Inicio / Mafia / TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA / BAB 122 STRATEGI PERANG

Compartir

BAB 122 STRATEGI PERANG

last update Fecha de publicación: 2026-05-25 07:00:22

Tok! Tok!

Gema ketukan pintu kamar yang berirama konstan memecah keheningan. Bella langsung bangkit dari posisinya, melangkah waspada ke arah pintu depan untuk membukanya.

"Kau? Masuklah cepat, situasi sedang memanas," bisik Bella sembari menarik seorang pria yang baru saja tiba di ambang pintu.

Bella menuntun pria itu mendekat, lalu memperkenalkannya tepat di samping tempatku duduk. "Eli, kenalkan, ini Sam. Dia adalah jurnalis investigasi senior d
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 124 MENGGENGGAM RAHASIA

    Aku menyeringai dingin, lalu dengan santai menepuk pundak kedua pria itu bergantian. "Percayalah, sebentar lagi kalian berdua justru akan berlutut dan berterima kasih kepadaku. Cepat antar aku sekarang juga." Mereka akhirnya menyerah dan mulai mengawal langkahku menuju ruang privat paling ujung. Di sepanjang koridor, sayup-sayup aku bisa mendengar gema suara kekehan mabuk para pengunjung, berbaur dengan dentum musik berdentang keras yang meredam suara luar. "Ini ruangannya," ucap salah satu pria itu begitu kami berhenti di depan sebuah pintu kayu jati solid berukir mewah yang tertutup rapat. Salah satu dari mereka membuka pintu sedikit dan melangkah masuk terlebih dahulu untuk memberi laporan. "Tuan, maaf mengganggu. Kami... kami sudah berhasil membawa wanita baru berkualitas untuk Anda." Pyar! Prang! Gema suara pecahan botol beling yang menghantam dinding terdengar begitu memekakkan telinga. "

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 123 MENYUSUP KE KANDANG MONSTER

    Aku bergerak cepat, meraih topi hitam yang tergeletak di atas meja kaca dan mengambil selembar masker medis baru dari dalam tas jinjingku. "Eli, apa kau benar-benar yakin akan pergi mendatangi sarang Mawar Hitam itu sendirian?" tanya Bella dengan nada suara yang dipenuhi kecemasan yang mendalam. Aku memasang topi hitam itu sedalam mungkin hingga menutupi dahiku, lalu diam-diam menyelipkan pisau lipat kecil pemberian Nikolai ke dalam saku celana jins yang kukenakan sebagai senjata pertahanan terakhir. "Kau tidak perlu khawatir berlebihan, Bella. Aku yang sekarang... sudah tahu bagaimana cara mengatasi pria-pria arogan seperti mereka." "Eli, segera kirimkan sinyal darurat padaku jika kau membutuhkan bantuan," ucap Bella sembari menggandeng pergelangan tanganku erat, menatapku dengan sorot mata yang sarat akan rasa tidak rela jika aku harus terluka lagi. "Ehm, aku mengerti," sahutku singkat untuk menenangkannya

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 122 STRATEGI PERANG

    Tok! Tok! Gema ketukan pintu kamar yang berirama konstan memecah keheningan. Bella langsung bangkit dari posisinya, melangkah waspada ke arah pintu depan untuk membukanya. "Kau? Masuklah cepat, situasi sedang memanas," bisik Bella sembari menarik seorang pria yang baru saja tiba di ambang pintu. Bella menuntun pria itu mendekat, lalu memperkenalkannya tepat di samping tempatku duduk. "Eli, kenalkan, ini Sam. Dia adalah jurnalis investigasi senior di bidang politik yang sangat berpengaruh di wilayah Ravenstain." "Hai, Nona." Sam mengulurkan tangan kanannya ke hadapanku, menyapaku dengan seulas senyum lebar yang ramah namun penuh teka-teki. Aku bangkit berdiri, menyambut uluran tangannya untuk berjabat tangan secara formal. "Hai, Sam. Aku Elianore. Elianore Wyss." "Aku sudah mendengar banyak hal tentang sepak terjang dan situasimu dari Bella," ucap Sam sembari melirik sekilas ke arah Bella yang b

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 121 PENGHIANATAN YANG TERENDUS

    "Halo... Eli? Di mana kau sekarang?" Suara Bella langsung menyambar begitu aku menyambungkan panggilan terenkripsi melalui ponsel milik Anggi. "Aku baru saja keluar dari area kedatangan bandara. Temui aku sekarang juga di Hotel Ritz," perintahku dengan nada rendah, sembari melangkah cepat ke lobi luar dan melambaikan tangan pada sebuah taksi perak yang tengah melintas. "Baiklah, aku akan segera meluncur ke sana." Aku langsung menyusup masuk ke dalam kabin taksi begitu mobil itu berhenti tepat di hadapanku. "Jangan lupa, pesan kamar eksekutif itu atas nama pribadimu, Bel. Jangan gunakan identitas dan akunku." "Aku mengerti, serahkan padaku." "Satu lagi," aku menahan napas sejenak sebelum melanjutkan. "Ajak juga teman kencan barumu yang seorang jurnalis itu. Aku butuh bantuannya untuk melancarkan rencanaku." "Baiklah, Elianore. Sampai bertemu di san

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 120 BIDAK CATUR YANG LEPAS

    Anggi langsung mengembuskan napas panjang yang sempat tertahan di dada. Dalam sekejap, rona wajahnya berubah menjadi panik dan dipenuhi ketakutan melihat intimidasi pria asing tersebut. Aku langsung bangkit dari kursi, lalu mengulas senyum ramah yang dibuat-buat pada pria gemuk itu. "Ah, iya, Tuan. Silakan duduk, aku akan segera pindah." Aku melirik ke arah Anggi sebentar dengan tatapan penuh arti sebelum melangkah pergi meninggalkan area kabin ekonomi. Di dalam hati, aku penuh harap dan menghitung mundur; wanita itu pasti akan bangkit dan memanggilku kembali. Dan benar saja. Hanya dalam selang waktu dua detik, lengkingan suaranya yang memanggilku terdengar memecah koridor lorong. "Nona! Tunggu!" Aku menghentikan langkah kaki sembari menyembunyikan senyum lebar, lalu perlahan berbalik menghadapnya dengan raut wajah yang seolah-olah bersimpati. "Bolehkah aku ikut denganmu ke depan?" ucap Anggi dengan wajah yan

  • TERBELENGGU CINTA SANG MAFIA   BAB 119 PERTUKARAN IDENTITAS

    Ia mengangkat anjingnya tinggi-tinggi di atas kepala sembari tersenyum lebar ke arahku. "Namaku Anggi." "Kau sedang dalam perjalanan liburan?" Anggi menggelengkan kepalanya kecil. "Tidak. Aku mau menyusul kekasihku yang bekerja di Kanada." Kanada? Sebuah kebetulan yang luar biasa. Kami memiliki rute penerbangan yang sama. "Ah, sepertinya aku harus masuk duluan, ya? Pesawatku akan segera melakukan persiapan lepas landas," ucap Anggi sembari berdiri tegak, lalu berjalan terburu-buru menuju lorong gate keberangkatan internasional. Ternyata jadwal keberangkatannya adalah sekarang. Sepertinya kami memang berada di dalam manifes penerbangan yang sama menuju Nordik. Tak lama kemudian, langkah kaki Levin terdengar mendekat. "Ini tiket dan dokumen penerbanganmu, Nona Eli. Cepatlah masuk ke dalam gate. Pesawatmu akan segera berangkat dalam waktu lima belas menit."

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status