MasukAuthor pov..
Chaselion tidak tau apa yang terjadi. Semuanya terjadi begitu cepat dan tanpa aba-aba. Perhatian mamanya yang begitu besar kini tiba-tiba kembali hilang. Membuat perasaannya sangat terluka.Mamanya benar-benar berubah seperti dulu. Kini, mamanya tidak lagi menemaninya makan bersama ataupun menemaninya tidur. Mamanya tidak menemaninya bermain ataupun menghabiskan waktunya untuk mengobrol. Mamanya seolah kembali ke versi mamanya yang sakit dulu. Bedanya, kali ini"Tuan, anda juga harus menghargai perasaan tuan muda. Bagaimana jika tuan muda tidak menyukai nona Selene?" tanya Seth hati-hati. "Dia pasti menyukainya,"Dalam hati Seth mencibirnya. Bagaimana bisa orang asing seperti Cavero pintar bicara begitu. "Saya rasa lebih baik kita membiarkan tuan muda memilih pasangannya sendiri nanti," "Seth, tutup mulutmu! Tuan Cavero pasti lebih tau apa yang terbaik untuk tuan muda Chaselion," tegur Wilhelm. "Tapi, perasaan tuan muda,""Seth!" bentak Wilhelm. "Kalian berdua diam. Seth, aku tau kekhawatiranmu. Tapi semua ini demi Chaselion. Sampai kapan kamu mau melindunginya? Suatu saat Chaselion harus berdiri sendiri. Dia tidak mungkin berlindung dibawah ketiakmu setiap saat. Aku tau kau menyayanginya seperti anakmu sendiri. Tapi Chaselion juga harus keluar dari sangkarnya!" Seth diam. Dia tidak bisa membantah ucapan Cavero. Apa yang diucapkan Cavero semuanya benar. Tuan muda yang selama ini dia lindungi suatu saat harus berdiri menghadapi kerasny
"Tuan muda, anda masih membaca buku cerita ini?" tanya Seth lembut. Cashelion yang merasa diajak bicara menganguk. "Tolong segera masuk ke kamar, kesehatan anda bisa saja menurun lagi." Cashelion menganguk dan menurut pada ucapan Seth. Usia Chaselion menginjak angka 17 tahun. Meski usianya sudah dewasa, Chaselion masih suka membaca buku cerita anak-anak. Cashelion tak banyak berbeda dari tujuh tahun yang lalu kecuali ketika dia belajar. Anak itu bisa berubah menjadi orang yang sangat berbeda. Sama seperti masa kecilnya, Chaselion masih sering sakit-sakitan. Namun, tubuhnya sudah jauh lebih sehat dibanding masa kecilnya yang mirip anak kekurangan gizi. Sayangnya, Mysophobia yang diderita sangat parah. Dan terkadang Misogininya juga kambuh jika berhadapan dengan perempuan. "Tuan Cavero mengajak anda makan malam nanti," kata Seth lagi. "Memangnya ada apa Paman Seth?" tanya Chaselion dengan ekspresi datar. "Saya tidak tau, tuan muda." Semakin dewasa, wajah Chaselion semakin mirip
Sejak mengetahui jika Chaselion adalah putranya, Cavero tidak begitu membenci anak itu. Rasa benci ingin membunuh anak itu hilang begitu saja. Terlebih ketika melihat Lunaria yang menggendong anak itu. Ada perasaan aneh. Cavero ingin menjadi bagian itu, tapi ketika melihat Lunaria yang akan histeris ketika melihatnya, Cavero mengurungkannya. Lebih baik dia diam saja untuk sekarang. Siapa tau Lunaria akan membaik nanti. Sayangnya, hal tersebut tak pernah terjadi. Rasa sukanya untuk Chaselion pun perlahan ikut menghilang ketika melihat sifat Lunaria tak kunjung melunak padanya. "ENYAH DARI SINI BAJINGAN!" teriak Lunaria histeris. Setiap melihat Cavero, Luna akan histeris dan membanting setiap barang yang ada didekatnya. "SINGKIRKAN ANAK ITU JUGA DARI HADAPANKU!" Lunaria selalu saja histeris. Tidak peduli itu ada di hadapan Cavero ataupun Chaselion. Meski Cavero cuek, namun laki-laki itu juga berharap seperti Asael agar pasangannya memberikannya perhatian meski itu hanya sedikit.
