ホーム / Romansa / TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF / Bab 1. Hampir diperkosa ayah tiri

共有

TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF
TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF
作者: Lym&tora15

Bab 1. Hampir diperkosa ayah tiri

作者: Lym&tora15
last update 公開日: 2026-09-02 19:50:06

Violet berlari sekuat tenaga. Langkahnya nyaris tak beraturan. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak, sementara suara langkah kaki di belakangnya terus mengejar.

“Violet!”

Suara itu membuat tubuhnya semakin gemetar. Ia bahkan tidak berani menoleh, dan ia tahu siapa pemilik suara itu.

Delon, pria yang sialnya adalah ayah tirinya berusaha melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya kepadanya.

Violet berbelok ke sebuah gang sempit. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti mendadak. Matanya terbelalak tertuju pada sebuah tembok tinggi di ujung gang yang buntu.

Ia berbalik, namun Delon sudah berdiri beberapa meter menghalangi jalannya.

Pria itu tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat dengan langkah santai seolah-olah Violet hanyalah seekor tikus yang akhirnya terperangkap di sudut ruangan.

“Mau lari ke mana lagi kamu, Violet?”

Violet menggeleng cepat. Ia berkata dengan suara bergetar panik.“Jangan mendekat!”

Respon Delon justru tertawa pelan.“Kau tidak bisa kabur lagi, Violet”

Violet mundur beberapa langkah, sampai punggungnya menabrak dinding dingin. Tidak ada jalan keluar, sementara Delon semakin mendekat dan kini mengunci pergerakan Violet. Ia ingin berteriak, tapi mustahil orang akan dengar karena gang itu terlalu sepi.

Tidak ada seorang pun disana yang akan mendengar, apalagi datang menolongnya. “Tuhan, tolong aku!” jerit Violet dalam hati.

Tangan pria tua itu terangkat, hendak menyentuh rambut Violet. Namun belum sempat rambutnya merasa disentuh, seseorang tiba-tiba menghajar kepala Dellon dari belakang.

BUGH!

Suara pukulan keras menggema di sepanjang gang.

Violet tersentak. Ia refleks memejamkan mata tidak berani melihat pemandangan mengerikan di depannya.

BUGH!

BUGH!

Violet mendengar suara Delon mengerang kesakitan, tapi orang itu tampak belum puas menghajar Delon hingga suara Delon tidak terdengar lagi.

Violet membuka matanya perlahan. Nafasnya seketika tercekat melihat Delon sudah terkapar di tanah beberapa langkah di depannya. Wajah pria itu babak belur, darah mengalir dari sudut bibir dan juga hidungnya. Namun dadanya masih naik turun, pertanda masih hidup.

Violet terpaku. Lalu pandangannya beralih kepada sosok yang berdiri di hadapannya. Mata mereka saling tatap, dan untuk sesaat Violet terperangah dengan ketampanannya. Tubuhnya tegap, dan kemeja hitamnya sedikit kusut, sementara kedua tangannya masih berlumuran darah.

Tatapan pria itu begitu dingin. Namun ketika matanya jatuh kepada Violet, ekspresinya sedikit berubah.

Damian, pria yang baru saja menghajar Delon, perlahan melangkah mendekati Violet. Dan gadis itu refleks menempelkan punggungnya lebih kuat ke dinding.

Damian berhenti beberapa langkah di depannya, dan melontarkan pertanyaan yang membuat Violet terdiam.

“Kau tidak apa-apa?”

Entah kenapa, pertanyaan itu justru terasa terbalik. Bukankah seharusnya dia yang bertanya? Pria di hadapannya baru saja menghajar Delon sampai tidak berdaya. Tangannya bahkan masih dipenuhi darah.

Violet menatapnya beberapa detik, sebelum akhirnya menggeleng pelan. “Aku... tidak apa-apa.”

Tatapan Violet kemudian jatuh pada tangan Damian yang begitu banyak darah.

“Kau...” Violet menelan ludah. “Tanganmu...”

Damian mengikuti arah pandangannya, lalu melihat tangannya sendiri seolah baru menyadari darah yang menempel di sana.

“Bukan darahku.” Jawabannya singkat.

