เข้าสู่ระบบ“Aku beneran bersyukur kamu masih ada di sini sama aku,” ucap Marry sambil melirik sekeliling ruangan. “Jadi, mereka mindahin kamu ke sini lebih cepat dari rencana awal ya? Aku udah duga mereka orang baik. Apa pun kata orang, mereka emang keren dan layak dihargai.”
Yesica tersenyum mendengarnya. Hatinya terasa hangat saat membayangkan wajah orang-orang yang disayanginya.“Iya bener, mereka emang baik banget. Mereka nggak mau ada rumor aneh-aneh, kayak aku dipindahin paksa"Aku mengerti." Giancha mengembuskan napas. "Kata Marlin, Dia bilang ingin mendapat informasi langsung tentang seperti apa Kairo di ranjang." Yessica tertawa. "Hubunganmu dengan adikmu aneh." "Kamu punya saudara?" Kairo bersandar di meja dengan kedua tangan terlipat di dada. "Tidak. Aku anak tunggal. Sebenarnya, pasti menyenangkan punya saudara." Yessica memecahkan beberapa gelembung dengan ujung jarinya. "Orang tuaku sebenarnya tidak terlalu ingin punya anak. Mereka memang merencanakanku, tentu saja, tetapi aku bukan prioritas mereka. Jadi, punya saudara laki-laki atau perempuan pasti menyenangkan karena ada teman di rumah. Namun, mungkin kami justru akan diabaikan bersama-sama." Kata-kata itu keluar begitu saja saat Yessica terus memecahkan gelembung demi gelembung, sampai akhirnya dia menyadari apa yang baru saja diungkapkann
Melalui kaca pancuran yang berembun, Yessica melihat bak mandi yang mengepul dengan lapisan busa mengambang di permukaannya. Aroma herbal memenuhi udara. Rasa bergairah menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Yessica sudah bertahun-tahun tidak berendam di bak mandi. Apartemennya bahkan tidak memiliki bak mandi yang bisa digunakan, seandainya dia punya waktu untuk menikmatinya. Bak mandi itu sendiri sangat indah, tetapi Yessica tidak pernah mengizinkan dirinya menikmati kemewahan seperti ini. Sampai sekarang. Kairo mengambil spons dan sabun Yessica, sementara Giancha mengambil sampo miliknya. Tidak lama kemudian, tubuh Yessica sudah dipenuhi busa. Bagian dalam tubuh Yessica terasa panas, dan pancuran bukan satu-satunya hal yang basah. Ketika Kairo berlutut untuk mencuci kakinya, Yessica menggigit bibir dan menahan napas. Kairo mengangkat mata birunya menatap Yessica lalu terseny
Kedua tangan besar Kairo bertumpu di atas pinggul Yessica. Kedua ibu jarinya menekan otot yang tegang, dan Yessica pun mengerang ketika otot-otot itu sedikit mengendur. Yessica membuka mata. Belum ada yang bangun. "Perlu yang lain, Sayang?" Bisikan rendah Kairo membuat Yessica semakin gelisah. Dia berharap bisa berbalik dan melakukan semua hal nakal yang mampu diciptakan pikirannya bersama Kairo, untuk Kairo, dan kepadanya. Namun, isi perutnya terasa seperti berada di dalam mesin penghancur sampah yang dipenuhi pecahan kaca. "Ibuprofen?" Mungkin sekalian rahim baru untuk menggantikan yang sedang dihancurkan sekarang? Kairo bergerak sedikit dan Yessica mendengar geraman pelan. "Hati-hati dengan sikumu." Suara serak Giancha mengusik kesunyian di sekitar mereka. "Gadis ini sedang kram. Jadilah pahlawan dan ambilkan obat untuknya." Kairo terus memijat punggung bawah Yessica. Kasur pun sedikit bergerak. Giancha duduk dan mengusap rambut gelapnya. Tatapan mengantuknya bertemu de