Cerita sebelum Lunaria terjebak...Cavero yang sekarat akibat ulah Asael mengumpat akan membalas perbuatan perempuan licik itu ketika dia kembali nanti. Dia akan membalas Asael sepuluh kali lipat lebih parah dari keadaannya sekarang. Sekali lagi, Cavero tak menyangka jika Asael berani menembak dan menusuknya hanya agar dia tidak membunuh Elard, laki-laki yang dicintainya. Cavero terlalu meremehkan perempuan penakut itu. Sekarang, dia menyesal. Harusnya dia lebih waspada dan tidak meremehkan variabel-variabel tak terduga. Asael kabur dan mengabaikan Cavero yang kesakitan. Cavero berusaha bangun dan mencari pertolongan. Ia menekan luka akibat belati yang ditusukkan Asael dan berjalan pincang. Ketika kesadarannya akan hilang, dia melihat seorang perempuan tengah mengayuh sepeda. Ketika dia jatuh, samar-samar Cavero mendengar suara panik perempuan itu. Perempuan itu berniat menelpon ambulan namun Cavero menghentikannya, karena ada luka te
Tangis Lion pecah ketika melihat mamanya tidak lagi bergerak. Anak itu semakin histeris dan memanggil mamanya. Cavero memeluk tubuh itu erat. "Dimana ambulan nya?" teriak Cavero marah. "Tuan ambulannya sudah dat-"Cavero langsung mengangkat tubuh Luna dan membawanya ke atas ambulan. Lion mengejarnya dari belakang. Sampai tepat di ambulan. Cavero menidurkan Luna di atas bangkar dan menekan luka tersebut. Oksigen diberikan. Cavero menyebut nama Luna dan memintanya untuk bangun. Melihat Chaselion, ingin rasanya Cavero meninggalkannya. Namun ingat pesan istrinya, untuk tidak kasar dan menjaga putranya, Cavero membantu Lion untuk naik ke atas ambulan itu dan pergi bersama. "Papa .... mama, Hisk mama pasti bangun kan?" "Iya," jawab Cavero pelan. "Aku ... Huaaa..... Aku ... Aku minta maaf papa," isak Lion dengan memegangi tangan Luna erat. "Diamlah Lion, jangan buat keributan!" uca
"Aku sudah tau semuanya! Aku bukan orang bodoh!" ucap Lion yang segera pergi mengambil pisau yang dilempar Cavero tadi. Luna bergegas bangun mengejarnya. Sementara Cavero diam memperhatikannya. Dia penasaran, hal nekat apalagi yang akan dilakukan putranya. "Semuanya salah papa dan anak itu," ucap Lion seraya menatap pisaunya. "Lion, kita bisa bicara nanti. Mama minta maaf nggak bisa ngenalin kamu ya. Ayo pergi sama mama, tinggalkan pisau itu ya nak," bujuk Luna. "Pergi kemana? Kalau cuma mau meninggalkanku di panti asuhan atau rumah sakit jiwa, aku tidak perlu. Aku tidak gila!" "Mama nggak pernah menganggap kamu gila, semua itu cuma karangan paman dan bibi kamu. Mama nggak pernah punya pemikiran seperti itu Lion," rayu Luna. "Benarkah? Lantas kenapa mama takut padaku tadi? Kenapa mama tidak mau mendekat dan malah bersembunyi dibelakang papa?" tuntut anak itu seraya menatap mata Luna. "Lion, hentikan omong kosong
Cendric yang mendengar kabar bahwa mamanya sudah pulang bergegas keluar dari ruang belajarnya dan menghampiri mamanya. Sudah tiga hari ia menunggu mamanya pulang, dan sekarang ia baru melihat mamanya. Melihat mamanya yang berjalan masuk, Cendric tersenyum menyambutnya meski gu
Cendric yang baru saja pulang dari sekolah bertanya pada nanynya, dimana mama dan papanya hati ini. Tak seperti harapannya, mama dan papanya tidak ada di rumah. Cendric kemudian menelpon mamanya. Sayangnya, telpon tersebut tidak diangkat oleh mamanya. Dan ketika ia berbalik menelpon pap
Setelah Chasel pergi, Luna bisa bernafas lega. Cavero diam memperhatikannya. Sebenarnya ada banyak yang ingin Cavero katakan namun saat ini ia akan menahan kata-katanya dan pergi mandi saja. Ketika Cavero usai mandi, Lusi sudah membawakan apa yang di mau olehnya. Melihat Luna yang terti
Aku duduk minum wine bersama Seth setelah membereskan kekacauan tadi. Meski sudah tenang, Chaselion tetap ingin semua barang-barang tadi yang berhubungan dengan Cendric untuk dibuang. Bahkan para pelayan yang memuji Cendric pun ingin dipecat oleh Chaselion. Aku berusaha membujuknya untu







