Home / Mafia / TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA / BAB 4 TAMU DARI MASA LALU

Share

BAB 4 TAMU DARI MASA LALU

last update publish date: 2026-03-31 05:15:48

Aku menggumamkan nama itu pelan. Aneh sekali. Entah kenapa, hanya dengan menyebut nama itu, seluruh bulu kudukku berdiri dan dadaku terasa sesak secara tiba-tiba.

Rasanya seperti ada sesuatu yang gelap sedang menungguku di balik pintu kepulanganku.

Setelah menyelesaikan seluruh urusan administrasi kelulusan yang melelahkan, keesokan harinya aku langsung terbang menuju tanah kelahiranku, Swiss.

Tepat pukul 14:23 CEST, roda pesawat menyentuh landasan pacu di kota Ravenstain. Namun, saat kakiku melangkah keluar dari gerbang kedatangan bandara, sebuah sensasi ganjil menghantam dadaku.

Jantungku tiba-tiba terasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarku mendadak menipis. Langit Ravenstain yang semula cerah benderang, seketika tampak meredup di mataku.

"Ada apa ini? Kenapa jantungku..." Aku bergumam lirih sembari mencengkeram dada kiri. Debarannya tidak beraturan, liar, dan menyakitkan.

Lalu, aroma itu muncul. Bau tanah basah yang pekat dan amis besi yang samar menguar di udara. Aroma yang sama persis dengan suasana hutan terkutuk enam bulan lalu. Padahal, di lantai marmer bandara yang steril ini, tidak ada tanah. Tidak ada hujan yang turun.

Lalu, dari mana asal bau kematian ini?

Pandanganku menyapu lobi yang ramai, hingga mataku terpaku pada sesosok pria berbadan tegap yang berjalan dengan tenang di antara kerumunan. Mantel panjangnya berkibar elegan, langkah kakinya tegas dan penuh otoritas.

"P-pria itu..." Suaraku tercekat di tenggorokan. Sosok itu... siluet itu... sangat mirip dengan bos mafia yang kuhabisi enam bulan lalu.

"Kenapa aku selalu melihatnya di mana-mana?" Napasku tersengal. Aku segera menundukkan kepala, memejamkan mata rapat-rapat demi mengusir bayangan itu.

Sejak moment jahanam itu, dia seolah menjadi bayang-bayang yang melekat pada setiap langkahku. Entah arwahnya yang menuntut balas, atau sekadar proyeksi rasa bersalah yang menciptakan ilusi gila.

"Sepertinya... aku harus menemui psikiater lagi di kota ini," gumamku seraya menarik koper menuju deretan taksi. "Ayah tidak boleh tahu. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaannya dengan kegilaanku."

Sebelum masuk ke dalam mobil, aku sempat melirik sekali lagi. Sosok itu kian menjauh dan menghilang di balik kerumunan.

"Dasar sialan! Bahkan setelah mati pun, kau masih ingin menyiksaku!" gerutuku sembari meremas gagang koper hingga buku jariku memutih.

Sesampainya di rumah, kehangatan langsung menyambutku. Ayah dan Bibi Sofia sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah berseri-seri.

"Elianore, putri kesayangan Ayah!" panggil Ayah sembari merentangkan tangan lebar-lebar.

Aku melepaskan koperku begitu saja dan berlari menghambur ke pelukannya. "Ayah!"

Ia mendekapku sangat erat, seolah aku masih putri kecilnya yang berumur lima tahun, bukan wanita dua puluh dua tahun yang baru saja pulang dari 'neraka'.

"Ayah sangat merindukanmu, Sayang."

Aku membenamkan wajah di bahunya, menghirup aroma parfum Ayah yang familiar dan menenangkan. Rasanya ajaib.

Enam bulan lalu, aku sudah pasrah bahwa aku tidak akan pernah bisa memeluk pria ini lagi. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya luruh juga.

"Aku sangat bersyukur bisa bertemu Ayah lagi. Aku ingin kita terus bersama di Ravenstain... aku tidak mau jauh-jauh lagi," rintihku, suaraku pecah oleh emosi yang meluap.