Stefan tidak bisa tidur. Dia duduk di tepi ranjang, lalu bangkit. Dia tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Pengakuan cinta Yessica terus terngiang di kepalanya, membuatnya tetap terjaga. Mungkin itu hanya kekhilafan sesaat karena Yessica sedang terbawa suasana ketika mencapai klimaks bersama mereka.Namun, bahkan kata-kata yang diucapkan saat sedang terbawa gairah bisa mengandung kebenaran. Mungkin Yessica memang mulai jatuh cinta kepada mereka. Sama seperti mereka semua yang sepertinya mulai jatuh cinta kepadanya.Namun, pertanyaan tentang ke mana hubungan ini akan berjalan terus mengganggu pikiran Stefan. Pertanyaan itu muncul setiap kali dia memejamkan mata. Apa yang bisa mereka miliki setelah ini?Yessica adalah karyawan mereka. Ya, berhubungan seks dengannya bisa menimbulkan masalah, tetapi jatuh cinta adalah persoalan yang berbeda. Mereka bisa berhubungan seks tanpa melibatkan perasaan. Mereka sudah pernah melakukannya sebelumnya. Tidak pernah me
Mereka sudah bersahabat selama bertahun-tahun, dan Giancha tahu Stefan akan melakukan sesuatu yang berbeda. Hanya saja, Giancha tidak tahu seperti apa perubahan itu. Stefan berdiri di antara kedua lutut Giancha dan mencengkeram celana dalam Yessica, lalu menariknya dengan kuat hingga robek. Yessica pun menarik napas, hampir tidak percaya, tetapi rahimnya justru semakin basah. Yessica menyukai permainan yang kasar. Stefan mendorong tubuh Yessica ke dada Giancha. Giancha menggigil ketika jari-jari Stefan mengoleskan pelumas pada rudalnya yang berada di dalam Yessica. Mata Yessica melebar ketika menyadari apa yang dilakukan Stefan. Lalu ujung rudal Stefan menekan rudal Giancha, dan Stefan mendorongnya masuk ke dalam rahim Yessica yang sudah sempit bersama rudal Giancha sekaligus. Giancha mengerang karena rangsangan yang bercampur antara rudal Stefan bergesekan dengan miliknya, sementara rahim Yessica mencengkeram keduanya. Yessica mengerang saat menerima keduanya. Saat rudal Stefan
Bergabung dengan mereka di kamarnya, Andree menggendong Yessica dengan kedua kaki melingkar di pinggangnya. Stefan, Kairo, dan Giancha menunggu dalam diam. Tangan Yessica berada di rambut Andree yang basah, dan kepala mereka saling menempel. Andree hanya mengenakan celana boxer, sementara Yessica mengenakan kemejanya. Celana dalam renda terlihat di bawah ujung kemeja."Mandinya menyenangkan, Harimau Betina?"Berbeda dari dua pria lain yang berjalan seperti harimau sungguhan, Giancha duduk di tepi ranjang. Mereka semua sudah mengenakan boxer masing-masinh, mengira permainan malam itu telah berakhir.Andree berhenti dan Yessica langsung menjatuhkan diri ke arah Giancha. Giancha menangkapnya saat Yessica membuatnya terlentang di atas ranjang. Tubuh Yessica hangat dan lembut. Andree membantu menahannya tetap stabil ketika Yessica duduk di atas pinggul Giancha. Rudal Giancha yang tadi sudah setengah tegang ketika Yessica datang langsung menegang sepenuhnya di antara kedua pahanya.Mata Yes
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Sambil duduk tepat di tengah ruangan, Yesica berusaha menyelesaikan dokumen-dokumen itu. Perasaannya aneh. Padahal jelas-jelas ia sendirian di sana. Semua pintu kantor tertutup rapat, kecuali pintu milik Giancha. Yesica menyilangkan kaki dan menyelesaikan formulir terakhirnya. Ia bersandar di kursi
Itu suara Andree. Yesica segera menekan tombol untuk membuka pintu. Sesaat kemudian, pria berambut pirang itu pun muncul dan masuk dengan senyum lebar. "Makasih ya," ucapnya. "Sama-sama," balas Yesica sambil menempelkan kartu aksesnya. Pintu lift pun tertutup. "Jadi kamu mau gabung sama kita y
“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku







