB 2 PENEBUSAN BERDARAH

共有

BAB 2 PENEBUSAN BERDARAH

last update 公開日: 2026-03-31 05:07:04

Ia tersenyum miring, senyum yang menunjukkan dia menyukai apa yang didengarnya, menyukai tawaranku yang putus asa. Ia menyesap rokoknya untuk terakhir kali sebelum akhirnya diinjak dengan ujung sepatu.

Tanpa berkata-kata lagi, ia langsung menyambar tubuhku dengan satu gerakan kuat, membawa tubuhku masuk ke dalam mobil jeep.

"Apa kau pernah melakukannya?" tanyanya dengan suara berat yang menggetarkan dada saat pintu mobil tertutup.

Aku menggeleng lemah, bibirku bergetar hebat menahan air mata yang jatuh. "T-tidak, Tuan. Ini yang pertama."

Satu senyum tipis yang penuh kemenangan terukir di bibirnya. Ia melepaskan mantelnya dengan gerakan cepat sebelum akhirnya melumat bibirku dengan brutal.

Jemarinya yang berurat mulai menelusup ke balik busanaku, menyentuh kulit telanjang yang selama ini kujaga rapat. Sentuhannya dingin, kontras dengan napasnya yang panas di ceruk leherku.

Air mata keputusasaan luruh, membasahi pipiku yang terasa terbakar. Aku terjepit. Di dalam kabin Jeep yang sempit dan pengap ini, aku dipaksa menyerah pada jamahan pria asing yang baru saja memerintahkan pencabutan nyawa di depanku.

Haruskah aku menyerahkan segalanya demi napas yang tersisa?

Logikaku menjerit. Menjadi pemuas pria kejam ini bukanlah jaminan kebebasan. Dia adalah predator, dia bisa saja menghabisiku tepat setelah dia merasa bosan.

Namun, saat tubuhku mulai kehilangan daya untuk melawan, jemariku tak sengaja menyentuh logam dingin di sabuk celananya. Sebuah pistol.

Selagi dia sibuk melumat leherku dengan beringas, aku bergerak seringan mungkin. Dengan satu sentakan jantung yang seolah mau copot, kucabut senjata itu dan menekankan moncongnya yang masih terasa hangat tepat di pelipisnya.

"Berhenti!" Suaraku rendah, parau, dan bergetar hebat.

Meski jemariku gemetar, dinginnya laras baja itu cukup untuk membuat sang bos mafia ini membeku.

"Hei, Nona... Kau jauh lebih licik dari rupamu," sahutnya tanpa nada takut sedikit pun. Ia justru terkekeh rendah, sebuah suara yang nyaris meruntuhkan sisa keberanianku.

Jantungku berdegup kencang, keringat dingin membanjiri punggung. "Keluar dari mobil, atau peluru ini akan menembus kepalamu!" teriakku, meski tanganku berguncang hebat.

Ia tersenyum miring, mengangkat kedua tangan dengan gerakan malas yang provokatif. "Baiklah. Tapi... bolehkah aku menciummu sekali lagi sebagai salam perpisahan?"

"KELUAR!"

Aku mendorong moncong pistol itu lebih keras ke kulit kepalanya.

Alih-alih terdesak, pria itu justru menatapku dengan binar geli. Tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri karena aku tahu, dia sama sekali tidak merasa terancam.

"Oke... Oke. Aku keluar," sahutnya datar. Matanya sempat turun, menatap dadaku yang terekspos karena kancing yang sudah terbuka setengah. Ia menggigit bibir bawahnya, bergumam rendah, "Sayang sekali. Padahal aku hampir saja mencicipi buah cerimu yang manis."

Bajingan! Bahkan di ujung senjata pun, dia masih sempat melecehkanku.

Aku mendorong tubuh jangkungnya keluar dari mobil dengan sisa tenaga yang kupunya. "Pergi!"

"Bos!" Teriakkan anak buahnya menggema, mereka bergegas mendekat dengan senjata terhunus.

