LOGIN"Cashel," panggilku ketika kita sudah ada didalam mobil.
Tadi sedikit ada drama Cashelion tidak mau masuk kedalam mobil. Dan sekarang, Anak itu diam tak meresponnya. "Cashelion." panggilku dengan menyentuh bahunya. Anak itu terkejut kemudian menatapku. Tak lama ia menunduk dan tak mau menunjukan wajahnya. "Ma-maaf mama. Maaf." "Cashel ... Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?" tanyaku khawatir. Sepertinya siksaan Lunaria sangat melekat di pikirannya. Cashelion sampai ketakutan mengangkat wajahnya melihatku. "Ca- a-aku ba-baik-baik saja, maaf." ujarnya dengan badan yang gemetar. "Cashel tidak perlu minta maaf." ucapku dengan mengusap rambutnya. Anak itu diam. Badan bergetarnya pun ikut diam. Sepertinya, Cashelion sangat kebingungan. "Kamu mau membawaku kemana?" tanya anak itu dengan nada suara yang dingin. "Makan bersama. Kamu pasti lapar," "Aku tidak lapar." jawabnya singkat. Aku menatap Cashelion heran. Kenapa sifatnya tiba-tiba berubah mendadak begini? Jangan-jangan... Cashelion sudah punya kepribadian ganda? Jangan-jangan yang sekarang itu adalah Lion. Sampai di restoran yang kami tuju. Sopir membukakan pintu itu. Aku menyuruh Cashelion keluar kemudian mengikutinya. Meski sedikit khawatir, aku kemudian mengajak Cashel masuk. Namun, anak itu menyembunyikan tangannya. "Ayo masuk." ajakku. Aku membawanya menuju restoran steak. Setelah memesan dua steak berikut dengan dessertnya aku duduk berhadapan dengan Cashelion. Mata dinginnya seketika berubah antusias dan menatap kesekitarnya. Apa aku cuma salah sangka saja? "Ma- maaf mama. Cashel takjub melihatnya. Ini pertama kalinya Cashel pergi ke restoran." ucapnya lembut. Anak itu terlihat sangat menggemaskan. "Sebelumnya kamu belum pernah kesini?" tanyaku terkejut. Meski Cashel diabaikan oleh ayahnya. Tapi hubungannya dengan Cavero sedikit lebih baik daripada Lunaria yang selalu melecehkannya. "Papamu tidak pernah membawamu ke restoran sebelumnya?" tanyaku memastikannya. "Tidak. Papa sibuk bekerja." Aku kaget mendengarnya. Tak lama makanan siap di hidangkan. Cashel menatap antusias dessert didekatnya. Aku kemudian mendekatkan dessert itu ke arahnya. Cashel menatapku. "Makan dulu steaknya baru habiskan dessertnya." ucapku yang kemudian membantunya memotong daging itu. Cashel menatapku penasaranku. Aku tersenyum melihatnya dan dia termenung kembali. "Selamat makan Cashel." ucapku seraya tersenyum. "Te-terimakasih mama." ucapnya yang kemudian memakan potongan daging steak itu. Aku diam menatapnya. Anak itu menghabiskan steaknya kemudian memakan dessert itu dengan senang. Aku tersenyum kemudian memberikan dessert milikku padanya. "Makan juga punya mama," ujarku. "Tapi ...," "Tidak apa-apa. Makan saja." "Terimakasih ma," ucapnya dengan tersenyum lebar. Aku menatapnya dengan senang. Sepertinya tidak akan ada masalah untuk memperbaiki hubunganku dengan Cashelion. Bagaimanapun Cashelion masih anak kecil yang membutuhkan perhatian ibunya. "Cashel, mama mau tanya," "Apa itu?" "Bagaimana hari kamu disekolah? Semuanya baik-baik saja?" Senyum anak itu hilang kemudian menatapku waspada. Tatapannya kembali dingin dan membuat perasaanku tidak enak. "Kenapa mama tanya gitu?" balasnya ketus. "Gapapa, mama cuma tanya aja. Gimana sekolah kamu. Lancar apa tidak," jawabku bingung. Kenapa anak ini tiba-tiba begitu waspada? "Maksud mama mungkin apa di sekolah Cendric baik-baik saja." Cendric? Kenapa nama Cendric muncul disini? "Cendric? Maksudnya gimana?" tanyaku bingung. Di novel dijelaskan jika keluarga Cendric bermusuhan dengan keluarga Cashelion. Harusnya mereka tidak akrab dong. Tapi kenapa Cashelion ... Tunggu sebentar, aku ingat. "Anak yang mama sayangi itu. Cendric," Cashelion sangat membenci Cendric karena merebut semua perhatian ibunya yang harusnya menjadi miliknya. "Selamat ulang tahun tante, Cendric bawakan hadiah. Kata ayah ini namanya bunga Lunaria. Semoga tante bahagia selalu ya," "Terimakasih Cendric. Hadiahnya sangat indah. Terimakasih. Tante sangat bahagia." ucapnya seraya mengusap air matanya. "Andai saja ... Andai saja Cendric itu putra tante, tante pasti ...," "Kalau tante tidak masalah, aku bisa panggil tante mama." "Be-benarkah?" "Iya. Mama Luna," Ugh, kenangan apa itu. "Menyedihkan. Kamu bahkan tidak bisa mempertahankan apa yang menjadi milikmu. Daripada dimiliki orang lain, lebih baik dia mati saja." Ugh, kenangan itu? "Mama .... Mama kenapa?" Suara khawatir Cashelion semakin membuat kepalaku sakit. Aku menatapnya kemudian tersenyum. "Tidak apa-apa Cashel. Kepala mama sedikit sakit." "Mama yakin, mama baik-baik saja?" "Tentu sayang, mama baik. Baik sekali. Belum pernah mama sebaik ini." jawabku berusaha membuat Cashelion tak khawatir. Cashelion masih menatapku tak percaya. "Ayo makan," ajakku kembali. Cashel menganguk tanpa protes. Ia menuruti perintah mamanya untuk melanjutkan makannya. "Mama... mama lebih sayang kamu daripada anak yang namanya Cendric tadi." Cashel menghentikan mulutnya untuk mengunyah. "Serius. mama lebiih sayang kamu." "Hm, kalau begitu, kenapa mama ingin Cendric jadi anak mama? Mama nggak lupa kan pernah ngomong begitu?" Pertanyaan itu membuatku mati kutu. aku berpikir untuk menghindarinya, namun tatapan tajam anak itu membuatku tidak bisa mengarang alasan untuk mengelak. "Kamu salah faham," "aku rasa itu tidak mungkin ma." "kenapa tidak mungkin. Itu faktanya, kamu salah faham. Mama hanya kasihan dan ingin menghiburnya," Cashelion tertawa mendengar itu. "Mama kasihan sama anak lain tapi tidak denganku?"Luna menatap perutnya yang mulai membesar. Sejak tau dia hamil, ia dapat melihat perutnya membesar dan merasakan gejala kehamilan yang semakin jelas. Nyidam? Tentu. Luna sangat ingin mendengar suara Cavero. Namun jelas, hal tersebut tidak mungkin dia lakukan karena sekarang, posisinya dia sedang kabur dengan memalsukan kematiannya. Luna harus segera mengenyahkan perasaannya. Sejak hamil, perasaannnya untuk Cavero semakin jelas. Entah itu bawaan anak atau perasaan Luna sendiri. Luna tak dapat menilainya. Akhirnya setiap malam, Luna harus mengigit bibirnya menahan tangis agar putranya Cashelion tidak mengetahuinya. Semakin dia merindukan Cavero, semakin ingatan kebejatan dan kejahatan Cavero semakin muncul seolah mengingatkannya bahwa perasaan itu dilarang, perasaan itu tabu. Anggap saja ini adalah hukuman untuknya dan Cavero karena saling memiliki perasaan yang tak semestinya.Luna menghapus air matanya. Dan berjalan menuju kamar mandi. Tepat di depan kaca wastafel, Luna melihat pena
