登入Violet tidak berhenti memikirkan kejadian yang hampir menimpanya tadi. Beruntung seseorang menyelamatkannya dari niat buruk ayah tiri bejatnya.
Damian, nama laki-laki itu terdengar sangat asing. Tapi kenapa pria itu seperti mengenalnya? Bahkan sampai tahu ibunya ada di rumah sakit. Tatapan dinginnya masih terbayang jelas di kepala Violet. Begitu pula caranya berbicara, seolah-olah mereka bukan dua orang yang baru saja bertemu. “Apa aku pernah melihatnya sebelumnya?” Violet masih larut dalam pikirannya, ketika suara pintu yang bergeser membuatnya mengangkat kepala. Seorang dokter masuk bersama seorang perawat. Violet segera bangkit dari kursinya. “Dok, bagaimana keadaan Mama?” Dokter berjalan mendekati ranjang dan memeriksa beberapa alat yang terpasang di tubuh ibunya. Ia memeriksa monitor jantung, tekanan darah, kemudian mendengarkan suara nafasnya dengan stetoskop. Beberapa detik kemudian, dokter menghembuskan nafas pelan. “Untuk saat ini kondisinya masih belum stabil.” Violet menelan ludah. “Karena kardiomiopatinya?” Dokter mengangguk. “Ya. Seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya, jantung ibu Liana mengalami kardiomiopati dilatasi. Otot jantungnya sudah melemah sehingga kemampuan jantung untuk memompa darah tidak sebaik orang normal.” Violet menatap ibunya dengan cemas. “Lalu kenapa Mama belum sadar?” “Beberapa fungsi tubuhnya masih belum stabil. Kondisi jantung yang melemah juga membuat aliran darah dan oksigen ke organ-organ tubuh harus kami pantau dengan sangat ketat,” ucap dokter menjelaskan. Violet menggenggam kedua tangannya dan bertanya. ”Apakah... ini berbahaya?” Dokter terdiam sejenak sebelum kembali menjelaskan. “Kondisinya memang serius, Violet. Kami masih berusaha menstabilkan tekanan darah dan kerja jantungnya. Untuk sekarang, kami belum bisa memastikan kapan beliau akan sadar.” Dada Violet terasa sesak. “Dok...” suaranya mengecil. “Mama akan baik-baik saja, kan?” “Kami akan melakukan yang terbaik,” jawab dokter. Dan jawaban itu sama sekali tidak menenangkan. Setelah dokter dan perawat keluar, ruangan kembali sunyi. Violet perlahan duduk di sisi ranjang. Ia meraih tangan ibunya yang dingin dan menggenggamnya erat. “Mau sampai kapan Mama tidur?” tanya Violet menatap mamanya sendu. Tidak ada jawaban, hanya suara monitor jantung yang terdengar teratur di dalam ruangan. Violet mengusap punggung tangan ibunya dengan lembut sambil berkata pelan. “Aku harap Mama segera bangun.” Sementara itu, disisi lain. Setelah menempuh jalan selama 20 menit, mobil Damian berhenti di depan sebuah bangunan yang jauh dari keramaian. Bangunan itu besar, tampak tua dan dikelilingi pohon-pohon tinggi. Seorang pria yang berdiri di dekat pintu langsung menundukkan kepala begitu melihat Damian turun dari mobil. "Tuan." Tanpa menjawab, Damian berjalan masuk dengan santai. Begitu sudah di dalam, suara erangan seseorang mulai terdengar. Langkahnya tetap tenang, seolah suara itu bukan sesuatu yang perlu diperhatikan. Damian terus berjalan, sampai akhirnya ia masuk ke salah satu ruangan yang dijaga salah satu anak buahnya. Di tengah ruangan yang luas itu, Delon duduk dengan kedua tangan terikat. Wajahnya sudah penuh luka akibat perkelahian sebelumnya. Begitu melihat Damian, tubuhnya langsung menegang. Matanya menyipit, berusaha mengingat wajah pria yang pernah membuatnya tidak berdaya itu. "Kau..." "Masih ingat?" Tanya Damian dingin, dan sorot matanya tajam menatap ke arah Delon. "Aku tidak tahu siapa kau," jawab Delon sambil meringis