Home / Mafia / TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA / BAB 1 SAKSI TAK DIUNDANG

Share

TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA
TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA
Author: Libra Syafarika

BAB 1 SAKSI TAK DIUNDANG

last update publish date: 2026-03-31 05:04:52

"Maafkan aku, Tuan. Tolong, jangan bunuh aku!" Suara parau pria di sampingku pecah, melengking dalam keputusasaan.

Amis darah dan bau tanah basah yang pekat memaksa indra penciumanku untuk menghirupnya. Aku melirik pada pria itu sejenak, saat terik matahari berhasil menyinari wajahnya yang pucat dan basah dengan keringat.

Beberapa menit yang lalu, aku baru saja berhasil mengeluarkan seonggok peluru dari lengan kekar pria tampan yang saat ini masih duduk di hadapanku.

Sekumpulan pria berbadan besar yang berjejer di belakang pria naas itu, memanggilnya "Bos".

Aku pikir hari sialku akan segera usai. Namun ternyata, mereka memaksaku melihat pertunjukan mengerikan, seorang pria dengan perawakan paruh baya dan masih mengenakan setelan jas mewah tengah berlutut gemetar di tepi lubang besar yang menganga.

Tangannya terikat ke belakang, punggungnya melengkung pasrah menghadap liang lahat yang mungkin sengaja digali khusus untuknya.

"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, Tuan. Aku tidak akan mengkhianati Anda lagi!" rintihnya, air mata dan keringat bercampur aduk di wajahnya yang suram.

Aku bisa merasakan setiap sendi di tubuhku melembek, seolah tulang-tulangku berubah menjadi jeli. Entah sial apa yang menimpaku semalam.

Sebagai mahasiswi kedokteran, aku terbiasa melihat darah, tapi bukan darah dari luka tembak yang didapat dari baku tembak nyata.

Aku ditugaskan magang di wilayah pelosok ini, lalu diculik, mataku ditutup, dan dibawa ke tengah hutan entah di mana. Hanya untuk mengobati satu orang.

"Tidak akan mengulangi lagi?" Suara rendah dan tajam sang pemimpin mafia terdengar mengulang kalimat itu dengan senyum miring yang kejam.

Wajahnya terpahat sempurna, luar biasa tampan dengan rahang tegas, namun tatapannya sedingin es dan sekosong jurang tanpa dasar. Tidak ada belas kasih di sana.

"Sudah berapa kali kau membocorkan rencanaku pada musuh?" lanjutnya, penekanan dari suaranya mampu membuat bulu kudukku berdiri. Ia tidak berteriak, tapi otoritas dalam suaranya jauh lebih mengerikan dari guntur.

"T-tidak, Tuan. A-aku tidak sengaja..." Pria itu tergagap, tubuhnya bergetar hebat hingga suaranya nyaris tak terdengar di antara deru angin siang yang bergesekan dengan daun-daun kering.

Si bos mafia di hadapanku ini hanya tersenyum tipis. Kontras yang mengerikan. Sementara satu orang sedang mengemis nyawa di ambang lubang kubur, ia tetap duduk tenang sambil mengulurkan satu tangannya padaku untuk dibalut, seolah tak tersentuh oleh drama di samping kami.

"Kau bilang tidak sengaja?" Nada suaranya sedikit naik, tapi cukup untuk membuat pria itu tersentak seolah dicambuk. "Apa kau tidak sadar aku hampir mati karenamu?!"

Pria malang itu membungkuk berkali-kali hingga keningnya membentur gundukan tanah liat di hadapannya. "Maafkan aku, Tuan! Ampun!"

Sunyi sejenak, hanya terdengar suara napas memburu si korban dan desau angin. Tak berselang, seorang anak buah mafia yang berdiri di belakang pria itu bergerak. Sebuah tendangan brutal bersarang di punggung pria yang berlutut itu. Suara tulang yang bergeser atau patah terdengar, disusul jeritan singkat saat tubuhnya terjungkal, jatuh terperosok ke dalam lubang gelap di depannya.