Beberapa hari setelah peristiwa malam yang berdarah itu, suasana kota perlahan mulai berubah. Kehancuran tim penyerbu Black Cobra di kediaman Cavero hanya menjadi permulaan. Cavero kini berdiri di balkon lantai teratas gedung pusat Oliver Group, menatap lanskap kota yang berada di bawah kekuasaannya. Dia memegang segelas whiskey tua, mengamati garis cakrawala dengan tatapan penuh perhitungan."Gimana perkembangan serangan finansial kita?" Tanya Cavero tanpa menoleh.Wilhelm tersenyum tipis, "Saya sudah memutus jalur pendanaan mereka dari kasino-kasino di Makau dan Singapura. Pagi tadi, saham perusahaan cangkang mereka di bursa jatuh sejatuh-jatuhnya. Investor mereka mulai panik dan menarik modal secara masif. Bisa dibilang, secara ekonomi, sang kobra sudah kehilangan bisanya.""Bagus. Bagaimana dengan pemimpin Black Cobra? Dia masih sembunyi di pusat logistik di pelabuhan lama?" tanya Cavero."Benar, Tuan. Informan saya bilang mereka membawa sekitar tiga puluh warga sipil dari perumah
Beberapa hari setelah peristiwa malam yang berdarah itu, suasana kota perlahan mulai berubah. Kehancuran tim penyerbu Black Cobra di kediaman Cavero hanya menjadi permulaan. Cavero kini berdiri di balkon lantai teratas gedung pusat Oliver Group, menatap lanskap kota yang berada di bawah kekuasaannya. Dia memegang segelas whiskey tua, mengamati garis cakrawala dengan tatapan penuh perhitungan."Gimana perkembangan serangan finansial kita?" Tanya Cavero tanpa menoleh.Wilhelm tersenyum tipis, "Saya sudah memutus jalur pendanaan mereka dari kasino-kasino di Makau dan Singapura. Pagi tadi, saham perusahaan cangkang mereka di bursa jatuh sejatuh-jatuhnya. Investor mereka mulai panik dan menarik modal secara masif. Bisa dibilang, secara ekonomi, sang kobra sudah kehilangan bisanya.""Bagus. Bagaimana dengan pemimpin Black Cobra? Dia masih sembunyi di pusat logistik di pelabuhan lama?" tanya Cavero."Benar, Tuan. Informan saya bilang mereka membawa sekitar tiga puluh warga sipil dari perumah
Mobil mendadak mengerem tajam di pinggiran area industri yang terbengkalai. Asap hitam mengepul hebat dari salah satu gudang besar milik Blood Moon. Seth yang duduk di depan segera keluar lebih dulu, tangannya sudah memegang senjata otomatis yang ia tarik dari balik pintu mobil. Tak lama kemudian, dari arah tumpukan kontainer, Asael muncul dengan pakaian taktis lengkap. "Aku sudah mengepung titik koordinat utama! Dan para pasukan elit mereka juga sudah dikirim keluar untuk menangani Zeyan." lapor Asael ke Cavero. "Posisi sniper kita sudah di tempatnya masing-masing?" tanya Wilhelm pada Asael. "Semuanya siap," Cavero melangkah keluar dari mobil. Angin malam yang dingin menyapa wajahnya, membawa aroma menyengat dari bahan kimia yang terbakar dan debu mesiu. Ia menatap kobaran api di depannya dengan pandangan yang hampir terlihat penuh apresiasi. Baginya, kehancuran ini memiliki simetri tersendiri. Ia berjalan menuju bagasi mobil yang terbuka otomatis, mengeluarkan sebuah tas jinjing