Violet kembali menatap Delon yang masih terkapar. Rasa takutnya perlahan bercampur dengan rasa lega. Jika pria ini tidak datang...

Violet bahkan tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi padanya.

“Terima kasih,” ucap Violet lirih.

Damian tidak langsung menjawab. Ia malah meraih tangan Violet sampai perempuan itu tersentak. Namun dia tidak melepaskannya, dan malah menariknya keluar dari gang dengan langkah panjang.

“Lepaskan aku.” Violet berusaha melepaskan tangannya, tetapi cengkeraman Damian terlalu kuat.

Damian menarik Violet ke ujung jalan, disana mobil hitamnya masih terparkir dengan mesin yang masih menyala.

“Tuan, mau bawa aku kemana?” tanya Violet semakin panik ketika Damian membawanya mendekati mobil.

Damian tidak menjawab, ia hanya membuka pintu mobil, lalu menatapnya.

“Masuk,” perintahnya singkat.

Violet menggeleng cepat. “Aku bisa pulang sendiri.”

“Masuk, Violet,” ulang Damian. Nada suaranya tetap tenang, tetapi terdengar seperti perintah.

Tapi satu hal yang membuat Violet membeku. Bagaimana dia bisa tahu namanya? Mereka bahkan tidak saling mengenal.

Namun, Violet tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Yang terpenting baginya hanyalah pergi dari tempat ini.

“Aku—” Violet kembali membuka mulut, tetapi Damian sudah lebih dulu mendorongnya masuk ke dalam mobil.

Damian menyusul dari sisi lain lalu menutup pintu.

Violet langsung mencoba membuka pintu. Tapi terlambat, karena Damian sudah menguncinya.

“Buka pintunya,” pinta Violet panik.

“Duduk, diam," jawab Damian tenang.

“Tapi aku mau pulang!” protest Violet sambil terus membuka pintu yang sialnya terkunci itu.

“Kau akan pulang,” jawab Damian singkat.

“Kalau begitu, buka pintunya!” Violet menatapnya dengan kesal tapi sekaligus takut.

Damian hanya menatapnya tanpa menjawab. Tatapannya tajam membuat Violet langsung terdiam.

“Duduk diam, atau kuserahkan kau pada pria itu lagi,” ancam Damian yang langsung membuat Violet menggeleng cepat.

“Jangan,” lirihnya. Ia tidak ingin kembali pada Delon, meskipun ia sendiri tidak tahu siapa pria yang kini membawanya pergi.

Baru saja ia merasa lega ada orang yang menyelamatkannya terbebas dari Delon. Sekarang dia malah terjebak di dalam mobil Damian.

Violet menatap ke luar jendela dengan gelisah ketika mobil mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Ia tidak tahu ke mana Damian membawanya.

Sesekali, Violet melirik ke arah Damian yang fokus menyetir. Pria itu tampak begitu tenang, seolah tidak ada sesuatu yang terjadi malam ini.

Sementara, Violet justru tidak bisa berhenti merasa gelisah. Kedua tangannya saling bertaut di atas pangkuannya. Ia menundukkan kepala, lalu akhirnya memberanikan diri bertanya dengan suara lirih.

“Sebenarnya, Tuan siapa?” tanya Violet hati-hati.

Damian tetap fokus pada jalan di depannya, kedua tangannya mantap menggenggam kemudi.

Violet menelan ludah. Karena tidak mendapat jawaban, ia kembali memberanikan diri bertanya. “Aku mau dibawa ke mana?”

“Kau akan tahu nanti,” jawab Damian tanpa menoleh.

Singkat. Tenang. Seolah pertanyaan Violet tidak perlu dijelaskan lebih jauh.

Violet akhirnya memilih diam.

Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah gedung rumah sakit.

Violet langsung mengenali tempat tersebut. Tempat yang selama satu bulan terakhir sering ia kunjungi karena ibunya dirawat di sana.

Keningnya berkerut. “Kenapa berhenti di sini?” tanyanya bingung.

Damian mematikan mesin mobil, kemudian menoleh kepadanya. “Daripada kau berkeliaran di luar sana, lebih baik kau temani ibumu disini,” ucapnya tenang.

Violet terdiam. Sebenarnya, siapa pria ini? Mengapa seolah-olah mengetahui begitu banyak tentang dirinya?

