LOGINAndree sudah cukup melonggarkannya sehingga Giancha bisa masuk tanpa kesulitan.
"Aku bakal pelan pelan, Harimau betina."Giancha menekan batang besarnya ke lubang kecil itu. Stefan terus mengusap batangnya sambil melihat Yessica menerimanya sedikit demi sedikit. Yessica mencengkeram Kairo, yang perlahan menggerakkan pinggulnya keluar masuk rahimnya sambil menggesek kacangnya untuk mengalihkan perhatian."Kamu anak baik. Sial, Yessica."Giancha akhirnya masuKasur bergerak saat Stefan naik ke atasnya. Kehangatan tubuh pria itu mendekat dari belakang."Tapi kami tetap laki-laki. Kami ingin menjadi orang yang ada di pikiranmu saat kamu mencapai puncak. Sekarang, kamu sedang memikirkan siapa?""Kamu, Pak."Tidak ada hal lain yang mampu dipikirkan Yessica selain Stefan. Ia hanya membayangkan kehadiran pria itu. Stefan memisahkan kedua pahanya dengan lembut. Pikiran Yessica sudah benar-benar kacau, hanya menunggu Stefan memberinya apa yang ia inginkan."Hanya aku?""Hanya kamu, Stefan. Tolong... biarkan aku mencapai puncak."Sentuhan Stefan membuat Yessica mengerang pelan."Saat bersamaku, kamu memikirkan siapa?""Kamu, Pak."Yessica menarik napas tajam, berjuang menahan dirinya."Kamu benar-benar jadi gadis yang baik hari ini, Yessica. Kamu menahan diri sampai aku mengizinkan."Stefan menarik rambut Yessica ke depan hingga
Kairo menjauh dari meja lalu berjalan menghampirinya. Pria itu mengusap pelan tali baju tidur Yessica hingga menyentuh bagian atas dadanya. Tubuh Yessica langsung bereaksi. Tatapan Kairo yang menggelap beralih sekilas ke arah Stefan sebelum kembali menatapnya."Aku selalu siap kalau mau bersenang-senang."Jari Kairo menyentuh tengkuk Yessica hingga kepalanya sedikit mendongak. Bibir Yessica terbuka tanpa sadar, seolah menunggu ciuman pria itu."Waktu mainnya sudah habis."Stefan menarik Yessica mendekat ke sisinya.Ada nada posesif di suaranya. Hampir terdengar seperti cemburu.Padahal tidak ada alasan untuk itu. Mereka bukan pasangan sungguhan. Memang mereka sepakat untuk saling setia, tetapi itu juga termasuk Kairo."Waktunya tidur."Kairo hanya mengangkat bahu lalu mundur selangkah."Sampai besok pagi, Sayang.""Selamat malam, Kairo."Kairo mengedip kepadanya sebelum Stefan menggand
Stefan berjalan ke lemari laci yang dipenuhi pakaian dalam dan lingerie baru. Sutra dan satin dalam berbagai warna memenuhi setiap laci. Satu set baju tidur berwarna merah muda tua dengan celana pendek langsung menarik perhatiannya.Ia meletakkan atasan tidur itu di bangku lalu berlutut di depan Yessica sambil membawa celana pendeknya. Yessica memasukkan kedua kakinya ke dalam celana itu. Kedua tangannya bertumpu di bahu Stefan. Stefan mulai menarik celana itu ke atas, tetapi saat mendongak, ia sadar tidak bisa menunggu lagi. Ia justru menurunkannya kembali, membuat Yessica menatapnya dengan bingung."Balik badan lalu berlutut di depanku."Stefan melepaskan handuk yang melilit tubuhnya dan meletakkannya ke samping. Meski masih tampak kebingungan, Yessica tetap menuruti permintaannya. Ia berlutut menghadap bangku dengan kedua tangan bertumpu di atasnya. Rasa puas mengalir dalam diri Stefan.Stefan membaringkan tubuhnya di atas karpet di antara kedu