"Jangan mendekat! Mundur atau dia mati!" teriakku histeris, mengarahkan pistol bergantian antara pria tegap di hadapanku dan sekumpulan pengawalnya.

"Nona, berhentilah bermain main. Jika senjata itu meletus... tubuh mungilmu akan berakhir tragis," ucap sang bos. Suaranya rendah, namun setiap katanya terasa seperti jerat yang mencekik.

Aku mundur selangkah, kembali menempelkan senjata itu ke kepalanya. "Aku hanya ingin pulang. Lepaskan aku! Aku berjanji tidak akan bicara pada siapa pun!" napasku tersengal, pandanganku mulai kabur oleh air mata.

"Bos, kalau dia lepas, rahasia kita akan jadi santapan media!" teriak salah satu anak buahnya dari kegelapan hutan.

"Tidak! Aku bersumpah!" Aku menggeleng cepat, nyaris hilang kendali.

"Wanita sebelumnya juga bilang begitu, Bos! Lihat hasilnya, polisi mulai mengendus kita!" tambah yang lain.

Bersama dengan itu seorang pria mulai mengangkat senjatanya. "Biar kuhabisi saja dia sekarang!"

Belum sempat moncong senjatanya terangkat sempurna, sebuah letusan memekakkan telinga terdengar. Tanpa sengaja jari telunjukku menarik pelatuk karena panik. Peluru itu menembus dadanya.

Darah muncrat, mengotori udara siang yang mulai berkabut. Dalam histeria yang membutakan, aku terus menarik pelatuk.

Dor! Dor! Dor!

Aku menembak membabi buta ke arah kerumunan itu hingga satu per satu dari mereka terkulai di atas tanah hutan yang lembap dan berbau lumut. Duniaku berputar. Kakiku lemas.

Tidak... apa yang kulakukan? Aku calon dokter... tapi aku baru saja menjadi pembunuh.

Sang pemimpin mafia tercengang. Ia menatap tumpukan mayat anak buahnya yang bersimbah darah. Perlahan, wajah tampannya menegang, memancarkan kemarahan yang bisa membakar apa pun di sekitarnya.

"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya dengan suara berat yang menggelegar.

"Aku melindungi diri! Mereka yang ingin membunuhku!" teriakku dengan tangis yang pecah. Tanganku masih berusaha mengarahkan pistol padanya, meski seluruh tubuhku sudah kehilangan tenaga.

"Dengar, Nona. Jatuhkan pistol itu sekarang. Aku berjanji akan meringankan hukumanmu," ucapnya dengan nada otoriter, melangkah mendekat seolah peluru tak bisa menyentuhnya.

Meringankan? Itu artinya aku akan tetap menjadi tawanan. Aku tidak punya pilihan. Jika dia hidup, aku tetap akan mati.

"Maafkan aku." Tanpa berpikir lagi, kutekan pelatuk untuk terakhir kali. Peluru itu meluncur tepat ke dadanya yang bidang.

Suara letusan terakhir itu menerbangkan ribuan burung dari dahan pohon, memenuhi langit dengan kepakan sayap yang kacau. Angin berhembus kencang secara tiba-tiba, menggoyangkan dahan bak tangan-tangan raksasa yang menari kegirangan.

Dalam hitungan detik, pria yang mencuri ciuman pertamaku itu jatuh terjerembap. Langit yang tadi cerah mendadak berubah gelap gulita. Suara burung gagak terdengar mendekat, seolah berpesta menyambut mayat-mayat yang berserakan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   EPILOG