“Sebenarnya tuan siapa?”

“Damian Davereaux.”

Violet berusaha mengingat nama Damian, tetapi nama itu tidak ada satupun dari daftar orang yang dikenalnya. Siapa dia?

Damian kembali mengatakan sesuatu yang membuat Violet menatapnya. “Violet, kau berhutang budi padaku.”

“Hah?” Violet mengerutkan kening.

Damian mengangkat sebelah alisnya. “Bukankah sudah seharusnya kau membalas budi karena aku telah menolongmu?”

Damian ada benarnya. Pria itu sudah menyelamatkan dirinya dari Delon. “Apa yang Tuan mau dari saya?” tanyanya waspada.

Damian menyandarkan tubuhnya pada jok, menatap Violet seolah sudah mengetahui bahwa pertanyaan itu akan keluar. “Besok," ucap Damian.

“Jam tiga sore. Di kafe depan rumah sakit,” lanjutnya.

“Kafe?” Violet mengulang dengan bingung.

Damian mengangguk kecil.“Datang sendiri.”

Violet menatapnya tak percaya. “Kalau aku tidak datang?”

Tatapan Damian berubah tajam. “Jangan coba-coba kabur. Atau kau akan tahu sendiri konsekuensinya!”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 56. Christie

    Sepanjang lorong kantor, kantuk yang semula menyerang Violet lenyap sepenuhnya. Kini, ia justru sibuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya, khawatir ada karyawan yang tiba-tiba muncul dan memergoki dirinya sedang digendong Damian.Bisa-bisa besok akan ada gosip heboh lagi di kantor. Padahal, tanpa melakukan apa-apa pun, dirinya sudah menjadi bahan pembicaraan para karyawan. Lantas, bagaimana jika mereka sampai melihat posisinya sekarang, berada dalam gendongan Damian? Violet tak ingin membayangkan betapa liar cerita yang akan beredar nanti.Beruntung, hingga tiba di basement, mereka tidak berpapasan dengan siapa pun. Lorong yang mereka lewati sudah sepi, begitu pula area parkir yang hanya menyisakan mobil Damian.Violet akhirnya bisa bernapas lega ketika Damian menurunkannya di samping mobil. Kedua kakinya kembali menapak lantai, tetapi jantungnya masih berdebar kencang.Ia buru-buru menjauh setengah langkah, lalu menatap Damian dengan wajah yang sulit menyembunyikan rasa malunya.

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 55. Dalam gendongannya

    Derren meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja Damian.“Aku menemukan rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang masuk ke ruang arsip perusahaan tadi malam,” jelasnya.Damian membuka berkas itu dan memeriksa beberapa lembar foto di dalamnya.“Siapa dia?”“Belum diketahui. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi dia menggunakan kartu akses milik mantan karyawan kita.”Damian mengangkat pandangannya. “Bagaimana kartu itu bisa digunakan lagi?”“Itu yang sedang kuselidiki. Seharusnya kartu tersebut sudah tidak aktif.”Damian kembali melihat foto-foto di hadapannya. “Apa yang dia ambil?”“Ada beberapa dokumen transaksi yang hilang dari ruang arsip. Aku belum bisa memastikan apakah dia mengambil dokumen lain.”Raut wajah Damian mengeras.“Periksa daftar dokumen yang hilang. Cari tahu juga siapa yang terakhir mengakses ruang arsip sebelum kejadian itu.”Derren mengangguk. “Baik. Aku akan mencari tahu siapa yang mengaktifkan kartu tersebut dan bagaimana dia bisa masuk tanpa menimbulkan kecur

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 54. Cemburu?