Ayah merenggangkan pelukan, menatapku dengan kening berkerut cemas. "Sayang, kenapa bicara begitu? Seolah-olah kita akan terpisah selamanya. Bukankah Italia dan Swiss hanya berjarak beberapa jam?"

"Aku tahu. Tapi... aku benar-benar takut tidak bisa melihat Ayah lagi."

"Apa maksudmu? Memangnya apa yang terjadi?" desak Ayah, tatapannya menuntut penjelasan.

Aku tersentak. Aku baru sadar kalau emosiku hampir saja membocorkan rahasia gelap itu. Aku segera menyeka air mata dan memutar otak, mencari alasan yang masuk akal.

"Ah... maksudku, aku hampir saja menerima tawaran kerja di rumah sakit besar di Italia. Jika aku menerimanya, bukankah kita akan terus hidup terpisah?" kelitku dengan senyum yang dipaksakan.

Ayah menghela napas panjang, bahunya yang tegang mulai rileks. "Oh... Ayah pikir terjadi sesuatu yang buruk padamu di sana." Ia menggenggam tanganku hangat. "Bagaimana hidupmu di Italia? Kau tidak mengalami kesulitan, kan?"

Aku menatap garis-garis keriput di wajah Ayah yang kian jelas. Aku tidak boleh mengotori masa tuanya dengan ceritaku. Kisah enam bulan lalu akan kukubur dalam-dalam di hutan itu, bersama jasad pria menyeramkan yang mungkin sekarang sudah habis menjadi santapan burung gagak.

"Tidak, Ayah. Aku sangat bahagia di sana. Nilai magangku juga sangat memuaskan," bohongku dengan nada yang paling meyakinkan.

Ayah kembali memelukku, seolah ingin melindungiku dari seluruh dunia. "Syukurlah. Ayah selalu merasa bersalah karena membiarkanmu tinggal di negara asing sendirian."

"Sudahlah, Sayang. Jangan peluk Eli sendirian," goda sebuah suara lembut. Bibi Sofia menghampiri kami, menyentuh pundak Ayah dengan kasih sayang. "Beri aku kesempatan untuk dekat dengan putri kita."

Ayah tertawa kecil. "Maafkan aku. Aku terlalu bersemangat sampai lupa memperkenalkannya secara resmi."

Bibi Sofia terlihat persis seperti di panggilan video—cantik, elegan, dan memancarkan aura keibuan yang tulus.

"Elianore, ini Bibi Sofia. Mulai hari ini, panggillah dia Ibu," ucap Ayah lembut.

Bibi Sofia tersenyum, menggenggam tanganku dengan jemari yang hangat. "Tidak perlu memaksa, Eli. Panggil aku sesukamu. Aku tahu tidak mudah menerima orang baru setelah sepuluh tahun, tapi aku tulus mencintai Ayahmu, dan otomatis aku menyayangimu seperti anakku sendiri."

Aku mengangguk kecil, merasa sedikit tersentuh. "Terima kasih, Bibi. Aku berharap kita bisa menjadi keluarga yang bahagia."

Bibi Sofia tiba-tiba memelukku, mengusap punggungku dengan kelembutan yang membuat mataku kembali berkaca-kaca. "Eli, aku selalu mendambakan anak perempuan. Dulu, aku kehilangan bayi perempuanku... jika dia masih ada, usianya mungkin sepertimu."

Kehangatan itu terasa begitu nyata, hingga sebuah suara bariton yang berat memecah atmosfer kekeluargaan kami.

"Kenapa kalian berpesta tanpa aku?"

Suara itu... rendah, memiliki resonansi yang membuat tulang belakangku bergetar hebat. Jantungku mendadak berhenti berdetak selama satu detik.