    Tiga tahun berlalu begitu saja, membawa pergi seluruh sisa badai kelam yang pernah memporak-porandakan hidup kami. Kebahagiaan baru yang hakiki akhirnya tumbuh di rumah ini. Aku berhasil melahirkan dua putra kembar yang menggemaskan, yang saat ini tumbuh sehat dan sudah berusia dua tahun lebih. Wajah mereka berdua merupakan perpaduan yang sempurna antara aku dan Nikolai; mewarisi garis wajah yang tampan, tegas, namun juga memiliki binar yang manis."Kau hari ini pulang malam?" tanyaku lembut sembari membantu Nikolai memasangkan dasi sutranya pagi ini.Sejak setahun yang lalu, Nikolai memutuskan untuk mengambil langkah besar dengan pensiun cepat dari kepolisian. Keputusan itu diambil tepatnya setelah eksekusi mati pada Gideon dilaksanakan secara resmi oleh hukum.Dendam masa lalunya telah usai seutuhnya. Kini, pria itu fokus memimpin geng Dragon dengan cara yang baru. Ia mengembangkan gurita perusahaan legal mereka melalui sistem bisnis yang bersih, transparan, dan tanpa merugikan sal

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 196 AKHIR YANG BAHAGIA

    "Nikol... aku ingin pulang ke rumah Ayah," bisikku lirih, menyandarkan kepalaku yang terasa berat di bahu bidangnya.Nikolai perlahan melepas pelukannya, lalu menunduk untuk menatapku dalam dengan sepasang netranya yang kini sarat akan kelembutan. "Kau ingin tinggal bersama ibu?""Emh," anggukku bersama sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk mata. "Aku ingin melupakan semuanya dan memulai hidup baru bersama Bibi Sofia... juga anak kita."Mendengar penuturanku, Nikolai tersenyum lebar. Terpancar kelegaan yang teramat besar di raut wajah tampannya yang semula tegang. Tanpa membuang waktu, ia kembali mendekapku erat, merengkuh tubuhku lebih dalam dan posesif dari sebelumnya seolah ingin menyatu dengan jiwaku."Baiklah, Sayang. Aku akan membawamu ke rumah lama setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit."Dan setelah selesai mengurus seluruh administrasi kepulangan dari rumah sakit, kami langsung bertolak membelah kota menuju rumah peninggalan Ayah untuk menemui Bibi Sofia.Se

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 195 KEPUTUSAN YANG BERAT

    Melihat kedatangan dua tamu tak diundang itu, Nikolai spontan bangkit dari duduknya. Gerakannya yang sigap memperlihatkan naluri protektif yang tinggi. Ia meletakkan apel dan pisau di nakas dengan ketukan pelan, lalu duduk di tepi ranjang sambil merangkul bahuku, mencoba menyalurkan ketenangan ke dalam tubuhku yang sempat menegang. ​"Elianore... tenangkan dirimu, hm? Nadine... datang ke mari hanya untuk menyampaikan sesuatu." ​Aku tidak merespons ucapan Nikolai. Mataku masih membeku menatap Nadine yang berdiri kaku di dekat pintu sambil menatapku penuh dengan rasa bersalah yang amat dalam. Dan akhirnya, dalam keheningan yang canggung itu, aku tidak lagi melihat kenaifan atau kilat kelicikan di matanya yang sembap. Wanita itu... benar-benar terlihat rapuh, seperti bukan Nadine yang pernah aku kenal di masa lalu. ​Menyadari suamiku didera kekhawatiran besar, aku seketika menoleh pada Nikolai dengan senyum leb

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 194 JANIN KEMBAR

    Aku spontan tersenyum lebar, rasa tidak percaya dan haru seketika membuncah di dalam rongga dadaku. Aku lalu menoleh pada sang dokter dengan wajah tak percaya. "Aku hamil?"​"Benar. Sudah tiga bulan. Apa kau tidak menyadarinya?" Sahut sang dokter setelah mengecek selang infusku, memastikan cairan di dalamnya mengalir dengan konstan ke pembuluh darahku.​Aku menunduk dalam-dalam, menyembunyikan gurat haru dengan senyum yang tertahan di balik helai rambutku yang terurai. Air mata kebahagiaan nyaris menetes.Aku benar-benar tidak tahu kalau selama ini ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Mungkin, ketidaksadaranku itu terjadi karena aku cukup tertekan dan larut dalam kedukaan yang mendalam setelah apa yang terjadi pada Ayah selama dua bulan terakhir.​Melihatku yang emosional, jemari Nikolai bergerak lembut, menyusuri sela-sela jemariku. Ia menggenggamnya erat dengan tatapan hang