    Violet yang menyadari beberapa pasang mata mulai tertuju kepadanya langsung berdiri lebih tegak. Ia sempat bingung harus menyapa atau cukup diam saja, hingga akhirnya hanya membalas tatapan mereka dengan senyum kecil.“Dia asistenku,” jawab Damian singkat.“Oh, begitu,” sahut pria itu sambil mengangguk.Violet mengangguk kecil sebagai sapaan, sedikit canggung karena tidak terbiasa berada di tengah orang-orang penting seperti mereka. Untungnya, tak ada yang bertanya lebih jauh. Perhatian mereka segera kembali kepada Damian, membuat Violet bisa bernapas lega.Tidak berselang lama rapat pun dimulai.Violet berdiri diam sambil memperhatikan layar presentasi di depan. Sesekali, ia melirik para peserta yang bergantian menyampaikan laporan. Istilah-istilah bisnis yang mereka gunakan terdengar asing di telinganya, terlebih ketika pembahasan mulai beralih pada angka penjualan dan rencana kerja sama perusahaan.Ia berusaha mengikuti pembicaraan sambil mencatat poin-poin penting. Namun, karena t

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 53. Simpul dasi

    Sesuai ucapannya tadi, Damian mengajak Violet menghadiri rapat perusahaan. Gadis itu sudah menyiapkan beberapa dokumen yang diperlukan, lengkap dengan buku catatan untuk mencatat hal-hal penting selama rapat berlangsung.Sementara itu, Damian berdiri di depan cermin besar di ruang pribadinya sambil merapikan jas. Ruangan itu terletak di balik pintu yang menyatu dengan dinding ruang kerjanya. Tidak ada orang yang diizinkan masuk ke sana, sebab selain menjadi tempat beristirahat ketika lembur hingga larut malam, ruangan itu juga menyimpan sejumlah barang pribadinya.Setelah memastikan jasnya rapi, Damian melirik dasinya yang sedikit miring. Ia sebenarnya bisa membenarkannya sendiri, tapi kali ini ia ingin Violet yang melakukannya. “Violet, kemari sebentar!” panggil Damian tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca. Ia bisa melihat pantulan Violet yang sedang merapikan dokumen untuk rapat di meja kerjanya. Begitu mendengar suaranya, gadis itu langsung mengangkat menghentikan pekerjaanny

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 52. Belajar memahami

    Violet tahu Damian tidak akan mudah mengalihkan pembicaraan, tetapi ia juga tidak ingin menceritakan kejadian saat di pantry. Ia merasa semua ini gara-gara laki-laki itu. Jika ia ditempatkan kerja tidak satu ruangan dengan Damian, gosip dan tuduhan itu mungkin tidak akan ada. “Aku hanya sedikit lelah,” jawabnya akhirnya.Damian menatapnya lekat-lekat, mencoba memahami apa yang sebenarnya disembunyikan gadis itu. Apa ja memberi pekerjaan terlalu banyak pada gadis itu? Namun, belum sempat ia mengatakan sesuatu, Violet lebih dulu menyela. “Jika tidak ada yang di perlukan lagi, aku mau kembali ke mejaku.”Damian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk singkat membiarkan Violet kembali ke mejanya. Ia sadar pasti terjadi sesuatu dengan gadis itu saat di pantry. Ruangan kembali hening. Damian melanjutkan pekerjaannya, dan sesekali matanya melirik ke arah Violet yang sejak tadi duduk diam sambil menatap keluar jendela. Pikiran Violet melayang ke mana-mana. Entah sudah berapa kali ia b

  • TERJEBAK DEKAPAN MAFIA POSESSIF   Bab 51. Enggan terbuka

    Violet tidak menyangka ada karyawan Damian yang berani menanyakan hal semacam itu secara terang-terangan.Layla menyeringai tipis, lalu memandang Violet dari atas hingga bawah dengan tatapan merendahkan. Seolah-olah ia sudah mengetahui sesuatu yang memalukan tentang gadis itu.“Jangan-jangan kau memberikan tubuhmu kepada Pak Damian, ya?” tuduhnya.Mata Violet langsung terbelalak mendengar tuduhan yang tidak mendasar itu. Ia tidak percaya Layla selancang itu kepadanya. Tanpa sadar ia mencengkram gelas yang berada di tangannya, sementara wajahnya perlahan menegang. Ucapan itu terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Maksudmu apa bicara seperti itu?” tanya Violet, berusaha menahan amarah yang mulai menguasai dirinya.Layla mengangkat alis, merasa tidak mengatakan sesuatu yang keterlaluan.“Menurutmu, apa yang akan orang-orang pikirkan jika ada seorang wanita yang selalu berada di ruangan bosnya?” Ia menyilangkan tangan di depan dada, lalu menyunggingkan senyum menge

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status