karena mulutnya sempat terluka. Damian berhenti beberapa langkah di depannya. "Kau tidak perlu tahu,” ucapnya santai. Ia melepaskan jam tangannya dan meletakkannya di atas meja. Gerakannya begitu tenang sampai Delon justru semakin gelisah. "Aku hanya datang untuk memastikan kau mengingat satu hal.” Damian berjalan mendekat ke arah Delon. Tatapannya tajam, seperti ingin menghabisi Delon saat itu juga. "Jangan pernah menyentuh Violet lagi,” lanjutnya dengan penuh penekanan. "Aku tidak melakukan apa-apa!" Sergah Delon. Buk! Tinju Damian menghantam wajah Delon sampai kepalanya terlempar ke samping. Delon terbatuk, lalu mengangkat wajahnya dengan tatapan ketakutan. Ruangan mendadak sunyi. Damian berdiri tegak di hadapannya tanpa banyak bicara. Namun, tatapannya dingin yang membuat Delon jauh lebih takut. "Dia anak tiriku," desis Delon, seolah kalimat itu cukup untuk membela dirinya. Damian menatapnya beberapa saat. "Jadi itu alasanmu merasa berhak?" Delon terdiam tanpa bisa menjawab. Kemudian Damian mengambil saputangan dari sakunya, lalu mengusap buku jarinya dengan tenang. "Jangan gunakan kata keluarga untuk membenarkan perbuatanmu." Delon mulai panik sambil mencoba menarik tangannya yang terikat, tetapi percuma. "K-kau mau apa?" Tanya Delon ketakutan. Damian menghentikan gerakan tangannya, lalu tatapannya perlahan kembali kepada Delon. "Aku?" Senyum tipis muncul di sudut bibirnya sebelum ia kembali mengatakan sesuatu. "Aku tidak menginginkan apapun darimu." Damian melangkah mendekat, lalu ia berhenti tepat di depan Delon. "Aku hanya ingin kau belajar takut," ucap Damian tepat ditelinga Delon. Dan wajah laki-laki tua itu seketika memucat. Damian membiarkannya dalam diam selama beberapa detik, kemudian ia berbalik. "Bawa dia ke ruang bawah!” Mendengar perintah dari sang tuan, dua anak buahnya langsung bergerak. "Tidak!" Teriak Delon meronta begitu mereka mencengkeram kedua lengannya. "Tunggu! Aku bisa menjelaskan!" Damian tidak menoleh dan terus berjalan menuju pintu. Tangannya hampir menyentuh gagang pintu ketika suara Delon kembali terdengar. "Siapa kau sebenarnya?!" Damian menghentikan langkahnya lalu menoleh sedikit. Cukup untuk memperlihatkan tatapan dinginnya dari balik bahu. "Orang yang seharusnya tidak pernah kau cari tahu!" Setelah itu Damian melangkah keluar. Namun sebelum pintu tertutup, Damian kembali berhenti. Kini tatapannya beralih kepada anak buahnya. "Kalau dia menyentuh Violet lagi..." ucap Damian datar hampir tanpa emosi. "Jangan tunggu perintah kedua!”Sepanjang lorong kantor, kantuk yang semula menyerang Violet lenyap sepenuhnya. Kini, ia justru sibuk memperhatikan keadaan di sekelilingnya, khawatir ada karyawan yang tiba-tiba muncul dan memergoki dirinya sedang digendong Damian.Bisa-bisa besok akan ada gosip heboh lagi di kantor. Padahal, tanpa melakukan apa-apa pun, dirinya sudah menjadi bahan pembicaraan para karyawan. Lantas, bagaimana jika mereka sampai melihat posisinya sekarang, berada dalam gendongan Damian? Violet tak ingin membayangkan betapa liar cerita yang akan beredar nanti.Beruntung, hingga tiba di basement, mereka tidak berpapasan dengan siapa pun. Lorong yang mereka lewati sudah sepi, begitu pula area parkir yang hanya menyisakan mobil Damian.Violet akhirnya bisa bernapas lega ketika Damian menurunkannya di samping mobil. Kedua kakinya kembali menapak lantai, tetapi jantungnya masih berdebar kencang.Ia buru-buru menjauh setengah langkah, lalu menatap Damian dengan wajah yang sulit menyembunyikan rasa malunya.