Suara tetesan air yang jatuh secara ritmis dari pipa bocor di langit-langit menjadi satu-satunya melodi di dalam ruangan kedap suara itu. Aris tersentak saat sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, membuatnya hampir tersungkur bersama kursi kayu tempatnya terikat. Napasnya terengah, berbau darah dan keputusasaan. Di hadapannya, Seth berdiri dengan tenang sambil menyeka tangannya yang berlumuran darah dengan sapu tangan putih. Mata Seth dingin, seolah sedang menatap seonggok daging tak berharga, bukan seorang manusia.Aris hanya bisa mengerang. Dia mencoba menggerakkan lidahnya untuk mencari kapsul sianida yang seharusnya ada di gigi gerahamnya, tetapi dia hanya menemukan kekosongan yang perih. Dia mendongak dan melihat Wilhelm duduk di pojok ruangan dengan tablet di tangannya, menatapnya dengan raut wajah bosan."Kamu cari ini?" ucap Wilhelm tanpa menoleh, mengangkat sebuah wadah plastik kecil berisi dua gigi geraham yang sudah hancur. "Sudah ku cabut tiga jam yang lalu saat kamu p
Tiga minggu telah berlalu sejak hari ia pingsan di dapur. Kondisi Luna tidak juga membaik. Nafsu makannya hilang total untuk nasi dan lauk berminyak, tapi dia terus merasa lapar di tengah malam secara tidak masuk akal. Berat badannya sedikit menurun di area wajah, membuat tulang pipinya terlihat menonjol tajam, mempertegas kecantikan yang penuh dengan kesedihan.Luna berdiri di depan cermin lemari plastik miliknya. Nafasnya mulai menderu tidak beraturan saat tangannya gemetar menyingkap kaos tipis yang ia kenakan.Matanya terbelalak melihat apa yang tampak di sana.Perutnya tidak lagi rata. Ada sebuah lengkungan kecil namun nyata di sana, tepat di bawah pusarnya. Luna meraba area itu dengan jemari yang terasa dingin. Ada sesuatu yang keras, sesuatu yang mulai menuntut ruang di dalam sana. "Nggak mungkin," bisik Luna dalam keheningan yang menyesakkan. "Ini beneran gak mungkin."Dia menghitung hari demi hari, mencoba mengingat-ngingat siklus bulanannya yang memang tidak pernah teratur.
Seth, tangan kanan Cavero memberikan laporan apa yang dilakukan oleh Lunaria hari ini. Cavero mendengarkannya dalam diam seraya fokus mengerjakan pekerjaannya. "Sepertinya nyonya benar-benar sangat depresi tuan. Apa tidak sebaiknya kita memanggil Psikiater kembali? Nyonya sepertinya salah m
Aku hanya bisa tercengang ketika sadar bahwa aku telah masuk ke salah satu novel yang aku baca beberapa minggu lalu. Dari banyaknya novel, kenapa harus yang itu. Novel penuh karakter psikopat gila! Dulu, aku membelinya karena tertarik dengan judulnya. Ditengah Hujan Deras. Menarik bukan? Tak ada
"Tuan muda sepertinya memiliki kepribadian ganda." Cavero terkejut. "Ja ... jangan-jangan nyonya juga begitu tuan. Dia memiliki kepribadian ganda juga." Ekspresi Cavero kembali ke semula. "Enyah sana!" "Tuan, saya serius. Tadi saya berniat menemui tuan muda namun saya mendapati tuan mud
Setelah satu minggu merenung aku akhirnya menyadari bahwa tidak mungkin aku bisa kembali ke duniaku. Aku yang disana, sudah pasti mati. Karena itu, aku punya tiga cara untuk menyelamatkan hidupku. Pertama, aku harus memperbaiki hubunganku dengan Cashelion. Dan tidak membuat masalah dengan psi