"Eksekusi," perintah sang pemimpin, dingin tanpa emosi.

Keheningan hutan pecah seketika. Rentetan tembakan menggema, memekakkan telinga. Aku bahkan bisa mencium bau mesiu yang menyengat, bercampur dengan bau besi dari darah yang baru tertumpah.

Bayangan siluet pria di dalam lubang itu tersentak-sentak seiring peluru menghujam tubuhnya berkali-kali, hingga akhirnya diam tak berkutik.

Suara letusan itu membuat seluruh sistem sarafku lumpuh. Detak jantungku berpacu seperti genderang perang, menghantam dadaku sendiri.

Dalam kengerian yang melumpuhkan itu, tanpa sadar tanganku yang tengah mengganti perban meremas luka tembak di lengan sang pemimpin mafia dengan kekuatan penuh.

Darah segar merembes cepat, mewarnai perban putih menjadi merah pekat.

Aku mematung. Waktu seolah berhenti.

Perlahan, pria menyeramkan itu menoleh padaku. Tatapannya menajam, menusuk langsung ke dalam sukmaku, seolah ia bisa melihat betapa ketakutannya aku di dalam hutan mengerikan itu. Matanya bak bilah pisau yang siap menguliti kecerobohanku kapan saja.

"M-maaf..." bisikku, suaraku tercekat di tenggorokan yang kering.

Aku bergegas melepaskan remasanku setelah sempat saling bertatapan dengannya, lalu mengganti perban itu kembali dengan tangan yang bergetar hebat. Peluh dingin membasahi punggungku.

Tuhan... Kenapa aku harus terjebak di sini? Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini.

Logikaku sebagai calon dokter berusaha mengambil alih, memberitahuku untuk tetap tenang demi menyelesaikan tugas, tapi rasa takutnya terlalu dominan. Dengan tangan gemetar, aku berusaha menutupi luka itu lagi.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang terasa sangat dingin di kulitku mengangkat daguku pelan, memaksaku untuk menatap mata gelapnya yang mematikan.

"Apa... kau orang Italia asli?" tanyanya. Nadanya ramah, namun terdengar seperti ancaman yang mematikan.

"T-tidak, Tuan. Aku... aku berasal dari Swiss," sahutku dengan napas tersengal, dadaku naik turun tak beraturan karena situasi ini.

Bos mafia itu menaikkan satu alisnya, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya yang kaku. "Sayang sekali. Mata cantikmu ini... harus melihat semua kekejaman ini."

Entah apa maksudnya. Tapi kata-katanya tidak terdengar seperti pujian di telingaku. Itu terdengar seperti pengumuman bahwa keindahanku tidak mampu menyelamatkanku dari kematian.

"Bos. Aku akan menghabisi wanita itu sekarang juga." Suara keras dari anak buah di belakangku terdengar. Ia bersiap mengangkat pistol dan mengarahkannya padaku.

Aku reflek berdiri dengan tubuh bergetar—bersiap melarikan diri. Namun dengan cepat bos mafia ini menangkap tanganku.

Perlahan, ia beranjak berdiri sambil menatapku dengan senyum miringnya yang khas. Sosoknya menjulang tinggi, mendominasi pandanganku, membuatku merasa semakin kecil dan tak berdaya.

Aku menggeleng cepat sambil berusaha melepas genggaman tangannya. "Aku mohon, biarkan aku pergi..."

Ia tak menjawab dan justru menyelipkan sebatang rokok ke bibirnya yang tipis. Seorang anak buahnya mendekat—menyalakan korek untuknya. Bos mafia itu menghisap rokoknya dalam, lalu membuang asapnya tepat di wajahku.

"Kenapa kau sangat terburu-buru, Nona..."

Aku seketika terbatuk, lalu mengibas asap yang menghalangi pandanganku. Dalam sekejap, wajah tampan yang menakutkan itu kembali telihat jelas, membuat tubuhku seketika terdorong mundur.