Derren meletakkan berkas yang dibawanya di atas meja Damian.“Aku menemukan rekaman CCTV yang menunjukkan seseorang masuk ke ruang arsip perusahaan tadi malam,” jelasnya.Damian membuka berkas itu dan memeriksa beberapa lembar foto di dalamnya.“Siapa dia?”“Belum diketahui. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi dia menggunakan kartu akses milik mantan karyawan kita.”Damian mengangkat pandangannya. “Bagaimana kartu itu bisa digunakan lagi?”“Itu yang sedang kuselidiki. Seharusnya kartu tersebut sudah tidak aktif.”Damian kembali melihat foto-foto di hadapannya. “Apa yang dia ambil?”“Ada beberapa dokumen transaksi yang hilang dari ruang arsip. Aku belum bisa memastikan apakah dia mengambil dokumen lain.”Raut wajah Damian mengeras.“Periksa daftar dokumen yang hilang. Cari tahu juga siapa yang terakhir mengakses ruang arsip sebelum kejadian itu.”Derren mengangguk. “Baik. Aku akan mencari tahu siapa yang mengaktifkan kartu tersebut dan bagaimana dia bisa masuk tanpa menimbulkan kecur
Violet yang menyadari beberapa pasang mata mulai tertuju kepadanya langsung berdiri lebih tegak. Ia sempat bingung harus menyapa atau cukup diam saja, hingga akhirnya hanya membalas tatapan mereka dengan senyum kecil.“Dia asistenku,” jawab Damian singkat.“Oh, begitu,” sahut pria itu sambil mengangguk.Violet mengangguk kecil sebagai sapaan, sedikit canggung karena tidak terbiasa berada di tengah orang-orang penting seperti mereka. Untungnya, tak ada yang bertanya lebih jauh. Perhatian mereka segera kembali kepada Damian, membuat Violet bisa bernapas lega.Tidak berselang lama rapat pun dimulai.Violet berdiri diam sambil memperhatikan layar presentasi di depan. Sesekali, ia melirik para peserta yang bergantian menyampaikan laporan. Istilah-istilah bisnis yang mereka gunakan terdengar asing di telinganya, terlebih ketika pembahasan mulai beralih pada angka penjualan dan rencana kerja sama perusahaan.Ia berusaha mengikuti pembicaraan sambil mencatat poin-poin penting. Namun, karena t
Sesuai ucapannya tadi, Damian mengajak Violet menghadiri rapat perusahaan. Gadis itu sudah menyiapkan beberapa dokumen yang diperlukan, lengkap dengan buku catatan untuk mencatat hal-hal penting selama rapat berlangsung.Sementara itu, Damian berdiri di depan cermin besar di ruang pribadinya sambil merapikan jas. Ruangan itu terletak di balik pintu yang menyatu dengan dinding ruang kerjanya. Tidak ada orang yang diizinkan masuk ke sana, sebab selain menjadi tempat beristirahat ketika lembur hingga larut malam, ruangan itu juga menyimpan sejumlah barang pribadinya.Setelah memastikan jasnya rapi, Damian melirik dasinya yang sedikit miring. Ia sebenarnya bisa membenarkannya sendiri, tapi kali ini ia ingin Violet yang melakukannya. “Violet, kemari sebentar!” panggil Damian tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca. Ia bisa melihat pantulan Violet yang sedang merapikan dokumen untuk rapat di meja kerjanya. Begitu mendengar suaranya, gadis itu langsung mengangkat menghentikan pekerjaanny
Violet tahu Damian tidak akan mudah mengalihkan pembicaraan, tetapi ia juga tidak ingin menceritakan kejadian saat di pantry. Ia merasa semua ini gara-gara laki-laki itu. Jika ia ditempatkan kerja tidak satu ruangan dengan Damian, gosip dan tuduhan itu mungkin tidak akan ada. “Aku hanya sedikit lelah,” jawabnya akhirnya.Damian menatapnya lekat-lekat, mencoba memahami apa yang sebenarnya disembunyikan gadis itu. Apa ja memberi pekerjaan terlalu banyak pada gadis itu? Namun, belum sempat ia mengatakan sesuatu, Violet lebih dulu menyela. “Jika tidak ada yang di perlukan lagi, aku mau kembali ke mejaku.”Damian terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk singkat membiarkan Violet kembali ke mejanya. Ia sadar pasti terjadi sesuatu dengan gadis itu saat di pantry. Ruangan kembali hening. Damian melanjutkan pekerjaannya, dan sesekali matanya melirik ke arah Violet yang sejak tadi duduk diam sambil menatap keluar jendela. Pikiran Violet melayang ke mana-mana. Entah sudah berapa kali ia b
Violet tidak menyangka ada karyawan Damian yang berani menanyakan hal semacam itu secara terang-terangan.Layla menyeringai tipis, lalu memandang Violet dari atas hingga bawah dengan tatapan merendahkan. Seolah-olah ia sudah mengetahui sesuatu yang memalukan tentang gadis itu.“Jangan-jangan kau memberikan tubuhmu kepada Pak Damian, ya?” tuduhnya.Mata Violet langsung terbelalak mendengar tuduhan yang tidak mendasar itu. Ia tidak percaya Layla selancang itu kepadanya. Tanpa sadar ia mencengkram gelas yang berada di tangannya, sementara wajahnya perlahan menegang. Ucapan itu terasa seperti tamparan keras yang menghantam harga dirinya.“Maksudmu apa bicara seperti itu?” tanya Violet, berusaha menahan amarah yang mulai menguasai dirinya.Layla mengangkat alis, merasa tidak mengatakan sesuatu yang keterlaluan.“Menurutmu, apa yang akan orang-orang pikirkan jika ada seorang wanita yang selalu berada di ruangan bosnya?” Ia menyilangkan tangan di depan dada, lalu menyunggingkan senyum menge