"Nikolai! Kemarilah," panggil Bibi Sofia dengan wajah cerah. "Kenalkan, ini Elianore. Adik barumu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   EPILOG

    Tiga tahun berlalu begitu saja, membawa pergi seluruh sisa badai kelam yang pernah memporak-porandakan hidup kami. Kebahagiaan baru yang hakiki akhirnya tumbuh di rumah ini. Aku berhasil melahirkan dua putra kembar yang menggemaskan, yang saat ini tumbuh sehat dan sudah berusia dua tahun lebih. Wajah mereka berdua merupakan perpaduan yang sempurna antara aku dan Nikolai; mewarisi garis wajah yang tampan, tegas, namun juga memiliki binar yang manis."Kau hari ini pulang malam?" tanyaku lembut sembari membantu Nikolai memasangkan dasi sutranya pagi ini.Sejak setahun yang lalu, Nikolai memutuskan untuk mengambil langkah besar dengan pensiun cepat dari kepolisian. Keputusan itu diambil tepatnya setelah eksekusi mati pada Gideon dilaksanakan secara resmi oleh hukum.Dendam masa lalunya telah usai seutuhnya. Kini, pria itu fokus memimpin geng Dragon dengan cara yang baru. Ia mengembangkan gurita perusahaan legal mereka melalui sistem bisnis yang bersih, transparan, dan tanpa merugikan sal

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 196 AKHIR YANG BAHAGIA

    "Nikol... aku ingin pulang ke rumah Ayah," bisikku lirih, menyandarkan kepalaku yang terasa berat di bahu bidangnya.Nikolai perlahan melepas pelukannya, lalu menunduk untuk menatapku dalam dengan sepasang netranya yang kini sarat akan kelembutan. "Kau ingin tinggal bersama ibu?""Emh," anggukku bersama sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk mata. "Aku ingin melupakan semuanya dan memulai hidup baru bersama Bibi Sofia... juga anak kita."Mendengar penuturanku, Nikolai tersenyum lebar. Terpancar kelegaan yang teramat besar di raut wajah tampannya yang semula tegang. Tanpa membuang waktu, ia kembali mendekapku erat, merengkuh tubuhku lebih dalam dan posesif dari sebelumnya seolah ingin menyatu dengan jiwaku."Baiklah, Sayang. Aku akan membawamu ke rumah lama setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit."Dan setelah selesai mengurus seluruh administrasi kepulangan dari rumah sakit, kami langsung bertolak membelah kota menuju rumah peninggalan Ayah untuk menemui Bibi Sofia.Se

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 195 KEPUTUSAN YANG BERAT

    Melihat kedatangan dua tamu tak diundang itu, Nikolai spontan bangkit dari duduknya. Gerakannya yang sigap memperlihatkan naluri protektif yang tinggi. Ia meletakkan apel dan pisau di nakas dengan ketukan pelan, lalu duduk di tepi ranjang sambil merangkul bahuku, mencoba menyalurkan ketenangan ke dalam tubuhku yang sempat menegang. ​"Elianore... tenangkan dirimu, hm? Nadine... datang ke mari hanya untuk menyampaikan sesuatu." ​Aku tidak merespons ucapan Nikolai. Mataku masih membeku menatap Nadine yang berdiri kaku di dekat pintu sambil menatapku penuh dengan rasa bersalah yang amat dalam. Dan akhirnya, dalam keheningan yang canggung itu, aku tidak lagi melihat kenaifan atau kilat kelicikan di matanya yang sembap. Wanita itu... benar-benar terlihat rapuh, seperti bukan Nadine yang pernah aku kenal di masa lalu. ​Menyadari suamiku didera kekhawatiran besar, aku seketika menoleh pada Nikolai dengan senyum leb

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 194 JANIN KEMBAR

    Aku spontan tersenyum lebar, rasa tidak percaya dan haru seketika membuncah di dalam rongga dadaku. Aku lalu menoleh pada sang dokter dengan wajah tak percaya. "Aku hamil?"​"Benar. Sudah tiga bulan. Apa kau tidak menyadarinya?" Sahut sang dokter setelah mengecek selang infusku, memastikan cairan di dalamnya mengalir dengan konstan ke pembuluh darahku.​Aku menunduk dalam-dalam, menyembunyikan gurat haru dengan senyum yang tertahan di balik helai rambutku yang terurai. Air mata kebahagiaan nyaris menetes.Aku benar-benar tidak tahu kalau selama ini ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Mungkin, ketidaksadaranku itu terjadi karena aku cukup tertekan dan larut dalam kedukaan yang mendalam setelah apa yang terjadi pada Ayah selama dua bulan terakhir.​Melihatku yang emosional, jemari Nikolai bergerak lembut, menyusuri sela-sela jemariku. Ia menggenggamnya erat dengan tatapan hang