"Aku pengin bilang aku nggak peduli, tapi perjalanan karierku masih panjang." Yessica menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Aku percaya sama kalian semua, terutama soal ini dan masa depanku. Cuma... jangan tidur sama perempuan lain."Yessica mendorong mangkuk makanannya yang nyaris belum disentuh, lalu berdiri. Membayangkan mereka bersama wanita lain saja sudah menyakitkan. Apalagi kalau ia harus melihat sendiri mereka datang sambil merangkul perempuan lain.Dadanya terasa sesak. "Aku mau mandi dulu."Mereka menghabiskan makan malam dalam keheningan. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Apa yang mereka katakan kepada Yessica memang benar. Reputasi mereka berpengaruh langsung pada bisnis yang mereka jalankan. Yessica masih muda, dan jika ia mendapat cap buruk seperti itu, semua impiannya untuk membangun masa depan bisa hancur.Sebesar apa pun keinginan Stefan untuk mengakui Yessica sebagai milik mereka, hal itu justru akan merusa
Ia sangat menginginkan Stefan.Yessica merasakan kehadiran Stefan di belakangnya seperti gelombang panas. Ujung batang pria itu menyentuh tubuhnya sebelum perlahan masuk. Yessica mengerang saat tubuhnya dipenuhi oleh Stefan hingga seluruhnya masuk. Kedua lengan Stefan memeluknya dari belakang dan menariknya bersandar ke dada pria itu.Kemeja yang dikenakan Stefan terasa lembut di punggung telanjang Yessica.Kairo berdiri di depannya lalu menyentuh tubuh Yessica dengan dua jari. Tubuh Yessica sudah begitu sensitif hingga sentuhan itu kembali membawanya ke puncak. Dengungan kenikmatan itu seolah tak pernah berhenti. Bukannya turun setelah setiap puncak, ia justru terus melayang di ambang ekstasi."Sial, Tuan Putri."Stefan menarik diri lalu kembali mendorong masuk. Yessica kembali gemetar merasakan tubuh pria itu memenuhi dirinya.Kairo menarik tangannya lalu menyentuh bibir Yessica."Coba."Yessica mena
Yessica memejamkan mata rapat rapat. Jari Andree mencengkeram pinggulnya erat sementara gerakannya terus membawanya semakin tenggelam dalam kenikmatan. Manik-manik itu ditarik keluar satu per satu. Yessica terlalu larut dalam sensasi hingga tak mampu menghitungnya. Kemudian semuanya didorong masuk kembali, membuat tubuhnya kembali mengencang dalam gelombang kenikmatan berikutnya."Sekarang, Stefan."Suara Andree terdengar tegang ketika ia mendorong lebih dalam lalu mengerang saat mencapai puncaknya. Manik-manik itu ditarik keluar dengan cepat, membuat Yessica menjerit karena sensasi yang terlalu kuat.Seandainya Andree tidak menopangnya, Yessica pasti sudah roboh ke lantai."Apa-apaan ini ...."Suara Giancha dan Kairo terdengar bersamaan ketika pintu terbuka hingga membentur dinding.Andree mengusap lembut pinggul Yessica sementara sisa-sisa getaran masih menjalari tubuhnya."Cuma Yessica yang klimaks sampai se
"Kamar lain pintunya menghadap lorong utama, tapi ini kamar terbesar. Pintu sampingnya itu pintu darurat, langsung mengarah ke tangga." Kairo memutar kenop pintu dan mempersilakannya masuk. Ruangan pertama adalah ruang keluarga. Lantainya ada karpet tebal berwarna krem, Ada sofa putih, kursi baca y
Saat Yesica menaiki tangga menuju apartemennya di lantai tiga, ia terus bertanya-tanya dalam hati. Apakah semua ini benar benar nyata? Ke 4 big boss itu sudah menjelaskan soal pekerjaan dan paket gajinya. Apakah itu tandanya ia diterima? Memang mereka tidak menanyakan pertanyaan standar di wawan
"Senang bertemu denganmu," ucapnya sekuat tenaga. Aura kekuatan yang terpancar dari pria ini sangat kuat. Stefan tersenyum tipis lalu mundur memberi jalan pada yang lain. Pria berikutnya lebih kekar, berambut hitam. Matanya yang berwarna hijau menelusuri tubuh Yesica, berhenti sebentar di kaki, pi
“Bagian mana yang kamu mau, sayang? Jariku? Lidahku? Atau yang lain?” Kairo kembali mengusap paha Yesica menggunakan ujung jarinya. Wanita itu pun mengembuskan napas panjang. “Ahhhh ... Lidahmu.” Kairo pun tersenyum. Ia menghirup aroma yang keluar dari tubuh Yesica. Begitu lidah Kairo menyentuh ku