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 193 KEJUTAN TAK TERDUGA

    "Aku akan benar-benar menembakmu, Tuan Jave!" Teriakku semakin memajukan pistol dengan dada bergemuruh hebat, menyuarakan ancaman yang nyaris tenggelam dalam riak emosi yang membakar seluruh dadaku.​Namun, di luar dugaan, semua anak buahnya yang ada di sana masih saja terdiam kaku. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak maju untuk melindunginya, seolah mereka semua tunduk pada perintah tak tertulis dan menungguku untuk mengeksekusi Tuannya tanpa perlawanan.​Bersama dengan itu, Tuan Jave tidak menurunkan pandangannya sama sekali. Ia justru semakin mengangkat dagunya, menatapku dengan mata tak gentar, memancarkan keberanian mutlak seorang pria yang sudah mati rasa terhadap ajal."Tidak ada yang berharga bagiku, selain nyawa putriku, Elianore..."​Mendengar kalimat itu meluncur tulus dari bibirnya, benteng pertahananku seketika retak. Sebuah hantaman kenangan masa lalu mendadak memukul kes

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 192 PERMOHONAN SEORANG AYAH

    "Bergabunglah dengan kami, Nona Eli," pinta Tuan Jave sambil mengangkat gelas anggurnya, mengulas senyum ramah yang kini terasa ganjil di mataku.Aku hanya menatapnya sebentar dengan tatapan dingin, lalu kembali menatap pada Nikolai dengan kening berkerut dalam. Ada keraguan besar yang menggelayuti hatiku untuk menerima ajakannya di tempat asing ini.Menyadari kegelisahanku, Nikolai menggandeng tanganku erat dengan senyuman yang menenangkan, mencoba menyalurkan rasa aman ke dalam jemariku. "Jangan khawatir, Sayang. Ayo kita bergabung dengan mereka."Meski diliputi rasa ragu yang tebal, aku akhirnya tetap mengikuti langkah Nikolai. Aku menurunkan egoku dan duduk di sofa mewah itu bersama Tuan Jave, dikelilingi oleh para anak buahnya yang bertubuh kekar.Pria paruh baya di hadapan kami itu kemudian menuangkan cairan merah anggur ke dalam dua gelas kristal, lalu memberikannya masing-masing padaku dan Nikolai."Kemenangan apa yang kalian maks

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 5 SANG KAKAK IBLIS

    Duniaku runtuh seketika. Tubuhku membeku, kaku seperti batu. Aku menoleh perlahan ke arah pria yang baru saja muncul dari dalam rumah. Kelopak mataku tak sanggup berkedip, napasku tercekat di kerongkongan, dan peluh dingin mulai membanjiri pelipisku.Pria itu berdiri di sana. Dengan seringai tipis

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 4 TAMU DARI MASA LALU

    Aku menggumamkan nama itu pelan. Aneh sekali. Entah kenapa, hanya dengan menyebut nama itu, seluruh bulu kudukku berdiri dan dadaku terasa sesak secara tiba-tiba.Rasanya seperti ada sesuatu yang gelap sedang menungguku di balik pintu kepulanganku.Setelah menyelesaikan seluruh urusan administrasi

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 3 SEBUAH KELURGA BARU

    Aku menjatuhkan pistol itu ke tanah, suara logamnya beradu dengan batu terdengar seperti lonceng kematian."Tidak... aku bukan pembunuh. Aku hanya ingin hidup," gumamku dengan napas yang putus-putus.Setelah terdiam dalam horor selama beberapa detik, aku berlari masuk ke dalam mobil. Aku harus per

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 1 SAKSI TAK DIUNDANG

    "Maafkan aku, Tuan. Tolong, jangan bunuh aku!" Suara parau pria di sampingku pecah, melengking dalam keputusasaan. Amis darah dan bau tanah basah yang pekat memaksa indra penciumanku untuk menghirupnya. Aku melirik pada pria itu sejenak, saat terik matahari berhasil menyinari wajahnya yang pucat d

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status