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 193 KEJUTAN TAK TERDUGA

    "Aku akan benar-benar menembakmu, Tuan Jave!" Teriakku semakin memajukan pistol dengan dada bergemuruh hebat, menyuarakan ancaman yang nyaris tenggelam dalam riak emosi yang membakar seluruh dadaku.​Namun, di luar dugaan, semua anak buahnya yang ada di sana masih saja terdiam kaku. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak maju untuk melindunginya, seolah mereka semua tunduk pada perintah tak tertulis dan menungguku untuk mengeksekusi Tuannya tanpa perlawanan.​Bersama dengan itu, Tuan Jave tidak menurunkan pandangannya sama sekali. Ia justru semakin mengangkat dagunya, menatapku dengan mata tak gentar, memancarkan keberanian mutlak seorang pria yang sudah mati rasa terhadap ajal."Tidak ada yang berharga bagiku, selain nyawa putriku, Elianore..."​Mendengar kalimat itu meluncur tulus dari bibirnya, benteng pertahananku seketika retak. Sebuah hantaman kenangan masa lalu mendadak memukul kes

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 192 PERMOHONAN SEORANG AYAH

    "Bergabunglah dengan kami, Nona Eli," pinta Tuan Jave sambil mengangkat gelas anggurnya, mengulas senyum ramah yang kini terasa ganjil di mataku.Aku hanya menatapnya sebentar dengan tatapan dingin, lalu kembali menatap pada Nikolai dengan kening berkerut dalam. Ada keraguan besar yang menggelayuti hatiku untuk menerima ajakannya di tempat asing ini.Menyadari kegelisahanku, Nikolai menggandeng tanganku erat dengan senyuman yang menenangkan, mencoba menyalurkan rasa aman ke dalam jemariku. "Jangan khawatir, Sayang. Ayo kita bergabung dengan mereka."Meski diliputi rasa ragu yang tebal, aku akhirnya tetap mengikuti langkah Nikolai. Aku menurunkan egoku dan duduk di sofa mewah itu bersama Tuan Jave, dikelilingi oleh para anak buahnya yang bertubuh kekar.Pria paruh baya di hadapan kami itu kemudian menuangkan cairan merah anggur ke dalam dua gelas kristal, lalu memberikannya masing-masing padaku dan Nikolai."Kemenangan apa yang kalian maks

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 132 PERANGKAP DI BALIK PINTU

    "Kau mencurigai bahwa Nona Anna itu sebenarnya adalah Elianore?" tanya Levin dengan kedua kening yang berkerut dalam, tampak terkejut dengan analisis tuannya.Nikolai kembali menyesap lintingan rokoknya semakin dalam, membiarkan nikotin membakar rongga dadanya sebelum akhirnya menyemburk

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 113 RETAKNYA SEBUAH SANDIWARA

    Tak terduga, Nikolai langsung membanting menutup laptopnya hingga menimbulkan suara benturan yang keras. Ia bangkit dari kursi, lalu memutar tubuhku dengan sentakan kuat agar menghadap sepenuhnya pada dirinya."Kau... mulai bersikap sangat nakal, ya, Eli?" ucapnya dengan suara serak

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 48 PENGAKUAN DI BALIK KEMUDI

    "Eli... wajahmu pucat sekali. Apa kau sakit?" tanya Adrian begitu kami berada di dalam mobil. Ia mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipiku, namun secara refleks aku menghindar. Gerakanku begitu cepat, seolah sentuhannya adalah sesuatu yang asing."Aku tidak apa-apa. Hanya...

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 45 LUKA DI BALIK CANGKIR TEH

    Napasku tertahan, bibirku terasa terkunci rapat. Aku hanya mampu menggeleng lemah, lalu menunduk dalam-dalam untuk menghindari tatapan Adrian yang seolah sedang menguliti kejujuranku. Ia menyentuh liontin Edelweis di leherku dengan tangan gemetar. "Kalung ini... adalah i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status