"Kau tinggal sendirian di sini?" lanjutnya, memandang remeh ke arahku.

"I-iya, Tuan..." jawabku sambil menunduk, tak berani menatap matanya.

Namun, mataku terus melirik waspada ke arah anak buahnya yang sejak tadi mengacungkan pistol ke arahku.

Pria itu terdiam sejenak, membiarkan keheningan hutan dan suara napasku yang memburu mengisi udara. "Jadi... jika kau menghilang, tidak akan ada yang mencarimu, bukan?"

Aku seketika mengangkat wajah, menatapnya sambil menggeleng cepat. Bumi serasa berhenti berputar di bawah kakiku. Air mata, yang sedari tadi kutahan, akhirnya luruh membasahi pipi. Jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit di dada.

Tidak. Dia akan membunuhku. Dia akan membuangku ke lubang itu seperti anjing.

Ketakutan itu memberiku kekuatan semu. Aku menggenggam tangannya dengan erat. "Apa maksud Anda? Aku baru saja menyelamatkan nyawa Anda, Tuan," ucapku, berusaha meyakinkan, meski suaraku nyaris hilang di tenggorokan.

Ia kembali menghisap rokoknya dengan tenang, seolah eksekusi barbar yang baru saja terjadi tidak lebih penting dari rasa tembakau di lidahnya.

Ia merapatkan jarak diantara kami, lalu kembali meraih daguku dengan ujung jari dinginnya. "Kau memang sudah menyelamatkan nyawaku," bisiknya, suaranya sedingin salju di kutub utara. "Tapi peraturan kami tegas, tidak boleh ada saksi mata."

Itu adalah vonis mati.

Refleks, aku berlutut sambil memeluk kakinya, menangis tersedu-sedu. "Aku janji akan merahasiakan semuanya. Mulutku bisu, mataku buta! Aku tidak melihat apa-apa! Tolong jangan bunuh aku, Tuan. Ayahku... Ayahku sendirian di rumah. Aku anak satu-satunya. Aku mohon, jangan bunuh aku..."

Pria itu menarik tanganku keras, memaksaku berdiri tepat di hadapannya. Jarak kami begitu dekat. Aku bisa mencium aroma rokok bercampur parfum maskulin serta aroma tembaga dari darahnya sendiri.

Jemarinya yang kasar menelusuri garis rahangku dengan pelan, sebuah sentuhan yang lebih menakutkan daripada hunjaman pisau.

"Cantik..." Dia memujiku. Kali ini, nadanya berbeda. Itu adalah pujian yang tulus, tapi justru itu yang membuatnya terasa semakin mengerikan. "Tapi sayang... wajah cantikmu ini tidak akan berguna lagi sekarang."

Di tengah keputusasaan ini, naluri bertahan hidupku bekerja cepat, memutar otak mencari cara apapun untuk menyelamatkan diri. Tak peduli meski harus mengorbankan moralitas. Setitik harapan, harus aku manfaatkan untuk menyelamatkan diri.

"Jadikan aku teman tidurmu," ucapku reflek, membuatnya seketika mengernyitkan dahi. "Kau mengagumi wajahku, bukan? Aku berguna untuk memberimu kepuasan di ranjang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Deemardani
Kalo mafianya ganteng, biarpun jahat, aku jadi lemah......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   EPILOG

    Tiga tahun berlalu begitu saja, membawa pergi seluruh sisa badai kelam yang pernah memporak-porandakan hidup kami. Kebahagiaan baru yang hakiki akhirnya tumbuh di rumah ini. Aku berhasil melahirkan dua putra kembar yang menggemaskan, yang saat ini tumbuh sehat dan sudah berusia dua tahun lebih. Wajah mereka berdua merupakan perpaduan yang sempurna antara aku dan Nikolai; mewarisi garis wajah yang tampan, tegas, namun juga memiliki binar yang manis."Kau hari ini pulang malam?" tanyaku lembut sembari membantu Nikolai memasangkan dasi sutranya pagi ini.Sejak setahun yang lalu, Nikolai memutuskan untuk mengambil langkah besar dengan pensiun cepat dari kepolisian. Keputusan itu diambil tepatnya setelah eksekusi mati pada Gideon dilaksanakan secara resmi oleh hukum.Dendam masa lalunya telah usai seutuhnya. Kini, pria itu fokus memimpin geng Dragon dengan cara yang baru. Ia mengembangkan gurita perusahaan legal mereka melalui sistem bisnis yang bersih, transparan, dan tanpa merugikan sal

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 196 AKHIR YANG BAHAGIA

    "Nikol... aku ingin pulang ke rumah Ayah," bisikku lirih, menyandarkan kepalaku yang terasa berat di bahu bidangnya.Nikolai perlahan melepas pelukannya, lalu menunduk untuk menatapku dalam dengan sepasang netranya yang kini sarat akan kelembutan. "Kau ingin tinggal bersama ibu?""Emh," anggukku bersama sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk mata. "Aku ingin melupakan semuanya dan memulai hidup baru bersama Bibi Sofia... juga anak kita."Mendengar penuturanku, Nikolai tersenyum lebar. Terpancar kelegaan yang teramat besar di raut wajah tampannya yang semula tegang. Tanpa membuang waktu, ia kembali mendekapku erat, merengkuh tubuhku lebih dalam dan posesif dari sebelumnya seolah ingin menyatu dengan jiwaku."Baiklah, Sayang. Aku akan membawamu ke rumah lama setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit."Dan setelah selesai mengurus seluruh administrasi kepulangan dari rumah sakit, kami langsung bertolak membelah kota menuju rumah peninggalan Ayah untuk menemui Bibi Sofia.Se

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 195 KEPUTUSAN YANG BERAT

    Melihat kedatangan dua tamu tak diundang itu, Nikolai spontan bangkit dari duduknya. Gerakannya yang sigap memperlihatkan naluri protektif yang tinggi. Ia meletakkan apel dan pisau di nakas dengan ketukan pelan, lalu duduk di tepi ranjang sambil merangkul bahuku, mencoba menyalurkan ketenangan ke dalam tubuhku yang sempat menegang. ​"Elianore... tenangkan dirimu, hm? Nadine... datang ke mari hanya untuk menyampaikan sesuatu." ​Aku tidak merespons ucapan Nikolai. Mataku masih membeku menatap Nadine yang berdiri kaku di dekat pintu sambil menatapku penuh dengan rasa bersalah yang amat dalam. Dan akhirnya, dalam keheningan yang canggung itu, aku tidak lagi melihat kenaifan atau kilat kelicikan di matanya yang sembap. Wanita itu... benar-benar terlihat rapuh, seperti bukan Nadine yang pernah aku kenal di masa lalu. ​Menyadari suamiku didera kekhawatiran besar, aku seketika menoleh pada Nikolai dengan senyum leb

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 194 JANIN KEMBAR

    Aku spontan tersenyum lebar, rasa tidak percaya dan haru seketika membuncah di dalam rongga dadaku. Aku lalu menoleh pada sang dokter dengan wajah tak percaya. "Aku hamil?"​"Benar. Sudah tiga bulan. Apa kau tidak menyadarinya?" Sahut sang dokter setelah mengecek selang infusku, memastikan cairan di dalamnya mengalir dengan konstan ke pembuluh darahku.​Aku menunduk dalam-dalam, menyembunyikan gurat haru dengan senyum yang tertahan di balik helai rambutku yang terurai. Air mata kebahagiaan nyaris menetes.Aku benar-benar tidak tahu kalau selama ini ada kehidupan baru yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Mungkin, ketidaksadaranku itu terjadi karena aku cukup tertekan dan larut dalam kedukaan yang mendalam setelah apa yang terjadi pada Ayah selama dua bulan terakhir.​Melihatku yang emosional, jemari Nikolai bergerak lembut, menyusuri sela-sela jemariku. Ia menggenggamnya erat dengan tatapan hang

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 193 KEJUTAN TAK TERDUGA

    "Aku akan benar-benar menembakmu, Tuan Jave!" Teriakku semakin memajukan pistol dengan dada bergemuruh hebat, menyuarakan ancaman yang nyaris tenggelam dalam riak emosi yang membakar seluruh dadaku.​Namun, di luar dugaan, semua anak buahnya yang ada di sana masih saja terdiam kaku. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak maju untuk melindunginya, seolah mereka semua tunduk pada perintah tak tertulis dan menungguku untuk mengeksekusi Tuannya tanpa perlawanan.​Bersama dengan itu, Tuan Jave tidak menurunkan pandangannya sama sekali. Ia justru semakin mengangkat dagunya, menatapku dengan mata tak gentar, memancarkan keberanian mutlak seorang pria yang sudah mati rasa terhadap ajal."Tidak ada yang berharga bagiku, selain nyawa putriku, Elianore..."​Mendengar kalimat itu meluncur tulus dari bibirnya, benteng pertahananku seketika retak. Sebuah hantaman kenangan masa lalu mendadak memukul kes

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 192 PERMOHONAN SEORANG AYAH

    "Bergabunglah dengan kami, Nona Eli," pinta Tuan Jave sambil mengangkat gelas anggurnya, mengulas senyum ramah yang kini terasa ganjil di mataku.Aku hanya menatapnya sebentar dengan tatapan dingin, lalu kembali menatap pada Nikolai dengan kening berkerut dalam. Ada keraguan besar yang menggelayuti hatiku untuk menerima ajakannya di tempat asing ini.Menyadari kegelisahanku, Nikolai menggandeng tanganku erat dengan senyuman yang menenangkan, mencoba menyalurkan rasa aman ke dalam jemariku. "Jangan khawatir, Sayang. Ayo kita bergabung dengan mereka."Meski diliputi rasa ragu yang tebal, aku akhirnya tetap mengikuti langkah Nikolai. Aku menurunkan egoku dan duduk di sofa mewah itu bersama Tuan Jave, dikelilingi oleh para anak buahnya yang bertubuh kekar.Pria paruh baya di hadapan kami itu kemudian menuangkan cairan merah anggur ke dalam dua gelas kristal, lalu memberikannya masing-masing padaku dan Nikolai."Kemenangan apa yang kalian maks

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 5 SANG KAKAK IBLIS

    Duniaku runtuh seketika. Tubuhku membeku, kaku seperti batu. Aku menoleh perlahan ke arah pria yang baru saja muncul dari dalam rumah. Kelopak mataku tak sanggup berkedip, napasku tercekat di kerongkongan, dan peluh dingin mulai membanjiri pelipisku.Pria itu berdiri di sana. Dengan seringai tipis

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 4 TAMU DARI MASA LALU

    Aku menggumamkan nama itu pelan. Aneh sekali. Entah kenapa, hanya dengan menyebut nama itu, seluruh bulu kudukku berdiri dan dadaku terasa sesak secara tiba-tiba.Rasanya seperti ada sesuatu yang gelap sedang menungguku di balik pintu kepulanganku.Setelah menyelesaikan seluruh urusan administrasi

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 3 SEBUAH KELURGA BARU

    Aku menjatuhkan pistol itu ke tanah, suara logamnya beradu dengan batu terdengar seperti lonceng kematian."Tidak... aku bukan pembunuh. Aku hanya ingin hidup," gumamku dengan napas yang putus-putus.Setelah terdiam dalam horor selama beberapa detik, aku berlari masuk ke dalam mobil. Aku harus per

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 2 PENEBUSAN BERDARAH

    Ia tersenyum miring, senyum yang menunjukkan dia menyukai apa yang didengarnya, menyukai tawaranku yang putus asa. Ia menyesap rokoknya untuk terakhir kali sebelum akhirnya diinjak dengan ujung sepatu. Tanpa berkata-kata lagi, ia langsung menyambar tubuhku dengan satu gerakan kuat, membawa tubuhku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status